
hiSyam
856 posts

hiSyam
@MadSam35
The most radical pessimistic and the laziest person ever


The Color Revolution Playbook Doesn’t Spare “Allies” – Indonesia’s Lesson in Sovereign Realism Look, I get the flood of questions in my replies every time I cover Indonesia. “But the government is corrupt.” “But Prabowo is pro-US anyway.” “But they’re incompetent – why not let the protests run their course?” These points sound reasonable on the surface. Indonesia, like every country including the US, has genuine problems: rising living costs, inequality, governance frustrations. No one denies that. But let’s cut through the spin and return to basics. The United States and its network of foundations, NGOs, and “civil society” partners target any country that refuses to become a full vassal. Allies included. Close allies get hit especially hard the moment they show independence. Instigating chaos is rarely just about immediate regime change — it’s leverage, pressure, and containment. Amplify real grievances through funded networks, train youth in “nonviolent resistance,” flood the information space with coordinated media and lawfare, and the target burns energy internally instead of pursuing pragmatic multipolar ties. If full capture works (see post-2014 Ukraine), Washington gets a pliable proxy. If not, the instability still weakens and contains the country. x.com/angeloinchina/… Indonesia is textbook. Strategic sea lanes, massive population, resources, BRICS engagement, balanced relations with Russia and China, and a clear non-aligned stance in the emerging multipolar world. That alone is enough. Even under a “pro-US” government, Jakarta won’t be a blind follower. Prabowo’s election was legitimate. Yet leaked documents show Soros’ Open Society Foundations routing millions via Jakarta’s Kurawal Foundation into youth networks, “independent” media, the Dirty Vote documentary, police reform pushes, and “structural change” training aimed at blocking the elected government’s continuation. One Piece pirate flags as the unifying symbol? Straight from the handbook. Real economic pain existed — but it was systematically amplified and directed. Gen Z mobilized with impressive coordination. Classic playbook. x.com/angeloinchina/… Brian Berletic has tracked this exact network for years across the region — NED, USAID, Soros-linked flows behind the unrest, while Western outlets scream “disinfo” at anyone connecting the dots. x.com/BrianJBerletic… To the “but it’s corrupt” crowd: Every government has corruption. Nepal’s KP Oli faced the same accusations — yet he represented the best available defense of sovereignty against this identical playbook. The US doesn’t actually care about clean governance. It cares about control. Independent leaders (corrupt or not) get targeted. Compliant ones get installed or protected. x.com/angeloinchina/… “Pro-US”? Pragmatic relations are not submission. Indonesia balances ties — that’s the point of non-alignment. Its BRICS path and refusal to become an anti-China frontline state threaten the old unipolar order. US policy and actions across Asia show the standard toolkit: color revolution when convenient, plus sanctions, proxies, and info ops. Sovereign nations have every right to investigate and restrict foreign foundations engineering “dignified democracy” that conveniently serves Washington’s interests. Indonesia is far too important to let slip into full vassalage. Real reform comes from internal will, not imported chaos that burns institutions and scares investment. This isn’t conspiracy. It’s pattern recognition from watching these operations unfold in real time — Hong Kong 2019, Bangladesh, Nepal, Mexico, and beyond. Stay sovereign, Indonesia. The multipolar world rewards those who navigate independently.






Indonesia > beware of those NGOs like konde > funded by USAID











Ada partai politik nasional yang ingin menghapus amendemen I-IV dan menghapus Pasal 1 ayat 3, "Indonesia adalah negara hukum." Agenda itu ditetapkan langsung di AD/ART partai itu. Parahnya, agenda itu menolak memasukan bagian Penjelasan UUD naskah asli. Mungkin kamu tidak tahu bahwa sebelum amendemen, UUD 1945 secara resmi terdiri dari tiga bagian; pembukaan, batang tubuh, dan penjelasan. Masalahnya, bagian penjelasan baru ditambahkan dan ditetapkan pada 1946. Ia bukanlah bagian dari ketetapan Sidang PPKI 18 Agustus 1945. Jadi, yang partai ini inginkan hanyalah pembukaan dan batang tubuh UUD naskah asli saja. Penjelasannya dibuang. "Murni dan konsekuen." Kalau kalian pernah membaca bagian penjelasan UUD, konsekuensi yuridis agenda ini menjadi jelas. Secara formal, partai ini berambisi membubarkan negara hukum dan mengembalikan Indonesia menjadi negara preman. Apabila partai ini berhasil, kalimat pembuka naskah skripsi tiap mahasiswa fakultas hukum akan berubah menjadi seperti ini: "Indonesia adalah negara preman."





Soeharto tak pernah diseret ke ruang sidang. Pada 3 Agustus 2000, Kejagung menetapkan Soeharto pribadi sebagai *terdakwa* korupsi Kasus 7 Yayasan. 7 yayasan itu harusnya mengelola uang yang dititipkan bank-bank milik negara. Eh, hampir Rp 6 triliun hilang dicuri Soeharto. Dalam dakwaan itu, yang mencuri bukan Tommy, bukan anak atau antek Soeharto, melainkan Soeharto pribadi sebagai ketua yayasan-yayasan itu. Oleh Jaksa Agung Marzuki Darusman dan timnya, Soeharto terbukti dan tertangkap basah dengan tangannya sendiri berbuat kriminal mencuri uang cash dari negara sebesar ~Rp 6 triliun. Fatal. Persidangan disiapkan dalam keadaan mencekam. Pasalnya, gedung Kejaksaan Agung baru saja dibom sejam setelah Tommy Soeharto diperiksa di atas kasus korupsi lain (tak ada hubungannya dengan Kasus 7 Yayasan). Pada 31 Agustus 2000, Soeharto tidak hadir dari persidangan dakwaannya karena "sakit". Yang hadir adalah bom. Bom besar itu ditaruh di sebuah bus di samping tempat persidangan tempat Soeharto seharusnya berada. Bom tersebut meledak. Pada 14 September 2000, Soeharto kembali bolos dari persidangan karena "sakit". Sehari sebelumnya, Bursa Efek di SCBD baru saja meledak oleh serangan bom teroris. 15 orang tewas tercabik menjadi potongan tubuh manusia yang gosong. Bergerak atas informasi yang dimilikinya, Presiden Gus Dur memerintahkan kepolisian untuk segera memeriksa Tommy Soeharto dan gerombolan preman FPI yang Tommy pelihara sebagai tersangka utama pengeboman Bom Bursa Efek. Keadaan negara sangat mencekam. Orang takut keluar rumah karena takut bom. Pegawai kejaksaan dan kehakiman lebih cemas lagi, mengingat mereka *sudah* dibom. Bagaimana kalau bom selanjutnya meledak di wajah mereka, atau wajah anak mereka? Seminggu kemudian pada 23 September 2000, tim dokter mengumumkan bahwa sebenarnya Soeharto yang mengaku-ngaku sakit sampai bolos sebenarnya sehat-sehat saja secara fisik. Hanya saja, ia berkelakuan "mengalami sakit mental" dan "syarafnya terganggu" selama diperiksa, sehingga tak layak disidang. Seminggu kemudian pada 28 September 2000, majelis hakim menyetop dakwaan terhadap Soeharto dan menghentikan persidangan. Soeharto berhasil lolos. 8 tahun kemudian, Soeharto mati. 2 tahun kemudian pada 2010, kehebohan melanda kasus penggugatan kerugian Yayasan Supersemar. Soeharto boleh saja mati, tetapi negara yang bank-bank BUMN nya dirampok Soeharto masih ada. Selama bertahun-tahun, negara menuntut uangnya kembali, misal sebanyak Rp 4.4 triliun dari Yayasan Supersemar. Ketika vonis hampir dijatuhkan, terjadi suatu trik sulap. Kertas dokumen putusan kasasi ternyata tidak sengaja mengalami salah ketik, sehingga salah satu paket ganti rugi yang harus dibayarkan Yayasan Supersemar bukan Rp 185 miliar, melainkan Rp 185 juta saja. Karena salah ketik. Ups. Akhirnya kesalahan ketik kecil ini berhasil diperbaiki 5 tahun kemudian. Selama 5 tahun itu, segala cara aksi legal dilancarkan untuk menunda putusan finalnya. Ternyata, yang harus membayar uangnya bukan keluarga Cendana sebagai ahli waris Soeharto yang saat masih presiden menguasai langsung yayasan-yayasan itu via jabatan formal, melainkan badan yayasan itu sendiri sebagai suatu entitas terpisah. Gerombolan keluarga Cendana membayar ganti rugi ke negara sebanyak nol rupiah. Pengacara keluarga Cendana, O.C. Kaligis, besorak menyombong: "Kami menang mutlak". Soeharto dan keluarganya bukan hanya lolos dari penjara, melainkan juga lolos dari harus mengembalikan Rp 4.4 triliun uang cash yang telah mereka curi lewat Yayasan Supersemar. Yang harus membayarnya malah orang lain. Sampai hari ini, uang cash 4.4 triliun rupiah yang dirampok Soeharto dari bank-bank milik negara masih disimpan dalam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset pribadi keluarga Cendana.

Lucian Despoiu, Pencipta Gimik Gemoy Lucian Despoiu, orang Rumania, kerap mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Membantu pemenangan di pilpres. Simak selengkapnya Program Bocor Alus Politik di Channel Youtube Tempodotco dan Spotify #BocorAlusPolitik #PodcastBAP #PodcastTempo


















