ً
18.5K posts


Tidak usah kaget bahwa profesional seperti Ibam dikriminalisasi. Tahun 2000 dulu, profesional bukan hanya dikriminalisasi melainkan dibom: - Staf-staf Bursa Efek dibom - Staf-staf Kejaksaan Agung dibom - Staf-staf Kemenperindag hampir dibom - Staf-staf Dirjen Pajak hampir dibom

“Ngapain perempuan sekolah tinggi? Ujung-ujungnya juga di dapur” Well you need to be educated enough to know that there are SOOOOOO MANYYYYY PRAKTIK KEBODOHAN YANG SUDAH DINORMALISASI WHEN IT COMES TO MENGURUS ANAK. - Abis lahiran perutnya diurut katanya biar rahimnya naik - Menyusui gaboleh makan daging, banyakin sayur aja - Pijet bayi sampe jerit-jerit - Kasih pisang ke anak < 6 bulan katanya biar kuat DAN MASIH BANYAK LAGI. Setelah aku punya anak bener-bener aku ngerasain banget pentingnya seorang ibu itu pinter! Jangan setiap ada yang nyaranin langsung diikutin. Cek dulu! And you still think perempuan ga mesti pinter? Kalo iya berarti elu yang kurang pinter.


Laki-laki tidak bercerita Foto foto saat mau pergi keneraka selamanya👹👹. Awas klo ada yg komplain, semua agama itu mengharamkan bunuh diri jadi jangan komplain kalo orang ini masuk neraka selamanya!! Saya sendiri pun ga tau akan masuk neraka atau pun surga, tapi jangan sampai teman²ku semua ada yg kepikiran untuk Bunuh diri, cukup mreka saja..

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun. "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda. Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung? Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Konde, kebaya, dan kain wiru adalah penjara Kartini yang sengaja dipilih dan diabadikan rezim Orde Baru setiap 21 April. Kita tidak lagi kenal Kartini sebagai pemikir dan "pendekar kaumnya untuk MERDEKA". Dia direduksi sekadar anak Bupati yang dimadu dan meninggal muda.

1. Bila mulut seorang wanita itu lebar, maka vaginanya lebar 2. Bila mulutnya kecil, maka vaginanya kecil juga sempit 3. Apabila seorang perawan sempit mulutnya, maka sempit pula vaginanya. 4. Bila kedua bibirnya tebal, berarti bibir vaginanya tebal 5. Bila kedua bibirnya tipis, berarti kedua bibir vaginanya tipis 6. Bila bibir bawah tipis, berarti vaginanya kecil 7. Bila mulut wanita itu sangat merah, berarti vaginanya kering 8. Bila wanita itu hidungnya mancung berarti tidak begitu berhasrat untuk melakukan senggama 9. Bila wanita itu dagunya panjang, berarti vaginanya menganga dan sedikit bulunya 10. Bila wanita itu tipis alisnya, berarti posisi vaginanya agak ke dalam 11. Bila wanita itu wajahnya lebar juga lehernya besar berarti pantatnya kecil dan vaginanya besar serta sempit 12. Bila wanita itu banyak lemak luar telapak kakinya dan badanya berarti besar vaginanya, dan ia di pinang samping suaminya 13. Bila kedua betisnya tebal dan keras, berarti besar birahinya dan tidak sabar untuk bersenggama 14. Bila matanya tampak bercelak dan lebar, hal ini menunjukkan sempit rahimnya 15. Pantat yang kecil serta bahu yang besar itu menunjukkan besar vagina --- Kami ga mau muntah & pingsan sendirian, guys! 🤮🤮🤮😭😭😭 Kalian harus baca juga sebagian isi “Fathul Izar” ini, kitab yang dikarang oleh KH. Abdullah Fauzi asal Pasuruan, Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Ulum di Kediri, Jawa Timur. Kitab yang ditulis tahun 2007, dicetak 2008 ini termasuk kitab kuning, banyak diajarkan di pesantren-pesantren. 15 poin di atas itu bab “Rahasia penciptaan keperawanan”. Lanjut di utas berikut ....


Selamat pagi Sahabat Kompas. Kami melanjutkan temuan Tim #InvestigasiKompas, predator leluasa memperdagangkan materi kekerasan seksual anak dengan memanfaatkan media sosial dan aplikasi perpesanan. Selain menimbulkan penderitaan berulang, konten terlarang itu berisiko melahirkan pelaku baru. Baca di sini kompas.id/artikel/konten… #InvestigasiPredatorAnak #AdadiKompas




boycott fiesta ajaaa guys. reviewnya jelekin aja biar gak ada yang beli

Kemendagri Usul Denda untuk E-KTP Hilang tempo.co/politik/kemend…


TW: Rape, Sexual Violence Kekerasan seksual tahun 98 itu juga terjadi di Papua saat Biak Berdarah (6 Juli 1998) Tineke Rumakabu, penyintas Biak Berdarah, bersaksi Di Universitas Sydney soal kekejaman tentara Alat kelamin & payudara perempuan dipotong & diperkosa berulang kali

kasus FHUI sampe go internasional btw

🤍 sender speechless bacanya, mana akunnya tutup kolom komentar.

@fleurderou Jadi sama kan skornya

Hoax melalui menfess, saya sendernya.

Ngeseks di ruang privat: Nggak boleh diumbar, dipersekusi, urus dosamu sendiri. Ngechat di closed group chat: Boleh didoxxing, boleh diumbar, ini bukan masalah privat.

Tuduhan asli aja susah dapat atensi dan ngasih hukuman ke pelaku, masa mikirnya tuduhan palsu lebih gampang bikin hidup orang rusak. Kyk gini yg bikin lu jd bagian dari enabler.

Gimana ceritanya sih kok koran harian Korea bisa ada di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia??? Ada yg bisa bantu jawab?




