-

22.8K posts

-

-

@NurAziz_

Jawa Timur Katılım Haziran 2010
451 Takip Edilen1.5K Takipçiler
- retweetledi
bib new edition
bib new edition@BangBib4·
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon ) Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut Saya kasih tahu sebab dan alasannya Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000, Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang) Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan. Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah. Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal. Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi Panen manual (biaya tenaga kerja). Pengemasan yang layak. Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota). Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya. Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi. Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli. Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan. Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton. Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga. Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total. Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel. Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah. Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Nakula@03__nakula

Pedagang membuang Timun ke sungai karena murah dan gak laku. Padahal kalo disumbangkan ke panti² asuhan atau pesantren pasti pada mau, gak mubazir kek gini. 🥹

Indonesia
455
5.2K
20K
1.3M
- retweetledi
muchlis a rofik
muchlis a rofik@muchlis_ar·
Ancaman Pilkada Tak Langsung Ancaman instabilitas muncul jika kepala daerah dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD. Hal tersebut berkaca pada era demokrasi parlementer dan MPR di masa demokrasi yang menjatuhkan Gus Dur. MPR-isme hanya berhasil di masa rejim otoriter Soeharto. Karena ditopang kekerasan militer. Kolom Prof @saiful_mujani di Kompas awal tahun 2025.
muchlis a rofik tweet media
Indonesia
12
158
331
14.3K
- retweetledi
4
4@isishaki·
awali 2026 dengan semangat
Indonesia
688
5.7K
39.5K
3.7M
- retweetledi
Sammy Notaslimboy
Sammy Notaslimboy@NOTASLIMBOY·
MBG. Yang dikasih makan siswa, yang kenyang pejabat.
Indonesia
150
1.9K
3.1K
59K
- retweetledi
Agus Mulyadi
Agus Mulyadi@AgusMagelangan·
Dadi wong Indonesia secara nature ancen kudu misuh, ra iso ora, soale nek kabeh masalah dipendem dhewe, suwe-suwe pedot. 🤣 Dadi kentir tapi ketulung ora keliling karo isih gelem klamben wae. 🤣
Agus Mulyadi tweet media
Indonesia
47
462
1.1K
30.3K
- retweetledi
Alitt
Alitt@shitlicious·
Kalo MBG stop selama liburan sekolah, lalu budgetnya dialihkan buat percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana, mungkin jadi lebih bermanfaat.
Indonesia
110
1.3K
3.1K
111.9K
- retweetledi
Jorgiana Au.
Jorgiana Au.@jorgianaaa·
Dari segala banyak opini yang berseliweran, kita sering lupa satu hal penting: Laras adalah warga biasa seperti kita, yang marah ketika melihat polisi MEMBUNUH Affan. Maka mendukung Laras adalah sikap keberpihakan yang penting bahwa negara GAK BOLEH BUNUH warga serampangan.
Jorgiana Au. tweet mediaJorgiana Au. tweet mediaJorgiana Au. tweet mediaJorgiana Au. tweet media
Indonesia
171
22.9K
46.4K
1.4M
- retweetledi
txtdaritaxpayer
txtdaritaxpayer@txtdaritaxpayer·
MBG tidak akan pernah libur. Anak sekolah boleh libur. Boleh puasa bulan Ramadan. Tapi MBG harus tetap jalan. karena memang tujuan utamanya sejak awal bukan untuk kasih makan anak sekolahan, tapi pemilik dapur🤣
tempo.co@tempodotco

Indonesia
152
7.7K
11.3K
351.5K
- retweetledi
SERIE A LAWAS
SERIE A LAWAS@SerieA_Lawas·
Orang Portugal bernama Jawa. Yang tau berarti tua, eh tau.
SERIE A LAWAS tweet media
Indonesia
54
11
119
33.3K
- retweetledi
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Bagus lah. Jelas: 1) Cari pekerjaan yang lebih suportif, ini profesionalisme. 2) Menghargai batasan kerja, juga profesionalisme. 3) Salary dan benefit yang lebih sesuai, juga profesionalisme. Surat ini menunjukkan bahwa Friska bekerja dengan profesional, sedangkan tempat dia bekerja tidak. Sudah bukan eranya lagi meromantisasi pengabdian, kerja tanpa kenal batas waktu, dengan balasan seadanya. Good job. Well done, Friska.
Work Struggle@workstruggle

Tebak gen apa wkwk

Indonesia
49
1.7K
6.1K
217.2K
- retweetledi
Omong-Omong Media
Omong-Omong Media@omongomongcom·
Otonomi akal hanya dapat bertumbuh melalui kebiasaan bertanya, menilai, dan menyatakan pendapat secara berani. Jika generasi muda diharapkan menjadi warga yang kritis, maka ruang pendidikan harus mengakomodasi keberanian itu. Ulasan A. Galang Wahyudi: omong-omong.com/otonomi-akal-d…
Indonesia
0
6
5
824
- retweetledi
ᗰ ᘔ K ᑌ ᑎ
ᗰ ᘔ K ᑌ ᑎ@KuntoAjiW·
Semuanya jadi masuk akal kalau kita memahami ini: Dia bukan mau mengurus negara, tapi mengejar prestasi sebagai kepala negara.
Indonesia
184
9.5K
16.6K
312.6K
- retweetledi
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono@Dandhy_Laksono·
"Orang membayangkan kalau punya presiden dari militer, lalu banyak urusan diserahkan ke tentara itu pemerintahnya akan sigap menangani bencana seperti Sumatra. Nyatanya, militer dianggap lebih disiplin dan teroganisir dari sipil itu memang cuma mitos"
Indonesia
74
1.3K
3.9K
85.8K
- retweetledi
Reza Ikal
Reza Ikal@monstreza·
Semoga kita tidak menua dengan gendut, goblok, halu, dan nirempati.
Indonesia
175
20.7K
43.7K
616.6K
- retweetledi
muchlis a rofik
muchlis a rofik@muchlis_ar·
Kasus Terra Drone, 22 karyawan tewas. Kasus Ponpes Sidoarjo, 67 anak2 tewas. Dua2nya kasus kelalaian. Bos Terra Drone ditangkap, jadi tersangka. Bos Pesantren dapet MILYARAN dana APBN. ~ini pelajaran baru: agama jadi kasta.
Indonesia
344
12.5K
27.5K
624.8K
- retweetledi
Jenny Jusuf
Jenny Jusuf@JennyJusuf·
Kalau kamu merasa susah banget tambah kaya, uang selalu habis tak bersisa, miskin sih nggak tapi pas-pasan terus, udah mati-matian berusaha tapi nggak ada perubahan, rezeki ya ada aja tapi bocor mulu… coba perhatikan caramu menghadapi stres. I’m really serious. (Tydac berlaku untuk kelas menengah ke bawah ya.)
Indonesia
7
59
291
27.3K
- retweetledi
logika sederhana
logika sederhana@nalar_logis·
Siapa yang menciptakan lapangan kerja? Spoiler: Bukan pemerintah!! Lapangan kerja muncul dari dua sumber utama: - Pengusaha lama yang memperluas usaha/ ekspansi. - Investor baru yang bawa modal buka usaha Tanpa dua ini, lowongan kerja tidak akan tumbuh. Pemerintah tidak bisa menyulap pekerjaan dari ruang kosong Apa peran pemerintah? Bukan menciptakan kerja langsung, tapi: - Menyediakan infrastruktur - Menjamin kepastian hukum - Menjaga stabilitas politik & sosial - Menciptakan iklim investasi yang sehat => Itu semua fondasi agar pengusaha & investor merasa aman untuk bawa modal buka usaha Bayangkan, misalnya kita punya uang mau investasi di satu negara, namun : - Aturan berubah-ubah. - Ada ketidakpuasan -> pengusaha ditekan demo. - Politik gaduh -> elite saling jegal. - Polarisasi luas di masyarakat. Maukah kita bawa uang buka usaha di lingkungan tersebut? Iklim investasi itu seperti tanah. Kalau tanahnya subur (stabil, aman, jelas), benih usaha akan tumbuh. Kalau tanahnya rusak (gaduh, tak pasti), benih pun mati sebelum tumbuh. => Lapangan kerja tumbuh dari benih yang ditanam dan dirawat bersama, bukan dari janji-janji politisi. Kesimpulan: Pemerintah bukan pencipta kerja, tapi pencipta iklim Yang menciptakan kerja adalah pengusaha dan investor yang merasa aman untuk membawa modal memperluas usaha disini kuncinya : - Stabilitas politik - Ketertiban sosial - Kepastian hukum
tempo.co@tempodotco

#TempoPlus

Indonesia
80
5.6K
11.5K
497.4K