Jonathan Evert

74 posts

Jonathan Evert banner
Jonathan Evert

Jonathan Evert

@jonathan_evert

Katılım Ekim 2025
0 Takip Edilen0 Takipçiler
Jonathan Evert retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada momen di rapat DPR seorang anggota DPR marah dan heran Dan yang ngomong ini bukan aktivis. Bukan pengamat. Ini anggota DPR sendiri yang semprot Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya secara langsung di depan muka. Pertanyaan yang paling mendasar yang dia lempar: Kalau kita sudah punya big data orang datang ngurus KTP masa dimintain fotokopi KK lagi? Gua punya KTP untuk apa? Masih dimintai fotokopi KTP. Kan aneh. Surat lahir, surat baptis masih diminta. Wah, pusing. Negara kita kayak begini. Ini bukan pertanyaan teknis yang butuh jawaban panjang. Ini pertanyaan yang semua orang Indonesia pernah tanyakan dalam hati setiap kali berurusan dengan birokrasi. Dan jawabannya tidak pernah memuaskan selama puluhan tahun. Faktanya yang bikin makin miris perbandingan dengan Malaysia: Indonesia punya e-KTP sejak 2011. Ada chip NFC. Ada data biometrik. Teknologinya canggih. Anggarannya triliunan rupiah. Malaysia punya kartu yang secara teknologi identik namanya MyCAD. Bedanya satu hal: Malaysia benar-benar memakainya. Di Malaysia mau isi BBM subsidi tinggal tap MyCAD di pompa bensin. Sistem langsung cek identitas, cek kuota, kasih harga subsidi otomatis. Tidak perlu antri. Tidak perlu surat keterangan. Tidak perlu aplikasi. Tidak perlu fotokopi. Setiap warga dapat kuota 200 liter per bulan. Kalau kuota habis bayar harga normal. Tidak bisa diakali. Kalau ketahuan curang kuota diblokir permanen. Hasilnya: pemerintah Malaysia hemat RM600 juta per bulan. Penjualan diesel bersubsidi turun 30%. Penyelundupan langsung terdeteksi. Indonesia? e-KTP yang sama teknologinya selama 15 tahun masih dipakai untuk difotokopi. Dan ini yang paling menohok dari seluruh pidato itu: Kita harus bilang kita lebih bodoh dari orang Malaysia kalau urusan ini. Karena enggak pernah kelar. Kalimat itu keras. Tapi tidak salah. Soal pemborosan anggaran yang berlangsung setiap tahun: Ini yang menurut gue paling menyakitkan secara fiskal. BNI punya data nasabah sendiri. Pertamina buat sistem data sendiri untuk subsidi. KPU setiap pemilu buat pendataan pemilih sendiri yang nilainya triliunan setiap siklus. BPJS punya database sendiri. Kemendikbud punya data sendiri. Kemensos punya data sendiri. Semua lembaga membangun silo data masing-masing. Semua dengan anggaran masing-masing. Semua dengan vendor masing-masing. Semua dengan tender masing-masing. Dan di ujung semuanya data tetap tidak terintegrasi. Rakyat tetap diminta fotokopi KTP setiap kali berurusan. Kita kalau urusan ngamburin uang tuh juara satu. Untuk data saja triliunan kita buang tiap tahun. Cerita yang paling menyentuh dan ini yang paling human: Anggota DPR ini bercerita soal kondisi di dapilnya di Kalimantan Utara. Banyak warga dari NTT, NTB, Toraja yang kerja di Malaysia banyak secara ilegal. Ketika mereka diusir setelah tidak digaji atau dieksploitasi paspor dan KTP mereka sudah disita oleh majikan. Mereka pulang ke Kalimantan tanpa dokumen. Tanpa uang. Tanpa apa-apa. Dan ketika mereka coba mengurus KTP baru mereka diminta KK. Diminta fotokopi KTP lama yang sudah disita. Diminta surat lahir yang ada di kampung di NTT yang jauh. Untuk makan aja enggak ada. Sekarang mereka terkapar di perkebunan-perkebunan, digaji di bawah UMR, enggak punya BPJS, enggak punya apa-apa. Dan sistem birokrasi yang seharusnya melindungi mereka justru menjadi tembok yang tidak bisa ditembus. Makanya saya bilang KTP itu hak asasi. Soal keamanan data ini juga perlu diangkat: Dia menyebut setiap hari dia menerima minimal 50 WhatsApp dan telepon yang menawarkan emas, saham, investasi bodong. Gimana keamanan data kita ini? Siapa yang harus bertanggung jawab? Masa kita terus diganggu hal seperti ini? Dan tidak ada jawaban jelas apakah yang bocor itu data adminduk, data bank, atau data operator telekomunikasi. Tidak ada institusi yang maju mengambil tanggung jawab. Solusi yang dia minta dan ini bukan permintaan yang rumit: Satu — sinkronisasi semua data di bawah satu gatekeeper. Kemendagri sebagai pemegang e-KTP harus jadi koordinator. Semua lembaga lain berhenti bikin database sendiri. Dua — chip e-KTP harus diaktifkan untuk semua layanan publik. Tidak ada lagi fotokopi. Tidak ada lagi surat lahir. Cukup tap kartu. Tiga — presiden harus turun tangan dan memerintahkan sinkronisasi ini di level ratas. Karena tanpa political will dari atas tidak ada satu lembaga pun yang akan mau menyerahkan kewenangan datanya. "Jangan nanti KPU dibentuk, tahun berikutnya mengusulkan 2 triliun untuk identifikasi pemilih. Enggak habis-habis kalau begitu terus." Sudah 80 tahun merdeka. Sudah 15 tahun punya e-KTP. Dan kita masih dimintai fotokopi KTP untuk mengurus KTP. Kalau itu bukan kegagalan sistemik yang harus dipertanggungjawabkan gue tidak tahu apa lagi namanya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
568
4.1K
8.8K
414.2K
Jonathan Evert retweetledi
♡
@awmici·
@yappingfess Lu pada kalo mau liat gimana si manusia yang kelakuannya kaya setan? Nah kerja deh di bidang pelayanan, jasa, retail dsb yang berhubungan langsung sama customer atau user nanti lu paham kenapa manusia kelakuannya lebih setan dari setannya
Indonesia
165
2.8K
23K
358.2K
Jonathan Evert retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ini baru keluar dan gue rasa ini salah satu berita paling penting soal MBG yang perlu semua orang tahu. BGN beli 21.000 motor listrik untuk program MBG. Tanpa laporan ke DPR. Tanpa persetujuan Kemenkeu. Dan kantornya distributor motor itu belum jadi. Baca lagi. Kantornya belum jadi. Tapi motornya sudah ada di Indonesia. Kronologi yang perlu lo tahu: 2025 Menkeu Purbaya sudah menolak pengadaan motor listrik ini. Secara resmi. Diblokir. 2026 BGN tetap beli. 21.000 unit. Sudah masuk ke Indonesia. Komisi IX DPR tidak pernah dikonsultasi. Tidak pernah dapat laporan. Tidak pernah diminta persetujuan. Kalau disampaikan ke kami di sini, pasti akan kami tolak, kata Wakil Ketua Komisi IX Charles Honoris. Dan ini yang paling bikin gue speechless. Charles bilang dia nonton video dari salah satu media dan yang dia lihat adalah: kantor distributor motor listrik itu belum selesai dibangun. Tapi di dalamnya sudah disiapkan satu SPPG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang akan beroperasi di sana. Terjemahannya: motor sudah dibeli, distributor sudah ditunjuk, l okasi SPPG sudah disiapkan semua sebelum kantornya selesai dibangun. Something fishy, kata Charles. Dan gue setuju. Pertanyaan yang harus dijawab: Satu siapa yang beli? BGN beli 21.000 unit motor listrik. Dari merek apa? Importir mana? Harganya berapa per unit? Total anggarannya berapa? Dua dari anggaran mana? Kalau Kemenkeu sudah blokir di 2025 dari mana uangnya keluar di 2026? Ada pos anggaran yang tidak terpantau? Tiga siapa distributornya? Kantornya belum jadi tapi sudah jadi distributor resmi pengadaan pemerintah itu bisa terjadi hanya kalau ada yang melindungi di belakang. Empat kenapa motor listrik untuk program makan bergizi gratis? SPPG adalah satuan dapur kepala dapurnya butuh motor untuk apa? Untuk koordinasi antar lokasi? Oke, mungkin. Tapi 21.000 unit? Tanpa laporan ke DPR? Ini bukan soal motor listriknya. Ini soal tata kelola yang berantakan dari program yang anggarannya Rp71 triliun per tahun. Kalau pengadaan motor saja bisa bypass Kemenkeu, bypass DPR, masuk diam-diam, dan kantornya belum jadi apa lagi yang bisa bypass dengan cara yang sama? Dan ini yang paling menyakitkan: Program MBG lahir dari niat mulia memberi makan anak-anak Indonesia yang kekurangan gizi. Itu niat yang tidak bisa diperdebatkan kebenarannya. Tapi niat mulia yang dieksekusi dengan tata kelola yang kotor ujungnya bukan anak-anak yang kenyang. Ujungnya distributor motor yang belum punya kantor yang panen. Dan yang rugi? Sama seperti biasa. Rakyat yang bayar pajak. Dan anak-anak yang harusnya dapat makan bergizi tapi anggaran programnya habis di jalan. Senin 13 April 2026 BGN dipanggil Komisi IX DPR. Dan gue harap DPR kali ini tidak cuma memanggil tapi benar-benar minta jawaban yang konkret dan transparan. Karena kalau rapat Senin itu berakhir dengan jawaban normatif dan tidak ada yang dipecat atau diselidiki berarti kita semua tahu ceritanya akan ke mana.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
2.1K
15.8K
31.3K
1.3M
Jonathan Evert retweetledi
Nana | @bantu.berkarir 👩‍💻
Dari hitungan pribadi, KPR cuma menguntungkan kalau: ✅ DP >40% ✅ Tenor singkat 5-10 tahun ✅ Bunga flat (jangan floating) Belum sanggup kumpulin DP sebesar itu? 1. Cari kontrakan murah deket kantor 2. Tingkatin penghasilan 🔑 3. Investasi di reksadana / obligasi / deposito
Nana | @bantu.berkarir 👩‍💻 tweet media
Indonesia
35
419
2.1K
91.5K
Jonathan Evert retweetledi
dil
dil@byrob10x·
ternyata, peperangan sama orang tua tuh sesuatu yang nggak perlu kita menangin
Indonesia
101
667
3K
72.2K
Jonathan Evert retweetledi
Suskesorg
Suskesorg@Omsuskes·
Ada satu petugas ATC di Palu. Beliau jadi malaikat bagi banyak orang. Nama nya Anthonius Gunawan Agung. Kerjaannya kelihatan biasa. Duduk di menara. Ngatur pesawat datang dan pergi. Bukan pejabat. Bukan orang terkenal. Waktu gempa besar 2018, landasan kacau. Orang orang panik. Pilot minta izin lepas landas secepatnya. Dia bisa aja turun duluan. Nyelametin diri. Tapi dia memilih tetap di atas. Nunggu sampai pesawat terakhir bener bener lepas landas. Beberapa menit kemudian, menara roboh. Dia tidak sempat keluar. Puluhan orang di pesawat itu pulang hidup hidup. Namanya baru dikenal setelah dia tidak ada. Kita sering kira pahlawan itu yang viral. Padahal banyak yang kerjanya diam diam. Efeknya, seumur hidup orang lain. Rest In Peace 🫡
Suskesorg tweet media
eisha 🍒@meishato

give me your most ridiculous lore

Indonesia
145
6.3K
33.1K
1.1M
Jonathan Evert retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
jujur gw suka banyak trend yang diciptakan di gen Z sekarang ini.. - trend lari dibandingkan ke clubbing - trend minuman yang sehat, less sugar dsb.. - trend naik transportasi umum - trend mereka yang ‘gak gila kerja’ masih mikirin kesehatan mental - trend mereka yang berani speak up di kantor - trend wedding no resepsi!! menghapus gengsi apalagi ya...
Indonesia
49
357
2.2K
109.7K
Jonathan Evert retweetledi
RisangP
RisangP@rsngprad·
90% meeting cuma buang waktu. Duduk satu jam, bahkan lebih, tapi ga ada keputusan nyata yang keluar Di dunia kerja, ini kerasa banget. Lo dateng di meeting pagi-pagi, semua orang ngomong serius, penuh ide dan insight… tapi begitu meeting selesai, lo sadar ga ada yang dieksekusi. Angka dibahas, campaign direncanain, tapi eksekusi molor. Meeting bolak-balik, keputusan ditunda, semua cuma "nanti dibahas lagi". Dan yang paling parah? Kadang meeting itu bikin lo merasa "sibuk" padahal output lo minim. Lo tau rasanya ga? Duduk, merhatiin, nyatet, tapi kerjaan ga kelar. Dan di akhir hari, lo pulang dengan rasa bersalah karena ga maju satu langkah pun. Ironisnya, orang-orang kadang merasa produktif karena mereka hadir di meeting, padahal yang terjadi hanyalah drama korporat. Meeting seharusnya jadi alat untuk mempercepat keputusan, bukan ritual buat terlihat sibuk. Dan kalau lo ga hati-hati, skill, kreativitas, dan hasil kerja lo bisa stagnan selama bertahun-tahun. Gw pernah, ikut meeting yang topiknya "review content Instagram", tapi 40 menit ngobrolin font dan emoji. Sementara campaign penting molor seminggu. Itulah bedanya sibuk sama produktif.
Indonesia
27
129
475
69.1K
Jonathan Evert retweetledi
Ella Jayagia 🇮🇩
Ella Jayagia 🇮🇩@Jayagia_·
Bukan cuma gak tahu, sebagian besar orang Indonesia juga ditipu. Saat aku kecil mengonsumsi susu kental manis itu hal baik dan menyehatkan. Sebagai keluarga ekonomi rendah, orang tua sampai mengusahakan membeli yang kalengan kecil semata-mata supaya anaknya sehat dan memenuhi program 4 sehat 5 sempurna. Lalu belakangan ramai berita para ahli yang bilang bahwa susu kental manis bukan susu, melainkan perisa susu yang mengandung gula kisaran 40-50%. Aku yakin korbannya bukan cuma aku, tapi jutaan anak-anak Indonesia. Pelaku industri enak tinggal mengubah branding, kata "susu" dihilangkan. Tinggallah "kental manis". Mereka gak bisa diseret ke pengadilan. Ya siapa juga yang kuat melawan elit berduit wkwkwk. Warisannya abadi di tubuh-tubuh calon diabetes Nusantara. Gokilnya itu dulu siapa loh monyet-monyet yang meloloskan? Racun kok dikasih ke anak bangsa. Kan koplak, ya. 🗿 Ini juga berlaku ke makanan lain yang food fraud. Sosis sapi, padahal gak dari daging. Atau saus tiram yang kandungan tiramnya di bawah 5% wkwkwk. Apalagi keju yang kebanyakan "bukan keju".
gastronusa@gastronusa

Fakta ngeri: mayoritas orang Indonesia gak tau batas maksimal konsumsi gula harian mereka

Indonesia
80
1.9K
6K
175.6K
Jonathan Evert retweetledi
Remote Work 🇮🇩 Career Advisor
Remote Work 🇮🇩 Career Advisor@learn_withFarah·
Pressure adalah sebuah privilege. Iya, kamu tidak salah baca. Banyak orang ingin ada di posisi kamu di dunia kerja. Tapi belum diberi tanggung jawab sebesar itu. Orang yang bilang, “Aku capek banget. Pressure-nya tinggi.” Tapi diam-diam, mereka adalah orang yang: • Dipercaya pegang proyek penting • Jadi decision maker • Punya target besar • Punya visibility tinggi • Dipercaya untuk deliver hasil Pressure itu tanda kamu dipercaya. Tidak semua orang diberi beban. Karena tidak semua orang dianggap mampu. Yang jadi masalah bukan pressure-nya. Tapi cara kita melihat pressure itu sendiri. Kalau kamu anggap pressure sebagai ancaman, kamu akan sering defensif. Kalau kamu anggap pressure sebagai privilege, kamu akan naik level. Growth SELALU datang dengan rasa tidak nyaman. Kalau semuanya terasa mudah, mungkin kamu tidak sedang berkembang. Tapi sedang ada di ruangan yang salah. So next time kamu merasa tertekan, tanya ke diri sendiri: Apakah ini beban? Atau ini bukti bahwa aku sedang dipercaya di industri ini?
Indonesia
18
347
1.3K
48.5K
Jonathan Evert retweetledi
RisangP
RisangP@rsngprad·
Jangan pernah bilang bos atau klien lo salah. Itu cara tercepat bikin mereka benci lo. Pernah ga, lo yakin banget cara lo lebih efektif… tapi bos atau klien maunya beda? Gw pernah ngalamin ini. Klien gw pengen sampai ke A lewat cara 123. Padahal gw tau jelas, kalau pakai cara 345, hasilnya bisa lebih cepat dan efisien. Refleks pertama gw pengen bilang: “Cara Bapak/Ibu itu salah, harusnya begini.” Tapi gw sadar, begitu kata “salah” keluar, game over. Mereka bakal defensif, bukan soal ide lagi, tapi soal harga diri. Akhirnya gw ubah pendekatan: - Gw jelasin plus-minus cara 123 - Gw bandingin dengan proyeksi hasil cara 345 - Gw kasih opsi, bukan maksa Lalu gw biarin mereka yang mutusin Hasilnya? Klien tetap merasa dihargai, walaupun akhirnya mereka pilih jalan 123. Yes, pilihannya sendiri haha. Itu momen gw belajar: Di dunia kerja, cara terbaik untuk “melawan” adalah dengan tidak melawan. Bukan soal siapa yang menang argumen, tapi siapa yang bisa bikin hasilnya maksimal.
Indonesia
7
140
774
40.4K
Jonathan Evert retweetledi
Dayat Piliang (;)
Dayat Piliang (;)@dayatpiliang·
Jujur, aku kagum betul sama ini negara. Ada rakyat mengkritisi program pemerintah dengan cara-cara baik dan memberikan saran baik, enggak didengar. Malah dicibir habis-habisan dalam setiap pidato presiden. Giliran ada Ketua BEM salah satu Universitas di Indonesia mengkritisi dengan menyurati PBB dan menggalakkan istilah "Maling Berkedok Gizi" dalam panggung-panggung organisasi, eh malah mendapat teror sana sini sampai orang tuanya ketakutan. Dan, yang bikin makin takjub, Istana malah merespon: makanya kalau kritik pakai etika. Woi, itu rakyat lu kena terror karena kritis menyuarakan aspirasinya. Malah ditanggepin begitu. Jadi ya enggak heran kenapa orang kritis di negeri ini selalu diterror kepala babi, bangkai ayam, di lempar telur busuk, dan di lempar bom molotov, orang negaranya saja tidak bereaksi apa-apa terhadap pelaku terror pada mereka yang keras bersuara. Katanya kritik sebagai vitamin, tapi nyatanya?
Indonesia
287
18.7K
42.3K
716.5K
Jonathan Evert retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Perhatiin temenmu kalau dia cerita dia habis tidur lamaaa banget, bangun, tidur lagi... Ajak ke luar rumah, ajak ngopi. Ajak nyari angin. Ajak liat yang ijo-ijo. Orang yang pikirannya lagi penuh, depresi, SALAH SATU coping mechanism-nya adalah tidur yang lama. Mentalnya perlu diselamatkan.
Indonesia
186
2.4K
12.9K
437.7K
Jonathan Evert retweetledi
RisangP
RisangP@rsngprad·
Kalau lo ga bisa jelasin kerjaan lo ke orang awam, berarti lo belum ngerti-ngerti banget. Gw pernah diminta jelasin kerjaan gw ke nyokap. Dan gw gagal. Gw pake istilah teknis, bahasa kantor, singkatan yang cuma dimengerti orang satu tim. Dia cuma senyum dan bilang, “Jadi intinya kamu ngapain sih?” Dan itu bikin gw mikir. Kalau lo ga bisa bikin hal kompleks jadi simpel, mungkin karena lo sendiri masih belum benar-benar paham. Kebanyakan dari kita pinter ngomong ribet. Tapi justru orang yang beneran ngerti, biasanya bisa bikin semuanya terdengar gampang. Coba deh, jelasin kerjaan lo ke orang yang ga ngerti industri lo. Kalau mereka bisa paham, berarti lo bener-bener ngerti.
Indonesia
83
387
3.6K
206.8K
Jonathan Evert retweetledi
Milan
Milan@EntodGoodBye·
Ngelama-lamain balas chat yang konteksnya disengaja itu nggak bikin kamu nambah keren. Aku kasih tau kalo nggak tau.
Indonesia
40
279
1.6K
68K