Mr. Nice Guy retweetledi

Kenapa Jibril menolak melanjutkan perjalanan di Sidratul Muntaha?
Menurut Hadits, Jibril berkata, “Jika aku melangkah lebih jauh dari titik ini, sayapku akan terbakar.”
Pada malam Mi’raj, Malaikat Jibril A.S. membawa Nabi Muhammad SAW melintasi langit-langit.
Beliau melewati langit pertama, kemudian kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, hingga akhirnya mencapai langit ketujuh. Di sana mereka tiba di sebuah tempat bernama Sidratul Muntaha.
Di situlah Jibril berhenti.
Menurut Hadits, Jibril berkata, “Jika aku melangkah lebih jauh dari titik ini, sayapku akan terbakar.”
Tapi mengapa?
Jika ia bisa melintasi semua langit sebelumnya, apa yang membuat tempat terakhir ini begitu berbeda?
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman di Surah An-Najm: “Demi bintang ketika ia jatuh.” (53:1)
Kini ilmu pengetahuan modern menjelaskan bahwa ketika bintang / planet raksasa collapse, ia dapat membentuk blackhole — sebuah tempat dengan tarikan gravitasi yang sangat dahsyat sehingga cahaya, energi, maupun materi pun tidak dapat lolos.
Para ilmuwan mengatakan beberapa blackhole berputar dengan kecepatan luar biasa; materi di sekelilingnya bergerak hingga hampir 63 juta mil per jam, dan energinya berputar ribuan kali setiap detik, menarik segala sesuatu di dekatnya dengan kekuatan yang tak terbendung.
Kemudian di Surah yang sama, Allah menyebutkan pertemuan kedua dengan Jibril di dekat Sidratul Muntaha.
Kata “Sidrah” berarti pohon bidara atau pohon berry, sedangkan “Muntaha” berarti batas akhir / final boundary.
Pohon tersebut lebar di bagian atas dan menyempit ke bawah, seperti corong.
Jika dibandingkan dengan gambar blackhole modern, kemiripannya sangat mencengangkan.
Padahal 1.400 tahun lalu, manusia tidak mungkin memahami konsep lubang hitam, gravity well, atau cosmic singularity.
Karena itu, deskripsinya disampaikan dalam bentuk yang bisa dibayangkan oleh orang-orang saat itu.
Mungkin langit-langit sebelumnya juga memiliki lorong-lorong kosmik yang bisa dilalui Jibril dengan izin Allah, karena gaya gravitasinya tidak terlalu ekstrem.
Namun Sidratul Muntaha berbeda — ia adalah batas akhir, lorong kosmik yang paling utama.
Tarikan, kekuatan, dan daya tariknya melampaui imajinasi.
Jika lubang hitam biasa saja sudah mampu menjebak cahaya, bayangkan betapa agungnya Sidratul Muntaha.
Mungkin itulah sebabnya Jibril enggan melanjutkan perjalanan: karena ia diciptakan dari cahaya, dan kekuatan di sana terlalu dahsyat baginya.
Hanya Nabi Muhammad SAW yang melanjutkan perjalanan dengan izin khusus dari Allah.
Allah berfirman: “Di dekatnya terdapat Jannatul Ma’wa.” (53:15)
Seolah-olah di balik batas akhir tersebut terdapat alam yang sama sekali berbeda.
Subhanallah
via @.luqman.aldarrawi


Indonesia

































