
Betul kak, Karena sumber luka yang paling dalam sering kali bukan kehilangan itu sendiri, melainkan keyakinan bahwa sesuatu tersebut akan selalu menjadi milik kita. Saat seseorang memahami bahwa semua yang ada dalam hidup harta, jabatan, hubungan, bahkan waktu bersama orang2 tercinta pada dasarnya adalah titipan yang bisa datang dan pergi, ia tetap akan sedih ketika kehilangan, tetapi tidak sampai kehilangan arah hidupnya. Ia mampu berduka tanpa hancur, dan mampu melepaskan tanpa kehilangan makna hidup. Menerima ketidakkekalan bukan berarti tidak mencintai atau tidak menghargai apa yang dimiliki, melainkan mencintai dengan penuh syukur sambil sadar bahwa suatu hari mungkin harus merelakannya. Itu yang membuat seseorang lebih kuat saat diuji oleh kehilangan.























