Sabitlenmiş Tweet

Menulis sebuah buku rasanya terkesan asing, seakan sesuatu yang jauh dari kegiatan saya sehari-hari.
Namun setelah lima tahun perjalanan Endgame, lebih dari 200 percakapan dengan tokoh lintas bidang, dari para narator nasional hingga pemikir dunia, dan berbagai dorongan dari orang-orang terdekat —segala keresahan dan harapan akhirnya terkulminasi dalam satu karya yang baru saja rampung saya tulis.
Keresahan yang kerap kita lihat dari lanskap global yang makin terpecah, membuat muncul banyak pertanyaan:
Apakah kawasan dengan 700 juta penduduk, ekonomi terbesar ke-enam di dunia senilai US$ 4 triliun, yang kaya dan beragam namun telah mampu menjaga perdamaian dan stabilitas selama ratusan tahun, akan tetap berada di luar kesadaran global?
Tidakkah kita bisa bernegosiasi dengan sejajar, bukan hanya mengikuti perintah? Bahkan menjadi diplomat dunia, penjembatan dunia—sebuah contoh dari kawasan yang telah mahir hidup berdampingan secara damai antar tetangganya selama berabad-abad.
Melalui buku ini, saya mencoba menelusuri berbagai dimensi yang saling terhubung: sejarah, ekonomi, pendidikan, keberlanjutan, hingga teknologi seperti kecerdasan buatan dan internet. Untuk mempertanyakan, dari titik mana kita bisa memulai perjalanan ini?
Buku ini saya tujukan bagi teman-teman muda, penerus harapan kawasan kita, yang mungkin selama ini merasa jauh dari diskusi semacam ini.
Kalau setelah teman-teman baca dan mulai muncul satu saja ide baru, satu pertanyaan baru, atau satu tekad kecil untuk memperbaiki kota, provinsi, atau bahkan kawasan ini—itu sudah cukup untuk saya. Dan jika apa yang saya tulis bisa menyulut gerakan, sekecil apa pun, demi masa depan kawasan kita, itu menjadi anugerah besar bagi saya.
Jam 5 sore ini, saya berbagi sedikit cerita dan refleksi seputar buku ini. Silahkan bergabung dan menyimak, jika berkenan.
sgpp.me/what-it-takes
Terima kasih sedalam-dalamnya atas dukungan teman-teman selama ini.
Let the journey continue.


Indonesia











