amurshd retweetou
amurshd
118 posts

amurshd retweetou

Guys lu pada tau dulu presiden habibie pernah selamatin rupiah dari Rp17.000/USD ke level Rp6.500–Rp7.000-an per dolar AS dalam kurun waktu sekitar 17 bulan pada masa krisis ekonomi 1998–1999.
Bayangin lagi krisis tapi bisa buat nilai rupiah menguat
segila dan sejenius itu beliau
Bayangin ini dulu:
Tahun 1998, Indonesia itu hampir runtuh total:
Rupiah tembus hampir Rp17.000/USD
Bank-bank kolaps
Perusahaan bangkrut massal
Rakyat narik duit → panic everywhere
Dunia internasional:udah gak percaya sama Indonesia
Lalu masuk Habibie.
Bukan ekonom.
Bukan banker.
tapi Engineer.
Tapi justru di situ letak “gila”-nya.
Habibie ngerti satu hal:
Kalau bank hancur, ekonomi pasti mati.
Langkahnya brutal tapi perlu:
Bank yang gak sehat → ditutup
Bank yang masih bisa diselamatkan → direstrukturisasi
Hasilnya:
Lahir Bank Mandiri (gabungan 4 bank bobrok)
Bank Central Asia diselamatkan dan jadi raksasa
Banyak bank lain ikut pulih
Ini bukan sekadar “nyelamatin bank”
ni balikin kepercayaan orang buat naro uang lagi
Sebelum Habibie:
Bank sentral bisa “diatur” pemerintah
Habibie ubah total:
Lewat UU No. 23 Tahun 1999
Bank Indonesia jadi independen
Kenapa ini penting?
Karena dunia luar mikir:
Kalau bank sentral bisa diintervensi politik → negara ini gak bisa dipercaya.”
Dengan langkah ini:
Investor mulai balik
Rupiah mulai stabil
Indonesia dapat bantuan besar dari International Monetary Fund (~$43 miliar)
Tapi bedanya Habibie:
Dia gak nurut 100%
Contoh:
IMF mau subsidi dicabut
Habibie nolak
Kenapa?
Kalau subsidi dicabut saat rakyat lagi hancur → daya beli mati total
Jadi dia:
Pakai dana IMF buat stabilisasi
Tapi tetap jaga rakyat bawah
Ini yang bikin kebijakan dia tegas tapi manusiawi
Masalah waktu itu:
Banyak perusahaan utangnya dolar → tiba-tiba meledak
Solusi Habibie:
Restrukturisasi utang
Konversi ke rupiah
Bentuk lembaga khusus (INDRA)
Perusahaan yang selamat:
Astra International
Sinar Mas Group
Kalau ini gak dilakukan:
PHK massal bisa jauh lebih parah
Ekonomi gak akan pulih kalau politik chaos.
Habibie:
Buka kebebasan pers (UU Pers 1999)
Legalin banyak partai politik
Siapin Pemilu 1999
Dunia lihat:
Indonesia berubah.
Dari otoriter → demokratis.
Dan ini efeknya besar:
Kepercayaan internasional balik
Hasil Nyata (Bukan Teori)
Dalam ±17 bulan:
Rupiah: dari ~16.800 → ~7.000/USD
Inflasi mulai turun
Perbankan stabil
Investor mulai masuk lagi
Ini bukan recovery biasa
Ini comeback ekstrem dalam waktu super singkat
comeback tergila sepanjang republik ini berdiri
Tapi sekarang berbanding terbalik
bank indonesia mulai disusuti orang2 yang kompeten
gk pernah kerja di bank indonesia
tapi tiba2 bisa jadi deputi bank indonesia
karna keponakan presiden
jadi kalau lu lihat rupiah melemah
ihsg melemah
ekonomi lesu
asing keluar terus
yaa ini kebalikan dari semua yang dilakuin pak habibie dulu
ya tinggal copas aja deh
apa yang dilakuin sama pak habibie
pasti gk bakal mau
orang niat nya jadi pemimpin juga udah jelek
Kejeniusan Habibie bukan karena dia ekonom.
Tapi karena dia berpikir seperti engineer:
lihat masalah → bongkar sistem → perbaiki dari akar
Dia berani ambil keputusan gak populer, tapi benar.

Indonesia

guys nonton ini pls, ini lucu gemes dan hangat🫰🏻💝
NA WILLA SEDANG TAYANG DI BIOSKOP!@Adriandhy
Alhamdulillahiladzi Bini’matihi Tatimmush Shalihaat. Terima kasih banyaak 913.685 penonton! ❤️🥹 Makasih sudah memberi Na Willa kesempatan!
Indonesia
amurshd retweetou

@sleepykiyyu insyaAllah tahun ini kita login jadi warga jkt lagi (Aamiin)
Indonesia
amurshd retweetou

Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
boxd.it/bHOIJp

Indonesia
amurshd retweetou
amurshd retweetou
amurshd retweetou
amurshd retweetou

@flouriour WOWWW semoga km dapet rezeki 1 miliar tiap hari yah,, semangat🫰🏻
Indonesia













