cle

12.7K posts

cle banner
cle

cle

@rottweilur

not a rottweiler account, but i love rottweilers.

Katılım Ekim 2016
622 Takip Edilen157 Takipçiler
cle retweetledi
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Gibran Ke Mana? KELILING INDONESIA GUYS. Jadi Prabowo keliling dunia. Gibran keliling Indonesia. Ada 164 tempat yang sudah dikunjungi sejak dia menjabat. 30 Provinsi sudah dikunjungi dari total 34. Ngapain? Bagi-bagi bantuan di mana-mana. Diam-diam ngumpulin suara buat mereka. Sumber: Wikipedia + berita.
Indonesia
266
3.4K
9K
349.1K
cle retweetledi
Rahmaut | 🇵🇸| 光燃瑪
Sebenernya salah 1 penyakit kronis banyak WNI itu adalah: oportunis level eksploitasi apapun untuk diri sendiri. Ini mental koruptor. ✅ Pemotor pake trotoar (peduli setan ama hak pejalan kaki toh lagi kosong). ✅ Korupsi haji & penggelapan uang umroh (peduli setan udah nunggu ataupun nabung puluhan tahun). ✅Nimbun pembalut gratis di wc dan buat diambil sendiri (peduli setan kalo ada yg mendadak dapet). ✅ Jualan kelontong tabung gas di trotoar (peduli setan, toh orang pada pake motor). ✅ Hangout di cafe/di sebuah tempat tapi parkirnya di trotoar (gak ada pilihan, adanya itu) Apalagi ketika kerugian orang lain gak “visible” atau “instan”, maka “gak berasa” dan akan dalih “gak merugikan orang lain” atau “mereka gak pake” atau “kapan lagi”. Ini cross level ekonomi dan intelektual. Ini penyakit kronis dan laten. Pertanyaannya, ini rootnya dari mana karena kelakuan ini “masif”.
ilham(dot)P 🍉🇵🇸@trickymindful

Marahnya gw sama si Prihantini, Rifaldy Fajar, dkk. itu krn: (1) Anak2 yg mau lanjut studi S2-S3 di luar negri akan dicurigai, (2) Peneliti2 di Indonesia yg mau apply waiver biaya perjalanan ke luar negri bakalan kena curiga juga. Di dlm negri aja biaya conference seret.

Indonesia
54
1.6K
4K
133.7K
cle retweetledi
Avelino Guido
Avelino Guido@AvelinoGuido28·
Jawaban buat pertanyaan zee sebenernya udah jelas, namanya Telkomsel. Operator paling gede, paling kaya, paling banyak pelanggan di negeri ini, yang paling pertama maju dan paling lantang soal masa aktif 28 hari, lalu dengan entengnya bilang ini semua demi kebiasaan pelanggan. Seakan-akan jutaan orang Indonesia ngantri minta jatah internetnya dipotong dua hari tiap bulan. Indosat ikut nimbrung, XL katanya ikut di sebagian paket walau katanya mayoritas paketnya masih 30 hari. Tapi yang ngebuka pintunya Telkomsel, dan mereka ngebungkusnya pakai kata manis soal customer behaviour. Padahal lo ga butuh gelar ekonomi buat ngerti, ga ada satu pun pelanggan yang behaviour-nya pengen bayar lebih sering buat barang yang sama. Mainnya halus, makanya jarang ada yang ngeh. Setahun ada 365 hari. Masa aktif 30 hari berarti lo beli 12 kali. Begitu jadi 28 hari, lo dipaksa beli 13 kali buat nutup tahun yang sama. Satu belanja ekstra, tiap tahun, dikali puluhan juta pelanggan. Simulasi IDN Times nyebut selisihnya bisa sekitar Rp100 ribu per orang per tahun, walau angkanya tergantung ke paket dan pola pakai, jadi cek lagi sesuai kasus lo. Kecil di kantong lo, tapi jadi gunung everest di laporan keuangan mereka. Belum kelar di situ. Sisa kuota yang udah lo bayar bakal hangus begitu masa aktif lewat. Operator ngotot istilah hangus itu ga tepat, katanya yang lo beli cuma hak akses jaringan buat periode tertentu, dianalogiin kayak obat yang ada tanggal kadaluarsa. Tapi pas PLN diseret ke sidang, mereka jelasin token listrik ga pernah hangus, karena yang ngurangin saldo itu pemakaian, bukan jam dinding. Pertanyaannya, kenapa listrik bisa, internet enggak? Soal hukum gw ga mau lebay, sampe detik ini belum ada putusan yang nyatain operator bersalah, karena perkaranya emang masih jalan. Yang nggugat bukan orang gede, cuman pengemudi ojol Didi Supandi dan kawan-kawan, plus sekelompok mahasiswa hukum, yang nilai kuota dihapus sepihak tanpa kompensasi adil itu nabrak hak atas harta benda di UUD 1945. Dan lo tau siapa yang pasang badan belain operator? Pemerintah sendiri, lewat Komdigi, yang bilang rollover atau refund bakal nambah beban biaya. Jalannya berdarah-darah. Satu gugatan emang udah dipentalin MK pertengahan Mei 2026, tapi gugurnya gara-gara berkasnya dianggap kabur, bukan karena isunya kalah. Ibarat lamaran ditolak gara-gara formulirnya nggak lengkap, bukan gara-gara orangnya nggak layak, hakim bahkan belum sempet nimbang inti perkaranya. Tiga gugatan lain masih bertahan dan lagi diperiksa isinya. Di sidang, ada hakim yang nanya tajem ke operator, "kok kuota belum habis tapi udah hilang". Dari luar, YLKI ikut ndorong. Jadi tekanannya datang dari dua arah sekaligus. Tapi apakah bisa menang? Di Afrika Selatan, rakyatnya ngeluh soal hal yang sama persis bertahun-tahun, kalah terus, sampe akhirnya regulatornya nyerah dan maksa operator ngerollover otomatis kuota yang belum kepake mulai 2027. Bedanya, di sana yang ngalah duluan itu lembaga pengawasnya yang bikin aturan baru, bukan hakim lewat pengadilan. Di kita malah sebaliknya, lagi diperjuangkan lewat gugatan ke MK. Beda pintu masuk, jadi belum tentu hasilnya bakal sama. Sejarah udah berkali-kali ngebuktiin, raksasa kayak gini tunduk bukan gara-gara digoyang orang gede. Tapi karena orang-orang biasa yang capek haknya dirampok diam-diam, lalu mutusin buat ga diem. Pertanyaannya tinggal satu, dia bakal menang, atau jadi tumbal yang namanya kita lupain begitu palu diketok?
zee@zevasptri

ide siapa si kuota internet jadi 28 hari doang??

Indonesia
80
4.9K
13.3K
447.2K
cle retweetledi
Will Mac
Will Mac@MrMac_Math·
Hirsch’s index of edu-lingo written in 1996 continues to be timeless. Here is an example of the rhetoric traced to 1918. It parallels the misguided fads of 2026 as yet again popular discourse tries to reinvent education in the age of AI, oblivious about the mistakes of the past.
Will Mac tweet media
English
7
18
88
35.3K
cle retweetledi
Anna Stokke
Anna Stokke@rastokke·
"Observers found the project method to be the least effective mode of pedagogy...but the terminology shifted and the practice remained in different forms under different names such as 'discovery learning', 'hands-on learning',..."
Will Mac@MrMac_Math

Hirsch’s index of edu-lingo written in 1996 continues to be timeless. Here is an example of the rhetoric traced to 1918. It parallels the misguided fads of 2026 as yet again popular discourse tries to reinvent education in the age of AI, oblivious about the mistakes of the past.

English
5
62
287
59.2K
cle retweetledi
Pope Leo XIV
Pope Leo XIV@Pontifex·
Deep inner suffering inevitably arises when the human person is reduced to performance, consumption, or a statistical datum. Many young people today live under the yoke of expectations to perform, immersed in an exasperated competitiveness that generates anxiety, fear of not measuring up, and disorientation.
English
959
13.1K
77.2K
2.7M
cle retweetledi
cle retweetledi
Erros // 🆎️+ // 🎮 Dredge 🛳🎣🦈
I'm gonna call it first. Teddy sama Prabs ini dapet konsultan politik dari luar negeri buat mainin queerbaiting, yang bakalan (dah terbukti) dimakan abis-abisan sama publik Indonesia. Tujuannya untuk distraksi dan sengaja meneruskan demonisasi ke kelompok marjinal.
Indonesia
53
1.4K
7.8K
208.7K
cle retweetledi
DrHS
DrHS@BuruhSiluman·
Dalam tulisan ini, aku menjelaskan bgmn program B50 dpt berdampak scr khusus bagi perempuan di ranah produksi dan konsumsi. Tulisan ini tayang ketika aku sedang berada di desa di pedalaman Kalteng, yg mulai dikepung oleh sawit dan food estate. theconversation.com/b50-bisa-mengu…
Indonesia
1
17
35
990
cle retweetledi
Pope Leo XIV
Pope Leo XIV@Pontifex·
Artificial intelligences do not undergo experiences, do not possess a body, do not feel joy or pain, do not mature through relationships, and do not know from within what love, work, friendship or responsibility mean. Nor do they have a moral conscience, since they do not judge good and evil, grasp the ultimate meaning of situations, or bear responsibility for consequences. They may imitate or even simulate, but they do not understand what they produce, for they lack the affective, relational, and spiritual perspective through which human beings grow in wisdom. #MagnificaHumanitas
English
4K
60.1K
307.6K
13.7M
cle retweetledi
Christopher
Christopher@molochofficial·
The thing about the “woke pope” stuff is that, in a better world, assuming a cautious stance towards rapid technological change and insisting on the value of the “human” would be the obvious conservative position
English
47
1.8K
25.6K
268K
cle retweetledi
Jaringan GUSDURian
Jaringan GUSDURian@GUSDURians·
Anggaran kunjungan Presiden RI ke Prancis fantastis sekali. Liputan @tempodotco menyebutkan rombongan presiden menyewa 27 (dua puluh tujuh) kamar di hotel super mewah Four Season George V di Kota Paris. Total biayanya mencapai 5.8 miliar untuk sekali kunjungan. Wow.
Indonesia
137
2.2K
5.6K
159.8K
cle retweetledi
Iman Zanatul Haeri
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91·
Pagi hari, 30 April 2026, anak anda (10 tahun) lagi sekolah, jajan depan sekolah tiba-tiba ditabrak mobil. Kerumunan anak-anak dan pedagang jajanan terpental dan terhimpit mobil dan tembok sekolah. Kemudian anak anda meninggal dunia. Pelakunya adalah Ahmad Mursidi (58), Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Pandeglang. Sudah dijadikan tersangka sejak 14 Mei 2026. Dua minggu kemudian, pelakunya, dilantik jadi Staf Ahli Bupati Pandeglang. Silahkan,
Iman Zanatul Haeri tweet mediaIman Zanatul Haeri tweet media
Indonesia
87
2.6K
4.9K
169.2K