
Guys, ada satu pengakuan dari akademisi yang menurut gue paling penting dan paling jarang diungkap secara terbuka tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan ekonomi Indonesia. Setiap tahun kita merayakan data bahwa Singapura adalah investor terbesar di Indonesia. Tepuk tangan. Bangga. Wah, investor asing makin percaya sama kita. Tapi ada satu kemungkinan yang jarang dibahas: sebagian besar uang itu bukan uang Singapura. Itu uang kita sendiri yang pulang kampung pakai kostum bule. Modusnya bernama round trip investment. Begini caranya: pengusaha super kaya Indonesia eksploitasi sumber daya alam nikel, batu bara, sawit. Operasionalnya pakai rupiah. Gaji buruh pakai rupiah. Semua biaya produksi pakai rupiah kita. Tapi keuntungannya disisihkan dan ditransfer ke perusahaan cangkang di Singapura. Di sana uang itu "dicuci" jadi modal asing. Lalu dibawa balik ke Indonesia sebagai investasi asing alias FDI. Lima taipan terkaya Indonesia menurut riset yang dikutip narasumber menguasai lebih dari 40% perputaran uang di seluruh kawasan Asia Tenggara. Big Five-nya: Sinarmas Group, Indofood Group milik Antoni Salim, Sukanto Tanoto, Wilmar, dan Adaro milik Garibaldi Thohir. Dan ini bagian yang paling bikin emosi: produksi mereka pakai rupiah, tapi mereka jual hasilnya ke luar negeri dibayar dolar. Kalau kita mau beli balik dari mereka kita juga harus bayar dengan dolar. Artinya begitu dolar naik dari Rp17.000 ke Rp18.000 mereka otomatis untung. Tanpa kerja tambahan apapun. Sementara rakyat menjerit karena harga naik ada kelompok yang justru tepuk tangan karena keuntungan mereka otomatis melonjak. Kenapa Singapura jadi surga buat mereka? Pajak rendah. Identitas pemilik dilindungi tidak akan pernah diungkap siapa pemiliknya. Kepastian regulasi dikunci puluhan tahun. Dan yang paling penting tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Logikanya sederhana: cari duit sebanyak-banyaknya dari Indonesia, bawa ke Singapura, dan di sana kamu dilindungi. Selama ini tidak diubah Singapura akan terus jadi investor nomor satu di Indonesia sampai kiamat. Kelompok ini juga melakukan political funding ke partai-partai politik. Tidak ada bukti tertulis tapi semua orang yang paham ekonomi politik tahu denyutnya ada. Itulah kenapa kalau pemerintah mau pajaki mereka dengan pajak besar selalu ada yang namanya ewuh pekewuh. Dan kelompok ini paling masif dan paling makmur justru di era pasca-SBY, terutama era Jokowi. Kenapa? Omnibus Law. Undang-undang yang cacat dari awal dan kecacatan itu yang mereka manfaatkan untuk ekspansi kapital ke seluruh Asia Tenggara. Bedanya dengan era Soeharto: dulu konglomerat diasuh oleh kekuasaan. Mereka dikendalikan, dipagari, tidak bisa seenaknya. Pasca reformasi terbalik. Konglomerat yang mengasuh pemerintah. Era Orde Baru, konglomerat masuk istana tapi masih di pagar. Pasca reformasi, mereka sudah di dalam, bikin pagar sendiri, ngatur semuanya. Dan ini yang paling mengkhawatirkan untuk situasi sekarang: ketika pemerintah mulai serius dengan agenda transparansi audit tambang, NGO minta data, mahasiswa minta keterbukaan itu mengganggu rasa aman kelompok ini. Reaksinya? Tarik dana yang sudah ditanam di Indonesia. IHSG turun terus. Rupiah melemah. Dan civil disobedience yang muncul di masyarakat bisa jadi termasuk belanja isu yang dikehendaki oleh pemain-pemain besar ini. Kalau rakyat sudah tidak percaya pada pemerintah, situasi kacau mereka bisa eksploitasi lebih banyak lagi. Tidak ada keamanan, ambil saja, ambil saja. Stabil mereka profit. Rusuh mereka tetap profit. Itulah kapitalisme super. Potensi kerugian negara dari praktik ini diperkirakan lebih dari Rp500 triliun itu baru dari estimasi pajak yang mereka bayar di Singapura dibanding yang seharusnya masuk ke Indonesia. Nilai sebenarnya di belakang jauh lebih besar dari itu. Solusinya sudah jelas: investigasi round trip investment, audit berdampak dengan sanksi pengembalian dana, dan ubah undang-undang investasi supaya modal asing harus benar-benar asing bukan uang Indonesia yang dicuci di luar lalu dibawa balik. Prabowo punya pengalaman hidup di kawasan itu cukup lama dan tahu praktik ini. Tapi sampai sekarang ini baru sebatas belanja masalah. Belanja isu. Kapan akan dieksekusi tergantung siapa yang menentukan prioritas. Dan pertanyaan terakhir yang paling mengerikan: apakah ada kaki tangan kelompok ini di dalam pemerintahan Prabowo sekarang? Jawabannya: sepertinya tahu karena Prabowo sudah bergaul dengan keluarga Cendana puluhan tahun dan sudah hafal pola-polanya. Artinya Prabowo mungkin tahu siapa mainin apa. Tapi apakah dia akan, atau bisa, bertindak itu pertanyaan yang sampai sekarang belum ada jawabannya. selama Indonesia merayakan Singapura sebagai investor nomor satu tanpa pernah bertanya berapa persen dari uang itu sebenarnya milik orang Indonesia sendiri yang dicuci lewat Marina Bay kita akan terus jadi negara yang dieksploitasi oleh dirinya sendiri. Bukan dijajah asing. Tapi dijajah oleh segelintir keluarga sendiri yang lebih nyaman menyimpan kekayaan negara di luar negeri daripada membangun negaranya. Dan setiap kali rupiah melemah, BBM naik, dan rakyat menjerit ada segelintir keluarga yang justru otomatis lebih kaya tanpa perlu berbuat apa-apa.






























