pengenjadiorangkaya

2.3K posts

pengenjadiorangkaya banner
pengenjadiorangkaya

pengenjadiorangkaya

@diplomatmudaa

Katılım Eylül 2019
354 Takip Edilen5 Takipçiler
pengenjadiorangkaya retweetledi
The Best
The Best@TheBestqueenx·
We've been doing it WRONG our whole lives?
English
509
2.2K
37.8K
7.1M
pengenjadiorangkaya retweetledi
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono@Dandhy_Laksono·
Gen Alpha tentang Pesta Babi ❤️❤️
Filipino
168
9K
29.5K
958.1K
pengenjadiorangkaya retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
206
6.9K
19.4K
841.6K
pengenjadiorangkaya retweetledi
dd
dd@kimschew·
the first k-actor to post abt palestine. had refugee diary for kids in wartorn countries. 0 personal scandals in 40yrs. known as nation’s bookworm & insanely smart. theres always a reason why shes the most respected actress in sk. the only greenflag we can fully trust, kim hyesoo
Elena ִֶָ𖤐🦋@notyourelena

It’s hard to find a celebrity bias you truly admire who’s not only talented but also genuinely kind. That’s why when you find one, you appreciate and support them even more.

English
48
18.2K
119.6K
2.7M
pengenjadiorangkaya retweetledi
⋆
@jeonophiles·
every woman’s ideal type
English
8
2.2K
8.3K
61.4K
pengenjadiorangkaya retweetledi
Jvnior
Jvnior@Jvnior·
LIVE FOOTAGE: Palestinian man riding his bicycle shot in the head by the IDF today. He was known for feeding cats every day.
English
1.1K
24.5K
85.2K
2.3M
pengenjadiorangkaya retweetledi
The Real Daniel 🇺🇸
The Real Daniel 🇺🇸@TheReal_DMartin·
Justin Bieber Coachella 2026 (Weekend 2)
English
8
431
3.2K
98.5K
pengenjadiorangkaya retweetledi
Elo
Elo@luvshelo·
JUSTIN BROUGHT OUT BILLIE EILISH FOR OLLG
English
44
3.2K
17.6K
311.7K
pengenjadiorangkaya retweetledi
Phoenix
Phoenix@sodaqueee·
Ya Allah manifest jadi orang tua yang settle secara mental & financial biar kalo punya anak bisa support pendidikan+karirnya
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang. Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri. "Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?" Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah. Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya. Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal. Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah. Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori. Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi. Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan. Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan. Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar. Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan. Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop. Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel. Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti. Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu. Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira. Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa. Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya. Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja. Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana. Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf. Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan. Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti? Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib. Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.

Indonesia
26
3.8K
21.3K
393.6K
pengenjadiorangkaya retweetledi
bib new edition
bib new edition@BangBib4·
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon ) Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut Saya kasih tahu sebab dan alasannya Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000, Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang) Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan. Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah. Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal. Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi Panen manual (biaya tenaga kerja). Pengemasan yang layak. Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota). Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya. Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi. Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli. Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan. Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton. Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga. Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total. Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel. Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah. Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Nakula@03__nakula

Pedagang membuang Timun ke sungai karena murah dan gak laku. Padahal kalo disumbangkan ke panti² asuhan atau pesantren pasti pada mau, gak mubazir kek gini. 🥹

Indonesia
450
5.2K
20K
1.3M
pengenjadiorangkaya retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
BETUL! Belajar bahasa baru BISA memperlambat penuaan otak dan membuat otak lebih tajam. Sini gue bahas! Jadi ada penelitian yang melibatkan lebih dari 86.000 orang dari 27 negara Eropa dilihat kebiasaannya dalam berbahasa. 
Hasilnya adalah orang yang pakai lebih dari 1 bahasa dalam keseharian (multilingual) punya risiko percepatan penuaan yang 30% LEBIH RENDAH.
Semakin banyak bahasa yang dipakai, grafik risikonya makin turun. Sebaliknya, mereka yang hanya pakai 1 bahasa justru keliatan punya risiko percepatan penuaan lebih tinggi di data cross-sectional dan longitudinal. Penuaan yang dimaksud di sini meliputi kemampuan kognitif, kemampuan fisik, dan kondisi lain yang terkait usia. Kenapa bisa gitu?
 Hipotesisnya adalah karena tiap kali kita ganti bahasa, otak dipaksa untuk milih kosakata, switch aturan tata bahasa, dan adaptasi konteks sosial. Itu semua ibarat “gym” buat memori kerja, dan fungsi eksekutif yaitu area yang paling rentan menurun saat menua.
dr. Adam Prabata tweet media
World of Statistics@stats_feed

If you learn another language you slow your brain’s aging.

Indonesia
37
1.3K
4.6K
93.4K
pengenjadiorangkaya retweetledi
dunia kegelisahan
dunia kegelisahan@IndonesiaFedera·
COBA DEH SESEKALI PAS SELESAI SHOLAT DOANYA MINTA KAYAK Gini.... 1. Ya Allah, aku tak punya apapun yang bisa kutunjukan, namun aku berharap engkau menyukai kebaikanku walaupun kebanyakan yang kumiliki adalah dosa 2. Ya Allah, sibuk lah aku dengan kebaikan hingga aku lupa akan kesedihan 3. Ya Allah, jauhkan aku dari rasa lelah hingga aku bersyukur atas keberkahan 4. Ya Allah, jika doa yang kulangitkan terhalang oleh dosa yang perna kulakukan, maka maafkan aku serta hapus lah dosa dosa ku ya Allah 5. Ya Allah, tunjukkanlah kepada hamba seindah apa hidup ini dan semudah apa hidup ini. 6. Ya Allah, jadikanlah ibuku di antara wanita wanita surga 7. Ya Allah, sebelum engkau cabut nyawaku, berilah aku kesempatan agar aku bisa mengasihi makan seluruh anak Indonesia
Indonesia
45
9K
36.7K
515.1K
pengenjadiorangkaya retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Izin mengulang penjelasan mengenai semprot parfum di leher berdasarkan jurnal ilmiah 🙏 Nah sebetulnya hingga saat ini BELUM ADA BUKTI KUAT bahwa menyemprot parfum di area leher itu bisa meningkatkan risiko penyakit tiroid atau kanker di area leher. Pembahasan mengenai jangan semprot parfum di area leher itu karena ada zat-zat kimia tertentu yang dalam parfum yang berpotensi mengganggu hormon tiroid, namanya 𝗲𝗻𝗱𝗼𝗰𝗿𝗶𝗻𝗲-𝗱𝗶𝘀𝗿𝘂𝗽𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗰𝗵𝗲𝗺𝗶𝗰𝗮𝗹𝘀 (𝗘𝗗𝗖). Beberapa zat diantaranya adalah phthalates, parabens, dan triclosan. Nah tapi yang perlu diperhatikan adalah sifatnya itu zatnya terakumulasi di tubuh, dapat melalui jalur mana saja, 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗞𝗛𝗨𝗦𝗨𝗦 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗱𝗶𝘀𝗲𝗺𝗽𝗿𝗼𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗹𝗲𝗵𝗲𝗿. Masalah yang lebih mungkin muncul bila menyemprotkan pafrum di leher adalah munculnya 𝗱𝗲𝗿𝗺𝗮𝘁𝗶𝘁𝗶𝘀 𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗹𝗶𝘁, kalo ini ada penelitian jelasnya. Keluhannya bisa berupa gata, kemerahan, dan kulit kering. Kesimpulan: -Bukti ilmiah menyemprotkan parfum langsung di leher terhadap terjadinya penyakit tiroid dan kanker MASIH BELUM KUAT -Kandungan zat pada parfum yang dapat berpotensi menyebabkan gangguan tiroid, sifatnya terakumulasi di tubuh, bisa dari berbagai tempat, TIDAK KHUSUS di leher -Risiko yang dapat muncul akibat menyemprotkan parfum di leher adalah dermatitis Semoga bermanfaat! SUMBER: 1. Arribas. 2012. Allergic Contact Dermatitis to Fragrances. Part 1 2. Pearce. 2024. Endocrine Disruptors and Thyroid Health. 3. Alblooshi. 2025. The impact of perfumes and cosmetic products on human health: a narrative review.
nav.@navyrbn

HAMPIR SEMUA ORANG SEMPROT PARFUM DI LEHER, TERMASUK GUE.. TERNYATA OH TERNYATA 😱

Indonesia
52
1K
4.2K
673.2K
pengenjadiorangkaya retweetledi
nay 🙆🏼‍♀️
nay 🙆🏼‍♀️@panggilnayyyy·
FOR REAL.. ikutin tips kakak2 threads yang bilang pewangi kamar mandi pakai pengharum calmic yg verdy bikin ruangan wangi SEMERBAK 😭🫵 bukan yg 3 hari udh ilang wanginya.. ini udh mau sebulan masih wangi bgt
nay 🙆🏼‍♀️ tweet media
Indonesia
44
557
3.7K
229.4K
pengenjadiorangkaya retweetledi
Ọládélé 🇳🇬👑
Ọládélé 🇳🇬👑@Theoladeledada·
This is how they do electric stunning for animals in slaughterhouses, and they die instantly.. There are so many details of human civilization that if we really looked closely at them, we’d be shocked.
English
7.8K
11.6K
124.5K
32.7M