

OutlierID
224 posts

@fr321x
OutlierID | Teknologi berjalan tanpa peduli yang tertinggal.



Mengapa Fisika? Pada Juli 2025, saat kunjungan ke Beijing, CEO NVIDIA Jensen Huang membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Ketika ditanya apa yang akan ia pelajari jika menjadi mahasiswa berusia 20 tahun di tahun 2025, ia menjawab dengan tegas bahwa ia akan lebih memilih **ilmu fisika dan physical sciences** daripada software atau pemrograman semata. Menurutnya, era berikutnya dalam teknologi bukan lagi sekadar “Generative AI”, melainkan **Physical AI** — kecerdasan buatan yang berinteraksi langsung dengan dunia nyata, yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang hukum-hukum alam. Fisika adalah fondasi segala ilmu pengetahuan. Dari partikel terkecil seperti quark yang membentuk proton dan neutron, hingga elektron yang mengorbit inti atom, semuanya diatur oleh hukum fisika. Dari atom terbentuk molekul, dari molekul lahir senyawa kimia, dan dari sana muncul kehidupan yang kita pelajari dalam biologi. Tanpa memahami fisika, kita hanya melihat permukaan — kita tidak tahu mengapa air membeku, mengapa matahari bersinar, atau mengapa planet mengorbit. Fisika adalah “bahasa dasar” yang menjelaskan bagaimana alam semesta ini bekerja. Di dunia modern, pentingnya fisika semakin nyata. Teknologi tercanggih seperti chip GPU, energi terbarukan, eksplorasi luar angkasa, hingga robotika masa depan semuanya dibangun di atas prinsip fisika. Jensen Huang menyadari bahwa coding saja sudah tidak cukup. Untuk menciptakan AI yang benar-benar cerdas dan berguna di dunia nyata, kita harus memahami konsep seperti gesekan, inersia, gaya, energi, dan sebab-akibat — hal-hal yang hanya bisa dipelajari secara mendalam melalui fisika. Oleh karena itu, bagi siapa pun yang ingin memahami dunia dan berkontribusi pada masa depan, mempelajari fisika adalah pilihan yang sangat bijak. Bukan hanya untuk menjadi ilmuwan, tetapi juga untuk menjadi inovator, insinyur, atau bahkan pemimpin teknologi seperti Jensen Huang. Seperti yang ia katakan sendiri, jika ia bisa kembali muda, ia akan memilih jalur ini. Jadi, mengapa fisika? Karena fisika adalah kunci untuk membuka rahasia alam semesta dan membentuk masa depan peradaban manusia.




80 mahasiswa Indonesia di Harvard, dibanding Tiongkok yang lebih dari seribu dan ratusan dari Korea. Dalam gambaran lebih luas, hal serupa terjadi. Pada 2023, Tiongkok mengirim sekitar 1 juta mahasiswa ke luar negeri, India sekitar 800 ribu, sementara Indonesia hanya 70 ribu mahasiswa. Dan kalau kita lihat lanskap politik Indonesia, 88% kepala rumah tangga & 93% orang dengan hak untuk memilih tidak memiliki pendidikan tinggi. Angka di atas menunjukkan gejala dari masalah struktural, yang selama ini tidak berhasil membebaskan kita dari middle income trap. Bahwa skor IQ bangsa masih jauh di bawah yang dibutuhkan. Pertanyaannya bagaimana kita bisa membawa skor itu naik?

Prepare for takeoff. ✈️ Flight simulator is now available globally on web to all users. goo.gle/4fBYnWO We've recently added many our most powerful professional desktop features to web. Elevation profiles, new import types, but there's always been one other feature you've been asking us to add to the web version of Google Earth, just for fun... Where will you fly? Share your best maneuvers, views, and flyovers with us!

Today on the blog, we discuss a pathway for the second life of phones through the exploration of “phone cluster computing”, which can directly reduce the environmental footprint of computing by avoiding the need for further raw material extraction. More →goo.gle/4aJe5vO



Wow.. Personalized AI ?? Jadi ini bener2 free dong.. Maap kalau saya masih terkagum2 thd cara berfikir manusia sampai bisa membangun AI .. luar biasa. Makasih mas @AryHHAry , ini perlu didetailkan sampai bisa jalan di kantor

Introducing the Fusion API, the smartest compound model in the market. Fusion achieves Fable-level intelligence at half the price. How it works 👇

🚨 @Karpathy predicted the power of the "LLM Wiki." Google just formalized it. Meet Open Knowledge Format (OKF): a vendor-neutral standard for giving foundation models the curated context they need. I can genuinely see this replacing Notion, Obsidian, or traditional wikis for developer teams, and the reason comes down to bookkeeping. Traditional wikis fail because humans inevitably abandon the tedious work of updating them. As Andrej Karpathy pointed out recently, LLMs don't get bored. They don't forget to update a cross-reference, and they can touch 15 files in a single pass. OKF standardizes the interoperability layer so agents can actually do that heavy lifting autonomously. Because the format is minimally opinionated, it doesn't dictate what you write, it just dictates how it's structured. You get: → Human-readable documents that live right alongside your code in version control → Cross-links that map out complex entity relationships without needing a graph database → A system that survives moving between different tools and organizations There is no complex compression scheme. No central registry. If you can cat a file, you can read it. If you can git clone a repo, you can deploy it. This is how we stop rebuilding context pipelines from scratch every time a new model drops. Announcement + spec file in 🧵↓

Dulu, nilai seorang engineer atau technical person itu diukur dari seberapa bagus dia mengeksekusi Artinya seberapa cepat dan bersih dia bisa menyelesaikan sebuah masalah atau tugas. Sekarang, menurut Amy Tam, yang jadi paling berharga adalah judgment, kemampuan untuk: 1. Memilih masalah yang benar-benar penting untuk dipecahkan. 2. Menilai apakah sebuah solusi itu bagus atau tidak. 3. Mengetahui mana hasil yang benar-benar meaningful di antara banyak output Skill eksekusi semakin bisa digantikan oleh AI, sementara judgment masih sulit tergantikan. Orang-orang yang sudah punya judgment yang tajam inilah yang akan jadi "pemenang".






