who dis

2.1K posts

who dis banner
who dis

who dis

@junyaibo12

A Carpenter, who lost his Happiness to chase a Diamond.

Katılım Şubat 2025
14 Takip Edilen0 Takipçiler
who dis retweetledi
Alfian Bahri
Alfian Bahri@AlfianBahri47·
Terdengar lucu. Tapi ini satu dari sekian contoh soal kegagapan asesmen, bahkan lebih tajam bisa disebut "pembunuhan kognitif". Sangat jelas, teks si murid kaya konteks, konflik, dan realitas zaman. Kok bisa D—hanya perkara gak sesuai harapan imajinasi guru?
Alfian Bahri tweet media
Indonesia
222
1.6K
16.8K
677.7K
who dis retweetledi
ntang
ntang@prkdlx·
Ini pemikiran yg menarik tentang gimana kebiasaan buruk bisa bikin masa depan kita suram. Intinya dia bilang: Waktu umur 22, ngabisin 3 jam buat scroll di media sosial keliatannya sepele. Tapi pas udah 28, tiba2 jadi susah fokus baca artikel karena mesti ngecek handphone tiap paragraf. Terus pas udah 32, kamu mulai bingung kenapa proyek yang diimpikan ga pernah kelar. Masih punya impian, tapi seolah ga ada waktu buat mulai. Dan di umur 40, kita ga bisa menyelesaikan 1 buku satu pun. Kebiasaan kaya gini emg harus dihilangkan dari sekarang, karena waktu ga akan bisa kembali. Setuju ga?
N.@Nlacombe_

you’re 22. you scroll 3 hours a day. it feels harmless at 28 you can’t read an article without checking your phone twice per paragraph at 32 you don’t understand why nothing you start ever finishes, you’re still dreaming of this project you wanted to start. still no time at 40 you’ve never finished a book in a decade. it all passed

Indonesia
17
592
3.1K
77.2K
who dis retweetledi
txt keabsurdan wni
txt keabsurdan wni@txtharihariWNI·
Guys, ada cerita yang bikin aku mikir lama setelah bacanya. Jadi... Ada pasangan suami istri. Dua-duanya kerja keras. Dua sarjana. Dua karir yang dibangun dari nol. Gaji suami Rp 8 juta, istri Rp 6 juta. Total Rp 14 juta sebulan masuk rekening. Harusnya cukup kan? Tapi tiap akhir bulan mereka buka aplikasi banking dengan perasaan was-was. Dan angkanya selalu sama. Minus. Bulan ini minus Rp 340 ribu. Bulan lalu minus Rp 820 ribu. Dua bulan lalu minus Rp 1,2 juta. Sampai suatu malam si suami bilang "Yuk kita hitung beneran." Mereka duduk. Buka notes. Tulis satu-satu. Kontrakan Rp 3 juta. Listrik air internet Rp 800 ribu. Cicilan dua motor Rp 1,5 juta. Makan sehari-hari Rp 2,5 juta. Bensin Rp 600 ribu. Kebutuhan anak Rp 1,2 juta. BPJS dan asuransi Rp 400 ribu. Kiriman ke orang tua Rp 1 juta. Total Rp 11 juta. Sisa Rp 3 juta. Si istri napas lega. "Masih ada tiga juta. Harusnya cukup." Tapi belum selesai. Bulan ini ada kondangan teman kantor plus nengok bayi Rp 600 ribu. Anak demam dokter dan obat Rp 450 ribu. Seragam anak baru Rp 380 ribu. Tagihan kartu kredit bulan lalu yang ketunda Rp 870 ribu. Servis motor Rp 350 ribu. Dan pengeluaran kecil-kecil yang susah dilacak sekitar Rp 700 ribu. Total dadakan itu Rp 3,35 juta. Mereka diam lama banget malam itu. Bukan karena ribut. Tapi karena sadar. Rp 3 juta yang "harusnya cukup" itu selalu kalah sama pengeluaran tak terduga yang ternyata selalu datang setiap bulan. Beda wujudnya tapi selalu ada. Dan yang lebih menyakitkan... Ini bukan soal mereka boros. Survei bilang 6 dari 10 milenial Indonesia gajinya habis dalam dua minggu pertama. 40 persen masyarakat tidak punya tabungan darurat sama sekali. Biaya hidup naik rata-rata 8 persen per tahun sementara gaji naik 6 sampai 7 persen. Kita semua berlari. Tapi treadmill-nya lebih cepat. Kontrakan yang dulu Rp 1,8 juta sekarang Rp 3 juta. Susu anak yang dulu Rp 180 ribu sekarang Rp 290 ribu. Bensin yang dulu Rp 7.650 per liter sekarang Rp 10 ribu. Gaji naik 60 persen tapi biaya hidup naik 60 sampai 70 persen. Angka inflasi resmi bilang 2,8 persen. Tapi dompet kita merasakannya jauh lebih dalam dari itu. Diam-diam. Konsisten. Tanpa pengumuman. Setelah malam itu mereka mulai berubah. Rekening dipisah jadi tiga. Rekening tetap untuk kebutuhan rutin. Rekening darurat untuk kejadian tak terduga. Rekening bebas untuk pengeluaran santai. Gaji masuk langsung otomatis terbagi. Mereka sepakati minimal Rp 500 ribu per bulan khusus untuk pos tak terduga. Bukan ekstra. Tapi wajib seperti bayar kontrakan. Kondangan dan kiriman orang tua juga akhirnya dimasukkan sebagai pengeluaran tetap. Karena ternyata itu selalu ada tiap bulan. Selama ini cuma tidak pernah dihitung. Mereka juga audit langganan digital yang lupa di-cancel. Ternyata lumayan juga angkanya. Dan satu aturan sederhana yang mereka sepakati bersama. Pengeluaran di atas Rp 300 ribu harus ngobrol dulu. Tidak boleh sendiri-sendiri memutuskan. Bulan pertama setelah itu mereka tidak minus. Bukan karena gaji naik. Tapi karena akhirnya jujur sama angkanya sendiri. Dan aku rasa banyak dari kita yang sebenernya ada di posisi yang sama. Gaji cukup. Tapi entah kemana perginya.
Indonesia
35
257
1K
81.2K
who dis retweetledi
yimika|
yimika|@yimikaaaa·
gyming with hate in your heart>>>>>>
English
54
2.8K
12.2K
238.9K
who dis retweetledi
Ms.K
Ms.K@mskmalibu·
Fuck a break up, have you ever met a person you had a brief but insane connection with and then the universe was like oops wait sorry that wasn’t actually supposed to happen 😭😭
English
334
8.5K
72.5K
1.4M
who dis retweetledi
Zakka Fauzan
Zakka Fauzan@zakkafm·
Saya termasuk orang yang udah nabung mata uang asing sejak sekitaran 6-7 tahun lalu. Gpp dibilang antek-antek asing juga, saya perlu menyelamatkan diri sendiri dan keluarga soalnya.
Indonesia
34
78
1.2K
49.9K
who dis retweetledi
Ahmad Arif
Ahmad Arif@aik_arif·
Kalau yang nulis orang Indonesia bakal dicap antek asing nih. Nah, sekarang yang nulis dari luar beneran. Artinya, mata dunia semakin terbuka tentang situasi di Indonesia. Dan ini bukan hanya media Barat, sebelumnya Kamar Dagang China juga komplain ttg situasi Indonesia. Apa masih akan menggunakan narasi antiasing untuk delegitimasi kritik dan masukan? Khawatir rupiah bakal terus nyungsep.
The Economist@TheEconomist

Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian economist.com/briefing/2026/…

Indonesia
101
8.5K
21.1K
434.6K
who dis retweetledi
Cass
Cass@Ryuknoapples·
how do you not go clinically insane when you have a crush as an adult
English
84
1K
19.1K
338.2K
who dis retweetledi
Zaka✨
Zaka✨@zakariamlk·
dulu mikir, kok bisa sih orang-orang sholat sampe nangis? pas udh gede.. ohalahhhhhh
Indonesia
93
278
2.2K
25.4K
who dis retweetledi
MRT Jakarta
MRT Jakarta@mrtjakarta·
Date canceled: Baru masuk Ratangga, dia langsung nanya, "Ini lewat Cikarang nggak, ya?" 😮‍💨
Indonesia
25
34
552
34.9K
who dis retweetledi
G R E Y 🐺
G R E Y 🐺@greyyyfox·
Tau ga apa yg mahal? Waktu. Gw tu ga minta dibeliin ini itu. Ditraktir ini itu. Ketemu sambil minum teh sisri juga gapapa banget.
Indonesia
37
205
752
18.7K
who dis retweetledi
Langit Amaravati
Langit Amaravati@eLAmaravati·
Sayalah kelas menengah ke bawah yang sudah prepare itu. Sebagai orang tua tunggal yang berada di kubangan kemiskinan struktural dan punya 2 anak dari 2 generasi (Gen Z dan Alpha), ini yang saya lakukan: 1. Anak pertama (perempuan, usia 23 tahun, semester 6 teknik elektro) - Sudah punya paspor - Bahasa Korea - Bahasa Inggris, score TOEFL -nya lumayan - Bahasa Jepang - Ngoding - Software (Ms. Office, Autocad, Photoshop, dll.) - Menulis (fiksi dan nonfiksi) Selain itu, saya mengerahkan semua networking yang saya miliki untuk memastikan dia mendapat beasiswa S2 dan S3 serta cabut dari Indonesia. Oktober nanti dia akan ke Malaysia dalam rangka pertukaran mahasiswa. 2. Anak kedua (laki-laki, 11 tahun kelas 4 SD) - Ngoding (Python, LUA) - Software (Ms. Office dan berbagai aplikasi untuk editing foto dan video) - Bahasa Inggris - Literasi digital - Menggambar dan melukis ---- Saya sendiri tahun ini masuk ke UT ambil prodi Sains Data dan sedang belajar bahasa Jepang. Kuliah agar selain mempersiapkan masa depan anak-anak, saya juga mempersiapkan masa pensiun agar tidak menjadi "beban finansial" bagi mereka. Saya serius ketika mengatakan, "Demi anak-anak, aku siap bertarung melawan dunia." 🔥
Ardianto Satriawan@ardisatriawan

Di tengah kondisi begini, saya kepikiran gimana ya mengarahkan anak yang lahir dari kalangan menengah kebawah agar besarnya survive dan naik taraf hidupnya. Saya kepikiran, 1. wajib sekolah yang bener sampe level SMA/SMK, untuk bekal daya nalar dan analisa berpikir. 2. Sejak SD atau SMP fokus mengasah skill lain. Bisa bahasa Inggris/Jepang/Korea atau video editing atau menggambar. Harapannya skill tersebut bisa dipelajari secara otodidak dari berbagai sumber yang tersedia di Internet. Setelah lulus SMA, tergantung minat, kalo ada kesempatan bisa lanjut sekolah. Kalo engga, bisa apply kerja migran di luar negri sambil nabung, sekolah lanjutan dsb. Atau kerja berbasis skill seperti video editing, clipper, jualan hasil gambar digital, dsb. Atau bisa terjun bisnis kalo ada bakat dan modalnya. Mungkin ada yang udah pengalaman dan sukses bisa memberikan tipsnya buat adik-adik atau para ortu yang struggle untuk memperbaiki taraf hidup anaknya?

Indonesia
137
1.3K
7K
208.5K
who dis retweetledi
💫𝓓𝓮𝓶𝓸💫🪐
Corporate life is mostly pretending you didn't see that email until you're emotionally ready
English
34
5.1K
28.4K
393.6K
who dis retweetledi
heicho
heicho@pemudatangguh_·
Mau pindah ke orang manapun tetap sama saja ada kurang dan lebihnya. Maka cari saja yang membelamu dan berpihak padamu dalam kondisi apapun.
Indonesia
8
66
218
5K
who dis retweetledi