

luthfi
2K posts

@mpi_luthfi
berangan-angan menjadi communicologist. full-time meowist.




























Diskusi buku “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” yang diterbitkan Konde.co bersama Marjin Kiri dan didukung Trend Asia di Yogyakarta pada Senin, (22/12) 2025, didatangi oleh aparat kepolisian sebanyak dua kali—sebelum dan saat acara berlangsung. Permintaan izin keramaian tidak memiliki dasar hukum yang tepat. Diskusi adalah hak warga negara, bukan kegiatan yang berada di bawah rezim perizinan aparat keamanan. Diskusi buku tidak termasuk kegiatan yang wajib diberitahukan—atau dalam bahasa polisi “diizinkan” kepada kepolisian berdasarkan undang-undang. Polisi yang terus berada di lokasi dan mengawasi jalannya diskusi hingga selesai menunjukkan praktik pengawasan berlebihan terhadap kegiatan diskusi dan kebebasan berekspresi. Intimidasi ini menciptakan rasa takut dan berbahaya karena menormalisasi gagasan bahwa kegiatan berpikir kritis, membaca, dan berdiskusi harus berada di bawah pengawasan aparat negara. Jika dibiarkan akan tercipta preseden berbahaya yang membuat setiap diskusi, bedah buku, atau forum-forum sipil lainnya dianggap wajib meminta izin kepolisian, yang bertentangan dengan prinsip negara demokratis dan jaminan HAM. Buku “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” (2025) yang diterbitkan oleh Konde.co bersama Marjin Kiri dan Trend Asia mendokumentasikan pengalaman perempuan di berbagai wilayah Indonesia yang terdampak pembangunan nirpartisipatif, bertujuan membawa cerita perempuan sebagai pengetahuan politik yang menantang narasi pembangunan arustama yang maskulin, teknokratis, dan kolonial. Peristiwa ini adalah pembungkaman terhadap pengetahuan kritis dari pengalaman perempuan akar rumput, mengulang logika kolonial yang memandang suara perempuan, warga kampung, dan komunitas terdampak sebagai ancaman yang harus diawasi, bukan sebagai subjek politik yang sah. Kami menolak segala bentuk intimidasi dan pengawasan berlebihan di ruang diskusi. Negara seharusnya menjamin ruang aman bagi pertukaran gagasan, bukan justru mempersempitnya.




In honor of National Mother’s Day, name your favorite mother figure.





Udara berdebu, air keruh, lahan rusak, masalah kesehatan, belum lagi kekerasan dan kriminalisasi adalah sedikit dari banyaknya dampak yang dirasakan perempuan akibat pembangunan tak berperspektif kerakyatan. Namun, perempuan menolak diam. Mereka, yang lahir, bersetia, dan hidup menyatu dengan alam terus menolak, melawan, berjuang dengan berbagai cara untuk mempertahankan ruang hidupnya. Lantas, apakah perjuangan mereka akan bermuara pada titik akhir kemenangan? Dapatkan jawabannya di buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami”, sebuah karya kolaborasi antara Konde.co, Trend Asia, dan Marjin Kiri. Nantikan peluncuran buku “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami”. Segera. #PerempuandanPembangunan #Ekofeminisme #IntisariBuku

