muhammad fadhlan

1K posts

muhammad fadhlan

muhammad fadhlan

@oxide_fa

Test

شامل ہوئے Nisan 2013
102 فالونگ167 فالوورز
VALO2ASIA
VALO2ASIA@VALO2ASIA·
🇳🇿 Team New Zealand take down 🇮🇩 Team Indonesia 14-12 on Split! - 🇳🇿 BiggieCheese - 🇳🇿 Blessed - 🇳🇿 FETA - 🇳🇿 Swiftly - 🇳🇿 RESLYDE NZ will play in a BO3 qualification match tomorrow for a spot at the ENC main event. INA will continue their run from the lower bracket.
VALO2ASIA tweet mediaVALO2ASIA tweet media
English
27
39
828
173K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
Ivan Lanin
Ivan Lanin@ivanlanin·
Data menjawab pertanyaan "berapa". Cerita menjawab pertanyaan "mengapa itu penting". Keduanya saling melengkapi. Tanpa data, cerita bisa terasa kosong. Tanpa cerita, data bisa terasa dingin. Penceritaan data (data storytelling) membuat angka lebih mudah dipahami, diingat, dan digunakan. ivanlanin.medium.com/membungkus-dat…
Indonesia
0
7
30
3K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
ISM ☀️
ISM ☀️@ism_sol·
nih urutan kalo lu mau bikin ai agent yang simple dan enak, misal mau nambah fitur/upgrade 2.0 si agentnya juga bisa > jelasin apa yang kamu buat ke ChatGPT dan suruh dia interview lu + sekalian brainstorming > lalu suruh ChatGPT untuk buat itu semua jadi prompt > paste prompt detail yg dibuat ChatGPT tadi ke Claude > tambahin kalimat ini kalo gua "Pastikan tidak ada kesalahan dan 0 debug. Outputnya wajib file Zip agar bisa aku download." > download file Zip dari claude nya > trus lu masukin file Zip nya ke agentic IDE kek @antigravity @cursor_ai atau @code nah disini udah enak 🤗 lu bisa tanya detail entah cara deploynya gimana atau kalo ada yang kurang tinggal minta dia edit langsung file nya trus lu deploy lagi sampe jadi lebih bagus debug juga mungkin masih ada, bisa minta dibenerin langsung sama agentic IDE yg lu pake nanti
ISM ☀️ tweet media
Indonesia
13
84
666
19K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
HADEH! EGOIS BANGET! Izin menjelaskan sambil marah-marah sedikit!! Ini orang-orang emang perlu dikasih tau kalo ada yang namanya "third-hand smoker" Third hand smoker adalah sisa zat-zat dari rokok yang bisa bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun di permukaan, termasuk permukaan keras seperti keramik. Bahkan setelah ventilasi atau pembersihan biasa, residu zat rokok itu juga masih bisa terdeteksi. Bukan hanya bau rokoknya aja yang tersisa, tapi ratusan zat berbahaya seperti Nikotin, logam berat, hingga zat-zat yang bisa meningkatkan risiko kanker. Iya KANKER! Buset deh pada egois banget berbagi risiko kanker ke orang lain! Kasian itu yang bersihin! Nih ya, pembersihan biasa sering gak cukup, kadang butuh beberapa kali pencucian dengan deterjen kuat, cuka, atau pembersih khusus, supaya zat sisa rokok ini benar-benar hilang. Dahlah capek! Maaf jadi marah-marah.
YAPPINGFESS@yappingfess

yap! perokok kebanyakan gada akalnya apa gimana sihh, stress ya lu pada

Indonesia
139
7.1K
14.3K
566.1K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
ega
ega@fluoxetan·
statement “jangan nikah atau punya anak kalau miskin” itu classist dan dehumanizing. kekhawatiran dan standar pribadi lo gak seharusnya dipaksakan ke orang lain, apalagi dalam hal yang halal. definisi “mampu” juga beda-beda, gak bisa diseragamkan dan gak ada titik akhirnya, rezeki juga gak selalu stabil. kebayang ada keluarga sederhana bonceng tiga naik motor, main ke alun-alun, makan batagor di rumput sambil ketawa-tawa. lalu anaknya mulai besar dan baca kalimat “orang tuamu seharusnya tidak punya anak karena miskin” atau “bapak lo seharusnya gak nikahin ibu lo” di internet. selama ini dia punya prasangka baik dan kenangan hangat, tapi beberapa kalimat bisa meruntuhkan itu semua, bahkan mengubah cara dia memandang orang tuanya sendiri. hati orang tua mana yang gak hancur, seakan yang dihitung cuman uang, bukan cinta, usaha, dan pengorbanan mereka selama ini. yang gue percaya, any sane parent would want the best for their child, life also doesnt always go according to human plans, there are things beyond our control that cant be reduced to rigid standards. semua ini bukan berarti kita menolak ikhtiar perencanaan yah, tapi menyederhanakan nilai manusia hanya dari finansial itu gak adil buat buat gue. so please, maybe we can be more careful with our words, cobalah lebih berempati. di balik setiap keluarga, pasti ada usaha, cinta, ceritanya masing-masing yang gak keliatan buat lo, jangan lah direduksi jadi duit, duit, duit
Lilyta@itslilyta

Unpopular opinion about marriage Just wondering, is marriage scary?

Indonesia
373
1.7K
5.4K
945.5K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
yunus
yunus@0xyunss·
sebenernya bikin agent itu dimulai dari cara otak lu mikir, bukan dari code-nya. ada konsep namanya schema theory (Bartlett, Piaget). intinya otak manusia ga nyimpen fakta, dia nyimpen pola. waktu lu mau build agent, lu lagi mindahin pola pikir lu ke dalam mesin. dan lu gabisa mindahin sesuatu yang lu sendiri belum pahamin dengan jelas. makanya sebelum nyuruh agentic coding nulis satu baris code, jawab ini dulu: - sekarang kerjaan gua apa? bisa digantiin AI agent ngga? - kalau iya, gimana workflow-nya step by step? - data apa aja yang dibutuhin tiap step? - kemungkinan masalah apa yang bakal muncul? - output-nya apa? kapan agent tau dia udah "selesai"? - kalau ada masalah, cara nyeleseinnya gimana? oke gua kasih contoh nyata: content creator, analis, atau marketing. tujuannya: bikin agent konten viral yang jalan otomatis. langkah pertama, research agent. lu kasih agent akses ke TikTok, Reels, atau platform target lu. dia doomscroll, analisa konten yang perform tinggi di niche lu, catat pola hook-nya, format-nya, durasi, cara penyampaiannya. dia tau mana yang viral dan kenapa, bukan dari feeling tapi dari data. langkah kedua, generation agent. dari pattern yang dikumpulin research agent, dia bikin prompt yang inject semua pola itu ke model generatif. hasilnya konten yang strukturnya udah proven works, bukan template kosong. langkah ketiga, review agent. dia cek apakah output-nya feel natural atau masih keliatan AI slop. hook kuat di 3 detik pertama? tone-nya manusiawi? kalau belum, dia revise atau throw balik ke generation step. langkah keempat, post dan analisa. agent track engagement, completion rate, share, save. semua data performance itu masuk balik ke research agent sebagai feedback loop. makin banyak yang dipost, makin pinter agent lu ngerti apa yang works di audience lu spesifik. setiap step punya satu action, satu input, satu output. itu yang bikin agent bisa jalan tanpa bingung. yang paling susah bukan teknologinya. yang paling susah adalah duduk dan beneran mikirin kerjaan lu sendiri sampai cukup detail untuk bisa lu delegate ke mesin.
yunus@0xyunss

yang bikin gua kaget dari komen post ini adalah ternyata masih banyak orang yang ngira kalo langganan Claude/ChatGPT cuma buat chatbot doang? padahal dengan claude/chatgpt kalian udah bisa bikin agent yang bakal gantiin kerjaan di depan laptop kalian

Indonesia
9
67
434
14.9K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
PRX f0rsakeN
PRX f0rsakeN@jasonsusantoo·
Hello everyone I m Giving away a 508g version of my Susanto mouse with Pulsar 🎉 Follow @PulsarGears & @es_pulsar Like + RT to enter''
PRX f0rsakeN tweet media
English
504
4.6K
8.1K
408.9K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
pamanberuang 🇮🇩
pamanberuang 🇮🇩@bukanpamanmu·
Dalam beberapa jam terakhir saja: • Qwen merilis Qwen3.6 • Google merilis Gemma 4 • OpenAI mengakuisisi TBPN • Anthropic merilis temuan baru soal mechanistic interpretability • Cursor 3 resmi diluncurkan Apa-apaan ini? Timeline seperti apa yang kita jalani sekarang? Apakah kita memang selalu bergerak secepat ini?
Anthropic@AnthropicAI

New Anthropic research: Emotion concepts and their function in a large language model. All LLMs sometimes act like they have emotions. But why? We found internal representations of emotion concepts that can drive Claude’s behavior, sometimes in surprising ways.

Indonesia
16
61
432
28K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
Gema ~
Gema ~@GemaShowIndo·
Videografer dituduh mark-up aja udh bikin emosi..kalau lu pada lihat hasilnya (cuplikan hasil kerja dia) bakalan lebih emosi lgi sih...bagus bgt anjir! Kerjaan kyk gtu HARUSNYA sih dibayar ratusan juta
Indonesia
62
1.5K
6.5K
223.6K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
Muhammadiyah
Muhammadiyah@muhammadiyah·
Selamat Idulfitri 1447 H, Sob😍🙏🏻✨ Pagi ini Sobatmu salat Idulfitri dimana nih? Spill pemandangannya, atau penceramah, atau keseruan lainnya dong Sob🤩
Indonesia
1.1K
1.5K
7.7K
242.4K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
Fauzan Al-Rasyid
Fauzan Al-Rasyid@fauzanalrasyid·
Mana yang benar? Kami berbuka puasa di waktu magrib. Kami berbuka puasa pada waktu magrib. Bukumu ada di Kevin. Bukumu ada pada Kevin. Di pertemuan yang lalu, kita mengulas bab III. Pada pertemuan yang lalu, kita mengulas bab III. Teknologi akan makin canggih di masa depan. Teknologi akan makin canggih pada masa depan. Dalam konteks ini, preposisi yang tepat digunakan adalah pada, bukan di. Mengapa begitu? Tonton penjelasannya pada video berikut.
Indonesia
3
77
392
11.1K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
Clair 光
Clair 光@lynxluna·
Nambahin: yang menang Anthropic Hackathon itu justru gambaran betapa engineering dibutuhkan. Tidak berarti harus formally trained in SWE atau bahkan EE. Kebetulan saya kenal dekat dgn beliau. @bepituLaz lulusan Akuntansi, kerja webdev, hobi musik dan curiositynya luar biasa. Solusi dia untuk pakai C, WASM, dan ada target latency 15ms aja itu aja udah jelas software engineering. Ga banyak lho webdev yang bahkan tau dan ngerti harus pakai itu. Problem yang harus dipecahkan ama beliau adalah supaya aplikasinya bisa dipakai buat live show. Jadi latency harus rendah. Ini bukan masalah mudah yang tinggal “pakai framework aja”. Atau “tinggal npm install aja” Claude Code ngegantiin fungsi “ngetik kode” dan mempercepat discovery solusi2 untuk memecahkan problem dia, dia itu alat, tergantung yang megang. Pertanyaannya: yang lulusan SWE ngapain aja selama ini sampai ngerasa skillnya bisa digantiin ama AI? 👉Apa ga pernah problem solving dan cuma ngetik kode? 👉Nurutin aja kata2 lead dan ga pernah mikir impak dari software yg dibuat apa? 👉Tidak pernah memecahkan masalah yang cukup kompleks sehingga bisa di-oneshot ama Claude Code? Claude Code emang bisa ngegantiin kerjaan SWE untuk masalah-masalah simpel. Saya tahun ini jokingly bilang mau jadi “sipaling webdev” ya karena sesuatu yg harus diketik manual oleh ~3 orang jadi cuma perlu saya aja. Jadi itu faktor pengali: CC itu bikin 1 orang SWE jadi bisa ngerjain kerjaan 3 SWE. Kalo yg skillnya 0.5 aja, bisa jadi 1.5. Tapi kalo skillnya 0 mau dikaliin 100 ya tetep 0 mau itu lulusan IT atau bukan.
GIF
mustafa@mustafasegf

gw ngerasa ini sedikit missleading. pertama satu hal yang perlu diinget itu anthropic lagi jalanin propaganda kalau programmer udah engga dibutuhin selama beberapa tahun ini. Tapi project yang mereka tunjukin itu jauh dari standar program yang layak dan maintainable. flagship program mereka claude code itu sering ada bug. sampe creator bun yang jago banget ngoding nya perlu turn tangan buat fix. hal lain seperti iklan nya anthropic yang bilang bisa bikin compiler. itu compiler nya engga bisa compile hello world dan linux nya juga engga jalan dengan bener. tapi mereka ngaku udah ga perlu programmer lagi. bilang engga perlu programmer karena toy project itu kelar kayak bilang gaperlu teknik sipil soalnya ai bisa ngajain gw bikin bangunan. bikin kelar dan bikin dan tetep berfungfi 10 tahun kedepan itu 2 hal yang berbeda. ai sekarang bikin kode yang masih ngebug, susah dimaintain. kita bisa lihat juga di carrer page nya anthropic. yang dicari itu skill teknis semua. merekapun juga bukan cari "idea guy". secara internal mereka juga sadar kalau skill teknis itu penting. "ide, logika, use case jadi penentu, ngoding bukan lagi jadi bottle neck utama". hal seperti ini yang bikin gw mikir apa ornag mikir ngoding == ngetik. kalo mau ngoding itu kan perlu tau apa yang kita perlu ketik dulu. itu ya namanya logika. kita perlu tau juga yang diketik ini mau nyelesain masalah apa, itu namanya tau usecase. suatu hal lain issue yang gw liat itu orang bilang programming bukan bottleneck. menurut gw itu issue software engineer kita sekarang. skill software engineer kita kecil sampe ga bisa dan ga kebayang ada hal yang sangat teknis yang bisa di solve. tahun lalu pas jenseng huang kesini, dia engga invest ke kita soalnya dianggep gapantas. apple ga jadi bikin factory disini soalnya ga ada tenaga kerjanya. tetangga kita malaysia sekarang punya pabrik intel, amd, nvidia. coba itu bikin cpu tanpa "skill teknis yang dalam". jangan nyangkut di web dan mobile aja. ada banyak hal lain diluar itu. sama ingin bahas, ai bisa bikin ornang dengan ide bisa berkreasi gw setuju. tapi pertanyannya apakah hasil kode ini dipake pribadi apa dipake sama orang lain juga? sering kali kalo dilihat orang vibe code trus dia menjual hasil kodenya sebagai saas dan hasilnya itu db nya engga secure dan sangat gampang dibobol. jadi balik ke kode ini buat personal project yang engga perlu implikasi security atau ini sebuah project yang kalau dibobol bahaya. untuk poin "yg akan menang adalah yg paling relevan dan mempunyai dampak, bukan yg paling ngerti teknis". dari sebelum ai pun juga orang yang punya impact paling tinggi itu orang yang dibutuhin. program itu kan buat solve problem. jadi itu memang dari dulu sebelum ai gitu. kalau diliat teknis doang itu liat orang s3 bikin riset teori ilmu komputer. terakhir "peran software engineer bisa jadi bergeser, dari yg bisa ngoding jadi orang yg merancang sistem, sekaligus validasi solusi". itu juga udah jadi peran software engineer dari dulu. persepsi programer itu cuman ngoding doang itu ya persepsi yang salah. cari lah konsep sdlc. itu ada planing, design, implementation, testing. itu bagian dari jobdesk. pertanyaannya apa yang kalian lakukan para software engineer sampe tidak perlu lakuin "engineer". apa pada engga lakuin "engineer", cuman pura-pura solving problem? sampe sampe ai pun bisa replace itu?

Indonesia
6
82
383
20.6K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
mustafa
mustafa@mustafasegf·
gw ngerasa ini sedikit missleading. pertama satu hal yang perlu diinget itu anthropic lagi jalanin propaganda kalau programmer udah engga dibutuhin selama beberapa tahun ini. Tapi project yang mereka tunjukin itu jauh dari standar program yang layak dan maintainable. flagship program mereka claude code itu sering ada bug. sampe creator bun yang jago banget ngoding nya perlu turn tangan buat fix. hal lain seperti iklan nya anthropic yang bilang bisa bikin compiler. itu compiler nya engga bisa compile hello world dan linux nya juga engga jalan dengan bener. tapi mereka ngaku udah ga perlu programmer lagi. bilang engga perlu programmer karena toy project itu kelar kayak bilang gaperlu teknik sipil soalnya ai bisa ngajain gw bikin bangunan. bikin kelar dan bikin dan tetep berfungfi 10 tahun kedepan itu 2 hal yang berbeda. ai sekarang bikin kode yang masih ngebug, susah dimaintain. kita bisa lihat juga di carrer page nya anthropic. yang dicari itu skill teknis semua. merekapun juga bukan cari "idea guy". secara internal mereka juga sadar kalau skill teknis itu penting. "ide, logika, use case jadi penentu, ngoding bukan lagi jadi bottle neck utama". hal seperti ini yang bikin gw mikir apa ornag mikir ngoding == ngetik. kalo mau ngoding itu kan perlu tau apa yang kita perlu ketik dulu. itu ya namanya logika. kita perlu tau juga yang diketik ini mau nyelesain masalah apa, itu namanya tau usecase. suatu hal lain issue yang gw liat itu orang bilang programming bukan bottleneck. menurut gw itu issue software engineer kita sekarang. skill software engineer kita kecil sampe ga bisa dan ga kebayang ada hal yang sangat teknis yang bisa di solve. tahun lalu pas jenseng huang kesini, dia engga invest ke kita soalnya dianggep gapantas. apple ga jadi bikin factory disini soalnya ga ada tenaga kerjanya. tetangga kita malaysia sekarang punya pabrik intel, amd, nvidia. coba itu bikin cpu tanpa "skill teknis yang dalam". jangan nyangkut di web dan mobile aja. ada banyak hal lain diluar itu. sama ingin bahas, ai bisa bikin ornang dengan ide bisa berkreasi gw setuju. tapi pertanyannya apakah hasil kode ini dipake pribadi apa dipake sama orang lain juga? sering kali kalo dilihat orang vibe code trus dia menjual hasil kodenya sebagai saas dan hasilnya itu db nya engga secure dan sangat gampang dibobol. jadi balik ke kode ini buat personal project yang engga perlu implikasi security atau ini sebuah project yang kalau dibobol bahaya. untuk poin "yg akan menang adalah yg paling relevan dan mempunyai dampak, bukan yg paling ngerti teknis". dari sebelum ai pun juga orang yang punya impact paling tinggi itu orang yang dibutuhin. program itu kan buat solve problem. jadi itu memang dari dulu sebelum ai gitu. kalau diliat teknis doang itu liat orang s3 bikin riset teori ilmu komputer. terakhir "peran software engineer bisa jadi bergeser, dari yg bisa ngoding jadi orang yg merancang sistem, sekaligus validasi solusi". itu juga udah jadi peran software engineer dari dulu. persepsi programer itu cuman ngoding doang itu ya persepsi yang salah. cari lah konsep sdlc. itu ada planing, design, implementation, testing. itu bagian dari jobdesk. pertanyaannya apa yang kalian lakukan para software engineer sampe tidak perlu lakuin "engineer". apa pada engga lakuin "engineer", cuman pura-pura solving problem? sampe sampe ai pun bisa replace itu?
Kr@karirfess

fyi guys..👀 di Claude Code hackaton yg menang justru: Pengacara, Musisi, Pekerja infrastruktur jalan, Dokter spesialis dan hanya 1 orang IT. ini menjelaskan bahwasanya: - paham konteks permasalahan lebih penting dari pada ngoding murni - ide, logika, use case jadi penentu, ngoding bukan lagi jadi bottle neck utama - sekarang, domain expertise lebih penting daripada keunggulan kompetitif. orang medis, hukum, infrastruktur punya insight yg tidak dimiliki engineer murni. - kedepan, yg akan “menang” adalah yg paling relevan dan mempunyai dampak, bukan yg paling ngerti teknis - peran software engineer bisa jadi bergeser, dari “yg bisa ngoding” jadi orang yg merancang sistem, sekaligus validasi solusi. *cmiiw gimana pendapat kalian???🙏

Indonesia
32
232
994
75.9K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
Ultralytics
Ultralytics@ultralytics·
Export your Ultralytics YOLO11 model to MNN format ⚙️ MNN export is key for deploying YOLO11 on resource-constrained edge devices, delivering faster inference in production environments. Read more ➡️ bit.ly/3L3s0U1 #EdgeAI #ML #Ultralytics #YOLO11
English
7
54
445
18.5K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
Яizal do
Яizal do@afrkml·
Kamu ga harus loh olahraga sekeras itu buat yg mau mulai. Km bisa mulai dari yg ringan2 dulu, misal: 1. Jalan kaki cepat 2. Body weight, kek push up, sit up, plank, dll 3. Beli dumbell sepasang, maenin itu di rumah Fokus sama benerin form & repetisi, mulai aja dulu! Pelan2, yg penting dilakukan. Semangat!
Яizal do tweet mediaЯizal do tweet media
Indonesia
14
504
2.4K
78.9K
intinyadeh
intinyadeh@intinyadeh·
#intinyadeh penipuan modus pura2 jd Lazada ngasih tau paketnya ketuker. Trus dikasih QR Code, bilangnya suruh scan dan masukin nominal utk terima uang. Padahal itu jadinya ngirim uang. TS percaya krn WA nya tau semua informasi ttg paket TS kayak alamat, nama toko, nominal, dsb.
Indonesia
100
1K
2.2K
416.1K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
trevorchesky
trevorchesky@cigs4ftereat·
@rbayuokt Coba baca ini deh, di sini dijelasin kalau AI detector itu gak bisa dijadiin acuan plagiat itu tulisan AI atau bukan, karena tools2 kyk gtu sering 'salah tuduh' (False Positive). arxiv.org/pdf/2412.05139
Indonesia
1
13
87
11.1K
muhammad fadhlan ری ٹویٹ کیا
abipraya;
abipraya;@rbayuokt·
AI detektor itu bisa dibilang produk ogeb, semua bahasa formal , kata" formal = AI kedepannya orang" yg suka nulis pake bahasa formal / baku bakal di cap make AI 😂
Zakiego@zakiego

Ternyata 1945 dulu udah ada chatgpt?

Indonesia
139
2.8K
14.7K
448.1K