
“Prajurit batalyon bisa jadi imam masjid.” Pernyataan Menteri HAM ini menunjukkan bagaimana TNI di era Prabowo makin masuk ke ruang sipil, dari MBG, pangan, kesehatan, pendidikan, sampai agama. Padahal di saat yang sama, keterlibatan aparat juga terus muncul dalam konflik agraria, perampasan tanah, pengamanan proyek investasi, intimidasi warga, hingga bentrokan dengan masyarakat adat dan petani di berbagai daerah. Masalahnya bukan pada individu tentaranya. Tapi ketika aparat bersenjata mulai hadir di hampir semua urusan warga, batas sipil dan militer makin kabur. Masjid adalah ruang ibadah dan ruang sosial masyarakat. Ketika tentara dinormalisasi jadi figur religius, negara sedang memperluas logika komando sampai ke ruang spiritual. Reformasi 1998 pernah menolak dwifungsi ABRI. Hari ini, bayangannya muncul kembali dengan wajah baru: “pengabdian”, “efisiensi”, dan “kepentingan nasional”. Tentara tugasnya pertahanan negara. Bukan mengurus semua kehidupan sipil. Stop Militerisme, Kembalikan TNI ke Barak.

























