Lambe Saham@LambeSahamjja
Unpopular Opinion.
Saya menjawab berdasarkan analisis pribadi.
Menurut saya jodoh adalah satu-satunya orang yang mampu untuk menerima kelemahan terbesar pasangan seumur hidup.
Seringkali defenisi jodoh disebutkan sebagai orang terbaik.
Maaf, saya tidak sepenuhnya setuju dengan statement tersebut.
Pernyataan ini seperti mengartikan apabila tidak berjodoh artinya dia adalah orang buruk.
Belum tentu.
Diluar sana banyak kok pasangan berkepribadian baik, satu visi dan misi, sefrekuensi, financial stable, sudah matang, namun tidak berjodoh.
Karena apa?
Karena Tuhan tahu bahwa dia bukan orang yang mampu untuk menerima kelemahan terbesar pasangannya seumur hidup.
Benar selama berpacaran mereka sudah saling mengenal kekurangan masing-masing, tapi kan itu hanya apa yang terlihat.
Bagaimana untuk yang belum terlihat? Perjalanan sesungguhnya belum dimulai.
Masing-masing individu masih berlomba menampilkan versi terbaik karena dalam fase mabuk asmara atau pacaran.
Mari kita lihat case ini bersama-sama:
Case 1, pria dengan sifat tempramen memiliki istri seorang Ibu rumah tangga. Mereka sudah menikah 45 tahun. Tidak ada perceraian hingga maut memisahkan. Apakah dia pasangan terbaik? Tentu tidak. Memang kebaikan apa yang bisa didapatkan dari pria tempramen? Tidak ada. Lalu mengapa mereka berjodoh? Karena hanya sang istri satu-satunya dari miliaran wanita di dunia yang mampu menerima kelemahan suami. Memiliki hati yang sabar dan sangat luas untuk bisa menghadapi suami setiap hari sampai maut memisahkan mereka, sehingga Tuhan mempersatukan mereka.
Case 2, wanita dengan IQ 100 alias sedikit lemot menikah dengan seorang dokter. Perbedaan yang mencolok seperti film drama korea. Padahal mantan sang dokter adalah seorang pramugari. Lalu mengapa dia berjodoh dengan si lemot bukan pramugari? Sama seperti case 1, karena hanya sang dokter lah pria yang mampu menerima kelemotan istrinya untuk seumur hidup, sehingga Tuhan mempersatukan mereka. Walaupun setiap hari puyeng menghadapi istri, namun mereka tidak akan bercerai selain dipisahkan oleh kematian.
Case 3, bagi pembaca yang sudah menikah mari melihat kembali kelemahan pasangan masing-masing. Jangan menggeneralisir seperti pemalas, tukang ngambek, itu adalah sifat umum. Tapi cek kembali kelemahan spesifik yang paling buruk. Apakah kamu sanggup bertahan? Tentu iya. Kemudian intropeksi kelemahan diri sendiri. Apakah pasangan sanggup menerima? Tentu saja sanggup. Jika tidak kalian pasti sudah bercerai.
Ini hanya analisis saya pribadi, berdasarkan pengalaman diri sendiri, teman dan keluarga.
Hal ini juga yang saya tanamkan ketika hubungan berakhir dengan mantan: pasti kedepannya bakal ada satu kelemahan terbesar dia yang nggak sanggup aku hadapi seumur hidup atau mungkin kelemahanku yang nggak sanggup dia hadapi, itulah mengapa kami nggak jodoh, huhhh baiklah.