PenikmatLele
3.6K posts

Tweet fixado
PenikmatLele retweetou
PenikmatLele retweetou
PenikmatLele retweetou
PenikmatLele retweetou
PenikmatLele retweetou

pesan sebelum tidur:
cara dia memperlakukanmu adalah cerminan karakternya, bukan nilaimu.
jangan biarkan perlakuan buruk seseorang membuatmu meragukan dirimu sendiri.
kamu tidak perlu membuktikan apapun kepada orang yang sengaja menutupi kebobrokannya dengan kebohongan.
malam ini, lepaskan beban yang bukan milikmu dan ingat bahwa kamu tetap berharga tanpa validasi dari mereka.
istirahat, buang jauh-jauh pikiran buruk, kamu lebih dari cukup.
Indonesia
PenikmatLele retweetou

@byrob10x why not? sampe skrg gw begitu. klo ada tempat yg buat peraturan minimal 2 org, gw bayar buat 2 org. gw jalan buat nyari hiburan, ketenangan, bkn nambah beban mikirin harus jaga perasaan, kesehatan, makanan, pandangan, omongan org lain
Indonesia

@rsngprad pas resign, posisi udh oke, salary ditawarin 2x dari UMR. tenpat kerja nya support bgt, belajar bnyk hal baru, kenalan ke org² yg keren lah. minus nya cm dsitu dan gabisa gw tolerir samsek. tp makin kesini, makin sadar, bnyk org yg hidup ya hidup dan hny utk bertahan hidup.
Indonesia

@rsngprad 1 thn.
krn prinsip "bisnis ya bisnis, pelayanan ya pelayanan" ga cocok di gw yg idealis bgt wkt itu. gw kerja di rumah sakit, tekanan mental dan batin. lo ngeliat org ngeregang nyawa hanya krn peraturan tetap peraturan, lo ngeliat bnyk anak muda yg "ngerusak" hidup mrk krn ortu
Indonesia
PenikmatLele retweetou

Lagi kepikiran soal umur dan pernikahan, terus nemu kalimat yang “nampol” banget:
Kalau belum siap menikah, jangan dipaksakan.
Kalau sudah siap tapi belum menemukan yang benar-benar tepat, jangan juga menerima sekadarnya tanpa melihat bagaimana kesungguhannya, dari sikap, sifat, sampai nilai hidup yang dia pegang.
Umur boleh terus berjalan, omongan orang bisa datang dari mana saja, tapi keputusan sebesar ini tetap butuh dipikirkan dengan tenang dan matang. Karena yang akan menjalaninya nanti adalah kamu, bukan mereka.
Indonesia

@LambeSahamjja tapi emg ada harga ada kualitas. klo dikota besar, ga perlu nunggu ga perlu berantem sm driver yg suka rese. jarak dekat yg ga sampe 1km pun mrk oke. selain armada yg bersih rapi, attitude driver itu utama, oh ya, CS nya mereka sigap dan membantu klo ada laporan
Indonesia

Guys, lu pada tahu Bluebird kan?
Taksi biru yang sering ada di bandara, di mal, yang sering bokap nyokap kita pakai dulu sebelum era Gojek dan Grab meledak.
Nah, gue mau cerita sesuatu yang bikin gue kaget waktu pertama kali dengar ini.
Bluebird harusnya sudah bangkrut dari 5 tahun lalu.
Tapi kenyataannya?
Mereka baru saja cetak rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah mereka Rp5,7 triliun di 2025. Profit 600-an miliar.
Gimana bisa?
Dulu waktu Gojek dan Grab masuk semua orang pikir Bluebird tamat.
Dan wajar.
Karena yang terjadi di seluruh dunia pola yang sama.
Startup masuk dengan satu strategi sederhana tapi mematikan: bakar duit, kasih harga murah, curi customer sebanyak mungkin.
Tujuannya bukan cuma dapetin customer.
Tujuannya membunuh kompetitor lama yang asetnya berat bayar gaji driver, maintain armada, sewa kantor sampai mereka kehabisan nafas duluan.
Habis tidak ada yang bisa melawan baru harga dinaikkan pelan-pelan.
Ini yang terjadi sama Yellow Cab di Amerika.
Bangkrut.
Terjadi sama banyak perusahaan taksi di Eropa. Bangkrut.
Di Indonesia banyak perusahaan taksi lokal yang tidak bisa bertahan.
Tapi Bluebird masih ada.
Dan malah makin besar.
Keputusan pertama yang kelihatannya bodoh tapi ternyata genius:
Ketika semua kompetitor panik turunkan harga Bluebird tidak ikut perang harga.
Mereka tetap 20-30% lebih mahal dari taksi online. Tidak ada diskon gede-gedean.
Tidak ada promo bakar duit.
Yang mereka lakukan malah kolaborasi armadanya bisa dipesan lewat Gojek.
Bikin aplikasi sendiri.
Dan tetap jaga standar.
Waktu itu banyak yang bilang ini keputusan bodoh. Kelihatannya mereka ngalah.
Tapi ternyata tidak.
Lalu COVID datang dan ini harusnya jadi pembunuh terakhirnya:
Pendapatan turun dari Rp4 triliun ke Rp2 triliun dalam satu tahun.
Rugi hampir Rp200 miliar.
Jalanan sepi.
Orang tidak kemana-mana.
Tapi gaji driver tetap jalan. Armada tetap harus dimaintenance.
Di titik ini logikanya perusahaan tutup.
Tapi dua hal yang selamatkan mereka:
Pertama — karena tidak ikut perang harga, mereka tidak punya utang besar hasil bakar duit.
Kondisi keuangan mereka jauh lebih sehat dari perusahaan yang ikut perang.
Kedua — sesuatu yang tidak ada yang prediksi sebelumnya: Tech Winter.
Tiba-tiba investor startup mulai tarik duit.
Startup yang selama ini bakar duit kehabisan bahan bakar.
Dan begitu mereka tidak bisa subsidi harga lagi harga naik.
Kualitas mulai tidak terjaga.
Driver mulai sembarangan.
Mobil mulai tidak terurus.
Dan customer yang selama ini pindah ke taksi online mulai sadar ada tradeoff yang mereka bayar.
Dan inilah momen Bluebird masuk dan pukul balik:
Selama kompetitor sibuk perang harga dan akhirnya longgarkan standar Bluebird justru perketat SOP lebih ketat dari sebelumnya.
Driver tetap rapi.
Mobil tetap bersih.
Tidak ada rokok.
Tidak ada sembarangan.
Mereka sasar market yang tidak mau kompromi soal kenyamanan.
Dan market itu ternyata besar dan loyal.
Hasilnya: okupansi armada balik ke 79-81%.
Tanpa bakar duit.
Tanpa diskon gila-gilaan.
Tapi ini bukan yang bikin revenue mereka meledak sampai Rp5,7 triliun.
Yang paling mengejutkan:
Bluebird sekarang bukan perusahaan taksi.
Bisnis terbesar mereka sekarang justru bukan taksi biasa.
Golden Bird — sewa Alphard dan Denza lengkap dengan sopir untuk perusahaan korporat.
Big Bird — sewa bus untuk acara atau rombongan.
City Trans — perjalanan antar kota.
Bluebird Kirim — logistik pengiriman barang.
Bisnis-bisnis ini sekarang menyumbang hampir Rp2 triliun 30% dari total pendapatan.
Kenapa bisnis korporat ini jauh lebih menguntungkan dari taksi biasa:
Kalau taksi kalau tidak ada penumpang ya mobil muter-muter bakar bensin. Rugi.
Kalau bisnis korporat tinggal tunggu telepon dari perusahaan klien, baru deploy mobil.
Tidak ada pemborosan.
Dan yang lebih penting: kontrak jangka panjang. Eksekutif perusahaan bolak-balik kantor setiap hari. Pendapatan bisa diprediksi. Tidak ada bulan sepi, tidak ada bulan ramai yang tidak terduga.
Dan satu fakta soal bisnis B2B yang sering dilupakan: banyak perusahaan lebih memilih bayar lebih mahal ke vendor yang sudah dipercaya daripada coba-coba yang lebih murah. Trust tidak bisa dibeli dengan promo diskon.
Ancaman yang masih ada Sun SM dari Vietnam:
Taksi listrik Vietnam ini masuk dengan harga murah dan sering promo.
Tapi ada hal menarik: Sun SM satu grup dengan brand mobil VinFast.
Kemungkinan besar tujuan utama mereka bukan membunuh Bluebird tapi mempromosikan VinFast agar orang Indonesia familiar dengan brand-nya. Mereka rela bakar duit untuk itu.
Kalau Bluebird tidak salah kelola obsesi mereka pada kualitas plus kontrak panjang dengan perusahaan-perusahaan besar itu tidak mudah direbut hanya dengan harga lebih murah.
Tiga pelajaran yang bisa diambil:
Satu — perang harga itu jebakan.
Kalau modal tidak sepanjang kompetitor ikut perang harga artinya bunuh diri.
Cari medan pertarungan yang berbeda.
Dua — revenue tidak ada artinya tanpa profit.
10 customer dengan profit besar lebih baik dari 100 customer dengan profit tipis.
Dan yang lebih penting dari profit: cash flow.
Perputaran uang yang sehat yang bikin bisnis bisa napas panjang.
Tiga — jangan bergantung pada satu produk.
Bisnis yang monolit rentan.
Yang survive jangka panjang selalu yang punya beberapa lini bisnis yang saling menopang.
Bluebird tidak menang karena lebih besar dari startup. Mereka menang karena tidak mau main di medan yang dibuat startup untuk membunuh mereka.
Ketika semua orang perang harga mereka jaga kualitas.
Ketika core business mereka diserang mereka bangun lini bisnis baru yang tidak bisa diserang dengan cara yang sama.
Dan itu yang bikin perusahaan setengah abad ini justru cetak rekor di tengah industri yang sudah membunuh hampir semua perusahaan sejenis di seluruh dunia.

Indonesia

@KapudS640 @LambeSahamjja pernah nanya, mereka sistemnya dapat gaji tp emg kecil, dan yg ngebantu itu persenan dari total pendapatan mereka per bulan. kyk sistem bagi hasil gitu. tp dibalik itu, mereka di provide sm perusahaan nya, kyk asuransi dll
Indonesia

@patrick19286 @4mod_ @Billy_Naravit tp emg bank besar yg sekelas bca, cimb, dbs, mrk jam terbangnya tinggi, cabangnya ga cuma di satu negara, jd dari sisi begitu biasanya jauh lebih aware. tp bkn berarti ga ada kemungkinan "dicurangi" juga ya
Indonesia

@4mod_ @Billy_Naravit Bank macam BCA / CIMB aja jaga relasi banget sama gereja, lah ini BNI tiba-tiba nilep duit wkwk
Indonesia

PenikmatLele retweetou
PenikmatLele retweetou
PenikmatLele retweetou

td di kantin, ada anak magang yg ngobrolin soal ini, pas bgt antrian nya keselip, aku ditengah mrk. kyknya saling kenal, atau senior nya mungkin. dgn santainya ngomong, "itumah isi percakapan sehari² klo laki normal. yg cepu kyknya ga normal lg"
jujur, agak gimana gitu :(
sampahfhui@sampahfhui
[anak fhui bikin grup isinya lecehin perempuan tiap hari???]
Indonesia

@sampahfhui percaya atau engga, yg begini biasanya anak pejabat org penting, masuk jalur ordal, hidupnya enak, pas magang pasti ditempat besar sambil anggar ordal jg, trus pas skripsian tinggal bayar org pintar tp ga punya duit
Indonesia

@KucengTerbanggg LG yg dua pintu atas bawah, kita pakai dari 2009-sekarang masih bagus bgt
Indonesia

@tanyarlfes kata ayahku, kuliah itu bkn cm tentang gaji/gengsi pas kerja. tp ttg improve diri, skill, attitude, mindset dan pastinya koneksi. masalah duit gaji, itu belakangan. yg pasti org yg kuliah smp selesai biasanya punya yg gw sebut seengga nya lebih baik dr yg ga kuliah
Indonesia




















