Ardi Darmawan

15.8K posts

Ardi Darmawan banner
Ardi Darmawan

Ardi Darmawan

@ardeks

Menulis di tembok, beranjak ke kertas, lalu majalah, buku, Twitter, blog, Instagram, dan apa pun yang bisa ditulisi. Kreator https://t.co/ur9qDK4bY9

Indonesia Tham gia Nisan 2010
3.1K Đang theo dõi3K Người theo dõi
Tweet ghim
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
Sebelas buku dan masih akan terus bertambah. Silakan mampir ke lynk.id/polisibahasa untuk melihat lebih jauh. 🙏
Ardi Darmawan tweet media
Indonesia
0
0
0
7.3K
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
@DitjenPajakRI Bayar dan lapor sih saya tidak keberatan, asal sistem perpajakanmu berjalan normal, tidak kayak sampah seperti sekarang. Masa semua menu bisa mendadak hilang begini. 😅
Ardi Darmawan tweet media
Indonesia
0
0
0
12
#PajakKitaUntukKita
#PajakKitaUntukKita@DitjenPajakRI·
Kenapa sih sudah bayar pajak tapi masih harus lapor?" Nah, begini penjelasannya: Membayar adalah proses menyetorkan uang ke kas negara, sedangkan melapor (melalui SPT) adalah cara kita mempertanggungjawabkan penghitungan dan pembayaran tersebut kepada negara. Sesuai sistem self-assessment di Indonesia, #KawanPajak diberi kepercayaan penuh untuk menghitung, membayar, dan melapor secara mandiri. Jadi, satu paket ya: kalau sudah bayar, pastikan lapor juga! Karena lapor adalah bukti nyata kepatuhan kita sebagai warga negara 🇮🇩 Sudah semakin banyak #KawanPajak yang berhasil lapor SPT Tahunan. Kini, saatnya giliran kamu. #PajakTumbuhIndonesiaTangguh
Indonesia
338
722
1.5K
38K
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
@typolagi Tp aku masih ngambil sih proyek2 nominal kecil. Soale mereka nggak tega meh ngutak-utik. Tp kalau wes di atas 20 juta, mesti minta jatah. 😅
Indonesia
0
0
1
7
Firdaus Agung
Firdaus Agung@typolagi·
Bener kata kawan saya @ardeks, mending jauh2 deh dr proyek bikinan pelat merah. Hidup2 meski gak bergelimang harta!
Indonesia
1
0
0
22
Firdaus Agung
Firdaus Agung@typolagi·
Orang2 yg sengaja "memperluas", jg otaknya, jg penuntut2nya, mengira akan hidup selamanya. Mereka mengira setelah ini yg ada cm kekosongan, nothing. Padahal bahkan sebelum liang kubur mereka digali, masa pensiun akan mereka jalani bersama stroke.
Ibrahim Arief@ibamarief

Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi. Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas". Saya tolak, ngga mau bohong & zalim. Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka. Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua. Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan. Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan: Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran. Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak. Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.” Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran. Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar. Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia. Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe. Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif. Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah. Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan. Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir. Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan. Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan... Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan. Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini. Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini. Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara. Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.

Indonesia
2
0
1
48
Shadman khan
Shadman khan@Real_shadmxtgp·
Can you solve the hidden country?
Shadman khan tweet media
English
5.1K
450
16.4K
12.8M
Mbak kun
Mbak kun@empty__core·
kasih saran dong
Mbak kun tweet media
Indonesia
727
218
472
98.2K
COLLE
COLLE@collegemfs·
[cm] guys maaf mau tanya, ini dibacanyaa apa yaaa?😭🙏🏻. Bingung bgt dari tadiii
COLLE tweet media
Indonesia
2.4K
224
8.8K
2.9M
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
@briankhrisna Teman saya pernah kesurupan dispenser. Kencingnya kadang panas, kadang dingin.
Indonesia
0
0
0
51
Br
Br@briankhrisna·
Kenapa kalau kesurupan hewan goib selalu harimau, monyet, sama ular? Kenapa ga ada yang kesurupan kuda laut???
Indonesia
339
300
2.6K
102.1K
aril piterpen
aril piterpen@aril_piterpen1·
warga x tolong editin fotonya dong biar gak sendirian :(
aril piterpen tweet media
Indonesia
222
155
4.6K
1.6M
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
3. Inaproc: Ini sistem yg wajib dipakai utk pengadaan barang/jasa spt yg dipakai Amsal Sitepu. Inaproc adalah website terburuk yg pernah ada dlm sejarah pemerintahan. Layout berantakan, warna membingungkan mata, notif tidak terlihat, ke-logout sendiri tiap 5 menit, eror, dll.
Ardi Darmawan tweet media
Indonesia
0
1
1
146
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
2. Coretax: UI Coretax jauh lebih bagus dari aplikasi pajak sebelum 2025, tapi performanya mengerikan. Kalau musim pajak seperti sekarang, sangat sering down.
Ardi Darmawan tweet media
Indonesia
1
0
0
194
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
Website pemerintah sangat sedikit yang berkualitas. Sisanya kayak bikinan anak TK. Kalau gak UI/UX-nya yg jelek, ya performanya yang bapuk. Contoh 1: Layanan Perpusnas, terutama ISBN dan iPusnas. Perawatan kok 2 hari sekali selama berminggu-minggu, ngalahin perawatan kecantikan.
Ardi Darmawan tweet media
Indonesia
1
1
1
235
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
@KucengTerbanggg Ini betul. Sebenarnya tidak wajib, tapi sistem yang dibangun bikin karyawan susah, stres, dan depresi kalau dagangan tidak habis, akhirnya mau nggak mau dibeli sendiri. Gak cuma kasir, staf di HO juga "dipaksa" beli produk tertentu.
Indonesia
0
0
0
226
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
@B3doel___ Naik pitam. Karena nggak mampu beli mobil, sepeda, ataupun tiket pesawat.
Indonesia
0
0
0
353
b3'doel
b3'doel@B3doel___·
Tes kecerdasan.. kira kira najib naik apa..??
b3'doel tweet media
Indonesia
3.3K
114
2.7K
1M
cepila
cepila@cepillaa·
“Segitu doang ga mau pinjemin, pelit bgt” Lu jawab apa?
Indonesia
2.3K
113
2.8K
246.1K
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
Di masa-masa pemanasan Perang Dunia III ini, ada yang tertarik jadi petani? Yuk, belajar dari KPTT Salatiga.
Ardi Darmawan tweet media
Indonesia
1
0
0
108
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
@empty__core Kapan? Tahu apa Tante soal hakikat waktu? Dia berjalan dg mekanismenya sendiri, mengabaikan kita yg tertatih mengejar atau berjuang meninggalkannya. Tidak ada 1 makhluk pun yg bisa menjawab kapan utk segala hal. Bahkan sesederhana, "Kapan Bahlil dipecat?" Tidak ada yg tahu.
Indonesia
2
0
9
4.5K
Mbak kun
Mbak kun@empty__core·
tolong kasih rekomendasi jawaban asbun buat menghadapi pertanyaan “kapan nikah?” waktu lebaran nanti
Indonesia
962
269
2K
344.4K
Ardi Darmawan
Ardi Darmawan@ardeks·
Kenapa Salatiga sering disebut Kota Slow Living?
Ardi Darmawan tweet media
Indonesia
2
0
0
194