Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺
7.6K posts

Felly 🌺
@widiyaleee
No matter, If you Love me or hate me
Katılım Temmuz 2019
59 Takip Edilen67 Takipçiler
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi

Pemimpin yang bodoh lahir dari tangan pemilih yang bodoh.
(Jenderal Besar Soedirman)
Akhir zaman kekuasaan dipegang oleh orang2 bodoh dan zalim.
#RipIndonesiaKu

Semplak 1, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi

Sampe masyarakat sadar dua modelan ini tidak memenuhi kriteria apa pun untuk memimpin negara.

пїѵ.@scolpioX
mau sampe kapan sih punya pejabat yang suka asbun😩
Indonesia
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi

Prabowo ini bikin semua presiden pendahulunya jadinya terlihat bener kerjanya.
SBY itu nilainya 3/10, Jokowi 2/10 tapi Prabowo ini beneran 0/10. Nepotismenya gila. Temennya ditunjuk jadi Menhan yang ngurusin koperasi. Ajudannya dijadiiin Seskab. Adiknya dikasih jabatan multifungsi. Ponakannya dikasih Deputi BI.
Ekonomi lagi ambruk-ambruknya tapi presidennya macem gini. Hancur total.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Prabowo tunjuk adiknya, Hashim Djojohadikusumo, sebagai Ketua Satgas Taman Nasional
Indonesia
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi

Rangkuman berita hari hari ini
1. Purbaya bilang kita masuk mode survival
2. Prabowo ke Perancis lagi
3. Jenderal jenderal Purnawirawan TNI di
undang ke istana
4. TNI latihan tembak rudal di Karimun Jawa.
5. Rupiah melemah
6. Asing banyak keluar dari saham big Banks.
Why? Ada apa ini pak gatot? Kita mau perang di Malaka? AS mau blokade kapal kapal China di Malaka? Atau apa pak Gatot?
Indonesia
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi

Felly 🌺 retweetledi
Felly 🌺 retweetledi


















