Sylvia R. Putri
8.2K posts


Ini sebenernya ada gerakan apa kok pada demonize dokter dan nakes di negara ini? Kalian kalo emang dari awal ga percaya sama dokter Indonesia atau nakes yg lain, sangat boleh nyoba berobat ke negara tetangga yang sangat kalian agung-agungin itu. Disini jelek-jelekin tp kalo sakit

2022 WA grup kostku ada anak baru yang ngetik panjang lebar karena dia 'nemu' daging kurban di depan pintu kamarnya. "Takutnya salah kirim ini, namanya memang betul nama saya tapi saya bukan muslim. Saya minta maaf ini saya sentuh plastiknya tadi-

Kalian suka buah sirsak ga? ini daun nya juga bisa buat obat loh, daun nya di rebus bisa buat obat diabetes juga dan masih banyak manfaat lain nya, btw di rumah kalian nanem pohon sirsak ga?

penasaran deh, cara kalian belajar biar cepet ngerti atau inget materi tuh gimana? boleh sharing nggak moots🥹






🇮🇩 Threat actors are advertising an alleged “BCA Mobile Bank Access & Database” dataset targeting Indonesian banking customers. According to the forum post, the seller claims: • ~890,000 mobile banking “accesses” • ~4.9 million database records • Banking-related personal information • Internal/account-related fields allegedly tied to customer data The authenticity of the claims remains unverified at this stage. What makes this concerning is not only the volume, but the wording “accesses,” which often implies: • Account/session access • Credential collections • Infostealer logs • Mobile banking takeover potential • Compromised customer devices If legitimate, the combination of financial data and potential account access could enable: • Fraudulent transactions • SIM swapping • Social engineering campaigns • Account takeover attacks • Money mule operations • Credential stuffing against other financial platforms And honestly… underground forums have evolved from: “Selling hacked Netflix accounts” to “Would you like 4.9 million banking records with that?” Indonesia continues to experience growing cybercriminal interest due to: • Rapid digital banking adoption • Large mobile-first population • Expanding fintech ecosystem • Increasing online payment usage Financial institutions should closely monitor for: • Credential abuse spikes • Suspicious login activity • Large-scale phishing campaigns • Mobile malware distribution • Unauthorized API activity • Anomalous customer behavior patterns Users should: • Change banking passwords immediately if concerned • Enable MFA wherever possible • Avoid SMS-only authentication • Monitor accounts for unusual activity • Be cautious of fake banking calls/messages At this time, the claims should be treated as alleged until independently verified. 🇮🇩 #DDW #Intelligence #Indonesia #CyberSecurity #DarkWeb #ThreatIntelligence #DataLeak #Banking #Infosec

The IOF are SHOOTING at innocent and UNARMED activists delivering humanitarian aid to Gaza. 📌They do this openly, in the exact same way they have been oppressing, attacking, and murdering the Palestinian people for decades. Is this the "most moral army in the world"?!




tbh gue ga nyangka akun yg tiap hari share berita palsu bisa ngasih jawaban panjang lebar seperti ini well gue jawab ya 1. Mas, justru yang bikin strawman itu balasan mas sendiri. Saya tidak bilang semua orang yang pilih GoRide Hemat adalah “musuh” atau tidak peduli driver. Saya soroti hipokrisinya segmen orang yang suka posting “kasihan driver Gojek, harus sejahtera”, tapi setiap hari pilih opsi termurah + promo gila-gilaan, lalu gak pernah kasih tips. Itu fakta perilaku yang observable, bukan musuh fiktif. 2. Ya, Gojek (dan Grab) memang ambil komisi besar dulu (sekitar 20%), dan mereka desain promo + tarif hemat supaya volume naik & dominasi pasar. Itu benar. Tapi konsumen bukan korban pasif. Konsumen yang terus pilih yang termurah memberi sinyal pasar bahwa tarif rendah itu oke. Dengan kata lain ya pada dasarnya customer suka dengan praktik eksploitasi ini. 3. Mas bilang solusinya bukan tips atau pilih yang mahal, tapi “ganti status mitra jadi pekerja + jaminan sosial”. Itu klasik kiri-utopis Kalau driver jadi karyawan tetap, Gojek harus bayar UMR, BPJS full, cuti, dll. Biayanya naik drastis, tarif ke penumpang harus naik (atau perusahaan rugi & kurangi armada). Siapa yang bayar? Tetap penumpang. 4. Mau driver sejahtera = harus ada yang bayar lebih. Entah lewat tarif naik, tips, atau pilih opsi premium. Menyalahkan “korporasi saja” sambil tetap pilih opsi hemat tiap hari itu tidak rasional. 5. Kalau mas betul-betul peduli kesejahteraan driver, dukung tarif yang lebih masuk akal + komisi rendah + insentif transparan. Bukan narasi “semua salah platform, penumpang cuma korban”. Itu juga simplifikasi berlebihan. Market bukan charity













