Dokter Tifa

5.8K posts

Dokter Tifa banner
Dokter Tifa

Dokter Tifa

@DokterTifa

Tifauzia Tyassuma, MD Socio-behavioral Epidemiologist . Spiritual Neuroscientist . Public Intellectual . Guardian of Truth

Katılım Mart 2022
1.2K Takip Edilen221.6K Takipçiler
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Innalillahi wa Inna ilaihi rojiuun. Saya baru dapat postingan Fufufafa yang ini. Sejahat dan sebrutal ini penghinaan Fufufafa kepada Presiden @prabowo dan putranya mas Didiet. Kita sudah tahu siapa pemilik akun Fufufafa ini, tidak usah tedeng aling-aling. Kenapa dibiarkan oleh negara?
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
189
1.4K
4.4K
124.7K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Penghinaan paling sadis, paling brutal, paling biadab dari Fufufafa alias Gibran, tanpa tedeng aling-aling, straight to the head, kepada Presiden Prabowo Subianto. Alih-alih ditakedown, pelaku bukan saja dibiarkan. Malah diberi jabatan Wapres.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
221
1.5K
3.9K
52.5K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Seandainya ada sidang Ijazah Jokowi Tentang IP ini tentu jadi salah satu bagian yang bakal saya cecar kepada pak Jokowi di ruang sidang, jika memang ada sidang Bukan hanya soal keganjilan 3 nilai IPK yang berbeda yang diklaim sebagai nilai milik Joko Widodo IPK pertama dengan nilai IPK <2,00 adalah nilai yang dinyatakan Joko Widodo sendiri di tanggal 29 Juni 2013. IPK kedua dengan nilai IPK 3,05 dinyatakan oleh Bareskrim tanggal 22 Mei 2025 iPK ketiga dengan nilai IPK >2,5 dinyatakan oleh Rektor UGM tanggal 28 November 2025 Maka dengan senang hati saya akan menyiapkan 200an pertanyaan seputar IPK ini, jika memang ada ruang sidang kasus Ijazah. Pelapor, saya pastikan hadir. Jika tidak, dia tidak lebih dari seorang Penipu.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
390
1.2K
3.3K
60.7K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Otak Tidak Dirancang untuk “Perang 365 Hari” 1. Ketika seseorang berada dalam konflik terus-menerus, tekanan hukum, tekanan sosial, serangan psikologis oleh para termul, otak masuk ke mode survival. Ada 3 sistem utama yang bekerja: a. Amygdala (alarm emosi) Mendeteksi ancaman (real atau psikologis). Amygdala menjadi hiperaktif dalam konflik panjang Membuat kondisi selalu “siaga”, curiga, dan tegang Dalam kondisi 365 hari konflik: Amygdala menjadi overdrive, menghasilkan kelelahan emosional b. HPA Axis (Hypothalamus–Pituitary–Adrenal) Ini sistem stres utama tubuh. Sistem ini menghasilkan kortisol (hormon stres), yang berguna untuk pertarungan jangka pendek Tetapi berbahaya secara jangka panjang. Jika berlangsung lama: dalam kondisi Kortisol tinggi terus Sistem imun turun Energi mental habis c. Prefrontal Cortex (logika & kontrol diri) adalah Pusat yang mengatur keputusan rasional dan pusat pengendalian emosi. Dalam stres berkepanjangan: Fungsinya menurun, maka orang akan ebih emosional, lebih mudah menyerah, sulit berpikir jernih. 2. Fenomena: “Learned Helplessness” (Ketidakberdayaan yang Dipelajari) Ini konsep penting dalam neuroscience & psikologi. Ketika seseorang sudah berjuang lama, sudah mencoba berbagai cara, tetapi hasilnya tidak berubah Otak mulai menyimpulkan: “Apa pun yang saya lakukan, tidak ada gunanya.” Ini bukan kelemahan mental. Ini adalah adaptasi otak untuk menghemat energi. Akibatnya: Motivasi turun drastis Emosi menjadi datar atau meledak-ledak Muncul keinginan untuk “mengakhiri konflik dengan cara apa pun” 3. Pada kasus Rismon, seperti yang disampaikan mantan Pengacaranya, Khozinudin yang bercerita di sosmed bahwa Rismon sudah berulangkali menangis dan mengeluh cape, yang akhirnya membawanya pada keputusan meminta restorative justice dan meminta Jalan Damai? Secara neuroscience: Menangis adalah mekanisme pelepasan stres, mengaktifkan parasympathetic system (sistem tenang) Dengan menangis tubuh mencoba “reset” Keputusan seperti meminta restorative justice, bisa dilihat sebagai: “Switch dari mode fight → surrender/escape” Otak memilih: Menghentikan penderitaan Mengurangi beban energi Menghindari kerusakan lebih lanjut 4. Pertarungan ini bukan Sekadar Psikologis Ini Fisik Yang sering tidak disadari: Konflik panjang = kelelahan biologis Gejalanya bisa: Lelah ekstrem walau tidak kerja fisik Sulit tidur / tidur tidak nyenyak Brain fog (sulit fokus) Emosi tidak stabil Bahkan depresi ringan hingga berat Karena: Otak dan tubuh sudah “overheat” terlalu lama. 5. Sistem saraf manusia punya batas. Bahkan tentara di medan perang pun: Mengalami burnout PTSD Collapse mental setelah periode tertentu Konflik hukum/sosial yang panjang bisa setara secara neurologis dengan medan perang psikologis. 6. Refleksi Lebih Dalam (yang Jarang Dibahas) Ada satu hal penting: Dalam konflik panjang, yang sebenarnya terjadi bukan hanya “pertarungan eksternal” tetapi juga: “perang antara mempertahankan identitas vs mempertahankan kelangsungan diri” Pada titik tertentu, otak memilih: hidup lebih penting daripada menang 7. Kesimpulan Neuroscience Yang terjadi pada pertarungan jangka panjang adalah: Neurobiological burnout akibat prolonged stress conflict Dengan komponen: Amygdala overactivation Kortisol kronis Prefrontal cortex melemah Learned helplessness Emotional collapse → surrender decision: ---- Setelah 365 hari Pertarungan TROY vs JOKOWI Siapa yang untung? Yang untung adalah Pengacara Jokowi, bayaran mahal, argo muter terus, modal konpres, bicara santun di media (dan selalu minta kisi-kisi pertanyaan kepada host) Kedua adalah Para Termul Buzzer, pesanan serangan ke Troy tiada henti. Bombardir dari segala lini dengan bayaran mingguan. Media-media yang panen berita ijazah terus 24 jam sepanjang 365 hari. Pak Jokowi bagaimana? Penyakit Autoimun makin parah dan berat. Nyeri berkepanjangan. Organ-organ makin failure. Jadi, Mau dilanjut atau STOP ini?
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
94
250
967
10.4K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Jumat, 1 Mei 2026, Di hari libur Hari Buruh Internasional, saya, dr. Tifa, tetap melangkah ke POLDA Metro Jaya untuk menunaikan kewajiban lapor yang ke-23 kali. Kesibukan menyelesaikan tahap akhir S3, membuat saya hanya bisa Wajib Lapor di akhir Minggu atau hari libur. Ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah catatan tentang bagaimana hukum di negeri ini, dijalankan dengan sangat menyedihkan. Melalui Penyidik Kamneg Unit 5, saya mendapatkan informasi bahwa berkas perkara yang kira-kira setinggi 5 meter telah dikembalikan dari Polda ke Kejaksaan. Sebelumnya, berkas tersebut dikirim ke Kejaksaan pada 13 Januari 2026. Namun berdasarkan ketentuan hukum acara pidana, ketika berkas dikembalikan oleh Kejaksaan, penyidik wajib melengkapi dan mengirimkannya kembali dalam waktu maksimal 14 hari. Faktanya, pengiriman ulang baru dilakukan pada 17 April 2026. Artinya: Terjadi keterlambatan yang signifikan Berpotensi melanggar ketentuan prosedural Dan menimbulkan pertanyaan serius tentang akuntabilitas penegakan hukum Lebih dari itu, proses ini telah berdampak nyata: Status hukum yang menggantung berbulan-bulan Menjadi Tahanan Kota dengan Wajib Lapor berbulan-bula. Pencekalan ke luar negeri Menghasilkan Tertundanya ibadah Haji dan Umroh dan tugas-tugas keilmuwan profesional Tekanan psikologis yang tidak ringan Yang lebih memprihatinkan, situasi ini telah memperkeruh ruang publik: Masyarakat dipertentangkan, pecah belah adu domba oleh para Termul dan Buzzer, energi bangsa terkuras dalam konflik yang tidak produktif. Dalam negara hukum, kekuasaan seharusnya tunduk pada aturan, bukan sebaliknya. Saya tidak berbicara tentang siapa benar atau salah secara personal. Saya berbicara tentang prinsip: Bahwa hukum tidak boleh dipaksakan. Bahwa prosedur tidak boleh dilanggar. Bahwa warga negara berhak atas kepastian dan keadilan. Saya katakan hari ini Jika Ijazahnya terbukti asli, maka Jokowi sangat jahat, membiarkan anak bangsa bertikai bertahun-tahun. Menghabiskan, dana negara bermiliar rupiah, energi rakyat yang terkuras. Jika Ijazahnya terbukti palsu, sungguh saya kehilangan kata-kata untuk menyebut dia.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
211
656
2.5K
25K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
365 hari TROY VS JOKOWI Yang kami hadapi bukan sekadar konflik biasa. Selain melawan mantan Presiden yang menguasai banyak duit, konflik ini memiliki pola psikologis yang sangat spesifik: Kombinasi antara kekuasaan, penyangkalan, dan kebutuhan untuk tetap terlihat benar di mata publik. Bertarung dengan orang yang sadar salah itu masih ada titik masuk: logika, rasa malu, atau hukum. Tetapi bertarung dengan orang yang tidak merasa salah, justru menganggap dirinya benar, bahkan merasa berhak menghukum orang lain, seperti yang sudah dia lakukan terhadap Bambang Tri dan Gus Nur, Hasilnya adalah level pertarungan yang paling melelahkan secara mental dan eksistensial. Dan ketika lawan kami ini Jokowi, maka perhitungannya bukan hanya tentang individu, tetapi tentang: Sistem kekuasaan Jaringan kepentingan dan narasi publik yang dibentuk secara masif: memfitnah, membully, membunuh karakter, dan mencaci-maki. Itulah mengapa ini terasa seperti pertarungan 365 hari tanpa henti. Karena yang kami lawan bukan hanya orang, tapi struktur realitas yang dia bangun di sekitar dirinya. Hikmah 365 hari yang kami temukan adalah: Pertarungan paling berat bukan melawan orang kuat. Tapi melawan orang yang menipu, berbuat jahat, tidak merasa salah dan masih percaya diri meyakini dia pernah kuliah di tempat yang bahkan dia tidak tahu seperti apa tempat itu sesungguhnya, Dan tetap ingin menang, bahkan bukan sekedar itu, dia tetap ingin menghukum orang lain. Selama 365 hari ini, itulah pertarunganku. Aku tidak sedang melawan kekuasaan. Aku sedang melawan kebebalan yang merasa dirinya adalah kebenaran. Seseorang yang menipu, tidak merasa bersalah. Seseorang yang berbuat jahat, tapi merasa jadi korban. Dan yang paling berbahaya, dia ingin menang, sambil menghukum orang yang mengungkapnya. 365 hari, semoga Allah melindungi dan menjaga kami.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
214
632
2K
20K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Turut berdukacita atas peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi. Setiap nyawa yang hilang adalah kehilangan besar bagi keluarga, dan bagi kita semua sebagai bangsa. Peristiwa seperti ini pertama-tama perlu kita lihat secara jernih sebagai tragedi kemanusiaan yang harus ditangani dengan serius: keselamatan transportasi, kualitas infrastruktur, sistem pengawasan, dan respons darurat. Itu wilayah konkret yang harus segera diperbaiki dan diaudit secara transparan. Soal keterkaitannya dengan momen politik seperti reshuffle kabinet, hati-hati untuk tidak langsung menarik kesimpulan kausal tanpa dasar yang kuat. Dalam banyak kasus, dua peristiwa bisa saja terjadi berdekatan dalam waktu tanpa memiliki hubungan langsung. Namun, kalau ingin dimaknai sebagai “peringatan”, lebih sehat jika kita memaknainya sebagai refleksi kolektif: bahwa di tengah hiruk-pikuk kekuasaan, ada tanggung jawab besar yang tidak boleh diabaikan: keselamatan rakyat. Sistem besar (transportasi, birokrasi, kebijakan publik) sedang diuji. Ada gap antara percepatan pembangunan dan kesiapan keamanan. Manusia sering fokus pada kekuasaan, tapi lupa pada amanah dasar: menjaga nyawa. Pertanyaannya bukan sekadar “ini peringatan untuk siapa?”, tapi: apa yang harus diubah setelah ini terjadi?
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
16
81
378
8.4K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Tahun 2026, tahun yang menentukan masa depan umat manusia Pada 2026, sebagian besar dari 8 miliar manusia di planet ini masih tidak mengetahui bahwa keputusan-keputusan yang akan menentukan seperti apa tubuh dan masa depan generasi berikutnya sedang dibuat, sekarang, hari ini, dalam rapat-rapat yang tidak terbuka untuk publik, dalam laboratorium-laboratorium yang tidak terlihat, dalam jaringan kepentingan yang menentukan masa depan umat manusia. Di tahun 2026 inilah semua hal penting tersebut mengalami konvergensi, AI, bioteknologi, populasi, meledak dalam satu hantaman kosmik, menghasilkan definisi ulang spesies yang disebut manusia.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
30
166
699
11.1K
Dokter Tifa retweetledi
dunia kegelisahan
dunia kegelisahan@IndonesiaFedera·
IBU HAMIL HARUS TAHU INI! 1. ibu yang sedang mengandung bayi di dalam rahim harus makan dadih (olahan susu/yogurt) antara jam 11:00 siang sampai jam 02:00 siang. bayi akan memiliki otak yang sangat tajam dan akan menjadi cerdas. 2. jika anda makan jeruk, bayi akan memiliki warna kulit yang cerah. 3. kenakan cincin perak kecil di jari mana pun. anda tidak akan panik atau merasa tegang. 4. semakin sering seorang ibu hamil melafalkan doa/dzikir, maka bayi yang lahir akan menjadi semakin baik dan cakap.
Indonesia
2
389
1.7K
51.3K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Menuju Peradaban Baru Adam 5.0 di tahun 2030 Pandemi COVID-19 bukan sekadar krisis kesehatan global. Ia adalah fenomena kompleks yang membuka lapisan terdalam dari relasi antara biologi, teknologi, dan kekuasaan. Virus penyebabnya, SARS-CoV-2, menunjukkan karakteristik yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai “stealth virus”—virus yang mampu: Menyebar sebelum gejala muncul Menghindari deteksi awal sistem imun Memanipulasi respons inflamasi tubuh manusia Stealth Virus: Evolusi atau Rekayasa? Dalam dunia Virologi dan Biologi Molekuler, kemampuan virus untuk beradaptasi bukanlah hal baru. Namun, pada Pandemi muncul pertanyaan-pertanyaan besar: Mengapa tingkat penularannya sangat tinggi sejak awal? Mengapa ia mampu “diam” dalam tubuh sebelum menyerang? Mengapa respons imun seringkali menjadi penyebab kerusakan terbesar (cytokine storm)? Perdebatan mengenai kemungkinan keterkaitan laboratorium, termasuk diskusi tentang Gain-of-Function Research, menjadi salah satu polemik terbesar abad ini. Beberapa poin yang sering dibahas: Penelitian virus corona di berbagai laboratorium dunia sebelum pandemi Kemampuan teknologi modern untuk memodifikasi virus Kurangnya transparansi global di awal wabah. Kita berada dalam wilayah abu-abu antara sains, geopolitik, dan kepentingan global. Pandemi sebagai Instrumen Seleksi Peradaban Pandemi ini telah: Menguji sistem kesehatan global Mempercepat digitalisasi dan kontrol sosial Mengubah struktur ekonomi dunia Membelah masyarakat berdasarkan kepercayaan, informasi, dan ideologi Virus bukan hanya entitas biologis, ia menjadi aktor dalam seleksi peradaban manusia. Peradaban menuju Adam 5.0 for the next 2030 Buku karya dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc Silakan baca. Hubungi INDA 087725980909
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
13
47
221
5.3K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Saya , yang karena takdir Allah,menjadi seorang Dokter. Profesi yang lahir dari panggilan untuk menyembuhkan, untuk meringankan penderitaan, untuk menjaga tubuh manusia sebagai sesuatu yang suci dan bernilai, dan lebih dari itu, tubuh manusia adalah amanah. Amanah yang harus dijaga bukan hanya oleh manusia yang memilikinya, tetapi juga oleh regulator yang memangku kebijakan, dan oleh seluruh masyarakat yang tinggal saling bersama. Ketika saya di tahun 2012 memutuskan menggantung stetoskop dan menurunkan papan praktik Dokter, saya melihat bahwa yang terjangkit penyakit bukan hanya manusia-manusia, yang perlu diobati bulan hanya manusia-manusia Tetapi yang sakit, kronis, kritis, dan komplikatif, adalah Bangsa ini. Yang perlu diobati dalam tatalaksana gawat dan darurat adalah Negara ini. Maka saya, dengan ilmu, idealisme, ideologi, dan spirit untuk mengobati, memilih memperluas parameter dan perimeter, cakupan dan horison pemikiran dan tindakan Untuk mengobati bangsa yang sakit keras ini. Merawat dan memulihkan negara dalam stadium gawat dan darurat ini. Bekerja dalam senyap. Hanya mengharap cahaya ridha Illahi. Amiiin.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
83
344
1.4K
14.1K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Budi Arie sebut Isu Ijazah Jokowi tidak substantif alias tidak penting Kalau memang tidak substantif, ngapain Jokowie laporkan saya dkk ke POLDA tanggal 30 April 2025 setahun lalu. Nah malah jadi makin terang-benderang, kan Ijazahnya abal-abal, 709 dokumen dengan riwayat pendidikannya morat-marit, malah lalu sejarah keluarganya pun jadi ikut diubek-ubek. Saya mengingatkan Pak Jokowi sama dengan saya mengingatkan Rismon si Omon-Omon: Kalau punya Ijazah palsu itu diem, sssttt jangan berisik! jangan sok petetang-petenteng, Jangan sok lopar-lapor malah akhirnya urusan makin blangsak ngga keruan. Saya memang punya kepentingan meneliti Ijazah Jokowi untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk menghina ataupun merendahkan. Kalau punya Ijazah asli, ya tinggal ditunjukkan saja, beres. Ngapain pakai lapor polisi segala. Nah kan jadinya ambyar. Jadi kelihatan skripsi palsunya, transkrip palsunya, koran KR palsu, KKN palsu, Registrasi palsu, foto-foto palsu dll dkk malah jadi keumbar-umbar. Hal sama terjadi pada Si Omon. Koar sama gertak sini, teriak-teriak, lha malah kebongkar Ijazah palsu bahkan surat kematian palsu. Soal surat kematian palsu itu betul-betul ngga habis pikir. Moon Mon.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
245
989
2.8K
39.2K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
-Dokter Tifa akan membantu anda mempersiapkan tahun 2030- Ini adalah buku kelima dari 40 buku yang saya persiapkan untuk anda semua, menghadapi tahun 2030 dan selanjutnya. Tahun 2030 Peradaban Manusia berubah seluruhnya. Dan waktunya tinggal 4 tahun dari sekarang. Saya bukan Ilmuwan atau Tokoh yang bisanya hanya berteriak: "Akan ada kiamat" "Ini ulah Elite Global" "Teori Konspirasi" Dan sibuk ajak anda mengawang-awang tentang Bilderberg, Freemason, Illuminati, WEF, One World One Order, dan hanya menakut-nakuti tanpa memberikan solusi. Saya sendiri sudah, sedang, dan akan terus mengajak anda untuk bersiap tanpa kehilangan ketenangan dan kendali diri. Membangun kapal seperti Nabi Nuh. Menulis buku-buku sebagai panduan buat anda semua Membentuk sistem Mendidik murid Membangun komunitas Menyiapkan metode Mewariskan peta jalan Karena di antara 2030-2100 terjadi ya perubahan peradaban ras manusia, saya secara alamiah akan meninggalkan dunia fana ini, Maka sejak sekarang saya akan memandu anda sampai akhir hayat dan meninggalkan warisan ilmu yang semoga berguna menghadapi segala yang bakal terjadi.
Dokter Tifa tweet mediaDokter Tifa tweet media
Indonesia
27
146
449
9.1K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Ini saran sangat bagus dari salah seorang Netizen. Pada dasarnya tugas saya dan mas Roy sebagai Peneliti Keaslian ijazah dan Riwayat Pendidikan Joko Widodo sudah selesai setelah kami bukukan hasil penelitian kami JOKOWI'S white paper. Saya juga ingin segera beranjak kepada hal-hal besar yang harus disiapkan untuk masyarakat: antisipasi perluasan Perang Dunia III ke Indo-Pasifik, bencana kelaparan akibat krisis energi, masa depan umat manusia 2030, dan banyak hal lain yang harus segera menjadi concern saya. Doakan yaaa
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
66
247
886
24.7K