zhil@zhil_arf
Rule of thumb politik adalah, "uangnya di mana?"
Dari sini jelas bahwa "Soeharto jatuh berkat didemo mahasiswa" adalah narasi sesat. Narasi itu tidak menjawab pertanyaan, "uangnya di mana?"
"Indonesia merdeka karena kita bergerilya" juga adalah narasi yang tidak lengkap.
Uangnya di mana?
Setelah 1945, Belanda ingin masuk lagi ke Indonesia karena satu tujuan yaitu uang.
Uangnya ada dalam bentuk kayu bulat, karet, migas, kopra, tembakau, dan kopi.
"NICA masuk membonceng Sekutu." Apa tujuan NICA masuk? Uang.
Pada saat itu Belanda sangat butuh uang karena luluh lantak pasca Perang Dunia II.
Agresi Militer I fokusnya adalah merebut dan mengamankan sumber uang, terutama perkebunan cash crop Jawa Barat.
Perang gerilya yang dilancarkan TNI dan dikomandoi Jenderal Sudirman membuat Belanda tidak bisa mendapatkan uang dari perkebunan kita.
Gerilyawan kemerdekaan menculik dan membunuh mandor kebun, membom rel, dan merampok truk. Rakyat dan para petani perkebunan memusuhi Belanda dan mendukung gerilyawan Republik.
Tentara Republik menyerang sumber uang Belanda. Produksi perkebunan luluh lantak selama perang kemerdekaan. Tujuan perang penjajahan Belanda, yaitu memulihkan suplai uang, gagal total.
Perjuangan kemerdekaan Indonesia di jalur diplomasi juga berhasil membuat Amerika mengancam memotong suplai uang Marshall Plan yang sangat dibutuhkan Belanda.
Konferensi Meja Bundar 1949 berjalan mulus karena Belanda masih mendapatkan apa yang dia cari, yaitu uang, lewat kontrol kepemilikan atas perkebunan cash crop dan pemindahan utang Hindia Belanda ke Indonesia.
Hindia Belanda lepas? Siapa peduli. Yang penting uang. Indonesia pun merdeka sepenuhnya pada 27 Desember 1949.
Uang, uang, uang. Bom uang, hancurkan uang, negosiasikan uang, ciptakan uang, distribusikan uang. Inilah politik. Indonesia merdeka karena berhasil berstrategi uang.
Kejatuhan Soeharto juga sama.
Pada 15 Mei 1998, siapapun bisa melihat bahwa Soeharto, Tutut, Bob Hasan, Pangkostrad, dan anggota-anggota inti dinasti Cendana telah gagal total dan sudah mustahil untuk bisa memulihkan ekonomi Indonesia.
Krisis ekonomi sejak 1997 telah membuat orang kehilangan uang. Konglomerat kehilangan uang. Jenderal kehilangan uang. Orang partai kehilangan uang. Bahkan preman kehilangan uang. Semua orang kehilangan uang bahkan bangkrut.
Semua orang itu ngamuk-ngamuk terhadap Soeharto yang tua, pikun, sakit, kolot, panik, bingung, dan kehabisan ide akan bagaimana menyetop api krisis ekonomi dan kerusuhan yang semakin membakar uang yang ada di Indonesia hingga tidak bersisa.
Tidak mungkin mengembalikan "stabilitas politik" dengan membantai mahasiswa yang berdemo, karena demo massal hanya bakal makin ekstrem. Ekonomi pun akan semakin hancur dan uang semakin musnah.
Apabila pembantaian pendemo terjadi, IMF dan asing juga akan cabut dan Indonesia akan jadi negara pariah seperti Korea Utara. Uang asing akan hilang. Padahal, Indonesia sangat butuh uang asing IMF untuk memulihkan ekonomi dan menyelamatkan uang.
Untuk menyelamatkan uang, tidak ada cara lain kecuali menelan pil pahit, membubarkan Orde Baru, dan melakukan Reformasi.
Kalkulasi elite politik menjadi jelas. Reformasi = Uang. Tidak Reformasi = Tidak ada uang.
Siapapun arsitek-arsitek yang menginginkan Reformasi, mereka jelas sangat berhasil melakukan cipta kondisi sampai kalkulasi ini bisa-bisanya tercipta.
Inilah contoh berpolitik yang sukses: cipta kondisi. Elite politik akan bergerak sendiri sesuai keinginan hati kita, seperti boneka wayang.
Golkar terang-terangan mencabut dukungannya lewat pernyataan terbuka yang dibacakan Ketua DPR/MPR, Harmoko.
Menteri-menteri mencabut dukungannya dan mundur massal serentak. Aktivitas pemerintahan lumpuh total.
ABRI mencabut dukungannya. Panglima ABRI, Wiranto, datang ke rumah Soeharto dan menyatakan bahwa ia "tidak lagi dapat menjamin keamanan pribadi Soeharto".
Kalau ada gerombolan orang marah yang datang ke rumah Soeharto dan membantai habis Soeharto dan keluarganya dengan golok, ups, sori tapi ABRI sudah tidak bisa apa-apa lagi. Mati aja lu.
Soeharto pun langsung mundur.
---
Kalau kamu mau bikin demo besar-besaran, targetnya jelas: sumber uang rezim.
Ciptakan kondisi di mana menerima tuntutanmu adalah opsi terbaik untuk menyelamatkan uang.
17+8 pasti gagal karena tidak ada konsekuensi apabila diabaikan. Tidak ada ancaman terhadap uang. Jadinya ya diabaikan lol.
Reformasi berhasil karena konsekuensi penolakan Reformasi adalah krisis berlarut --> uang hilang.
Hari ini, apa sumber uang rezim yang bisa ditarget?
Ya mana gw tau. Tapi banyak opsi.
Misal: mogok massal.
Kalau karyawan sumber-sumber uang rezim mogok massal, aparat mau apa? Menembak karyawannya? Mogok massalnya pun berubah dari sementara jadi selamanya, karena karyawannya mati dibantai. Perusahaan bangkrut dan uangnya hilang.
Mogok massal kemungkinan sangat tidak cukup tho, karena sumber uang rezim yang sesungguhnya adalah sawit dan tambang.
Somehow, aliran sumber uang ini harus dipotong. Baik dengan menduduki suatu tempat secara fisik, atau lewat suatu konspirasi politik.
Kejatuhan rezim Shah Reza Pahlavi di Iran pada 1979 adalah contoh paling jelas dan dramatis. Karyawan perusahaan migas Iran melakukan mogok massal. Produksi dan ekspor migas seluruh negara distop oleh karyawan yang berdemo.
Dana harian operasional pemerintahan termasuk untuk gaji polisi dan tentara pun lenyap.
Rezim sang Shah langsung jatuh.
Uang. Politik adalah uang. Uang bisa diukur secara angka. Ketika mengancam, ancamlah uang. Ketika menyerang, seranglah uang. Ketika bernegosiasi, tawarkanlah uang.
Apabila demo tidak menyentuh sumber uang, tidak ada gunanya.