Tri Dian Prima

13.3K posts

Tri Dian Prima banner
Tri Dian Prima

Tri Dian Prima

@tdprima

isinya cuma ngeluh doang

Bojonegoro, Indonesia شامل ہوئے Haziran 2010
113 فالونگ261 فالوورز
Jawafess
Jawafess@jawafess·
Jajanan "jadul" opo sing iseh mbok senengi lur?
Indonesia
157
2
89
26.5K
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
anak buah soros
anak buah soros@meillasoux·
dengan apa yang terjadi di FH UI. perlu diakui kita sudah terlambat puluhan tahun mencegah yang ‘sudah-sudah’ terjadi, yang demikian telah bercokol dalam birokrasi firma dan lembaga sampai saraf-saraf otak pria FH di Ibukota bahkan di Indonesia. kita terlambat bertanya kenapa Lawyer tersohor hobi pamer perempuan bak trophy kita terlambat bertanya kenapa Lawyer papan gilas hobi pamer batu cincin dan PDH berbintang kita terlambat bertanya… tapi tidak terlambat berbenah.
Indonesia
17
1.5K
4.7K
225.3K
Tri Dian Prima
Tri Dian Prima@tdprima·
Emosi bener aku baca kasus FH UI ini, tolol lah kalian semua itu. Mana desas-desus kampus lain juga ada kasus begini, abskhwuhekrmgcnn 🤬
Indonesia
0
0
0
68
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
Iim Fahima Jachja
Iim Fahima Jachja@iimfahima·
“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu” Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang. Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.” TIDAK. Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan: Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan) Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi. Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki. “Namanya juga laki-laki.” “Cuma bercanda.” “Nanti juga ngerti sendiri.” "Boys will be boys" Tidak. Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan. Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun. Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh. Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam. Dan akan mereka ulang. Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban. Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat. Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.” Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras" Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.
Iim Fahima Jachja tweet mediaIim Fahima Jachja tweet media
Indonesia
33
6.7K
11K
201.4K
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
joan
joan@pengwinningg·
EDUCATE🫵🏻YOUR🫵🏻SON
English
95
75.3K
154.8K
1.6M
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
Mbak kun
Mbak kun@empty__core·
Mbak kun tweet media
ZXX
418
7.4K
52.9K
1.4M
Tri Dian Prima
Tri Dian Prima@tdprima·
Si doel ini masih relate dengan keadaan kita sekarang... Memang sinetronnya yg Everlasting atau keadaan yg emang gak ke mana-mana 😔
fillainart@fillainart

Setiap kali ngebahas Si Doel Anak Sekolahan, wacana seringkali mentok di perdebatan "mendingan Sarah atau Zaenab?" Padahal, kalau kita mau menelisik lebih dalam, sinetron ini adalah salah satu arsip kritik sosiologis yg oke di era Orde Baru soal omong kosongnya meritokrasi pendidikan. Sinetron ini merekam dengan jelas patah hatinya kelas pekerja Jakarta yang dibohongi oleh janji manis bahwa "sekolah tinggi adalah tiket pasti buat naik kelas sosial." Coba kita ingat-ingat core ceritanya. Babe Sabeni rela jual tanah dan narik oplet siang-malam cuma demi satu utopia: bikin Doel jadi "insinyur". Orde Baru saat itu memang gencar mempropagandakan pembangunan dan pendidikan. Tapi begitu Doel lulus dan dapat ijazah, apa yg terjadi? Realitas menamparnya habis-habisan. Bertahun-tahun Doel luntang-lantung masuk-keluar gedung bertingkat di Sudirman pakai kemeja kegedean, cuma buat ngetes ombak pahitnya bursa kerja. Kalau meminjam konsep sosiologi dari Bourdieu, ijazah Doel (Modal Kultural) itu ternyata gak ada artinya karena dia miskin Modal Sosial (networking/orang dalam). Doel punya otak, tapi dia nggak punya privilege yg cuma dimiliki kelas menengah ke atas kayak keluarganya Sarah. Sinetron ini dengan jujur mengungkap fakta bahwa di sistem kapitalisme yg korup, ijazah sarjana kalah telak sama yg namanya "titipan koneksi". Yg bikin sinetron ini masterpiece adalah bagaimana mereka mengemas keputusasaan struktural itu lewat elemen komedi yg satir banget. Ingat scene legendaris pas Atun kejepit tanjidor? Atau gimana apesnya Mandra yg selalu diomelin Babe karena narik opletnya sepi penumpang? Di permukaan itu emang kocak. Tapi kalau ditarik lebih jauh, komedi Mandra dan Atun itu adalah potret kepanikan kelas bawah yg tergagap dipaksa masuk ke mesin modernisasi. Tanjidor yg menjepit perut Atun itu alegori yg pas buat menggambarkan kebudayaan lokal yg makin sesak dan terhimpit di tengah Jakarta yg berubah jadi hutan beton. Sementara itu, Mandra adalah representasi ketidakberdayaan. Dia cuma tamatan SD, narik oplet butut yg pelan-pelan rutenya digilas sama angkot dan mikrolet moderen. Dia adalah korban pergeseran zaman yg gak punya jaring pengaman (ijazah/modal). Ironisnya, saat Doel si sarjana teknik pengangguran bingung nyari kerjaan formal, satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarga Sabeni yg paling nyata justru ada di tarikan oplet reyot Mandra dan warung kecil Maknyak. Jadi, kalau hari ini Gen Z banyak yg mengeluh soal fenomena loker fiktif, gila-gilaan syarat kerja, atau capeknya bersaing sama anak pejabat lewat jalur ordal, sebenarnya Si Doel udah meramalkan penderitaan struktural itu sejak 30 tahun yg lalu. Sinetron ini boleh saja dilihat sekadar dari drama cinta segitiga, tapi di layer selanjutnya ini adalah tragedi sebuah keluarga yg percaya pada sistem, namun akhirnya dikhianati oleh sistem itu sendiri.

Indonesia
0
0
0
14
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
Aurelia V
Aurelia V@senjatanuklir·
Bentuk payudara beragam dari sananya. Payudara itu lemak yang di-support ligamen Cooper. Ga ada ototnya (kalo ngegym itu utk otot bawah PD, bkn di breast tissue). Ada bbrp wanita gennya kulitnya lebih tipis or connective tissue-nya lebih lemah, jadi tampak ‘turun’. Apalagi yang payudaranya besar. Yang kedua, GRAVITASI. Semakin besar payudara, semakin besar efek gravitasinya. Jadi, gak. Gak karena sering dipegang, semakin besar. Yang ngomong gini tolol. Juga, gak. Gak perempuan melahirkan doang yang bisa punya bentuk payudara ini.
Aurelia V tweet media
cuwi@rapunsey

ini bentuk tete normal karna tete itu isinya lemak bukan adonan bakwan, perempuan lahir dengan bentuk tete yg beda beda jadi stop commenting on women’s bodies and go read some fuckin books

Indonesia
21
982
5.8K
277.4K
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
Putra Tegar
Putra Tegar@putrategar2709·
Salah satu kesalahan yang mencolok dari Detective Conan selain banyak filler kasus yang udah gak penting lagi buat cerita, adalah setting waktu yang dibuat. Gua pernah nulis soal ini. Untuk level Gosho yang tulisan kasus per kasus dibikin detail sampai menyebut ukuran sekian mm atau sekian cm untuk menjelaskan trik, kesalahan setting waktu yang gak jelas ini terbilang parah. Kalo ada yang nanya: Conan itu timeline di tahun berapa? Pasti gak ada yang bisa jawab. Soalnya Conan melaju mengikuti perkembangan zaman. Ada kasus pager, ada kasus fax, ada kasus internet. Shinichi pertama kali telepon ke Ran pake telepon umum pas dia menghilang. Terus Ran pertama kali dapat HP dari Shinichi setelah kasus Izumisano. Terus coba disesuaikan lagi sama Gosho bahwa Shinichi pernah jatuhin HP Ran waktu mereka pergi ke Akuarium Raksasa (sebelum Shinichi mengecil). Terus di kasus edisi terakhir, waktu Matsuda, Rei Furuya dkk ketemu Conan. Di situ mereka udah pake hape berkamera. Padahal Rei Furuya dkk saat itu masih berusia 22 tahun dan Shinichi-Ran gak tahu umur berapa. Mungkin TK atau SD. (5-6 tahun). Jelas ini kacau banget. Hahaha. Belum lagi soal waktu yang sudah berjalan sejak Shinichi mengecil hingga saat ini. Berapa lama waktu berjalan dan Conan serta Ran belum juga naik kelas. Padahal ada beberapa pengulangan event seperti Tahun Baru dan lainnya. Jadi ketika nanti Conan tamat, sejujurnya komik ini bakal ngebingungin untuk dibaca ulang. Karena setting waktu yang ngebingungin. Dan mereka yang bertahan membaca Conan, adalah orang-orang yang terlanjur basah menghabiskan waktu puluhan tahun mengikuti cerita ini, yang tak mungkin berhenti ketika cerita mendekati ujung karena masih terjebak rasa penasaran. 🤣🤣🤣🤣
アリヤ •@AryaNovrianus

Sampai sekarang, gw masih tetep beli dan baca komik Detective Conan. Tapi cuma baca di komik fisik yg dijua di Indonesia aja, dan sekarang sudah total 107 volume. Ga baca online karena terlalu banyak kasus ga penting yg berhubungan dengan cerita inti, wkwkwk

Indonesia
247
843
3.4K
897.5K
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
Mehdi Hasan
Mehdi Hasan@mehdirhasan·
The Israelis are terrorists. No other word for it.
English
2.9K
38.1K
129.3K
1.9M
Tri Dian Prima
Tri Dian Prima@tdprima·
Wes to manut aku manut... Aturan sak karepmu
Indonesia
0
0
0
3
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
‏ ً
‏ ً@ohvoulezvous·
from the river to the sea, Palestine will be free
‏ ً tweet media‏ ً tweet media‏ ً tweet media‏ ً tweet media
English
29
37.9K
120.9K
1.3M
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
Global Insight Journal
Global Insight Journal@GlobalIJournal·
Iranian Foreign Minister: Bridges can be rebuilt, but the opportunity to discipline America will not be repeated.
Global Insight Journal tweet media
English
772
18.1K
100.5K
5.7M
Tri Dian Prima ری ٹویٹ کیا
Daniel Lambert
Daniel Lambert@dlLambo·
Israel is the first state in history to legislate a death sentence that applies only to one ethnic group. There's a reason nobody has ever done this. It's a depth of evil beyond humanity itself.
Daniel Lambert tweet media
English
3.4K
54.8K
170.5K
3.2M
Tri Dian Prima
Tri Dian Prima@tdprima·
Mungkin kalo ada customer royal @MeOIndonesia aku termasuk dah. Anabulku maunya makan produk kalian aja nih. Gak usah naik ya harganya plisss. Aku gak mau miskin 😭😭
Tri Dian Prima tweet media
Indonesia
0
0
0
13
Tri Dian Prima
Tri Dian Prima@tdprima·
Deadline hari ini, ditambah motor mogok. Ya rabbi.... 😭😭
Indonesia
0
0
0
8