



Empat Dewa Merah-Hitam Kuasai Ballon d’Or 1989 Di bawah cahaya emas trofi paling bergengsi, AC Milan bukan hanya menang, mereka menaklukkan Eropa. Bayangkan, dari sepuluh nama paling mulia di dunia sepak bola tahun itu, empat di antaranya berasal dari rumah yang sama, San Siro. Empat jiwa Rossoneri yang menyala dalam satu irama. Marco van Basten, sang burung bangau putih yang mengangkat trofi dengan 119 poin, seolah langit malam Milan menurunkan mahkota emas hanya untuknya. Franco Baresi, sang kapten batu karang, berdiri tegar di urutan kedua dengan 80 poin, hatinya lebih kuat dari tembok mana pun. Frank Rijkaard, sang maestro gelap, menyusul dengan 43 poin, tenang namun mematikan. Ruud Gullit, si rambut dreadlock yang membawa angin revolusi,melengkapi simfoni itu di urutan ketujuh. Empat nama. Satu keluarga. Satu mimpi yang menjadi nyata. Itulah tahun ketika Arrigo Sacchi mengubah rumput menjadi kanvas, dan para pemainnya menjadi lukisan hidup. Pressing yang tak kenal lelah, pertahanan yang seperti tembok benteng abad pertengahan, dan serangan yang indah bagai puisi. Mereka bukan hanya memenangkan European Cup dengan skor telak 4-0 di final. Mereka menyihir sepak bola. Kamu sudah lahir di era ini? 📸 GOAL, charitystarscom


























