deenda

9.9K posts

deenda banner
deenda

deenda

@2deend

sincerely dinda.

شامل ہوئے Ocak 2011
152 فالونگ147 فالوورز
deenda ری ٹویٹ کیا
࿔‧ ֶָ֢zii²⁶
GAADA JURUSAN YG BISA DIREMEHIN YA.. SEMUA JURUSAN ITU BAIK TERGANTUNG GIMANA KITA NGELIATNYA, STOP NGERENDAHIN JURUSAN ORANG
Indonesia
72
10.4K
38K
282.4K
deenda ری ٹویٹ کیا
bentoelsedangpanen
bentoelsedangpanen@bentoel_03·
MIMPI BASAH WNI : 1. banyak lapangan pekerjaan dan gaji UMR 10jt+ 2. rupiah menguat 1$ = 5000 3. koruptor di hukum mati 4. tukang parkir semuanya hilang 5. lolos pildun 😂 kira kira apalagi chadd? tmbhin sndiri 👇
Indonesia
271
5.9K
22.5K
248.3K
deenda ری ٹویٹ کیا
Antidepressant Content
Antidepressant Content@depressionlesss·
My grandma hired a "security cat" to protect the crops on our farm
English
363
10.3K
116.1K
3M
deenda ری ٹویٹ کیا
RussiaNews 🇷🇺
RussiaNews 🇷🇺@mog_russEN·
🚨A girl brought her pregnant teacher a chair when she saw her sitting on the floor.
English
16
440
12.6K
286.9K
deenda
deenda@2deend·
makin hari buka twitter makin shock dan kaget, ada ajaaa yang bikin istighfar
Indonesia
0
0
0
3
deenda ری ٹویٹ کیا
Pangeran.
Pangeran.@tak11shi·
TW // SUICIDE Sedih, lebih sedih lagi karena sadar semua cerita ini nyata.
Pangeran. tweet mediaPangeran. tweet mediaPangeran. tweet mediaPangeran. tweet media
Indonesia
201
4.6K
17.2K
837.5K
deenda
deenda@2deend·
@antaranirnama sedih bgt dengernya beneran nangiss sedihhh bgtttt as mahasiswi yg baru lulus pendidikan kemarin februari :(
Indonesia
0
0
0
31
deenda ری ٹویٹ کیا
KATA HATI🤍
KATA HATI🤍@Katakatahatiind·
THANKS PAK PRABOWO semenjak indonesia dipimpin bapak banyak sekali rekor sejarah terpecahkan. 1. kurs usd/idr hampir rp 17.200. paling terpuruk dlm sejarah. 2. utang jatuh tempo di 2026 sebesar rp 833 t. tertinggi dalam sejarah. 3. defisit apbn paling lebar dalam sejarah. dan semua rekor ini terpecahkan hanya dalam waktu 1.5th saja. keren, pak
Indonesia
246
21.1K
54.5K
857.7K
deenda ری ٹویٹ کیا
Chris Wibisana
Chris Wibisana@ChrisWibisana·
@direktoridosen Tanda negara yang melaju full speed menuju jurang kebodohan adalah membunuh guru. Pertama lewat gaji tak seberapa. Kedua lewat dusta pengabdian. Ketiga lewat penutupan sekolah keguruan.
Indonesia
5
113
1.1K
41.3K
deenda
deenda@2deend·
as lulusan spd yang baru officially lulus juni bsk beneran sedih bgtt ya Allah dunia jahat bgt, especially INDONESIA dan pemerintahnya ajg
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen

Pendidikan Fisika Pendidikan Kimia Pendidikan Biologi Pendidikan Matematika Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Agama Islam Pendidikan Guru Sekolah Dasar Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Pendidikan Anak Usia Dini Bimbingan dan Konseling Manajemen Pendidikan Islam Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Pendidikan IPS Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pendidikan Sejarah Pendidikan Geografi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Vokasi Pendidikan Teknologi Informasi Pendidikan Seni Pendidikan Musik Pendidikan Tari Pendidikan Luar Biasa Administrasi Pendidikan Teknologi Pendidikan Pendidikan IPA Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Bahasa Jepang Pendidikan Teknik Mesin Pendidikan Teknik Bangunan Pendidikan Administrasi Perkantoran Pendidikan Sosial Antropologi Pendidikan Masyarakat Pendidikan Non Formal Pendidikan Luar Sekolah Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Pendidikan Profesi Guru Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Pendidikan Akuntansi Pendidikan Manajemen Pendidikan Kewirausahaan Pendidikan Kimia Pendidikan Biologi Pendidikan Fisika Pendidikan Matematika Tadris Bahasa Indonesia Tadris Matematika Tadris Biologi Tadris Fisika Tadris Kimia Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Pendidikan Agama Kristen Pendidikan Agama Katolik Pendidikan Seni Rupa Pendidikan Drama Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Pendidikan Tata Boga Pendidikan Tata Busana Pendidikan Rekayasa Pendidikan Multimedia Pendidikan Teknik Elektro Pendidikan Teknik Otomotif Pendidikan Teknik Informatika Pendidikan Koperasi dan Kewirausahaan Pendidikan Bisnis Pendidikan Kepariwisataan Pendidikan Bahasa Mandarin Pendidikan Bahasa Prancis Pendidikan Bahasa Jerman

Indonesia
0
0
1
40
deenda ری ٹویٹ کیا
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
418
20.8K
51.6K
1.3M