mr.shoe-head
7.4K posts

mr.shoe-head
@optimust_P
part time gooners_interior and furniture specialist_car enthusiast_squidward in RL but without the clarinet_daily yapping_bit crazy_definitely lonely





Masih ngomongin jersey, tahukah kamu kalau MU pernah mengenakan dua jersey dalam satu pertandingan? Cerita ini terjadi saat MU berhadapan dengan Southampton di Premier League musim 95/96 Ada yang ingat?


Kalian dulu lebih sering beli tabloid yg mana? Soccer atau Bola? Aku dulu pilih Soccer karena lebih sering ada poster. Kalo kalian gimana?

Arsenal dan Pressure waktu Title Race Lo pernah nggak ngerasa pressure yang berat di hidup lo, tapi ternyata lo bisa ngelewatin itu semua? Beberapa hari lalu, gue nonton interview super inspiratif dari Tom Hiddleston tentang title race Arsenal dan City. Salah frasa yang cukup sering dia bilang adalah “Pressure is a privilege.” Jujur, gue udah pernah denger frasa ini dari lama, it took me some time to really understand it. Gue jadi keinget sama tim kesukaan gue, Arsenal, yang sering crumble under pressure di akhir-akhir musim. Semalam Man City menduduki peringkat 1 setelah sekian lama Arsenal yang mimpin di klasemen liga. Mungkin ada banyak fans yang merasa takut, pasrah, tapi ada juga yang masih optimis untuk mendukung tim ini. Gue jadi inget rasanya waktu Arsenal pertama kali bikin semua orang percaya di musim 22/23. Mereka memimpin liga hampir sepanjang musim. Fans Arsenal untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama berani berharap. Tapi sejak itu, Man City dan Liverpool selalu datang dan Arsenal runtuh. Di beberapa musim setelahnya, Arsenal mencoba lagi, dengan pendekatan berbeda dan skuad yang lebih dalam, tapi belum berhasil. Jujur aja, ini yang mungkin membuat Arsenal terus-terusan menghadapi pressure karena tanggung finish di posisi dua terus. Pressure itu datang dari dua arah sekaligus. Fans Arsenal sendiri yang menunggu gelar, ada yang sebagian sabar, ada yang sebagian nggak. Tapi mereka menunggu karena mereka sebenarnya percaya sama kapasitas tim ini. Mereka sudah cukup tahu kalau di atas kertas, Arsenal bukan tim yang kebetulan bisa memimpin klasemen sepanjang musim. They have the capability to win it. Dan rasa kepercayaan itu beratnya luar biasa karena mengecewakan orang yang percaya jauh lebih menyakitkan dari mengecewakan orang yang nggak mengharapkan apa-apa. Di sisi lain, rival menunggu downfall Arsenal. Banyak alasannya kenapa mereka begitu, tapi yang jelas salah satunya penampilan Arsenal cukup menjanjikan untuk membuat kejatuhan mereka terasa memuaskan. Dua-duanya pressure. Dua-duanya karena Arsenal dianggap cukup menarik untuk diperhatikan. Gue jadi keinget sama interview-nya Hiddleston lagi, dia bilang kalau rasa takut dan excited itu reaksi kimianya sama di tubuh. Gue jadi penasaran sama Arteta dan pemain Arsenal, apakah mereka masih takut? Kalau gue yang ada di posisi itu, gue akan menganggap pressure ini adalah privilege. What a privilege to be expected to win by your own fans. What a privilege to be waited on to fall by everyone else. Sekarang City ada di atas. Hanya ada produktivitas gol aja yang memisahkan, it’s not even the goal difference. Gue berharap Arteta dan pemain Arsenal harus punya mindset positif dalam melihat ini. Pressure means you’ve earned your spot where the bar is high and the challenge is real. Kalau Arsenal bisa memenangkan battle ini, mereka akan mengenang cara kemenangan yang mungkin aja paling memorable. I hope they actually think “Oh this period is exciting and we feel most alive to beat those challenges.” Di aspek mana pun, pressure seberat ini nggak datang kepada semua orang, nggak datang kepada semua tim. Ini datang kepada mereka yang sudah cukup besar untuk membuat orang percaya dan cukup berbahaya untuk membuat musuh menunggu mereka jatuh. Kalau bukan privilege, namanya apa? Prove us that you are born for this @Arsenal. (source pict & video: ESPN, Sky Sports & Pinterest)


@arsenatasyas Ngetik panjang lebar, intinya cuman Arsenal Bottled



👀🗓️









Arsenal dan Pressure waktu Title Race Lo pernah nggak ngerasa pressure yang berat di hidup lo, tapi ternyata lo bisa ngelewatin itu semua? Beberapa hari lalu, gue nonton interview super inspiratif dari Tom Hiddleston tentang title race Arsenal dan City. Salah frasa yang cukup sering dia bilang adalah “Pressure is a privilege.” Jujur, gue udah pernah denger frasa ini dari lama, it took me some time to really understand it. Gue jadi keinget sama tim kesukaan gue, Arsenal, yang sering crumble under pressure di akhir-akhir musim. Semalam Man City menduduki peringkat 1 setelah sekian lama Arsenal yang mimpin di klasemen liga. Mungkin ada banyak fans yang merasa takut, pasrah, tapi ada juga yang masih optimis untuk mendukung tim ini. Gue jadi inget rasanya waktu Arsenal pertama kali bikin semua orang percaya di musim 22/23. Mereka memimpin liga hampir sepanjang musim. Fans Arsenal untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama berani berharap. Tapi sejak itu, Man City dan Liverpool selalu datang dan Arsenal runtuh. Di beberapa musim setelahnya, Arsenal mencoba lagi, dengan pendekatan berbeda dan skuad yang lebih dalam, tapi belum berhasil. Jujur aja, ini yang mungkin membuat Arsenal terus-terusan menghadapi pressure karena tanggung finish di posisi dua terus. Pressure itu datang dari dua arah sekaligus. Fans Arsenal sendiri yang menunggu gelar, ada yang sebagian sabar, ada yang sebagian nggak. Tapi mereka menunggu karena mereka sebenarnya percaya sama kapasitas tim ini. Mereka sudah cukup tahu kalau di atas kertas, Arsenal bukan tim yang kebetulan bisa memimpin klasemen sepanjang musim. They have the capability to win it. Dan rasa kepercayaan itu beratnya luar biasa karena mengecewakan orang yang percaya jauh lebih menyakitkan dari mengecewakan orang yang nggak mengharapkan apa-apa. Di sisi lain, rival menunggu downfall Arsenal. Banyak alasannya kenapa mereka begitu, tapi yang jelas salah satunya penampilan Arsenal cukup menjanjikan untuk membuat kejatuhan mereka terasa memuaskan. Dua-duanya pressure. Dua-duanya karena Arsenal dianggap cukup menarik untuk diperhatikan. Gue jadi keinget sama interview-nya Hiddleston lagi, dia bilang kalau rasa takut dan excited itu reaksi kimianya sama di tubuh. Gue jadi penasaran sama Arteta dan pemain Arsenal, apakah mereka masih takut? Kalau gue yang ada di posisi itu, gue akan menganggap pressure ini adalah privilege. What a privilege to be expected to win by your own fans. What a privilege to be waited on to fall by everyone else. Sekarang City ada di atas. Hanya ada produktivitas gol aja yang memisahkan, it’s not even the goal difference. Gue berharap Arteta dan pemain Arsenal harus punya mindset positif dalam melihat ini. Pressure means you’ve earned your spot where the bar is high and the challenge is real. Kalau Arsenal bisa memenangkan battle ini, mereka akan mengenang cara kemenangan yang mungkin aja paling memorable. I hope they actually think “Oh this period is exciting and we feel most alive to beat those challenges.” Di aspek mana pun, pressure seberat ini nggak datang kepada semua orang, nggak datang kepada semua tim. Ini datang kepada mereka yang sudah cukup besar untuk membuat orang percaya dan cukup berbahaya untuk membuat musuh menunggu mereka jatuh. Kalau bukan privilege, namanya apa? Prove us that you are born for this @Arsenal. (source pict & video: ESPN, Sky Sports & Pinterest)









