Maryam Jamilah

12.3K posts

Maryam Jamilah banner
Maryam Jamilah

Maryam Jamilah

@Mjamilah_

West Java, Indonesia Katılım Mayıs 2011
189 Takip Edilen659 Takipçiler
Maryam Jamilah retweetledi
Indra Charismiadji
Indra Charismiadji@icharis·
Utas Lanjutan..... 26/ 15 September 2021, ICW merilis kajian tentang pengadaan perangkat TIK untuk digitalisasi pendidikan. ICW menyoal besarnya anggaran, urgensi, potensi masalah tata kelola, dan risiko dalam proyek tersebut. Sekali lagi: alarm sudah berbunyi. antikorupsi.org/id/menyoal-pen…
Indonesia
9
235
466
27.6K
Maryam Jamilah retweetledi
Indra Charismiadji
Indra Charismiadji@icharis·
1/ Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop. Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa diseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi. Saya menyaksikan sebagian proses itu dari dekat.
Indonesia
68
1.3K
2.4K
235.9K
Maryam Jamilah retweetledi
Brive~
Brive~@brive__·
"Kalo tau bakal begini ga bakal gw dukung" Ngga, lo bukan gatau, tapi bodoh aja. Dari program kerja, riwayat hidup, sampe debat pun lo harusnya udah bisa nilai.
Indonesia
167
20K
42.3K
652.9K
Maryam Jamilah retweetledi
jek
jek@jek___·
doa Rosulullah agar dilindungi dari pemimpin yang dzalim: "ya Allah, siapa saja yang memimpin urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangi lah dia, dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkan lah dia" HR. MUSLIM aamiin
Indonesia
35
595
1.7K
26.6K
Maryam Jamilah retweetledi
jek
jek@jek___·
nikah beda agama
jek tweet media
Eesti
47
524
2.6K
63.8K
Maryam Jamilah retweetledi
NutaniMan
NutaniMan@rouppme·
Saya curiga swasembada diukur dari angka produksi atau stok gudang saja. Padahal swasembada yang sesungguhnya harus terasa di pasar, di dompet petani dan di meja makan keluarga di kota. Kalau hanya gudang yang kenyang, itu bukan swasembada. Itu penimbunan yang rapi.
Indonesia
7
70
307
20.1K
Maryam Jamilah retweetledi
jek
jek@jek___·
kalau mau masukin anak ke pesantren, ortu wajib berkunjung ngeliat langsung dan tanyain semua yang perlu ditanyain nasab keilmuan pengajarnya metode ngajarnya keamanannya tanya apakah di situ pernah ada kasus pelecehan apa ngga, ending kasusnya gimana, dll kalo ada pertanyaan normal yang gak ada jawaban pastinya, cari pesantren lain. jangan terlena dengan brandingan, reputasi dan tokoh yang ada di pesantren itu tapi kalo baru masuk udah liat pengurusnya ngeroko, musik, joget dan ikhtilat. tinggalin makin banyak orang sangean dan sakit yang disuruh ngurus pesantren satu lagi, kalau mau masukin anak ke pesantren, ortu wajib berkunjung ngeliat langsung dan tanyain semua yang perlu ditanyain nasab keilmuan pengajarnya metode ngajarnya keamanannya tanya apakah di situ pernah ada kasus pelecehan apa ngga, ending kasusnya gimana, dll kalo ada pertanyaan normal yang gak ada jawaban pastinya, cari pesantren lain. jangan terlena dengan brandingan, reputasi dan tokoh yang ada di pesantren itu tapi kalo baru masuk udah liat pengurusnya ngeroko, musik, joget dan ikhtilat. tinggalin makin banyak orang sangean dan sakit yang disuruh ngurus pesantren
Indonesia
48
190
788
30.7K
Maryam Jamilah retweetledi
Nakes Puskesmas
Nakes Puskesmas@NakesPuskesmas·
@dosenkesmas Padahal mestinya bantu kampanye ASI sebagai nutrisi terbaik bagi anak, malah sebaliknya 🥲
Indonesia
6
122
1.5K
38.9K
Maryam Jamilah retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada sesuatu yang sangat ironis yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di Indonesia. 1 Mei — Hari Buruh. Prabowo hadir di Monas. Berdiri di panggung bersama puluhan ribu buruh. Bernyanyi. Berpidato. Mengumumkan cicilan KPR 40 tahun dan potongan ojol 8%. Kaos 200 ribu lembar dibagikan. Sangat meriah. 2 Mei — Hari Pendidikan Nasional. Prabowo rapat tertutup di Hambalang. Tidak ada seremoni khusus. Tidak ada pidato untuk guru dan siswa. Tidak ada satu pun agenda yang secara khusus merayakan atau memperingati Hardiknas. Bukan kebetulan ini adalah pilihan. Ketika seorang presiden memilih hadir secara dramatis di Hari Buruh dengan panggung besar dan ribuan orang tapi memilih rapat tertutup di rumah pribadi pada Hari Pendidikan Nasional itu bukan soal jadwal yang padat. Itu adalah pernyataan tentang apa yang dianggap lebih penting secara politik. Buruh hadir secara fisik dan bisa dimobilisasi. Guru honorer yang gajinya Rp300 ribu per bulan tidak membawa massa ke Monas. Anak-anak di sekolah rusak tidak bisa berteriak di depan istana. Siswa disabilitas yang dibuang sistem tidak punya organisasi yang bisa mengancam stabilitas politik. Makanya satu dirayakan dengan meriah. Yang satu dilewati dengan rapat tertutup di Hambalang. Dan ini bukan pertama kali Hambalang dijadikan tempat rapat kabinet: 8 Maret 2026 — lima rapat dalam satu hari di Hambalang. Membahas pendidikan, geopolitik Timur Tengah, mudik Lebaran. 2 Mei 2026 — rapat tertutup lagi di Hambalang. Membahas aspirasi buruh dan perguruan tinggi. Pola ini konsisten. Dan setiap kali hasil rapatnya dirilis isinya selalu berakhir dengan kalimat yang sama: "Pemerintah terus berkomitmen untuk menghadirkan kebijakan yang melindungi, mencerdaskan, dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat Indonesia." Tanpa angka. Tanpa target. Tanpa timeline. Tanpa akuntabilitas. Sementara di luar Hambalang kondisi pendidikan Indonesia hari ini: Guru honorer masih ada yang menerima gaji Rp150-300 ribu per bulan. Ratusan ribu ruang kelas kondisinya rusak sedang hingga berat. Anak disabilitas masih bisa dikeluarkan sekolah secara diam-diam dan tidak ada yang menindak. Perguruan tinggi terbaik masih terkonsentrasi di Jawa. Angka putus kuliah karena faktor ekonomi masih sangat tinggi. Dan pada Hari Pendidikan Nasional 2026 solusi yang ditawarkan adalah: manfaatkan fakultas teknik perguruan tinggi untuk membangun daerah. Bukan ide buruk. Tapi itu bukan jawaban atas masalah struktural yang sudah puluhan tahun tidak selesai. Ki Hajar Dewantara pasti sangat sedih: Hardiknas ditetapkan untuk mengenang beliau — yang percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap anak Indonesia tanpa kecuali. Yang berjuang agar anak-anak pribumi bisa mengakses pendidikan yang bermartabat. Yang mendirikan Taman Siswa karena sistem yang ada tidak berpihak kepada rakyat kecil. Dan di hari yang didedikasikan untuk mengenang perjuangannya presiden rapat tertutup di rumah pribadi. Tanpa satu pun momen yang secara khusus menyapa guru, siswa, atau orang tua yang berjuang keras menyekolahkan anaknya. "Ing ngarsa sung tulada." Di depan memberi teladan. Teladan seperti apa yang diberikan ketika Hari Buruh dirayakan dengan meriah tapi Hari Pendidikan Nasional dilewati tanpa pesan khusus untuk anak-anak Indonesia? Indonesia merayakan Hari Buruh dengan kaos, panggung, dan janji-janji besar. Dan keesokan harinya Hari Pendidikan Nasional dilewati dengan rapat tertutup di kediaman pribadi presiden yang hasilnya hanya satu paragraf rilis. Bukan salah buruhnya. Mereka memang harus diperjuangkan. Tapi kalau energi, perhatian, dan kehadiran fisik presiden hanya muncul ketika ada massa yang bisa dimobilisasi dan tidak hadir ketika yang membutuhkan perhatian adalah guru honorer yang tidak punya serikat besar dan siswa yang tidak bisa berteriak di depan istana maka yang terjadi bukan keberpihakan. Itu politik. Dan politik yang mengorbankan pendidikan demi popularitas jangka pendek adalah utang yang akan dibayar oleh generasi berikutnya bukan oleh kita yang sekarang.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
212
2.5K
5.1K
236.1K
Maryam Jamilah retweetledi
jek
jek@jek___·
SAYA BERTANYA, KEPADA SAUDARA-SAUDARA MBG BERMANFAAT ATAU TIDAK???
Indonesia
312
216
2.3K
77.4K
Maryam Jamilah retweetledi
jek
jek@jek___·
remuk juga nih hati ngikutin berita dan timeline hari ini ada kakak nyariin adiknya, anak nyariin ibunya, sahabat nyariin sahabatnya, sampai pada akhirnya mereka harus berlapang dada. semoga diberi ketabahan turut berbelasungkawa 🥀
Indonesia
32
1K
3.6K
41.5K
Maryam Jamilah retweetledi
Firzie A. Idris
Firzie A. Idris@firzieidris·
Basarnas dan para first responders ini yang anggarannya harus ditambah, kecepatan, presisi, serta peralatan terbaik sangat diperlukan utk menyelamatkan nyawa. Bukan malah bayar langganan Zoom miliaran rupiah.
Radio Elshinta@RadioElshinta

Tim SAR gabungan melakukan proses evakuasi korban kecelakaan Kereta Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam. Untuk mempercepat pertolongan, Basarnas menggunakan sejumlah peralatan ekstrikasi guna memotong besi yang menjepit para korban. (Ens) Sumber: Basarnas #ArgoBromoAnggrek #KRL #SAR #Basarnas

Indonesia
132
23.7K
47.3K
663.7K
Maryam Jamilah retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
420
20.8K
51.6K
1.4M
Maryam Jamilah retweetledi
Reza Sudrajat
Reza Sudrajat@penduduk_lokal_·
Ribuan SPPG berhasil dibangun di Jawa Barat, dan mendapatkan predikat sebagai wilayah terbesar di Indonesia dengan SPPG terbanyak. Tapi disaat yang sama ribuan guru & tenaga kependidikan kami, banyak yang belum digaji. Ini suatu ironi, karena guru & tenaga kependidikan membagikan MBG disaat mereka sendiri benar benar dalam kondisi kelaparan. Karena 2 bulan tanpa upah.
Indonesia
46
2.5K
3.9K
78.8K
Maryam Jamilah retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
selalu salut sama orang2 yg mau level up gini.. pendidikan itu salah satu jalan untuk membuka peluang yg lebih baik🙏🙌
Indonesia
164
1.4K
19.2K
580.8K
Maryam Jamilah retweetledi
adit surowidjojo
adit surowidjojo@dittolongdit·
“kok lu nentang amat, kritis amat si sama MBG?”
adit surowidjojo tweet media
Indonesia
273
33.5K
104.4K
1.7M
Maryam Jamilah retweetledi
sampahfhui
sampahfhui@sampahfhui·
[anak fhui bikin grup isinya lecehin perempuan tiap hari???]
sampahfhui tweet media
Indonesia
6K
66.9K
243.4K
50.2M
Maryam Jamilah retweetledi
Nakes Puskesmas
Nakes Puskesmas@NakesPuskesmas·
Sedangkan di belahan dunia lainnya, banyak Nakes di Puskesmas bertahun-tahun ditugaskan melakukan pelayanan kesehatan preventif promotif di masyarakat dengan menggunakan kendaraan pribadi. Entah kenapa rasanya perih juga melihat realita segala macam anggaran dipangkas dengan alasan efisiensi, tapi di saat bersamaan kita juga dipertontonkan dengan inefisiensi belanja dari program "anak kandung" pemerintah. Lelucon macam apa ini 😔
folkative@insidefolkative

Motor listrik berlogo BGN, Kepala BGN sebut pengadaan dialokasikan di Anggaran 2025 untuk Kepala SPPG.

Indonesia
54
1.6K
2.2K
65.1K
Maryam Jamilah retweetledi
ᗰ ᘔ K ᑌ ᑎ
ᗰ ᘔ K ᑌ ᑎ@KuntoAjiW·
Ingat ya MBG dalam satuan Mbappe itu kurang lebih 2 hari. MBG 1,7T sehari, harga pasar Mbappe €180juta (Rp 3,12 T). Dalam 2 hari MBG, kita bisa membeli 1 Mbappe. Masih ada kembalian 280M. Kalau dihitung sampai 5 April ada 416 hari efektif. Berarti Indonesia udah punya 226 Mbappe. Kembali 660M.
Indonesia
149
2.5K
7.7K
264.6K
Maryam Jamilah retweetledi
kumifigo
kumifigo@kumifigo·
Yaampun, bingung mau bahas yang mana dulu. Mungkin karna puasa jadi gak konsentrasi😩 fb : mamath mega
Indonesia
428
1.6K
8.3K
968.8K