Rumail Abbas@Stakof
Singkatnya, Pak Menhan bilang:
Gaji prajurit yang paling rendah adalah Rp6 juta. Jika Rp1 juta dibelanjakan di desa atau kecamatan, maka sudah ada miliaran uang berputar untuk UMKM.
Prajurit TNI juga diwajibkan tiga kali donor darah dalam setahun. Jika ditotal, maka banyak sekali darah yang tersedia hanya dari prajurit TNI.
Ini lucu, karena gaji prajurit (400ribu personil) itu dipenuhi dari pajak warga, termasuk yang gajinya UMR per bulan, bukan Rp6 juta per bulan.
Tidak ada keajaiban ekonomi yang tercipta hanya karena uang prajurit TNI "berputar di desa dan kecamatan". Gaji yang dibayar dari pajak kembali ke pemberi pajak itu gak ada nilai tambahan.
Kafe-kafe di desa atau kecamatan yang disebut Pak Menhan itu kebanyakan diisi gen-z dan milenial yang mungkin gajinya tidak sebanyak satu prajurit paling rendah gajinya itu.
LAgian, prajurit TNI kan bisa saja terlihat di bar-bar, minumnya alkohol (bukan kopi), kadang berkelahi dengan sesama prajurit atau polisi.
Gak mungkin, kan, mereka sekadar jajan di sana? Siapa tahu punya kerja sampingan jadi bekingan diskotik? Siapa tahu?
Untuk donor darah, 400 ribu prajurit dikali 3 donor memang 1,2 juta kantong setahun. Sementara menurut @grok, kebutuhan darah nasional Indonesia berada di kisaran 5 sampai 5,5 juta kantong per tahun.
Berguna, iya. Tapi sisanya tetap saja dipenuhi warga biasa yang gajinya mungkin di bawah Rp6 juta per bulan itu.