grace 🐠
506 posts

grace 🐠
@rayelfa
a magical dream journey, as brilliant as a butterfly and as bright as a star💫⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Valles Marineris Sumali Mart 2021
66 Sinusundan38 Mga Tagasunod
Naka-pin na Tweet
grace 🐠 nag-retweet
grace 🐠 nag-retweet
grace 🐠 nag-retweet

ide camilan gurih sehat mengenyangkan
Robust Feed@RobustFeed
when it's your turn to make Mac and cheese, but you ran out of time.
Indonesia
grace 🐠 nag-retweet

Masih penasaran, siapa orang Indonesia pertama yg namain makanan kiri itu kebab?
Soalnya kebab itu bentukan nya bukan gitu sih 😅😅😅
Yg di wraped gini tuh namanya shawarma kalo gak salah.
Aarav.@AaravMavren
kalian lebih suka kebab atau burger?
Indonesia
grace 🐠 nag-retweet

aku termasuk orang yang beberapakali nonton bioskop sendirian, tapi aku ga setuju sama tweet ini terutama di bagian 'menyedihkan' karna memang ada beberapa orang yg anxious & ga memungkinkan sendirian di tempat kaya bioskop, penyebutan 'menyedihkan' agak gimana gitu
Hoser@matthewhoser
Betapa menyedihkannya orang-orang yang tidak berani menonton film di bioskop sendirian. Mereka kehilangan kesempatan menonton film-film bagus dengan pengalaman yang "magical".
Indonesia
grace 🐠 nag-retweet

Melanjutkan diskursus kemarin soal bagaimana industri anime seringkali mendiskreditkan inovasi narasi Shoujo, mari kita geser lensanya sedikit, apa yang terjadi ketika mangaka perempuan justru "menginfiltrasi" panggung utama Shounen? Kita bisa membedahnya lewat fenomena Men Written by Women, dan studi kasus paling esensial dekade ini adalah Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba) karya Koyoharu Gotouge.
Secara historis, protagonis Shounen era 90/00-an sangat lekat dengan hegemonic masculinity. Motivasi mereka kebanyakan berpusat pada penaklukan, kompetisi, dan puncak hierarki: menjadi yang terkuat, menjadi Hokage, atau menjadi Raja Bajak Laut.
Ini adalah male power fantasy klasik yang digerakkan oleh ego, ambisi, dan penguasaan ruang publik. Namun, Gotouge merancang Tanjiro Kamado dengan mendekonstruksi pakem tersebut. Ia menarik motivasi heroik sang pahlawan kembali ke ranah domestik.
Kalau diingat lagi episode pertama, Tanjiro bukan "anak terpilih yang ditakdirkan menyelamatkan dunia", melainkan sekadar anak sulung yang memikul beban caregiving. Visualisasinya pun literal: ia selalu menggendong kotak berisi adiknya ke mana-mana. Ia bergerak bukan dari ego penaklukan, melainkan dari emotional labor.
Di sinilah Female Gaze bekerja dengan subtle. Gotouge tidak mendefinisikan kepahlawanan Tanjiro semata lewat kekuatan destruktif, melainkan lewat Radical Empathy.
Coba ingat arc Gunung Natagumo. Saat Tanjiro lompat untuk menebas Mother Spider Demon, ia menyadari bahwa demon itu merentangkan tangan, mendamba kematian untuk lepas dari siksaan. Di udara, Tanjiro secara instan mengganti teknik tebasannya menjadi Kanten no Jiu (Hujan Berkah Setelah Kemarau) teknik pernapasan air yang mematikan tapi halus tanpa rasa sakit. Ia secara sadar mengubah instrumen kekerasan menjadi instrumen kelembutan (mercy).
Tanjiro dengan tulus mengambil peran "pengasuh" yang memvalidasi trauma musuhnya, namun ia tetap memegang sentralitas narasi secara penuh.
Lebih jauh lagi, Gotouge secara aktif membongkar mitos invulnerable male body (tubuh laki-laki yang kebal). Dalam power fantasy standar, rasa sakit fisik pahlawan laki-laki sering diromantisasi sebagai ajang pamer coolness atau edginess. Tapi Tanjiro membongkar itu semua.
Saat melawan Kyogai di arc Tsuzumi Mansion, alih-alih sok kuat, isi kepala Tanjiro penuh dengan keputusasaan: "Tulang rusuk dan kakiku patah, rasanya sakit sekali, aku hampir menyerah." Ia bahkan harus meneriakkan afirmasi secara verbal pada dirinya sendiri ("Ganbare, Tanjiro!") hanya untuk bisa berdiri.
Gotouge memberikan privilese yang sangat jarang didapat oleh karakter laki-laki di media pop: hak untuk rapuh (vulnerable) dan menangis, tanpa harus dilabeli 'cengeng' atau kehilangan agensinya sebagai seorang pahlawan.
Kesuksesan masif Demon Slayer adalah tamparan keras buat bias gender struktural di industri anime. Fenomena ini membuktikan bahwa maskulinitas yang sehat, emotional depth, dan kelembutan, elemen-elemen naratif yang selama puluhan tahun dikotakkan, diremehkan, dan dianggap "terlalu Shoujo" atau "tidak bisa menjual", justru merupakan bahasa penceritaan paling universal yang selama ini diam-diam sangat dirindukan oleh audiens pop culture kita.
Seandainya karakter Tanjiro dimunculkan via anime shoujo, apakah reaksi audiens akan sama?




Indonesia

@sewmanggi itu BBQ grill, sesuai namanya buat BBQ tapi emang aneh aja lihatnya bikin dessert disitu 😭
Indonesia

@rayelfa Lagian itu fudgy brownies kan???? Trus kok digorengdimasak di fry gitu??? Or am I dumb 😭😭😭
Indonesia
grace 🐠 nag-retweet


@rayelfa kak Grace DIEM 😭😭😭 qrtmu makanan Amerika ngeselin mulu
Indonesia
grace 🐠 nag-retweet

อันนี้ๆๆๆๆๆๆ555555555คือปล่อยให้เมนแรปกันอยุ่สามคน555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555}55555555555555555555555555555
น้องดรีมot74EVA@nnmukluvot7
เออกูว่าจะลืมแต่ลืมไม่ลง5555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555555
ไทย
grace 🐠 nag-retweet
grace 🐠 nag-retweet
grace 🐠 nag-retweet

oh pantesan bapakbapak jarang bawa cemilan kalau pengajian gini, karna udah abis dicemilin😭
beda sama ibuibu yang biasanya bawa oleholeh cemilan dari pengajian
embah-lil@embahlil
hapenya siapa tuh bunyi 😅🤣
Indonesia
grace 🐠 nag-retweet










