
𝐧𝐞𝐲 (bismillah pil 1)
485 posts




Asas praduga kaya gini pelik. Bahkan dengan gua bikin akun fake aja, lalu gua bilang salah satu orang di sini melakukan pelecehan, tanpa bukti sama sekali. Hidup orang itu bisa dengan gampang hancur.

Ngeseks di ruang privat: Nggak boleh diumbar, dipersekusi, urus dosamu sendiri. Ngechat di closed group chat: Boleh didoxxing, boleh diumbar, ini bukan masalah privat.


ironisnya, yang jaga nenekku saat tua masa-masa akhirnya adalah mamaku, bukan anak laki-laki yang di sayangi itu

Kebiasaan buruk yang harus dihilangkan tiap ada kasus KS: SENSASIONALISASI. Untuk apa blow up hal2 kyk nama2 keluarga, dugaan2 relasi unverified, kronologi kasus yg jelas2 reviktimisasi, glorifikasi pihak2 lain kyk penyiar/streamer forum dan mediator kasus. Dewasa aja jgn norak.

...Gw ikuti secara hati²+teliti kasus kekerasan seksual yg terjadi di FH UI. Ternyata "cuma" chat² pelecehan secara verbal digital di grup WA tanpa terjadi secara fisik di dunia nyata. Agak aneh kalo itu disebut sbg kekerasan seksual padahal yg tepat: kenakalan seksual minor Hanya saja kenakalan minor secara verbal tsb bukan dilakukan oleh para remaja melainkan oleh para mahasiswa yg telah berusia 20 tahun. Maka secara usia, kenakalan minor tsb bisa dibawa ke ranah litigasi (hukum formal). Tapi apakah fair kenakalan minor seperti itu sampai harus dipermalukan terbuka seperti itu oleh UI? Sementara kenakalan mayor seperti skandal disertasi Bahlil tidak dilakukan investigasi secara terbuka? Dalam hal ini UI melakukan standar ganda. Karena jika profesor² yg meloloskan disertasi Bahlil tidak dipermalukan secara terbuka maka 16 mahasiswa tsb pun tidak berhak dipermalukan seperti itu. Karena yang dilakukan Bahlil dalam konteks akademik merupakan pemerkosaan intelektual. Pemerkosa tidak dipermalukan, yang nakal² minor malah dipermalukan. Pret... (``,)





Pertama kali ngajar siswa tuna rungu... Masyaa Allah 🥺 semangat banget mau ikutan dan belajar buat persiapan UTBK 🔥 meskipun aku gabisa bahasa isyarat, tapi dia punya aplikasi khusus gitu kek sejenis "prompter", jadi kalo aku ngomong muncul teksnya

perempuan selama ini tuh hidup dalam diskriminasi berlapis, tapi saat kami mengekspresikan rasa marah aja masih diatur-atur caranya. diaturnya juga oleh kelompok yang selama ini mendominasi struktur sosial, punya privilege berlapis, dan middle class tentunya.

Yang mengobjektifikasi wanita itu goblok. Tapi ini juga ilustrasi goblok. Hukum gak boleh diposisikan semata-mata sebagai alat retributif kampungan & bar-bar untuk balas dendam. Two wrongs don't make a right.


men to men: tolong banget evaluasi isi obrolan tongkrongan atau grup WA (or apapun) circle lo pada. kalo temen lo udah mulai objektifikasi perempuan, ngelecehin fisik pake bahasa kotor buat becandaan, and you do absolutely nothing about it? you're part of the problem jangan pernah berlindung di balik "namanya juga cowok" atau "ah elah cuma locker room talk doang, aslinya mah kita respect kok". it's a fucking bullshit. mindset jelek itu tumbuhnya dari hal-hal sampah yang lo normalisasi di circle lo sendiri. kalo lo udah terbiasa ngeliat perempuan cuma sebatas objek buat bahan fantasi di grup, pelan-pelan empati lo ke mereka bakal mati solid sama temen tuh ada batasnya. diem dan ikut ketawa pas temen lo ngelecehin orang itu bukan solid, tapi lo lagi jadi enabler gausah muluk-muluk sok pahlawan. minimal kalo ada temen lo yang mulai sangean ga jelas di obrolan langsung tegor. kalo ditegor malah ngegas dan ngatain lo so suci, mending leave. tongkrongan kek gitu ga ada valuenya sama sekali buat lo buat lo yang milih diem aja pas temen lo ngerendahin perempuan di grup, sadar ga sih kalo diemnya lo itu yang ngasih validasi ke mereka buat terus jadi predator?

What do you commonly see in clinical practice that leads to this reaction?










