حرموق ابن ستردين

8.2K posts

حرموق ابن ستردين banner
حرموق ابن ستردين

حرموق ابن ستردين

@HarmokoStr

Sumali Şubat 2017
983 Sinusundan66 Mga Tagasunod
حرموق ابن ستردين nag-retweet
FaktaBola
FaktaBola@FaktaSepakbola·
Cuma ada tiga trio yang pernah tembus 100 gol dalam satu musim di semua kompetisi. MSN melakukannya tiga kali, dan sekarang satu trio baru mulai menyusul.🔥 📝@OptaAnalyst
FaktaBola tweet media
Indonesia
22
102
1.2K
38.6K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
"Pak TU kampus" "Gimana Mutia?" "Saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT" "Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya" "Baik Pak" *** "Pak RT, saya mau minta surat keterangan tidak mampu" "Kamu bukannya Mutia, anaknya Pak Solihin, dosen di kampus itu?" "Iya Pak" "Lah, penghasilannya bukannya lumayan?" "Bapak lagi tugas belajar Pak, jadi dapetnya cuma gaji pokok doang." "Oh gitu, ini saya kasih surat pengantar, sekarang yang ngeluarin SKTM Dinas Sosial." *** "Pak Dinas Sosial, minta SKTM." "Ada surat keterangan dari RT sama slip gaji terakhir orang tua?" "Ini Pak." "Lah, ini gaji Bapak kamu gede?" "Tapi Bapak baru mulai Tugas Belajar Pak, jadi yang di situ tunjangan sama sertifikasi masih lengkap." "Wah, saya gak bisa ngeluarin SKTM kalau gitu, soalnya di sini penghasilan Bapak masih di atas syarat." "Waduh, terus gimana ini Pak?" "Coba ke bank sama Bapak, siapa tahu bisa ada pinjaman" *** "Bu CS Bank, saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya" "Baik Pak, saya cek dulu" "Pak Solihin, setelah kita cek penghasilan, kita gak bisa kasih pinjaman." "Kenapa Bu?" "Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi." "Waduh, terus gimana ini Bu?" *** "Pak TU kampus, saya gak bisa dapet SKTM Pak" "Udah coba pinjam bank?" "Gak bisa Pak, penghasilan Bapak saya gak cukup." "Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus" *** "Mas, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?" "Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun" "Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?" "Iya Mbak" "Waduh, itu biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya" *** "Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya" "Kamu cuti dulu aja Mut. Kerja part time gitu." "Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?" "Kamu bayar 50% UKT, jadi 6.25 juta." "Hah?" *** "Mas pinjol, kayanya saya terpaksa pinjem deh, gak ada jalan lain" "Siap, ini saya transfer ya." "Kalau gagal bayar gitu gimana?" "Ada dendanya sama nanti kecatat di BI Checking." *** "Mutia, ini utangnya gak dibayar?" "Wah Pak Debt Collector, Bapak saya butuh bayar UKT buat Tugas Belajar S3 sama banyak perlu lain, gimana?" "Gak bisa bayar sekarang?" "Iya, gimana?" "Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk dari semester 3 sampai lulus" *** "Ini CV kamu bagus banget, aktif di organisasi" "Iya, makasih Bu rekruter." "IPK kamu juga bagus, skill set kamu juga sesuai sama yang dibutuhin user kita." "Terima kasih." "Oke, kita finalisasi paperwork dulu ya sebelum offer." *** "Halo, ini HRD perusahaan X, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima." "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?" "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya." "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?" "Coba ke perusahaan lain." *** "Halo, ini HRD perusahaan Y, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima." "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?" "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya." "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?" "Coba ke perusahaan lain." *** "Halo, ini HRD perusahaan Z, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima." "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?" "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya." "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?" "Coba ke perusahaan lain." *** "Mutia, kamu udah dapet kerja belum?" "Pak Harjo! Tumben nelpon saya? Makasih udah dibimbing skripsi Pak, saya belum dapet kerja." "Saya lagi butuh orang buat kerja di lab, kamu sekalian S2 aja di sini." "Terus bayar UKT sama biaya hidupnya gimana Pak?" "Ya kamu nanti sekalian bantu proyek saya, ada lah dikit-dikit." "Oh, boleh Pak." "Nanti kalau udah lulus saya rekomendasikan jadi dosen sekalian." *** "Selamat Mutia, udah lulus S2!" "Terima kasih Prof. Harjo!" "Kamu jadi mau jadi dosen kan? Saya bisa tulis rekomendasi." "Ya Pak." *** "Bu Mutia, dipanggil ke ruangan Pak Dekan." "Ada apa ya Mbak Admin?" "Ada yang mau diobrolin katanya." "Jam berapa mbak?" "Jam 1, habis makan siang." *** "Ada apa Pak Dekan?" "Bu Mutia kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?" "Iya Pak." "Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?" "Iya Pak." "Biar karir Bu Mutia lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3." "Wah, kalau nggak gimana Pak? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua." "Nanti karir Bu Mutia stuck di situ." "Oh gitu, oke Pak." *** "Mbak Admin, kalau saya mau daftar S3 di univ sini aja, syaratnya apa aja?" "Kok gak ke luar negeri aja Bu?" "Anak saya baru masuk kuliah, di jurusan sebelah, adiknya mau masuk SMA." "Wah udah gede." "Iya, saya dulu nikah muda dan punya anak cepet." "Oh gitu, saya cek dulu ya syarat-syaratnya Bu, nanti saya hubungi." *** "Bu Mutia, syaratnya ini Bu: Ijazah sama Transkrip S1 dan S2, Hasil tes TPA, Hasil tes TOEFL, sama Proposal Penelitian." "Tes TPA sama TOEFL saya udah kadaluarsa, harus tes lagi?" "Iya Bu. Oh ya, nanti juga ada tes lagi dari jurusan." "Bentar, saya ngajar di jurusan Farmasi ini, punya beberapa paper di jurnal internasional di bidang ini juga, masih harus dites kemampuannya?" "Iya Bu, memang aturannya begitu." "..." *** "Mbak Admin, ini saya udah dapat tes TPA dan TOEFL saya, ada reimburse-nya?" "Gak ada Bu." "Hah? Kok gitu, bukannya ini saya melaksanakan tugas secara profesional? Kok jadi uang saya pribadi yang keluar?" "Memang aturannya begitu Bu." "Uang pendaftaran ke universitas juga nggak ada reimburse-nya?" "Gak ada Bu." "..." *** "Pak Dekan, saya kan udah urus pendaftaran S3 ke sini, untuk biaya UKT per semesternya gimana?" "Sekitar 15 juta per semester Bu." "Wah, saya gak kuat harus bayar segitu." "Bu Mutia cari beasiswa aja, ada LPDP atau BPI." "Bentar, ini saya kan melaksanakan tugas secara profesional kan Pak? Atas perintah Fakultas?" "Iya Bu." "Tapi saya disuruh cari pendanaan sendiri? Antara bayar sendiri atau beasiswa cari sendiri?" "Iya Bu. Memang begitu. Saya dulu juga begitu." "..." *** "Prof. Harjo, bisa jadi promotor S3 saya?" "Bisa Bu Mutia, tapi saya lagi minim funding beberapa semester ke depan. Hampir semua guru besar di fakultas kita lagi susah Bu." "Oh gitu Prof, kalau tanpa funding, gimana?" "Bu Mutia harus biayain penelitian sendiri." "Maksudnya?" "Beli mencit, reagen, bahan kimia, sama alat-alatnya secara mandiri Bu." "Bentar, jadi selain harus bayar UKT, saya juga harus bayar penelitiannya?" "Iya Bu." "Kan ini saya bertugas secara profesional kan Prof? Ada surat dari Fakultas loh saya disuruh Tugas Belajar, kok pakai uang pribadi?" "Saya dulu juga gitu Bu. Memang begitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari lembaga beasiswa yang di-apply kemarin." "Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?" "Iya Bu, ini ada suratnya dari LPDP sama BPI. Dibuka aja Bu." "..." "Kenapa Bu, kok sedih?" "Dua-duanya nggak keterima Mbak, padahal saya juga PNS Dosen." "Waduh, jadi gimana Bu?" "Terpaksa bayar UKT pakai uang pribadi." "..." *** "Mbak Keuangan Fakultas, ini kok gaji saya tinggal gaji pokok PNS doang? Ini gaji pokoknya mana di bawah UMK pula." "Bentar saya cek ya Bu Mutia." "Tolong ya mbak, itu semua tunjangan sama serdos jadi ilang semua, saya lagi perlu biayain anak-anak saya." "Bu Mutia mulai tugas belajar semester ini?" "Iya Mbak." "Oh pantes, memang gitu aturannya Bu, selama tugas belajar yang diberikan hanya gaji pokok PNS." "Hah, kok gitu? Saya kan mengerjakan tugas ini atas perintah Fakultas?" "Memang aturannya begitu Bu." "..." *** "Halo Pak TU Kampus jurusan sebelah? Ini kok anak saya dapat UKT maksimum?" "Iya Bu, kan Ibu PNS." "Gak bisa daftar KIPK gitu?" "PNS gak bisa Bu. Pejabat dikbud bilang gitu kemarin." "Tapi gaji saya tinggal gaji pokok doang karena Tugas Belajar. Jadi di bawah UMK." "Wah, saya gak bisa bantu Bu. Memang aturannya begitu." "..." *** "Prof. Harjo, Alhamdulillah ini paper penelitian kita accepted di jurnal Q1." "Alhamdulillah. Ya udah, urus administrasinya ya." "Saya harus bayar APC Prof." "Berapa?" "USD 3000 Prof. Open Access berbayar. Kalau gak gitu, nunggu review aja bisa 1.5 tahun." "Waduh, hibah penelitian kita cuma sanggup bayar 10% dari itu." "Sisanya gimana?" "Kamu bayar sendiri." "Hah?" "Memang begitu. Saya dulu juga gitu" "..." *** "Prof. Harjo, biar saya lulus, saya butuh berapa paper jurnal Q1?" "Perlu empat Bu Mutia. Baru satu yang kemarin kan ya?" "Iya Prof." "Berarti yang tiga lagi sama kaya kemarin lagi? Biaya penelitian dan APC jurnal dari saya semua?" "Iya, terpaksa begitu, kita lagi krisis funding." "..." *** "Selamat ya Bu Mutia, sudah berhasil defense." "Terima kasih atas bimbingannya selama ini Prof. Harjo." "Saya minta maaf gak bisa bantu banyak ya Bu Mutia." "..." *** "Pak Dekan, saya mau resign." "Hah, kan baru lulus S3 Bu?" "Saya dapat offer di LN Pak, saya kelilit utang ratusan juta karena biayain penelitian, APC jurnal, kuliah anak pertama saya, sama sekolah adiknya." "Gak bisa Bu, kalau tugas belajar ada perjanjian harus mengabdi 2n+1." "Maksudnya?" "Kan Bu Mutia kemarin Tugas Belajar 4 tahun, berarti harus tetap di sini selama 9 tahun ke depan." "Hah?" *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat." "..." "Kenapa Bu?" "Kok saya dapat hukuman disiplin sedang? Kan saya lulus S3 kemarin 4 tahun? Udah perpanjang dari yang harusnya 3 tahun." "Ijazah Ibu bulan apa keluarnya?" "Oktober Mbak." "Waktu mulai S3 bulan apa?" "Agustus Mbak." "Berarti Ibu itungannya lulus 4 tahun 2 bulan Bu, lebih dari batas waktu." "Kan saya defense Juli? Sisanya cuma nunggu jadwal wisuda?" "Memang aturannya begitu Bu. Di Permendikbudnya ada Bu." "..." *** "Mbak Keuangan Fakultas, ini bener take home pay saya cuma segini?" "Bentar Bu saya cek." "Kok gak jauh beda sama pas waktu saya tugas belajar?" "Ini potongan karena hukuman disiplin sedang Bu." "Berapa lama bakal segitu?" "Setahun Bu. Aturannya memang begitu." "..." *** "Mbak Admin, saya mau mengajukan naik jadi Lektor Kepala, saya hitung kum saya sepertinya sudah cukup." "Ini formulirnya ya Bu, diisi selengkap-lengkapnya." "Oke Mbak." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat. Permohonan naik jabatan fungsional jadi Lektor Kepalanya ditolak Bu." "Hah, kok bisa?" "Ini ada empat jurnal internasional yang Ibu publikasikan selama S3." "Masalahnya apa?" "Gak bisa dihitung Bu. Publikasi selama tugas belajar gak bisa dipakai." "Berarti saya perlu penelitian dan publikasi empat jurnal internasional lagi dari awal, buat menggantikan kum dari itu semua?" "Iya Bu. Aturannya memang begitu." "..." *** "Mbak Admin Lembaga Penelitian Kampus, ada bukaan proposal riset gak? Saya gak kuat lagi kalau harus bayar pakai uang pribadi." "Ini ada beberapa Bu, mungkin bisa dicoba." "Bentar ya Mbak, saya baca-baca dulu." "Oke Bu." "Mbak, ini principal investigator risetnya harus minimal Lektor Kepala atau Guru Besar?" "Iya Bu." "Jadi, untuk jadi Lektor Kepala saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya perlu jadi Lektor Kepala?" "Iya Bu. Aturan proposalnya memang begitu." "..." *** "Halo Bu Mutia, ini Admin Lembaga Penelitian Kampus." "Oh ya, gimana Mbak?" "Ini ada bukaan proposal yang gak ada minimal jabatan fungsionalnya Bu." "Wah mantab, bentar ya saya baca-baca." "Ya Bu." "Mbak, ini memang gak boleh ada komponen honor penelitian? Sama sekali?" "Iya Bu. Termasuk Ibu juga gak boleh menggaji tenaga Ibu sendiri selama riset, karena sudah termasuk di tupoksi Ibu sebagai dosen." "Hah? Lalu honor peneliti juga gak bisa? Saya gak bisa bayar asisten mahasiswa saya dari hibah?" "Gak bisa Bu, aturannya memang gitu." "..." *** "Prof. Harjo, saya mau konsultasi sebentar." "Ah, Bu Mutia, masuk Bu silakan." "Dulu waktu Prof bimbing saya S2 kan bisa ada sedikit honor, gimana caranya Prof? Ini semua hibah penelitian gak ada yang bisa bayar saya dan mahasiswa." "Oh, gampang itu, saya dulu masukin komponen 'jasa konsultasi' ke pihak ketiga. Pihak ketiganya yang bayar Ibu dulu." "Wow, kok saya gak kepikiran. Pihak ketiganya siapa Prof?" "PT. Riset Luar Biasa, punya istri saya, jadi saya gak perlu bayar fee pinjam nama." "..." *** "Halo, Bu Dewi, ini Mutia." "Mutia muridnya suami saya dulu?" "Iya Bu, semoga sehat semua ya sekeluarga. Kalau saya mau pinjam nama PT. Riset Luar Biasa buat komponen jasa penelitian bisa Bu?" "Oh bisa banget, sebentar saya kirimkan ketentuan dan fee-nya." "Ini total dana hibahnya kecil sih Bu, cuma 100 jutaan, soalnya buat dosen peneliti pemula." "Oh gitu, kamu masukin aja 'jasa konsultasi' ke kita 30 juta. Nanti kita potong 10 juta buat fee, yang 20 juta bebas kamu pakai buat honor asisten." "Fee-nya 10 juta sendiri?" "Iya, aturan perusahaan kami memang begitu. Waktu suami saya minjem nama seniornya dulu dia juga gitu." "..." *** "Halo Bu Mutia, ini dari Admin Lembaga Penelitian Kampus." "Oh ya, ada apa Mbak?" "Mengingatkan minggu depan waktunya monitoring dan evaluasi perkembangan riset dari proposal Ibu yang kita terima kemarin." "Hah? Kan dananya belum turun? Tim kami belum juga beli reagen dan alat, apalagi mulai risetnya." "Biasanya yang lain udah nalangin dulu Bu pakai dana pribadi. Dana nanti turunnya tengah tahun." "Tengah tahun? Sekarang aja udah April dan paper publikasinya harus udah terbit di Desember?" "Iya Bu. Memang aturannya begitu." "..." *** "Bu Mutia, saya minta tolong boleh." "Minta tolong apa Prof. Harjo?" "Ini minta review 2 paper ini, request dari 2 jurnal internasional tempat Bu Mutia publikasi pas S3 kemarin." "Oh, iya Prof. Ada honornya?" "Gak ada. Dari jurnalnya memang gak ngasih honor buat review." "Jadi dari APC USD 2000 yang dibayar sama penulis kemarin itu, gak ada sepeser pun yang masuk ke reviewernya?" "Iya, dianggap udah tupoksi akademisi. Memang gitu aturannya." "..." *** "Bu Mutia, ini dari Lembaga Penelitian Kampus." "Oh iya, gimana?" "Mau menagih luaran paper Bu. Sekarang kan bulan Desember, jadi harus sudah terbit." "Wah, saya masih belum dapat jawaban review dari jurnalnya, saya udah submit November kemarin." "Berarti belum terbit ya Bu?" "Belum." "Wah, kalau begitu ini dari lembaga hibahnya ada sanksi Bu." "Hah? Apa sanksinya?" "Ibu di-blacklist dari mengajukan riset lewat hibah ini selama 5 tahun ke depan. Mohon maaf ya Bu, aturannya memang begitu." "..." *** "Hamid! Kok pulang gak ngabar-ngabarin Nak? Tasya gak ikut?" "Iya Mah, kan awal Ramadhan. Mau sekalian ziarah ke makam Papah. Tasya gak dapet cuti Mah, sama kan susah bawa Nana, masih 1 tahun." "Oh gitu. Ya udah, masuk aja dulu, kan udah malem. Besok aja ziarahnya. Pas banget tadi Mamah tadi masak ayam goreng crispy." "Ya Mah." *** "Masakan Mamah gak berubah, tetep paling enak sedunia. Gimana mah kondisi kampus?" "Ya gitu lah. Apa yang mau diharapkan? Udah capek Mamah juga." "Kok gitu, kenapa Mah? Rasanya pembimbing Hamid dulu baik-baik aja." "Pembimbing Hamid dulu siapa?" "Prof. Tejo Mah" "Prof. Tejo dari jurusan Teknik Lingkungan?" "Ya kan Hamid emang kuliah di Teknik Lingkungan, Mamah gimana sih." "Rasanya dia gak pernah dapet hibah riset, kok dia udah Prof aja. Terus berkecukupan bener hidupnya, gak kayak kita, utang sana sini." "Oh itu, jadi gini cara dia Mah" "..." "..." "Oh gitu?" "Iya Mah." *** "Mbak Admin Jurusan, jadwal kuliah saya semester ini bisa dibuat Senin sama Jumat doang?" "Bisa Bu Mutia. Tapi bakal padat Senin sama Jumatnya." "Gak apa, saya harus ngerjain konsultansi di perusahaan anak saya tiap Selasa sampai Kamis. Kalau gak gitu gak cukup penghasilan saya buat nutup utang." "Di Jakarta Bu?" "Iya, makanya gak bisa commuting, saya harus menginap di rumah anak saya." "Absennya gimana Bu?" "Kamu bisa 'atur'?" "Oh, 'atur'? Kaya biasanya dosen lain ya Bu?" "Iya." "Siap. Aman Bu." *** "Halo, Dea?" "Ya Bu Mutia?" "Beasiswa S2 kamu kan ada kewajiban asistensi, kamu isi kelas Topik Pilihan Farmasi saya Jumat besok ya, kerjaan saya di sini belum selesai." "Siap Bu. Untuk bimbingan tesis Senin Ibu ada?" "Belum tahu, kontak saya aja nanti." "Ya Bu." *** "Ini kelas TPF kita yang ngisi emang Kak Dea terus? Gue jarang masuk, tapi sekalinya masuk kok Kak Dea lagi?" "Gak tahu nih, Bu Mutia cuma masuk pas pengenalan silabus aja. Sisanya Kak Dea." "Oh gitu, sibuk kayanya, jadi anggap aja dosen kita Bu Dea ya, asistennya Kak Mutia." "Iya, wkwkwk." *** "Untuk UAS TPF kalian, buat makalah ya. Ini tugas individu ya, bukan kelompok. Ini formatnya." "Baik Bu Mutia. Untuk penilaiannya gimana Bu?" "Kalau kalian sekedar nulis sampai selesai, nilainya C. Kalau berhasil sampai terbit di SINTA 6, C+. Terbit di SINTA 5, B-. SINTA 4, B. SINTA 3, B+, SINTA 2, A-. Yang paling tinggi SINTA 1, nilainya A." "Berarti harus terbit di jurnal nasional Bu?" "Iya, cantumkan saja nama saya jadi corresponding author di belakang nama kalian. Biasanya reviewernya udah pada tahu nama saya, kemungkinan diterimanya besar." "Baik Bu." *** "Enak ya kuliah Bu Mutia." "Iya, tugasnya cuma 1 makalah doang, sisanya diceramahin asisten." "Recommended lah buat kuliah pilihan." "Pantes aja isinya 50-an mahasiswa terus, penuh." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat." "Apa isinya?" "Penghargaan jurnal nasional terbanyak sekampus tahun ini." "Oh, mantab. Lumayan juga dua semester ngajar TPF." "Apa hubungannya Bu?" "Ada 2 semester kali 50 mahasiswa bikin makalah jurnal nasional, semua nyantumin nama saya." "..." "Pastikan semester depan saya ngajar TPF lagi." *** "Halo, Bu Mutia, ini Dea." "Kenapa Dea?" "Ini honor asisten gak masuk dari jadwal yang seharusnya Bu." "Oh, iya, biasanya memang telat 3 bulan." "Honor asisten yang cuma 500 ribu per semester itu selalu telat Bu? Walaupun dari 15 pertemuan, 13 di antaranya saya yang ngajar?" "Iya, memang begitu. Dari jaman saya mahasiswa dulu juga gitu." *** "Erna, lu apa kabar?" "Widih, tumben kontak gue Mut. Gimana nih?" "Lu masih jadi dosen di Malaysia?" "Masih lah, ogah gue balik, apalagi denger cerita elu. Di sini segalanya difasilitasi, mau APC jurnal puluhan juta juga dibayarin kampus." "Wih, coba kampus gue kaya gitu ya." "Lu bisa catut nama gue aja jadi co-author, entar gue reimburse-in ke kampus sini." "Wah menarik, ya udah, eksekusi ya." *** "Puput, pembimbing lu dulu Bu Mutia bukan?" "Iya, kenapa gitu?" "Ini kok skripsi gue tiba-tiba terbit jadi jurnal internasional ya? Cuma diterjemahin ke bahasa Inggris. Datanya sama persis." "Bagus dong, masalahnya apa?" "Nama pertamanya Bu Mutia. Gue jadi nama kedua." "Lah, kan emang gitu, gue dulu juga gitu." "Temen kita yang lain gimana?" "Si Fani bimbingannya Prof. Harjo juga gitu dulu." "Oh, berarti normal ya." "Kayanya sih gitu. Semua orang juga gitu." "Iya sih, toh kita udah lulus ini, gak ngaruh juga." *** "Selamat Bu Mutia, dapet penghargaan lagi, jurnal internasional terbanyak." "Makasih Prof. Harjo." "Kok bisa 12 jurnal internasional dalam setahun? Gila, fundingnya dari mana?" "Saya bikin 4 systematic literature review, 4 survey paper, sama 3 review konsep Prof. Kan sama aja mau paper riset atau review, yang kampus tahu mah sama-sama Q1. Yang paper riset cuma 1, dari bimbingan saya, itu juga semua mahasiswanya yang danain." "Oh gitu, modal baca sama nulis doang ya." "Iya, gak perlu keluar duit ratusan juta buat mencit, reagen, bahan kimia, sama alat." "Mantab, APC jurnalnya dari mana?" "Ada co-author saya di Malaysia, dia bisa claim reimburse buat APC sampai ratusan juta, tinggal catut namanya." "Oh, mantab. Saya dulu juga gitu." *** "Halo, Mutia?" "Oh Bu Dewi, ada apa ya?" "Ini kan awal tahun, waktunya ngajuin proposal hibah riset lagi, minat pinjam nama PT. Riset Luar Biasa?" "Oh, nggak Bu. Saya udah punya sendiri Bu, punya si Hamid anak saya. Jadi saya gak perlu bayar fee peminjaman." "Oh gitu, kalau perlu lagi kontak saya ya." "Siap Bu." *** "Selamat Prof. Mutia udah pengukuhan guru besar." "Makasih Mbak Keuangan Fakultas. Ini hasil dari publikasi jurnal nasional dan internasional rutin mbak. Cuma mau cek, ini Take Home Pay-nya memang bener segini?" "Iya Bu." "Besar sekali, beda banget sama saya beberapa tahun lalu." "Iya Bu, memang aturan penggajiannya begitu." "Jadi antara Guru Besar dan Dosen Muda itu selisihnya kaya langit dan bumi?" "Iya Bu, memang begitu aturan kampus kita." *** "Halo, Prof. Mutia, Pak Dekan kan mau pensiun, gantikan beliau ya semester depan. Cuma Prof yang memenuhi syarat di fakultas sana." "Oh baik Bu Rektor." "Nanti akan ada tunjangan struktural lagi di atas tunjangan guru besar." "Wah, terima kasih Bu. Memang beda sekali ya Bu jaman dosen muda sama sekarang." "Iya, saya dulu juga gitu." *** "Mbak Admin, bisa panggil Bu Lala?" "Ada keperluan apa ya Bu Dekan?" "Ada yang mau saya obrolkan." "Jam berapa Bu?" "Jam 1, habis makan siang." *** "Ada apa Bu Dekan?" "Bu Lala kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?" "Iya Bu." "Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?" "Iya Bu." "Biar karir Bu Lala lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3." "Wah, kalau nggak gimana Bu? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua." "Nanti karir Bu Lala stuck di situ." "Oh gitu, baik Bu." *** "Mamah, Debi baru keterima nih di PTN favorit." "Waduhh, mama harus mulai Tugas Belajar nak." "Kenapa gitu?" "Penghasilan mama tinggal gaji pokok doang. Semua tunjangan distop." "Terus gimana Debi bayar UKT Mah?" "Coba kamu ke TU Kampus." *** "Pak TU kampus" "Gimana Debi?" "Saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT" "Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya" "Baik Pak"
Indonesia
948
5K
18.7K
1.6M
حرموق ابن ستردين nag-retweet
#HooLeeShit
#HooLeeShit@Otto_0967·
Woook Dengerin nih kata Abah Anies, itu uang rakyat bukan duit pribadi lu.. Dikit dikit antek asing Dikit dikit antek soros Otak lu tu yang DIKIT..!! Bekasi Jule Diana Pungky PT KAI
Indonesia
2
3
11
1.4K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Daftar Kosakata Pidato 1) Mana itu Indonesia Gelap 2) Antek asing 3) Kabur aja sana 4) Bangsa yang besar 5) Koperasi merah putih 6) Menghujat pemerintah dibayar 7) Saya ke luar negeri jaga kepentingan Indonesia 8) Indonesia negara paling aman 9) Makan bergizi gratis 10) Swasembada Pangan 11) Koperasi Merah Putih 12) Indonesia Emas 2045 13) Hilirisasi 14) Efisiensi 15) Ndasmu 16) Macan Asia 17) Danantara 18) Keadilan sosial 19) Tangkap koruptor 20) Stabilitas
Indonesia
99
1.6K
3.7K
55.9K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Arjaya Dirja
Arjaya Dirja@ArjayaDirja·
Netizen memang sangat detail dan njlimet..😀😀😀 bisa aja!!
Arjaya Dirja tweet media
Indonesia
141
1.5K
4K
40.5K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Boediantar4
Boediantar4@Boediantar4·
DESA ADALAH MINIATUR DAERAH BAHKAN NEGARA COBA NEGARA KITA MENGELOLA TAMBANG HUTAN DAN LAUT SPT CONTOH INI APA YG DIKATAKAN PAK MAHFUD DAN ABRAHAM SAMAD BISA TERWUJUD KEMBALI KE PEMIMPINNYA 🥹😪😱😡
Indonesia
4
56
143
2.5K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Kapten Haddock
Kapten Haddock@SeekHustle·
Jabatan Hashim Djojokusumo saat ini: • Ketua Satgas Perumahan (sejak Agustus 2024) • Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi (sejak 21 Oktober 2024). • Ketua Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional (ditunjuk Maret 2026). • Ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya (sejak 20 Januari 2025). • Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia (sejak 2025). • Dewan Pengawas Indonesian Petroleum Association (IPA) 2026. • Founder & Chairman Arsari Group. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. • Ketua Pembina PB Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) - April 2026 •Ketua Penasihat Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) - April 2026 • Ketua Dewan Pembina Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) — sejak 2024 Anjirlah banyak bener, bisa membelah diri gue rasa orang ini 🙄 Eh kek gini dinasti ga sih??
Kapten Haddock tweet media
Indonesia
315
949
1.5K
86.7K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
🅱🅰🅶🅾🅽🅶
UAE BARU SAJA KELUAR DARI OPEC. Negara dengan produksi 3,14 juta barel per hari. Anggota sejak 1967. Pemain terbesar ke-3 di kartel minyak terdahsyat di bumi. Pergi. Begitu saja!! Ini bukan drama biasa. Ini gempa geopolitik energi. Dan sebelum bereaksi — kita harus paham dulu peta besarnya: • OPEC kuasai ~30% minyak dunia 🌍 • UAE adalah raja produksi ke-3 di kartel itu 👑 • UAE keluar — demi $50 miliar yang selama ini menguap 💸 • Pipeline Fujairah adalah senjata rahasia mereka OPEC itu siapa? OPEC bukan sekadar organisasi. Mereka adalah kartel minyak paling berkuasa di planet ini. OPEC secara kolektif menguasai lebih dari sepertiga produksi minyak mentah dunia — dan 79% dari total cadangan minyak terbukti di seluruh bumi. (CNN) Sepertiga seluruh minyak dunia. 79% cadangan. Dan itu semua kini mulai retak!! Posisi UAE: UAE bukan anggota kecil yang bisa diabaikan. UAE adalah produsen terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak. (Fortune) Produksi minyak UAE mencapai 3,14 juta barel per hari di 2025 — naik 6,5% dari tahun sebelumnya. (Interfax) Dan itu pun masih DIBATASI kuota. Bayangkan kalau dilepas bebas. Mengapa UAE keluar: Karena UAE sudah terlalu besar untuk dikekang. Kuota OPEC membatasi UAE hanya di 3,2 juta barel per hari — padahal kapasitas produksi sesungguhnya mendekati 5 juta barel per hari. (CNN) Analis Baker Institute memperkirakan UAE bisa meraup tambahan $50 miliar per tahun jika berproduksi tanpa batas kuota. (Fortune) $50 miliar. Per tahun. Hilang. Demi "stabilitas kartel." Sampai sekarang. Efek domino: Kepergian UAE akan memangkas kendali OPEC atas pasokan global dari sekitar 30% menjadi hanya 26%. (CNN) Qatar keluar 2019 — pasar nyaris tidak bergerak. Angola keluar 2024 — hampir tidak ada reaksi. UAE berbeda secara kategoris. Ini adalah pembelotan terbesar dalam sejarah OPEC. (Fortune) Arab Saudi pasti panas!! Pipeline Fujairah, kartu as UAE: Sekarang bagian yang paling penting. UAE tidak hanya keluar dari OPEC. Mereka sudah punya jalan keluar sendiri — secara harfiah. Pipeline Abu Dhabi Crude Oil (ADCOP) membentang sekitar 380 km dari ladang minyak Habshan di daratan Abu Dhabi menuju pelabuhan Fujairah di Teluk Oman — sepenuhnya melewati Selat Hormuz. (Engineering News-Record) Pipa senilai $4,2 miliar. Dibangun tepat untuk momen seperti ini. Kenapa Fujairah krusial sekarang: Selat Hormuz sedang chaos. Dalam kondisi normal, 20% minyak dan gas dunia dikirim melalui Selat Hormuz — sekitar 20 juta barel per hari. (Al Jazeera) Pipeline Fujairah berkapasitas 1,5 juta barel per hari, dengan kapasitas maksimum mendekati 1,8 juta barel. (CNBC) Negara lain panik cari jalan keluar. UAE sudah punya pipa-nya sejak 2012. Tapi dunia belum aman: Masalah utamanya bukan ketiadaan alternatif — tapi skalanya. Sekitar 20 juta barel per hari biasanya mengalir lewat Hormuz, jauh melampaui kapasitas gabungan semua pipeline alternatif yang ada. Pipeline bisa menyelamatkan sebagian. Tidak bisa menggantikan semuanya. Artinya: harga minyak dunia masih sangat rentan bergejolak. Dan kita — Indonesia — ikut merasakannya!!
🅱🅰🅶🅾🅽🅶 tweet media
Indonesia
17
67
238
51.9K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Purbaya Yudhi Sadewa (MENKEU) - Ekonomi kita santai aja, aman kok, nggak ada tanda-tanda krisis. - Yang bilang krisis siapa sih? Liat aja jalanan macet, orang belanja juga masih rame banget. - Walaupun banyak yang ngomong jelek, faktanya ekonomi kita masih kuat. Airlangga Hartarto (MENKO) - Kondisi ekonomi kita tuh lagi oke-oke aja, nggak perlu panik. - Growth kita masih tinggi dibanding negara G20 lain, ini bukti kita kuat. - Inflasi aman, kepercayaan konsumen juga tinggi, jadi fundamental masih solid. Perry Warjiyo (BI) - Ke depan ekonomi masih bisa tumbuh sekitar 5 persenan, masih oke banget. - Yang bikin kuat itu permintaan dalam negeri sama kebijakan yang terjaga. - Walaupun global lagi nggak pasti, kita masih punya daya tahan. Prabowo Subianto ( Presiden) - Ekonomi Indonesia tuh udah diakui dunia, bukan sekadar omongan doang. - Lembaga internasional juga ngeliat kita kredibel dan kuat. - Jadi nggak usah ragu, posisi kita sebenarnya aman.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
122
315
818
46.6K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
King Purwa
King Purwa@BosPurwa·
Ayam dipotong 20 yang standarnya dipotong 8-12? Kelakuan kek gini tapi mau cerita motong sapi, bgst!
King Purwa tweet media
Indonesia
39
124
349
8.1K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Mac Karyo
Mac Karyo@Makaryo0·
Cerita Whoosh dimulai saat Ignasius Jonan yang sempat menolak mentah-mentah ide kereta cepat ini, beliau berpikir lebih baik anggaran dipakai bikin jaringan kereta api di luar Pulau Jawa yang lebih butuh konektivitas dasar. Jonan khawatir kalau proyek ini dipaksakan, bakal ada beban besar di kemudian hari apalagi kalau harus memakai dana negara. Setelah Jonan lengser, proyek Whoosh ketok palu dengan skema business to business (B2B) melalui konsorsium KCIC tanpa jaminan atau uang dari APBN, skema ini terlihat sangat ambisius tapi rentan terhadap risiko finansial di lapangan. Struktur pembiayaan Whoosh terdiri atas 6,07 miliar dollar AS (Rp 104 T), dengan 75% pinjaman dari China Development Bank dan sisanya ekuitas konsorsium Indonesia-Tiongkok. Masalah mulai muncul di 2023 saat terjadi pembengkakan biaya atau cost overrun 1,2 miliar USD (Rp20,7 T) karena kendala pembebasan lahan dan teknis konstruksi. Bunga yang awalnya 2% juga ternyata naik lebih tinggi dari perkiraan awal, yaitu mencapai 3,4%, kondisi ini diperparah dengan kurs rupiah yang fluktuatif. Pemerintah akhirnya mengeluarkan Perpres Nomor 93 Tahun 2021 yang jadi titik balik di mana pintu APBN mulai terbuka melalui pemberian Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada KAI, tujuannya biar proyek ini nggak mangkrak dan tetap bisa beroperasi meskipun janji awal tanpa dana negara akhirnya harus dilanggar demi keberlanjutan proyek. Memasuki masa pemerintahan Presiden Prabowo, tanggung jawab pembayaran utang ini akhirnya ditarik sepenuhnya ke Pemerintah melalui penjaminan APBN dan keterlibatan badan baru seperti Danantara, kebijakan ini diambil karena pemerintah menganggap Whoosh adalah layanan publik strategis yang nggak boleh hanya dilihat dari sisi untung rugi bisnis semata. Presiden Prabowo bahkan merencanakan kalau beban bunga sekitar Rp 1,2 triliun per tahun itu bakal ditutup pakai uang hasil sitaan korupsi. Potensi beban APBN ke depan tetap nggak bisa dianggap enteng, mengingat utang pokok dan bunga yang sangat besar ini bakal terus menekan anggaran negara dalam jangka panjang jika okupansi penumpang tidak mencapai target atau kalau rupiah terus melemah terhadap dollar. Apalagi ada rencana ambisius Presiden Prabowo untuk memperpanjang jalur Whoosh sampai ke Banyuwangi, kalau ekspansi ini tidak dikelola dengan skema pembiayaan yang jauh lebih matang dari jalur Jakarta-Bandung, maka risiko tekanan fiskal bakal makin berat.
Mac Karyo tweet media
Indonesia
40
87
221
21K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
𝐌𝐚𝐡𝐝𝐢
𝐌𝐚𝐡𝐝𝐢@Mahdii_365·
They all worshipped Allah SWT and in the same way. All the prophets were Muslims.
𝐌𝐚𝐡𝐝𝐢 tweet media
English
7
22
121
2.2K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
🅱🅰🅶🅾🅽🅶
TERNYATA FERI AMSARI PERNAH DITAWARI JABATAN OLEH SEORANG MENKO ! Sangat menggoda sampai gemeteran pas ditelpon. Prospeknya tentu sangat menggiurkan. Tapi untung bang Feri punya Guru yang mengingatkan. Coba kalau Bagong, bisa nolak gak ya? 🤦 (Pentingnya punya Guru)
Indonesia
138
959
3.8K
74.9K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Purbaya baru bilang sesuatu yang menurut gue adalah pengakuan paling gamblang sekaligus paling mengerikan tentang kondisi birokrasi Indonesia yang pernah keluar dari mulut seorang menteri. "Dikasih tahu, di depan bilang 'Siap Pak' ternyata tidak dikerjakan sampai tiga bulan. Dikasih tahu lagi, tidak dikerjakan lagi. Ketika digeser baru nangis-nangis." Berhenti sebentar dan biarkan kalimat itu meresap. Ini bukan cerita tentang satu pegawai malas. Ini adalah gambaran sistemik tentang bagaimana birokrasi Indonesia bekerja atau lebih tepatnya tidak bekerja dari perspektif orang yang ada di dalamnya dan mencoba mengubahnya. Seorang Menteri Keuangan salah satu posisi paling powerful di kabinet memberikan arahan. Pegawainya bilang siap. Dan selama tiga bulan tidak ada yang dikerjakan. Tiga bulan. Bukan tiga hari. Bukan tiga minggu. Tiga bulan. Dan ini yang paling mengejutkan: Purbaya bilang dia harus mengingatkan lagi setelah tiga bulan. Dan setelah diingatkan masih tidak dikerjakan. Baru ketika orang itu digeser dari jabatannya baru nangis. Bukan nangis karena merasa bersalah tidak mengerjakan tugasnya. Nangis karena kehilangan jabatannya. Itu adalah cerminan yang sangat telanjang tentang motivasi sebagian birokrat kita: bukan untuk bekerja. Tapi untuk mempertahankan posisi. Konteks yang membuat ini semakin berat: Ini bukan terjadi di kementerian kecil yang tidak punya sumber daya. Ini terjadi di Kementerian Keuangan institusi yang mengelola anggaran negara ratusan triliun rupiah. Yang dipercaya investor global. Yang S&P kasih rating stable. Kalau di Kemenkeu saja kementerian yang paling disorot, paling diawasi, paling diperhatikan investor internasional masih ada pegawai yang bisa mengabaikan arahan menteri selama tiga bulan tanpa konsekuensi langsung Bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar itu. atau emang semua kementrian seperti ini??? Soal bocor yang diakui Purbaya: "Saya perbaiki tax collection, saya lindungi market dari barang ilegal. Sudah mulai jalan, tapi masih bocor sana sini. Orang di lapangan masih bocor." Ini adalah pengakuan yang sangat penting secara fiskal. Kebocoran pajak bukan hanya soal wajib pajak yang tidak jujur. Tapi juga soal oknum di dalam sistem yang menjadi fasilitator yang sudah gue bahas sebelumnya soal 40 perusahaan China yang tidak bayar pajak semestinya dan ada indikasi dilindungi dari dalam. Dan Purbaya mengakui upaya menutup kebocoran itu masih belum selesai. Ancaman Purbaya dan gue mau nilai ini secara jujur: "Kalau tidak, siap-siap saja angkat koper." Ancaman ini terdengar tegas. Dan gue appreciate keberaniannya untuk mengucapkannya secara publik. Tapi ada pertanyaan yang lebih penting dari sekadar ancaman: Sistem apa yang memungkinkan pegawai mengabaikan arahan menteri selama tiga bulan tanpa ada konsekuensi otomatis? Kalau sistem sudah benar tidak perlu menteri mengancam satu per satu. Konsekuensinya sudah built-in. Tidak kerjakan tugas tiga bulan otomatis ada evaluasi. Tidak ada perlu nunggu diingatkan dua kali. Fakta bahwa Purbaya harus secara personal mengancam pegawainya menunjukkan bahwa sistem akuntabilitas internal di Kemenkeu belum cukup kuat untuk berjalan sendiri tanpa intervensi langsung dari pucuk pimpinan. Dan ini yang paling relate dengan semua yang sudah kita bahas: Dokumen kebijakan pajak beredar dengan tanda tangan elektronik Purbaya tanpa Purbaya tahu. Karena staf yang bilang "sudah aman Pak." Dua Dirjen dicopot karena dianggap bocorkan informasi menyesatkan ke pasar. Karena tidak ada yang lapor ke Purbaya sebelum informasi itu tersebar. 40 perusahaan China tidak bayar pajak ada indikasi dilindungi oknum dari dalam. Dan sekarang: pegawai bilang "Siap Pak" tapi tidak dikerjakan tiga bulan. Pola yang sama. Berulang. Di berbagai level. Di satu kementerian. Soal generasi birokrat dan ini yang paling dalam: Ini bukan soal satu generasi yang perlu diganti. Ini adalah soal sistem insentif yang sudah salah sejak lama. Selama naik jabatan lebih ditentukan oleh loyalitas dan kedekatan daripada kinerja perilaku "siap pak tapi tidak dikerjakan" akan terus ada. Selama tidak ada konsekuensi otomatis yang cepat dan proporsional ancaman "angkat koper" hanya efektif selama menterinya masih ingat dan masih mau follow up satu per satu. Selama penilaian kinerja hanya formalitas yang semua orang tahu bisa "diatur" tidak ada yang takut dengan evaluasi. Purbaya mengungkap sesuatu yang semua orang di birokrasi Indonesia sudah tahu tapi jarang diakui secara publik oleh pejabat setingkat menteri: Bilang "siap" itu mudah. Mengerjakan itu pilihan. Dan selama konsekuensinya tidak cepat dan tidak pasti pilihan yang paling aman bagi banyak birokrat adalah menunggu sampai lupa atau diganti. Dan kalau itu terjadi di Kemenkeu kementerian yang paling diawasi maka pertanyaan soal MBG yang programnya tidak jelas siapa penanggung jawabnya, Kopdes yang tidak ada yang tahu siapa bayar gajinya, SPPG yang terus bertambah lewat jalur tidak transparan Semua itu tidak lagi mengejutkan. Karena sistemnya memang belum dirancang untuk akuntabel. Sistemnya masih dirancang untuk bertahan. Kalo sekelas bendahara negara kek gini jangan heran dengan kementrrian yang lain pasti gk jauh jauh bedanya bisa jadi lebih parah separah yang tidak pernah kita bayangkan
Lambe Saham tweet media
Lambe Saham@LambeSahamjja

GUys ini sakit sih...... Lu pada ingat gak kemarin ada dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot tanpa penjelasan resmi, tanpa konferensi pers, tanpa pernyataan apapun dari kementerian? Semua pejabat Kemenkeu kompak bungkam. Tidak ada yang mau menjelaskan kenapa. Nah sekarang setelah konpers Purbaya mulai kelihatan gambarannya. Dan ini jauh lebih dalam dari sekadar rotasi biasa. Ternyata ada sabotase dari dalam. Purbaya di konpers ini mengakui secara eksplisit ada informasi yang sengaja bocor dari internal Kemenkeu untuk merusak kepercayaan pasar. Bocoran pertama: kas pemerintah hanya cukup 3 minggu. Bocoran kedua: uang negara tinggal 120 triliun dan hampir habis. Bocoran ketiga : dan ini yang paling gila: ada yang dari internal bilang ke investor asing: Jangan bawa Menteri Keuangan ini ke temu investor. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan akan mengacaukan. Itu dari internal, kata Purbaya secara langsung. Bukan dari oposisi. Bukan dari pengamat. Dari dalam Kemenkeu sendiri. Dampaknya nyata ke pasar. Tiga informasi itu meskipun tidak akurat sudah terlanjur membentuk ekspektasi negatif di pasar. Rupiah tertekan sebagian karena sentimen yang dibentuk oleh bocoran-bocoran itu. Dan Purbaya harus terbang ke luar negeri, ketemu investor satu per satu menjelaskan bahwa kondisi fiskal kita tidak separah yang disebarkan. Bule-bule itu bilang clear. Investor-investor besar juga tidak menanyakan itu lagi. Tapi kerusakan sentimen sudah terlanjur terjadi di dalam negeri. Soal pencopotan dua Dirjen jawaban Purbaya sangat mengejutkan: Ketika wartawan bertanya langsung apakah pencopotan itu ada hubungannya dengan bocoran-bocoran itu Purbaya menjawab: Iya dan tidak. Ada sedikit. Tapi ada yang lain-lain juga. Ini adalah pengakuan implisit yang sangat jelas. Ada sedikit hubungannya tapi bukan satu-satunya alasan. Artinya ada akumulasi masalah yang akhirnya sampai di titik Purbaya memutuskan harus ada pergantian di level Dirjen. Dan ada tiga masalah lain yang terungkap bersamaan: Pertama 40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya. Mayoritas perusahaan China. Under invoicing ekspor melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari yang sebenarnya untuk memperkecil pajak dan bea keluar. Dua sudah dikejar dan berjanji membayar. Tapi 38 yang lain masih berjalan normal. Tebakan mereka benar kita tidak akan berubah. Dan yang lebih mengkhawatirkan Purbaya mengindikasikan ada kemungkinan oknum di Dirjen Pajak yang melindungi perusahaan-perusahaan itu: Kalau dikasih ke orang pajak yang di situ aja sepertinya dilindungin juga kelihatannya. Makanya rencananya membentuk tim khusus langsung di bawah Irjen atau Sekjen bukan Dirjen Pajak. Kedua dokumen pajak jalan tol dan pajak orang kaya yang Purbaya sendiri tidak tahu ada. Wartawan tanya soal dokumen rencana pajak baru yang beredar pajak jalan tol, pajak orang kaya. Jawaban Purbaya: Pajak orang kaya saya baru dengar kemarin. Pajak jalan tol sama, baru tahu kemarin." Wartawan bilang dokumen itu ada tanda tangan elektronik Purbaya. Oh, tanda tangan elektronik ada loh. Kadang mereka bilang 'sudah aman Pak' saya tanda tangan." Seorang Menteri Keuangan tidak tahu ada kebijakan yang beredar atas namanya karena terlalu percaya ke staf yang bilang "sudah aman." Ketiga sistem IT SPT pajak yang masih bermasalah. Wajib pajak yang sudah mengisi SPT badan datanya bisa hilang begitu saja setelah server dimatikan 15 menit untuk maintenance. Semua isian dari awal lagi. Purbaya bilang sudah ada yang sengaja menghidupkan lagi akses yang sudah dimatikan: Ada orang dalam yang ngidupin lagi gitu. Gambar besarnya dan ini yang paling mengkhawatirkan: Kemenkeu adalah kementerian yang secara eksternal paling dipercaya investor global saat ini. S&P bilang stable. IMF bilang bright spot. Tapi di dalam: Ada Dirjen yang diduga aktif sabotase kepercayaan pasar terhadap Menkeu-nya sendiri. Ada 40 perusahaan asing yang tidak bayar pajak semestinya dengan indikasi ada yang melindungi dari dalam Dirjen Pajak. Ada kebijakan yang ditandatangani Menteri tanpa Menteri benar-benar tahu isinya. Ada sistem IT yang masih bisa disabotase dari dalam. Dan Menkeu yang paling dipercaya investor global ini masih harus berperang melawan sistemnya sendiri dari dalam. Kalau Kemenkeu saja masih seperti ini bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar ini. sungguh sakit ini negeri kita

Indonesia
64
669
2.3K
110.2K
حرموق ابن ستردين nag-retweet
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
GUys ini sakit sih...... Lu pada ingat gak kemarin ada dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot tanpa penjelasan resmi, tanpa konferensi pers, tanpa pernyataan apapun dari kementerian? Semua pejabat Kemenkeu kompak bungkam. Tidak ada yang mau menjelaskan kenapa. Nah sekarang setelah konpers Purbaya mulai kelihatan gambarannya. Dan ini jauh lebih dalam dari sekadar rotasi biasa. Ternyata ada sabotase dari dalam. Purbaya di konpers ini mengakui secara eksplisit ada informasi yang sengaja bocor dari internal Kemenkeu untuk merusak kepercayaan pasar. Bocoran pertama: kas pemerintah hanya cukup 3 minggu. Bocoran kedua: uang negara tinggal 120 triliun dan hampir habis. Bocoran ketiga : dan ini yang paling gila: ada yang dari internal bilang ke investor asing: Jangan bawa Menteri Keuangan ini ke temu investor. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan akan mengacaukan. Itu dari internal, kata Purbaya secara langsung. Bukan dari oposisi. Bukan dari pengamat. Dari dalam Kemenkeu sendiri. Dampaknya nyata ke pasar. Tiga informasi itu meskipun tidak akurat sudah terlanjur membentuk ekspektasi negatif di pasar. Rupiah tertekan sebagian karena sentimen yang dibentuk oleh bocoran-bocoran itu. Dan Purbaya harus terbang ke luar negeri, ketemu investor satu per satu menjelaskan bahwa kondisi fiskal kita tidak separah yang disebarkan. Bule-bule itu bilang clear. Investor-investor besar juga tidak menanyakan itu lagi. Tapi kerusakan sentimen sudah terlanjur terjadi di dalam negeri. Soal pencopotan dua Dirjen jawaban Purbaya sangat mengejutkan: Ketika wartawan bertanya langsung apakah pencopotan itu ada hubungannya dengan bocoran-bocoran itu Purbaya menjawab: Iya dan tidak. Ada sedikit. Tapi ada yang lain-lain juga. Ini adalah pengakuan implisit yang sangat jelas. Ada sedikit hubungannya tapi bukan satu-satunya alasan. Artinya ada akumulasi masalah yang akhirnya sampai di titik Purbaya memutuskan harus ada pergantian di level Dirjen. Dan ada tiga masalah lain yang terungkap bersamaan: Pertama 40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya. Mayoritas perusahaan China. Under invoicing ekspor melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari yang sebenarnya untuk memperkecil pajak dan bea keluar. Dua sudah dikejar dan berjanji membayar. Tapi 38 yang lain masih berjalan normal. Tebakan mereka benar kita tidak akan berubah. Dan yang lebih mengkhawatirkan Purbaya mengindikasikan ada kemungkinan oknum di Dirjen Pajak yang melindungi perusahaan-perusahaan itu: Kalau dikasih ke orang pajak yang di situ aja sepertinya dilindungin juga kelihatannya. Makanya rencananya membentuk tim khusus langsung di bawah Irjen atau Sekjen bukan Dirjen Pajak. Kedua dokumen pajak jalan tol dan pajak orang kaya yang Purbaya sendiri tidak tahu ada. Wartawan tanya soal dokumen rencana pajak baru yang beredar pajak jalan tol, pajak orang kaya. Jawaban Purbaya: Pajak orang kaya saya baru dengar kemarin. Pajak jalan tol sama, baru tahu kemarin." Wartawan bilang dokumen itu ada tanda tangan elektronik Purbaya. Oh, tanda tangan elektronik ada loh. Kadang mereka bilang 'sudah aman Pak' saya tanda tangan." Seorang Menteri Keuangan tidak tahu ada kebijakan yang beredar atas namanya karena terlalu percaya ke staf yang bilang "sudah aman." Ketiga sistem IT SPT pajak yang masih bermasalah. Wajib pajak yang sudah mengisi SPT badan datanya bisa hilang begitu saja setelah server dimatikan 15 menit untuk maintenance. Semua isian dari awal lagi. Purbaya bilang sudah ada yang sengaja menghidupkan lagi akses yang sudah dimatikan: Ada orang dalam yang ngidupin lagi gitu. Gambar besarnya dan ini yang paling mengkhawatirkan: Kemenkeu adalah kementerian yang secara eksternal paling dipercaya investor global saat ini. S&P bilang stable. IMF bilang bright spot. Tapi di dalam: Ada Dirjen yang diduga aktif sabotase kepercayaan pasar terhadap Menkeu-nya sendiri. Ada 40 perusahaan asing yang tidak bayar pajak semestinya dengan indikasi ada yang melindungi dari dalam Dirjen Pajak. Ada kebijakan yang ditandatangani Menteri tanpa Menteri benar-benar tahu isinya. Ada sistem IT yang masih bisa disabotase dari dalam. Dan Menkeu yang paling dipercaya investor global ini masih harus berperang melawan sistemnya sendiri dari dalam. Kalau Kemenkeu saja masih seperti ini bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar ini. sungguh sakit ini negeri kita
Lambe Saham tweet media
Indonesia
570
5.5K
19.8K
1.4M
حرموق ابن ستردين nag-retweet
ET Hadi Saputra 🍉🦉🇮🇩🏴‍☠️
Bukan Negara Islam = Zakat diurus negara Negara tropis = buah mahal dan impor Negara maritim = ikan mahal Negara CPO = minyak goreng mahal Negara SDA = listrik dan BBM mahal Negara hukum = keadilan tunggu viral Swasembada pangan = beras mahal dan impor Bebas aktif = tunduk kepentingan asing Negara religius = kitab suci dan haji dikorupsi Negara agraris = keranjingan pangan impor Lapor polisi = rugi berkali lipat Pendidikan gratis = uang gedung mencekik Jaminan kesehatan = kamar penuh, obat beli sendiri Banyak pakar ekonomi = utang negara meroket Raja nikel = pekerja lokal gigit jari, PAD nyungsep Gaji pejabat kecil = hartanya banyak Anti-KKN = anak dan menantu diusung Pilkada Rakyat disuruh hemat = pejabat ganti mobil dinas Taat bayar pajak = jalanan tetap berlubang Penjara penuh = koruptor dapat fasilitas VIP Jalan tol bertambah = biaya logistik tetap mahal Kaya rempah = garam dan bumbu dapur impor Swasta dicekik aturan = BUMN rugi disuntik dana Janji lapangan kerja = tenaga kerja asing difasilitasi Aturan hukum tebal = urusan lancar pakai "orang dalam" Tanah vulkanis subur = kedelai dan pakan ternak impor Banyak sungai besar = air bersih harus beli Transportasi publik dibangun = macet hanya pindah lokasi Dana desa triliunan = kepala desa pamer harta Cita-cita swasembada daging = harga daging sapi termahal Pesta demokrasi = menang karena serangan fajar Komisi pengawas banyak = pungutan liar jalan terus Bangga produk lokal = bahan bakunya impor semua Tertangkap tangan korupsi = masih bisa senyum di TV Konstitusi = bisa direvisi kilat demi kekuasaan Wajib cinta tanah air = pejabat berobat ke luar negeri Kebebasan berpendapat dijamin = kritik dipenjara pasal karet Lahan negara luas = rakyat susah punya rumah Subsidi triliunan = pupuk selalu gaib saat musim tanam Budaya gotong royong = tetangga sakit tidak ada yang tahu Digitalisasi birokrasi = urus izin tetap fotokopi KTP Upah minimum naik = harga sembako naik duluan Anggaran militer besar = alutsista yang dibeli barang bekas Bangsa yang ramah = komentar netizen paling barbar Darurat iklim = hutan lindung jadi kawasan tambang Anggaran riset dipotong = pejabat rajin studi banding Pusat data nasional = server gampang diretas Gelar akademik berderet = kualitas kebijakan amatiran Kaya warisan budaya = seniman tradisional melarat Anti-penjajahan = rakyat digusur paksa proyek negara Keadilan sosial = hanya untuk yang mampu membayar
Indonesia
77
2.7K
5.2K
69.8K