Emploice Muswashan

3.3K posts

Emploice Muswashan banner
Emploice Muswashan

Emploice Muswashan

@BikeFavorite

justification is futile when consultation should have been made from the start

Earth شامل ہوئے Şubat 2022
354 فالونگ30 فالوورز
.
.@agnianatra·
@foggen_ @sihksihk daerah plered juga ga ada pler yellow, pler blue, pler black gitu sih bang
Indonesia
2
8
71
6.9K
Sihk
Sihk@sihksihk·
Ok pertayaan goblok. Kan ada Blok M. Is there Blok A B C D dll?
Indonesia
246
79
4K
639.5K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
S. B. Yudhoyono
S. B. Yudhoyono@SBYudhoyono·
Indonesia berduka karena tiga prajurit yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Libanon gugur. Beberapa prajurit juga mengalami luka berat, termasuk dalam insiden ketiga kemarin, di tempat penugasan mereka. Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar. Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka. Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi. Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative). Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan. Sebagai bentuk dukungan terhadap langkah-langkah pemerintah kita, menyusul gugur dan luka-lukanya prajurit Indonesia tersebut, saya ingin menambahkan satu, dua hal. Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan “peacemaking”. “Peacekeeper” tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi “to enforce the peace”, dalam arti melaksanakan tugas yang “lebih keras” untuk sebuah “peacemaking”. Mereka bertugas di “blue line” atau di wilayah “blue zone”, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau “war zone”. Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di “Blue Line” yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Libanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung. Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini. Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. Saya masih ingat ketika sebagai Menkopolkam RI, harus menghadiri Sidang DK PBB tahun 2000 karena ada insiden di Atambua yang menewaskan 3 orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa yang terjadi di wilayah Atambua, NTT waktu itu. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda. Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini. Mengapa? Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Libanon. Ini ada sejarahnya. Pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Libanon. Korban berjatuhan utamanya di pihak Libanon. DK PBB belum melakukan langkah-langkah yang efektif untuk menghentikan peperangan tersebut. Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Islam) untuk menggelar “emergency meeting” guna mendesak PBB untuk segera bertindak. Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Di samping Indonesia dan Malaysia, pemimpin lain yang hadir adalah Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan dan Perdana Menteri Libanon Siniora. Juga hadir beberapa kepala negara/kepala pemerintahan yang lain. Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalyon diperkuat sebagai bagian dari “peacekeeping mission” di perbatasan Israel dan Libanon. Artinya, setelah terjadi “ceasefire” atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut. Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Libanon. Alhamdulillah, Perancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta. Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, tiga bulan kemudian (November 2006) sudah bisa berangkat ke Libanon. Untuk diketahui, 3 orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan. Hingga tahun 2026 ini, sudah 19 kali kontingen kita bertugas di Libanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Mungkin, ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia. Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air. *SBY*
Indonesia
323
490
2.3K
170.2K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto@prabowo·
Selamat Hari Paskah kepada saudara-saudara umat Nasrani. Semoga Paskah membawa kedamaian dan kebaikan bagi kita semua.
Prabowo Subianto tweet media
Indonesia
443
128
632
1.1M
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
Bible 365
Bible 365@Bible365_·
Trust in the Lord.
Bible 365 tweet media
English
59
1.2K
9.4K
119.7K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
KakekHalal
KakekHalal@KakekHalal·
DETIK-DETIK BERTOBATNYA CASSIUS, PRAJURIT YANG MENIKAM LAMBUNG YESUS Sementara kekacauan dan kepanikan terjadi di Yerusalem, keheningan meraja sekeliling Kalvari. Khalayak ramai sekarang sudah tidak ada lagi; semuanya dicekam kepanikan. Bunda Maria, Yohanes, Magdalena, Maria Kleopas dan Salome masih tinggal di situ. Sebagian berdiri dan yang lain duduk di hadapan Salib, berkerudung rapat dan menangis diam-diam. Beberapa prajurit beristirahat di serambi yang mengelilingi bukit karang; Cassius menunggangi kudanya turun naik bukit. Langit tampak gelap, segenap alam raya berselubung duka. Enam prajurit pembantu segera muncul dengan membawa tangga, sekop, tali-temali dan alat pemukul dari besi yang besar untuk mematahkan kaki-kaki para penjahat guna mempercepat kematian mereka. Ketika mereka menuju Salib Tuhan kita, para sahabat Yesus mundur beberapa langkah. Santa Perawan dicekam ketakutan kalau-kalau mereka masih hendak melampiaskan kekejian mereka pada Putranya dengan menista tubuh-Nya yang telah tak bernyawa. Ketakutan Bunda Maria bukannya tanpa alasan, sebab ketika pertama-tama mereka menyandarkan tangga pada Salib, mereka mengatakan bahwa Yesus hanya berpura-pura mati. Namun, beberapa saat kemudian, ketika mendapati tubuh-Nya telah dingin dan kaku, mereka membiarkan-Nya dan memindahkan tangga-tangga mereka ke salib di mana kedua penyamun masih tergantung hidup. Mereka mengambil alat pemukul besi dan mematahkan lengan kedua penyamun, di atas dan di bawah siku; sementara pada saat yang sama, seorang prajurit pembantu lainnya mematahkan kaki-kaki mereka, di atas dan di bawah lutut. Gesmas meneriakkan seruan-seruan yang mengerikan, sebab itu algojo menghabisi nyawanya dengan tiga pukulan gada yang mematikan di dadanya. Dismas, si penjahat yang bertobat, mengerang dalam-dalam dan wafat: ia menjadi yang pertama di antara makhluk fana yang menikmati kebahagiaan bersatu dengan Penebus-nya. Tali-temali kemudian dilepaskan, kedua mayat jatuh bergelimpangan ke atas tanah, para algojo menyeretnya ke sebuah rawa yang dalam, yang terletak antara Kalvari dan tembok kota, serta menguburkannya di sana. Para prajurit pembantu masih tampak ragu apakah Yesus sungguh sudah mati. Kebrutalan yang mereka perlihatkan dalam mematahkan kaki-kaki para penyamun membuat para perempuan kudus menggigil ketakutan membayangkan kekejian yang akan mereka lampiaskan kepada tubuh Tuhan kita. Tetapi Cassius, wakil kepala pasukan, seorang pemuda berusia sekitar duapuluh lima tahun, yang kedua mata julingnya dan sikapnya yang gugup seringkali menjadi bahan olok-olok rekan-rekannya, tiba-tiba diterangi rahmat Allah, ia diliputi rasa belas kasihan melihat kekejian sikap para prajurit dan dukacita pilu para perempuan kudus, karenanya ia memutuskan untuk melenyapkan rasa cemas para perempuan malang itu dengan membuktikan tanpa berdebat bahwa Yesus sungguh telah wafat. Kebaikan hatinya mendorong Cassius bertindak demikian, tetapi tanpa disadari oleh dirinya, ia menggenapi suatu nubuat. Cassius menyambar tombaknya dan bergegas menunggangi kudanya naik ke bukit karang di mana Salib dipancangkan, berhenti tepat di antara salib penyamun yang baik dan Salib Tuhan kita, mengayunkan tombak dengan kedua belah tangannya, menikamkan tombak dalam-dalam ke lambung kanan Yesus hingga ujung tombak menembusi hati Yesus dan muncul di sisi kiri. Ketika Cassius mencabut tombaknya, dari lambung Yesus yang menganga memancarlah darah dan air, yang membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Pembasuhan ini mendatangkan buah-buah yang sama dengan buah-buah dari air Sakramen Baptis, yaitu: rahmat dan keselamatan yang saat itu juga masuk ke dalam jiwanya. Ia meloncat dari kudanya, jatuh berlutut, menebah dadanya, dan memaklumkan dengan suara nyaring di hadapan semua yang hadir, sungguh Yesus adalah Allah.
KakekHalal tweet media
Indonesia
5
66
387
13K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
Holy Bible
Holy Bible@Holy__Bible1·
Luke 24:6
Holy Bible tweet media
English
94
3.4K
17K
171.6K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
WW3finalboss
WW3finalboss@WW3finalboss·
Reminder: Kyiv ✅ Kiev ❌ Odesa ✅ Odessa ❌ Zaporizhzhia ✅ Zaporozhye ❌ Mykolaiv ✅ Nikolaev ❌ Kharkiv ✅ Kharkov ❌ Luhansk ✅ Lugansk ❌ Lviv ✅ Lvov ❌ Chornobyl ✅ Chernobyl ❌ Bakhmut ✅ Artemovsk ❌ Dnipro ✅ Dnieper ❌ Donbas ✅ Donbass ❌
36
257
1.9K
36.2K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
Bear Grylls OBE
Bear Grylls OBE@BearGrylls·
Faith in Christ has been the great empowering presence in my life, helping me walk strong when so often I feel weak.
English
59
256
6.1K
59K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
Suburban Black Man 🇺🇸
Suburban Black Man 🇺🇸@niceblackdude·
If you’re a U.S. citizen CHEERING for the Iranian regime to capture a USAF fighter pilot because you hate our President, that doesn’t make you anti-Trump, it makes you ANTI-AMERICAN and a traitorous piece of SHIT who should move to Tehran. Surrender your citizenship immediately!
English
2.1K
8.8K
49.6K
530K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
John Nichol ✈
John Nichol ✈@JohnNicholRAF·
With CSAR Ops on in Iran for a few hours now, my phone has obvs been lighting up. Nothing to say until fate of crew is known, other than thoughts & prayers for those on the ground and in the air.🙏
John Nichol ✈ tweet media
English
41
79
1.3K
51.8K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
TNI Angkatan Udara
Disinformasi bekerja dengan cara sederhana: mengulang kebohongan sampai terdengar seperti kebenaran. Isu “OMC TNI AU menyebarkan wabah lewat chemtrail” adalah contoh klasik. Mari kita luruskan: 1. OMC adalah operasi kemanusiaan → untuk mengendalikan curah hujan saat bencana 2. Dilaksanakan lintas lembaga negara → BMKG (analisis cuaca), BRIN (riset), TNI AU (pelaksana udara) 3. “Chemtrail” = teori tanpa dasar ilmiah → tidak diakui dalam sains. 4. Yang nyata adalah “contrail” → uap air biasa dari pesawat, bukan zat berbahaya Menyebarkan HOAKS bukan sekadar salah. Hal tersebut bisa merusak kepercayaan publik dan mengganggu upaya kemanusiaan. JANGAN jadi bagian dari masalah. JADILAH bagian dari solusi. #dmmp💂🏻‍♀️
TNI Angkatan Udara tweet media
Indonesia
24
76
264
12.4K
cya
cya@moowinterus·
Serius nanya,Kalau ada orang yang nggak suka rokok, nggak minum alkohol, dan nggak main judol, biasanya kalau lagi stres atau frustasi mereka ngapain ya?
cya tweet media
Indonesia
2.3K
138
2.1K
617.6K
Pablo Gilberto
Pablo Gilberto@YogaswaraWahyu·
kenalin nih, Marsekal Mohamad Tony Harjono, Kstaf TNI AU. Algojo alias Eksekutor dibalik seluruh Bencana Masiv akibat OMC Chemtrail diseluruh Indonesia, Mulai Bencana Sumatera - Aceh Desember 2025, sampai Seluruh Indonesia 2026.
Pablo Gilberto tweet mediaPablo Gilberto tweet media
Indonesia
141
693
3.9K
414.9K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
krestenisasi terselubung
Tujuh Sabda Terakhir Yesus Tujuh Sabda Terakhir merupakan ucapan-ucapan Yesus yang dicatat secara terpisah oleh keempat penulis Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) selama kurang lebih enam jam Ia tergantung di kayu salib. Dalam tradisi kristiani, rangkaian ucapan ini dianggap sebagai "Wasiat Terakhir" Sang Mesias yang merangkum seluruh misi kedatangan-Nya ke dunia. 1. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34) Di tengah siksaan fisik yang hebat, Yesus tidak mengeluarkan kutuk dari mulut-Nya, tetapi Ia menyatakan permohonan ampun bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya dan Ia menunjukkan kasih yang melampaui logika manusia. 2. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43) Sabda ini ditujukan kepada salah satu penjahat yang disalibkan di samping-Nya yang menunjukkan penyesalan. Yesus memberikan harapan bahwa keselamatan tersedia bagi siapa saja yang percaya, bahkan di detik terakhir hidupnya. 3. "Ibu, inilah anakmu!" dan "Inilah ibumu!" (Yohanes 19:26-27) Meski dalam kondisi sekarat, Yesus memastikan Ibunya (Maria) akan dijaga oleh murid yang dikasihi-Nya (Yohanes). Yesus menunjukkan tanggung jawab kemanusiaan dan kasih seorang anak. 4. "Eli, Eli, lama sabakhtani?" (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) (Matius 27:46) Yesus dalam keadaan amat tersiksa secara fisik harus merasakan perpisahan dari Bapa secara batin karena Ia memikul seluruh dosa umat manusia. 5. "Aku haus!" (Yohanes 19:28) Ucapan ini menegaskan sisi kemanusiaan Yesus yang nyata. Ia merasakan haus fisik yang luar biasa, sekaligus menggenapi nubuat yang tertulis dalam Kitab Suci. 6. "Sudah selesai." (Yohanes 19:30) Ia tidak menyatakan seruan kekalahan, melainkan deklarasi kemenangan. Yesus memandang bahwa misi penebusan dosa umat manusia dan seluruh tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya telah tuntas dikerjakan. 7. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." (Lukas 23:46) Frasa terakhir ini hendak menunjukkan ketaatan mutlak dan kepercayaan penuh kepada Allah Bapa. Yesus mati bukan karena nyawa-Nya direbut paksa. Ia menyerahkannya dengan sukarela.
krestenisasi terselubung tweet media
Indonesia
23
531
1.8K
83.4K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
Shawn Ryan
Shawn Ryan@ShawnRyan762·
It’s a tradition here at SRS to bring you the story of Jesus on Easter. This year, Dr. Jeremiah Johnston joins me to break down the evidence for the resurrection of Jesus Christ. We talk about the Shroud of Turin, ancient manuscripts like the earliest New Testament fragments, Roman crucifixion methods, and the scientific and historical case for the death, burial, and resurrection of Jesus. Jeremiah also shares his journey from skepticism to belief after years of research and what convinced him the resurrection is rooted in real, tangible evidence. @_jeremiahj
Shawn Ryan tweet mediaShawn Ryan tweet mediaShawn Ryan tweet mediaShawn Ryan tweet media
English
92
328
2.8K
68.8K
Emploice Muswashan ری ٹویٹ کیا
Bud Gibson
Bud Gibson@TheReconCast·
Delta Force. In the early 1970s, the military draft pulled thousands of young American men out of their civilian lives and thrust them into the unforgiving meat grinder of the Vietnam War. For many, surviving their tour and making it back home was the only objective. For a 20-year-old named Edward Bugarin, it was just the prologue. Drafted in 1970, Bugarin didn’t just serve his required time and walk away. He found a calling in the absolute extremes of human endurance and modern warfare. He pushed his way into the Army Special Forces, earning his Green Beret. But even that wasn't close enough to the edge. When the U.S. military realized it needed a highly classified, dedicated counter-terrorism unit to handle the world's darkest, most complex hostage and direct-action scenarios, they built the 1st Special Forces Operational Detachment-Delta. Delta Force. Bugarin, a fiercely dedicated Filipino-American soldier, stepped forward. He became one of the early operators in the unit, dedicating nearly twelve years of his life to a violent, high-stakes world that officially did not exist. During the 1980s, if there was a geopolitical crisis anywhere on the map, Bugarin was likely standing in the shadows of it. When the U.S. military launched Operation Eagle Claw—the daring, tragic 1980 hostage rescue attempt in the Iranian desert—Bugarin was part of the element. When the Cold War boiled over into the jungles of Grenada and the hostile streets of Panama, he was heavily involved in the surgical, classified operations that defined those conflicts. But the true measure of an operator is often tested in the absolute chaos of an unexpected strike. In 1984, the U.S. Embassy annex in Beirut, Lebanon, was targeted by a massive, devastating vehicle-borne improvised explosive device. In the horrific, blood-soaked aftermath, as the structure collapsed into burning rubble and the air filled with thick smoke, it was Sergeant Major Ed Bugarin who immediately navigated the destruction. Moving through the blast zone, he played a critical, direct role in saving the life of the American ambassador. Bugarin didn’t just survive the physical toll of a decade in Delta Force; he completely redefined it. He understood that standard Army push-ups and sit-ups didn't keep you alive in a close-quarters firefight or a hostage rescue. Alongside a few of his teammates, Bugarin helped design and implement the Upper Body Round Robin (UBRR)—a punishing, brutal, nine-event functional fitness test built specifically to push the most elite combatants on earth to their absolute physiological limits. It became a benchmark for Special Operations fitness. By the time he retired in 1992, Bugarin had given 22 years to the U.S. Army. He was a master of close-quarters battle, a physical powerhouse, and a quiet professional who operated in the most dangerous corners of the globe. Most Americans picture a very specific Hollywood stereotype when they think of the men who built the foundation of America's elite counter-terrorism apparatus. Very few know the name of the Filipino-American Sergeant Major who helped write the book on special operations fitness, pulled an ambassador from the burning rubble, and spent a dozen years hunting in the dark. Now you do.
Bud Gibson tweet media
English
34
330
2.8K
115.7K