Raka
2.2K posts




Di era politik modern, perang tidak selalu memakai senjata. Banyak negara kini menghadapi bentuk baru: perang narasi, propaganda, & pembentukan opini publik. Nama George Soros sering muncul dalam konteks ini. Ia dikenal sbg miliarder sekaligus pendiri jaringan filantropi global seperti Open Society Foundations (OSF) yg aktif mendanai berbagai organisasi sipil, media, & program advokasi demokrasi di banyak negara. Namun bagi sebagian pengamat geopolitik, pola pendanaan ini tidak selalu dipandang sekadar filantropi. Banyak yg melihatnya sbg pembentukan ekosistem pengaruh politik. ——-⸻ Dokumen Bocor: Dana Rp30 Miliar Artikel The Sunday Guardian mengungkap dokumen proposal pendanaan dari Kurawal Foundation kepada Open Society Foundations milik Soros. Nilainya sekitar USD 1,8 juta atau ± Rp30 miliar. Dana tersebut diajukan untuk program: • Mobilisasi massa akar rumput — Rp8,5 miliar • Program kepemimpinan muda — Rp8,5 miliar • Pemantauan proses pengambilan keputusan — Rp8,5 miliar • Membangun jaringan dgn kelompok kritis termasuk aktivis akademis & tokoh agama — Rp5 miliar Sekilas terdengar positif. Namun dalam perspektif geopolitik, skema seperti ini sering dipandang sbg pembentukan jaringan pengaruh jangka panjang. ——-⸻ Jejak Pendanaan Data dari situs Open Society Foundations menunjukkan sejumlah pendanaan kepada lembaga di Indonesia. Kurawal Foundation 2023 : USD 3.200.000 2022 : USD 945.000 2022 : USD 245.000 2021 : USD 900.000 2020 : USD 900.000 Selain itu terdapat pendanaan kepada Yayasan Celios Pencerah Bangsa: 2024 : USD 2.000.000 2023 : USD 175.000 2023 : USD 400.000 serta PT Celios Riset Pratama pada 2022 sebesar USD 186.092. ——-⸻ Cara Kerja Propaganda Propaganda modern jarang memakai kebohongan total. Yg digunakan justru half-truth — kebenaran setengah. Realita bisa saja: Kekurangan = 3 Kelebihan = 7 Namun melalui framing narasi, persepsi publik dibentuk menjadi: Kekurangan = 300 Kelebihan = 0 Setelah persepsi negatif terbentuk, narasi diperkuat dgn fear mongering — politik ketakutan. Tujuannya sederhana: masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap negara & pemimpinnya. ——-⸻ Tahap Berikutnya: Tokoh Alternatif Ketika kepercayaan publik melemah, muncul tokoh yg dipromosikan sbg penyelamat bangsa. Program seperti kepemimpinan muda & jaringan dgn aktivis akademis menjadi bagian dari proses pembentukan figur ini. Mereka tampil lantang, kritis, & seakan berjuang tanpa lelah. Masyarakat percaya. Namun di banyak negara, tidak sedikit figur seperti ini akhirnya berubah menjadi elite baru yg justru menghisap sumber daya negara. ——-⸻ Kekacauan Bisa Menguntungkan Tahap berikutnya sering melibatkan: kekacauan politik krisis ekonomi pergantian kepemimpinan Dalam kondisi krisis, pasar keuangan bisa dimanfaatkan melalui praktik short selling mata uang yg menghasilkan cuan miliaran dolar. Sementara perhatian publik teralihkan dari berbagai aktivitas ekonomi & politik di balik layar. ——-⸻ Siapa Yg Paling Dirugikan? Pada akhirnya yg paling terdampak adalah rakyat. Terutama: masyarakat kelas menengah masyarakat miskin masyarakat miskin ekstrem Dalam situasi krisis: harta hilang keamanan hilang ketentraman hilang Sementara janji perubahan sering kali hanya berakhir sbg angan-angan. ——-⸻ Nasionalisme vs Propaganda Di sinilah perbedaan nasionalisme & propaganda menjadi penting. Nasionalisme membangun negara dari dalam. Propaganda sering mencoba mengendalikan arah negara dari luar. Di era media sosial yg penuh informasi & disinformasi, masyarakat perlu lebih cerdas membaca narasi. Karena kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi & militer, tetapi juga oleh ketahanan rakyatnya terhadap propaganda.






