
Jan Tanpa Cux
1.4K posts




Guys, gue mau bahas sesuatu yang menurut gue adalah pertanyaan paling penting yang jarang dijawab dengan jujur di negara ini. Indonesia adalah negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Batu bara melimpah Sawit jangan di tanya luasnya Gas alam dimana mana Emas lu congkel tanah papua isinya emas semua Tembaga. Timah. Hutan tropis terluas kedua di dunia. Garis pantai terpanjang kedua di dunia. 270 juta manusia produktif. Dan 26 juta orang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Pertanyaannya bukan "kenapa kita miskin." Pertanyaannya adalah: siapa yang diuntungkan dari kemiskinan kita? Karena ini bukan soal tidak ada uangnya. Uangnya ada. Selalu ada. APBN 2025: Rp3.600 triliun. Penerimaan negara dari sumber daya alam setiap tahun: ratusan triliun. Tapi kenapa yang sampai ke rakyat selalu terasa tidak cukup? Mari hitung dari yang paling konkret: MBG program makan bergizi gratis. Anggaran hampir Rp1 triliun per hari. Yang sampai ke makanan anak-anak menurut Mahfud MD: Rp34 miliar. Dari hampir Rp1 triliun per hari. Sisanya ke mana? Kaos kaki Rp6,9 miliar. Motor listrik Rp1,2 triliun gudangnya terkunci. Video conference Rp5,7 miliar. Semir sepatu Rp1,25 miliar. Dan ribuan SPPG yang ketahuan memotong ayam dari 12 bagian menjadi 20 bagian. Ini bukan kelalaian. Ini adalah sistem. Soal sumber daya alam dan ini yang paling menyakitkan: Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia. Nikel adalah bahan utama baterai kendaraan listrik komoditas paling strategis abad 21. Tapi siapa yang mengelola tambang-tambang nikel itu? Siapa yang dapat nilai tambahnya terbesar? Siapa yang duduk di board perusahaan-perusahaan tambang raksasa itu? Kita ekspor bahan mentah. Mereka olah. Mereka jual kembali ke kita dalam bentuk produk jadi dengan harga puluhan kali lipat. Batu bara Indonesia salah satu eksportir terbesar dunia. Tapi PLN masih beli batu bara dengan harga yang kadang lebih mahal dari harga pasar karena mekanisme kontrak yang tidak transparan. Sawit Indonesia produsen terbesar dunia. Tapi harga minyak goreng di dalam negeri bisa melonjak tidak terkendali karena pengusaha sawit lebih untung ekspor daripada jual domestik. Soal pajak dan ini yang Purbaya sendiri sudah akui: 40 perusahaan asing mayoritas dari China tidak membayar pajak semestinya. Ada indikasi dilindungi oknum dari dalam Kemenkeu. Dua Dirjen dicopot karena bocorkan informasi yang merugikan negara. Dokumen perpajakan beredar tanpa sepengetahuan Menkeu sendiri. Dan dari triliunan potensi pajak yang seharusnya masuk ke negara berapa yang benar-benar terkoleksi secara optimal? Siapa yang diuntungkan dari semua ini: Kontraktor yang menang proyek tanpa pengawasan ketat. Pengusaha yang dapat konsesi sumber daya alam dengan harga yang tidak sepadan dengan nilainya. Oknum birokrat yang jadi fasilitator yang bilang "siap pak" tapi tidak dikerjakan tiga bulan seperti yang Purbaya ceritakan. Dinasti politik lokal yang mengontrol anggaran daerah tanpa check and balance yang efektif seperti yang sudah terjadi di Kaltim, dan kemungkinan besar di banyak daerah lain. Dan perusahaan asing yang berhasil mengekstrak nilai dari sumber daya alam Indonesia dengan biaya yang jauh lebih murah dari yang seharusnya. Soal mentalitas dan ini perlu dijawab juga dengan jujur: Ada yang bilang kemiskinan Indonesia adalah soal mentalitas. Malas. Tidak produktif. Tidak mau belajar. Gue tolak narasi itu bukan karena tidak ada masalah mentalitas sama sekali tapi karena narasi itu secara sistematis memindahkan tanggung jawab dari sistem ke individu. Petani yang bekerja dari subuh sampai malam tapi tidak bisa menyekolahkan anaknya karena harga pupuk dikendalikan kartel itu bukan masalah mentalitas. Buruh pabrik yang gajinya UMR tapi harga sembako terus naik karena distribusi dikuasai oligopoli itu bukan masalah mentalitas. Anak di daerah 3T yang tidak bisa sekolah karena tidak ada guru yang mau ditempatkan di sana itu bukan masalah mentalitas. Itu adalah hasil dari sistem yang dirancang atau dibiarkan untuk menguntungkan sebagian kecil orang. Dan ini yang paling mengkhawatirkan: Sistem yang menghasilkan kemiskinan di tengah kekayaan tidak terjadi karena kebetulan. Tidak terjadi karena tidak ada yang tahu. Tidak terjadi karena tidak ada solusinya. Terjadi karena ada yang diuntungkan dari status quo. Dan mereka yang diuntungkan itu punya cukup kekuasaan untuk memastikan status quo tidak berubah terlalu cepat. Dinasti politik yang mengontrol DPRD sekaligus gubernur. Pengusaha yang punya akses langsung ke pembuat kebijakan. Oknum birokrat yang menjadi fasilitator antara uang publik dan kantong swasta. Semua itu bukan konspirasi teori. Semua itu sudah terdokumentasi. Sudah ada di laporan KPK. Sudah ada di persidangan. Sudah ada di pengakuan pejabat sendiri. Indonesia kaya. Itu fakta yang tidak bisa diperdebatkan. Tapi kekayaan itu tidak otomatis sampai ke rakyat karena ada banyak tangan yang mengambil di sepanjang jalan antara sumber daya dan kesejahteraan. Dan selama sistem pengawasan lemah, akuntabilitas tidak ada konsekuensinya, dan kekuasaan terkonsentrasi di tangan segelintir orang pertanyaan "kenapa kita miskin" tidak akan pernah dijawab hanya dengan mengubah mentalitas individu. Yang perlu berubah bukan hanya mental rakyatnya. Yang perlu berubah adalah sistem yang membuat kekayaan negara ini mengalir ke tempat yang salah sementara 26 juta orang masih tidur malam ini tanpa tahu besok bisa makan apa.





Padahal bisa jawab gini: "nanti akan saya koordinasikan dengan menteri perdagangan tentang kenaikan harga plastik", malah main lempar2an gitu dih.



Prabowo: Kunci Selat Hormuz Dipegang Satu Negara, tapi 70% Energi dan Perdagangan Asia Timur Lewat Laut-laut Indonesia



Selamat melakukan jalan2 luar negeri untuk rakyat pak 🫡

Dalam acara tersebut, Sara Netanyahu, istri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, turut hadir dan menjadi sorotan. Ia juga sempat menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya perlindungan dan pendampingan bagi anak-anak saat mengakses media sosial. Dalam pidatonya, Sara Netanyahu juga menceritakan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami anak-anaknya di media sosial. Ia menyebut, putra-putranya kerap mengalami perundungan dan kekerasan verbal secara online karena status mereka sebagai anak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Berkaca dari pengalaman tersebut, ia berharap perundungan di dunia maya tidak lagi terjadi. Putra sulung Netanyahu, Yair Netanyahu, diketahui menjadi sasaran kritik dari para penentang pemerintah di Israel karena aktivitasnya di media sosial yang kerap memicu kontroversi. Baca selengkapnya disini: buff.ly/cwU9I2L



















