
x.com/2eewan/status/… [ lumayan panjang, soalnya 2 chapter ] — chapt. 19 sebelum ngelamar yirang, hwan udah ngasih warning ke yirang kalo dia ga akan bisa jadi suami & raja yg baik, bahkan hwan juga udah ngaku kalo dia punya wanita lain di hati dia, berharap yirang bakal menolak pernikahan mereka, tapi yirang malah gak keberatan dengan itu semua. “aku akan berpura-pura tidak mengetahuinya. aku juga akan menambatkan hatiku pada orang lain, jadi jangan khawatir,” kata yirang. sebelum lamaran, hwan sempet memberanikan diri minta cincin peninggalan ibunya ke ian untuk ngelamar yirang. udah pasti ian marah, karena cincin itu diwasiatkan langsung dari ibunya untuk ian, dan karena dia tau itu perintah dari ayahnya. “hyung diem aja, biar aku yang bicara ke ayah.” ian ngelawan ayahnya, bersikeras gak mau ngasih cincin ibunya ke hwan, karena sesuai wasiat ibunya, cincin itu bakalan dia kasih ke seseorang yang dia cintai nantinya. karena kejadian itu, ian dilarang untuk masuk ke istana, padahal sebulan lagi pernikahan kakaknya akan berlangsung. denger berita dari dayang istana kalo hwan kelihatan muram, ian nekat manjat tembok buat menemui kakaknya. “gelisah ya karena pernikahannya sebentar lagi? marriage blues atau semacamnya?” ian duduk di sebelah hwan, natap mata kakaknya lalu berpikir, apa yg sebenernya ditakutin sama kakaknya, wajah hwan keliatan lesu padahal baru beberapa hari dari pertemuan terakhir mereka. “padahal hyung sendiri yang melamar, kenapa bertingkah seperti ini?” “makanya.” “nyesel ya?” “apa aku batalin aja ya pernikahannya?” hwan tiba-tiba ngucapin kalimat layaknya bom. “ngomong apa, sih? mabuk ya?” ian bergerak nyium aroma kakaknya. “loh, padahal nggak minum tapi kenapa omongannya ngelantur?” “padahal aku nggak lagi ngelantur.” akhirnya ian sadar kalo kakaknya lagi serius, dia khawatir kalo ada dayang yg denger pembicaraan mereka dari luar. hwan natap ian, ngeluarin selembar foto dari laci, dikasihnya ke ian. “apa ini?” ian ngeliat foto itu diterangi sinar bulan, foto salah satu dayang istana. mustahil seorang putra mahkota nyimpen foto seorang dayang tanpa alasan. ian yg perasaannya campur aduk natap kakaknya yg mengusap wajah gusar. “udah berapa lama?” “entahlah, sekitar 3 tahun?” ian menghela nafas. padahal udah 3 tahun kakaknya menjalani hubungan rahasia, kok bisa nggak ada yang tau? ian pusing nggak tau harus berbuat apa. ian nggak paham tentang pola pikir kakaknya yg berani ngelamar wanita lain di tengah hubungan seperti itu, dan bisa-bisanya punya niat buat batalin pernikahan. mau sesayang apapun ian ke kakaknya, tapi dia nggak bisa nahan keinginan untuk nonjok kakaknya saat itu. “terus? beneran mau batalin pernikahannya?” “....” “punya keberanian buat ngomong gitu ke ayah?” menyadari ketakutan di wajah kakaknya, ian terkekeh, tapi matanya nampak garang. “terus mau apa?” “aku akan bicara.” “mau bicara gimana?” “aku udah bilang ke yirang.” “bicara apa?” “kalo aku mencintai orang lain.” “udah gila ya nih orang?!” ian yg akhirnya kehilangan kesabarannya, mulai menujukkan amarah. tepat saat ian melontarkan segala bentuk caci maki ke kakaknya, hwan berujar dengan tenang, “dia bahkan nggak kaget. nggak keberatan, katanya.” “ya terus? dikira yirang bakal jawab ‘ah, mau bagaimana lagi. mari batalkan pernikahannya,’ gitu?” “aku kira bakal begitu.” “AAAKKKH!” ian berteriak frustasi, bangkit dari duduknya. “rasanya aku harus pergi. kalo lebih lama di sini bisa-bisa aku jadi gila.” ian awalnya nggak berniat untuk manjat tembok istana dua kali di tengah malam, tapi dia nggak mau di sana lebih lama sedetikpun. tepat saat ian mulai melangkahkan kakinya pergi, “aku akan mengajukan pelengseran putra mahkota.” ucap hwan. ian menoleh terkejut, menatap hwan yang tampak aneh dan tanpa tenaga, tapi tatapannya nampak sangat tegas. “terus mau kawin lari?” “nggak ada hubungannya dengan orang itu, urusan kami udah selesai.” “terus kenapa?” “aku cuma pengen hidup.” “....” (bersambung)

































