Segacething retweetledi
Segacething
21.1K posts

Segacething retweetledi

Menurut keyakinan bang Haris Azhar, berdasarkan KUHAP yg baru, harusnya bisa kasus Andri Yunus dilakukan di peradilan umum..
T0361M4N@toe_giman
🥸🥸🥸
Indonesia
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi

Hati-hati! Modus Penipuan Baru Waspada terhadap modus penipuan yang kini semakin canggih. Pelaku berpura-pura menjadi polisi dan kurir untuk meyakinkan korban. Di akhir percakapan, mereka akan mengirimkan sebuah tautan (link) yang ternyata digunakan untuk meretas ponsel korban dan mengakses seluruh data di dalamnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, para pelaku sudah mengetahui data pribadi calon korban mulai dari nomor KTP, alamat, hingga nomor rekening. Hal ini membuat korban mudah percaya dan akhirnya terjebak.
Tetap waspada, jangan pernah membuka link mencurigakan, dan segera laporkan jika mengalami kejadian seperti ini.
Indonesia
Segacething retweetledi

Guys, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Pak Soleman Ponto baru ngomong sesuatu di podcast On The Record yang kalau dipikir-pikir adalah salah satu pengakuan paling blak-blakan yang pernah diucapkan oleh pejabat intelijen Indonesia di ruang publik.
Dan gua mau breakdown ini dengan sangat jujur karena ini menyentuh langsung pertanyaan yang paling fundamental tentang negara demokrasi siapa yang mengawasi orang-orang yang tidak bisa diawasi?
INTELIJEN ITU PEKERJAANNYA MELANGGAR HUKUM DAN ITU BUKAN RAHASIA
Pak Ponto bilang ini dengan sangat tegas dan tanpa basa-basi sejak menit pertama.
Dunia hanya punya dua cara menyelesaikan masalah by law atau beyond the law.
Dan intelijen bekerja di wilayah beyond the law itu.
Bukan artinya mereka kebal hukum tapi pekerjaan mereka secara struktural dirancang untuk melampaui batas yang berlaku bagi warga biasa.
Kalau kamu ngeprint uang di rumah itu kriminal.
Kalau negara menciptakan uang dari angin itu kebijakan moneter.
Analogi yang sama berlaku di intelijen.
Kalau kamu masuk rumah orang tanpa izin itu pelanggaran.
Kalau intel yang melakukan itu atas perintah negara itu operasi.
Tapi Pak Ponto menambahkan satu klausul yang sangat penting kalau ketahuan ya dihukum.
Tidak ada perlindungan otomatis.
Tidak ada impunity.
Dan yang paling menarik atasan tidak akan pernah mengakui menyuruh.
Kalau ketahuan, si operatif akan bilang ini inisiatif sendiri dan dia menanggung sendiri.
PERINTAH YANG TIDAK PERNAH EKSPLISIT DAN ITU DISENGAJA
Ini yang paling mengejutkan dan paling penting untuk dipahami.
Pak Ponto menjelaskan bahwa dalam dunia intelijen tidak ada perintah tertulis yang bilang besok jam sekian culik si A.
Perintahnya selalu implisit.
Selalu dikemas dalam bahasa yang ambigu.
Contoh yang dia kasih sangat konkret kalau seorang pemimpin bilang besok aku tidak mau dengar berita soal orang itu lagi atau cabut rumput suketeki itu itu bukan perintah eksplisit melakukan tindakan tertentu. Tapi bagi intel yang terlatih itu sudah cukup sebagai sinyal.
Mereka yang menafsirkan.
Mereka yang memilih caranya.
Mulai dari persuasi lunak sampai dalam kata-kata Pak Ponto sendiri tindakan paling ekstrem.
Dan karena perintahnya tidak pernah eksplisit, tidak ada yang bisa dipidanakan di atas.
Sistem ini dirancang dengan sangat cerdik untuk memastikan deniability selalu tersedia bagi pemimpin yang mengeluarkan sinyal.
KASUS ANDRI YUNUS DAN PERTANYAAN YANG TIDAK TERJAWAB
Konteks podcast ini adalah kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andri Yunus.
Pertanyaan yang diajukan ke Pak Ponto sangat langsung apakah mungkin itu operasi intelijen untuk menyebarkan ketakutan kepada kelompok-kelompok kritis?
Jawaban Pak Ponto sangat hati-hati tapi sangat revealing.
Dia bilang kalau itu betul-betul operasi negara yang direncanakan dengan baik Andri tidak akan pulang sama sekali.
Zero mistake.
Karena Andri masih hidup, itu bisa jadi menunjukkan ini bukan operasi terencana yang profesional.
Tapi yang dia tidak jawab secara langsung adalah apakah ini bisa dilakukan oleh unsur intelijen yang tidak profesional?
Yang masuk tanpa melalui seleksi ketat, tanpa pendidikan formal, hanya ditugaskan begitu saja?
Pak Ponto justru menyebut ini fenomena nyata yang dia temui sendiri ada orang yang ditempatkan di intelijen tanpa pernah melalui proses seleksi dan pendidikan yang benar, dan itu berbahaya karena mereka punya akses ke kapabilitas tapi tidak punya judgment untuk menggunakannya dengan benar.
NGO DAN AKTIVIS YANG KRITIS APAKAH MEREKA TARGET LEGITIMATE?
Ini yang paling mengkhawatirkan dari seluruh obrolan ini.
Pak Ponto secara eksplisit mengkonfirmasi bahwa surveillance terhadap kelompok-kelompok kritis termasuk LSM dan aktivis adalah lumrah dan wajar dari kacamata intelijen.
Dia bahkan lebih jauh dari itu.
Dia bilang orang yang mempertanyakan kenapa Indonesia perlu punya badan intelijen orang itu sudah kena pengaruh asing.
Sudah menjadi korban penggalangan negara lain.
Dan yang lebih mengejutkan dia menyebut orang-orang seperti itu sebagai rumput suketeki yang perlu dicabut karena mengganggu padang rumput.
Cabut. Dalam konteks percakapan tentang kapabilitas intelijen yang bisa melakukan dari persuasi sampai tindakan paling ekstrem.
Ini adalah framing yang sangat berbahaya dalam konteks demokrasi.
Karena dalam sistem demokrasi yang sehat mengkritik pemerintah, mempertanyakan kebijakan, bahkan mempertanyakan keberadaan lembaga tertentu itu adalah hak konstitusional yang dilindungi.
Bukan tanda seseorang sudah dipengaruhi asing.
Bukan alasan untuk dijadikan target operasi apapun.
DON'T LIE BUT DON'T TELL THE TRUTH DAN ITU TERMASUK PODCAST INI
Pak Ponto menutup dengan kalimat yang menurut gua adalah yang paling brilian dan paling menggelisahkan sekaligus.
Dia bilang dari skala 1 sampai 10 seberapa bisa dipercaya apa yang dia katakan tadi dia jawab sembilan.
Lalu langsung menambahkan bahwa dia juga punya target mempengaruhi pembawa acara dan semua penonton.
Karena itulah intelijen.
Dan prinsip tertingginya adalah don't lie but don't tell the truth.
Jangan bohong tapi jangan katakan kebenaran yang sesungguhnya.
Artinya guys seluruh obrolan yang kita baru analisis ini pun harus dibaca dengan layer tambahan.
Apa yang dia katakan belum tentu semua yang dia tahu.
Dan apa yang dia tidak katakan mungkin lebih penting dari apa yang dia katakan.
intelijen yang profesional dan terkelola dengan baik adalah kebutuhan negara yang riil dan legitimate.
Tapi intelijen yang bekerja tanpa pengawasan yang kuat, yang bisa digunakan untuk membungkam kritik, yang membuat orang takut berbicara karena khawatir jadi target operasi itu bukan alat pertahanan negara. Itu alat pembungkaman demokrasi.
Dan perbedaan antara keduanya sangat tipis dan sangat mudah dilintasi kalau tidak ada mekanisme akuntabilitas yang benar-benar berfungsi.

Indonesia
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi

Presiden ke-8, dengan 8 catatan kealpaan yang seharusnya tak pernah ditoleransi.
8 kealpaan yang terlalu sering dianggap wajar.
8 kealpaan yang jika terus dimaklumi, akan jadi standar baru.
8 kealpaan yang menguji batas toleransi publik.
8 standar publik yang pelan-pelan diturunin tanpa sadar.

Indonesia
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi

Akhirnya mulai kelihatan juga denyutnya.
Ratusan mahasiswa di Semarang geruduk Kodim. Bukan sekadar demo biasa, ini sinyal kalau ruang sipil makin terasa sempit.
Tuntutannya jelas:
Turunkan Prabowo–Gibran, tarik militer dari sipil, sampai usut tuntas kekerasan.
Kalau mahasiswa sudah turun dengan tuntutan sekeras ini, biasanya ada dua kemungkinan:
didengar… atau ditekan.
Gimana lur?
Apa yang akan terjadi?
Di dengar atau ditekan?

Indonesia
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi

Guru saya pernah bilang...
"Saat kamu di luar jam kerjamu, tinggalkan posisimu, jabatanmu, dan gajimu.”
Dulu aku cuma manggut-manggut. Tapi makin kesini, aku ngerti maksudnya.
Di luar kerja, orang gak butuh tau kamu manager, supervisor, atau punya gaji dua digit.
Bergaullah tanpa seragam. Bersikaplah tanpa pangkat.
Justru di situ kerendahan hati diuji.
Kadang yang bikin orang nyaman bukan ilmu kita, tapi rendahnya nada bicara. Tidak menggurui, tidak pula meninggi.
Indonesia
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi

Dunia kesehatan kekurangan dana
Dunia pendidikan kekurangan dana
Hanya fokus MBG
Ibu hamil kurang gizi, melahirkan anak bodoh, karena kurang gizi selama dalam kandungan
Gaji guru kecil sehingga ongkos saja kurang, bagaimana mau maksimal mendidik murid, lagi-lagi anak jadi bodoh karena kurang ilmu
Sekarang peringkat 131 - 142 negara
Sepuluh tahun lagi peringkat ? 142 ?
Speechless
CNN Indonesia@CNNIndonesia
Skor IQ Rata-rata Orang Indonesia, Peringkat ke-131 dari 142 Negara cnnindonesia.com/gaya-hidup/202…
Indonesia
Segacething retweetledi
Segacething retweetledi

Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Nakula@03__nakula
Pedagang membuang Timun ke sungai karena murah dan gak laku. Padahal kalo disumbangkan ke panti² asuhan atau pesantren pasti pada mau, gak mubazir kek gini. 🥹
Indonesia
Segacething retweetledi














