farus becomes far without us

6.4K posts

farus becomes far without us banner
farus becomes far without us

farus becomes far without us

@far__user

Dumber than you

Tham gia Temmuz 2012
301 Đang theo dõi223 Người theo dõi
farus becomes far without us đã retweet
Katyayani Shukla
Katyayani Shukla@aibytekat·
As a guy who works in tech, is building with AI, and writes a weekly newsletter on the topic, I can't explain as well as Ben Affleck. How is that possible?
English
405
1.8K
19.7K
2.4M
farus becomes far without us đã retweet
Si Juki
Si Juki@JukiHoki·
Punya temen baca Madilog tapi takut setan
Indonesia
14
18
130
8.3K
farus becomes far without us đã retweet
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono@Dandhy_Laksono·
Ada saatnya nobar film. Ada saatnya bedah buku. Dan akan ada saatnya bergerak bareng. #ResetIndonesia
Indonesia
17
372
1.4K
13.7K
farus becomes far without us đã retweet
Gandjar Bondan
Gandjar Bondan@gandjar_bondan·
Giliran penanganan bencana rakyat diminta kerjasamalah, kolaborasilah, mendukunglah, tidak memberitakan hal negatiflah... dll. Waktu bikin undang-undang boro-boro rakyat dilibatkan, ingat pun tidak!
Indonesia
2
412
551
12.1K
farus becomes far without us đã retweet
iggna
iggna@angginoen·
Begitulah nasib film yg dibuat dgn hati; dibicarakan panjang dan berulang2, masuk dalam banyak diskursus, umurnya abadi, baik atau buruknya jadi inspirasi dan pemantik pikiran. Hai para pembuat film, bikinlah karyamu dgn penuh cinta.
Film Indo Source@FilmIndoSource

Variety has published its review for Yandy Laurens’ ‘SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN’ (‘SORE: A WIFE FROM THE FUTURE’). 🔗: variety.com/2025/film/revi…

Indonesia
1
71
294
13.1K
farus becomes far without us đã retweet
Ravio Patra
Ravio Patra@raviopatra·
Anon-anon—dari ternakan parcok sampai yang paling pembela rakyat—mulai mengangkat isu-isu baru yang mengalihkan perhatian dari bencana. Rentan coordinated inauthentic behavior. Hari ini di kampung terus hujan dan sungai meluap. Persetan urusan lendir dan ego kalian semua!
Indonesia
1
92
158
15.2K
farus becomes far without us đã retweet
Dr. Omar Suleiman
Dr. Omar Suleiman@omarsuleiman·
Love this kid :) This next generation must be more humane than this one so that another Gaza never happens again. To anyone.
English
35
652
3.5K
42.4K
farus becomes far without us đã retweet
Si Juki
Si Juki@JukiHoki·
Udah saatnya kita memasuki The Great Pirate era
Indonesia
4
46
172
8.2K
farus becomes far without us đã retweet
OMMI Hasian💚
OMMI Hasian💚@siregar_najeges·
Sekarang baru tau, salah satu penyebab BANJIR : 1. Buang sampah sembarangan.. 2. Nebang pohon sembarangan.. 3. Nyoblos sembarangan..
Indonesia
4
36.3K
90.9K
1M
farus becomes far without us đã retweet
Bivitri Susanti
Bivitri Susanti@BivitriS·
Doa terbaik untuk ibunya 🤲 tapi perhatikan beritanya: dia sewa alat berat dg biaya sendiri!! Doa terburuk untuk pengurus negara yg gagal, tidak amanah, dan menjadi penyebab bencana ekologis ini.
BBC News Indonesia@BBCIndonesia

"Mama saya meninggal dalam keadaan salat. Mayatnya ditemukan masih menggunakan mukena," kata Erik Andesra. Dia menyewa alat berat dengan biaya sendiri untuk mencari jasad ibunya. bbc.com/indonesia/arti…

Indonesia
58
4K
7K
135.8K
farus becomes far without us đã retweet
Ismail Fahmi
Ismail Fahmi@ismailfahmi·
Saat Aceh dan Sumatera "Tenggelam", Percakapan Publik Mengungkap Sesuatu yang Lebih Gelap dari Sekadar Banjir Banjir mungkin datang dari langit, tapi kemarahan publik datang dari bawah. Dari lumpur, dari jalan-jalan terputus, dari warga yang berteriak minta tolong sementara negara sibuk berdebat soal status bencana nasional. Dan di balik semua itu, satu pertanyaan menggantung di udara. Apakah Aceh dan Sumatera sedang kebanjiran air, atau sedang kebanjiran ketidakadilan? Bencana Besar yang Membuka Luka Politik Lama Laporan Drone Emprit menunjukkan betapa besar skala bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Antara 25–29 November 2025 saja, percakapan publik mencapai 102.599 mentions dengan 382 juta interaksi, mayoritas dari X/Twitter dan TikTok. Di lapangan, kerusakan sangat masif. Jembatan putus, jalan nasional lumpuh, puluhan kecamatan terisolasi, dan korban jiwa melonjak hingga 303 orang pada 29 November. Tetapi data ini mengungkap sesuatu yang lebih besar dari bencana. Kemarahan terhadap persepsi ketidakadilan politik. Di media sosial, sentimen negatif mencapai 35–46%, didorong oleh narasi: - Penolakan pemerintah menetapkan status bencana nasional - Isu Jawa-sentrisme dalam penanganan bencana - Tuduhan bahwa izin tambang & sawit adalah akar kerusakan ekologis - Persepsi bahwa Sumatera diabaikan karena bukan Jawa Tagar seperti #SaveOrangUtanTapanuli dan kritik terhadap deforestasi masif semakin mempertegas bagaimana publik melihat bencana ini bukan lagi sebagai musibah alam, tetapi kejahatan ekologis. Dua Realitas: Apa yang Dilihat Media, dan Apa yang Dialami Warga Menariknya, laporan menunjukkan jurang persepsi antara pemberitaan media online dan narasi publik di medsos. Media mainstream menonjolkan hal-hal positif: helikopter TNI, evakuasi udara, kunjungan presiden, dan bantuan puluhan ton logistik. Sebanyak 60% pemberitaan bernada positif. Media sosial menampilkan realitas yang lebih gelap: warga terjebak, akses komunikasi hilang, solar habis, listrik padam berhari-hari, dan banyak yang tidak tersentuh bantuan karena terisolasi. Peta percakapan X menunjukkan empat kluster besar: 1. Narasi Pemerintah: update cuaca, instruksi evakuasi, dan evaluasi tata kelola hutan. 2. Narasi Publik Positif: doa & donasi. 3. Narasi Media: penyebab banjir (Siklon Senyar & deforestasi). 4. Narasi Aktivis & Publik Kritis: tuduhan bencana ekologis & kritik politik. Di sinilah terlihat Indonesia hidup dalam dua realitas informasi. Yang satu melihat negara bekerja, yang satu melihat warga berjuang sendiri. Banjir atau Bencana Ekologis? Publik Mengarahkan Tudingan Walau BMKG menyebut Siklon Tropis Senyar sebagai pemicu hujan ekstrem, publik menolak menjadikan cuaca sebagai kambing hitam. Data percakapan menunjukkan narasi ekologis sangat dominan. Beberapa tokoh menegaskan hal ini, misalnya: - WALHI menyebut banjir sebagai “bencana ekologis akibat campur tangan manusia”. - Komisi VIII DPR menunjukkan keberadaan kayu gelondongan mengindikasikan perambahan hutan di hulu sungai. - Tagar seperti #SaveOrangUtanTapanuli memperkuat desakan publik untuk audit izin tambang dan sawit. Ratusan ribu warga membagikan video satelit, drone, dan foto deforestasi, menunjukkan perubahan tutupan lahan secara drastis di daerah-daerah terdampak. Di panggung opini publik, bencana ini bukan lagi “banjir karena hujan”, tetapi “banjir karena kebijakan”. Solidaritas Warga Di tengah isolasi dan terputusnya akses, publik bergerak sendiri. Gelombang solidaritas terlihat jelas: - Donasi publik meningkat tajam - Warganet membuat peta lokasi warga terjebak - Organisasi masyarakat, PMI, MDMC, dan lembaga keagamaan bergerak lebih cepat di beberapa titik dibanding bantuan pemerintah daerah Laporan menunjukkan tagar #PrayForSumatera bukan hanya doa, tetapi alat mobilisasi kolektif untuk bantuan darurat. Ini menunjukkan apa yang disebut laporan sebagai “solidaritas organik”. Saat warga mengambil alih peran yang seharusnya dikerjakan pemerintah dalam kondisi darurat. Ketika Mesin Negara Dikerahkan Di tengah kritik keras soal lambatnya respons di darat, negara sebenarnya sudah mengerahkan kekuatan udara secara masif untuk menjangkau wilayah yang lumpuh total. Menurut laporan, akses darat ke Sibolga dan beberapa daerah di Tapanuli sempat tidak bisa ditembus karena jalan nasional terbelah dan jembatan putus. Satu-satunya cara masuk adalah lewat udara. Presiden Prabowo memerintahkan mobilisasi TNI–Polri–BNPB untuk percepatan evakuasi dan distribusi logistik, termasuk: - Helikopter SAR untuk evakuasi dan airdrop bantuan - Pesawat angkut untuk mengirim logistik dalam jumlah besar - Bantuan pangan seperti 32,7 ton beras dan 6.300 ton minyak goreng dikirim via udara oleh pemerintah pusat - Operasi cuaca untuk mengurangi curah hujan ekstrem di wilayah terdampak Data ini tercatat sebagai salah satu faktor yang menciptakan sentimen positif di media online, yaitu 60% pemberitaan memuji respons cepat dan koordinasi negara dalam pengerahan bantuan udara. Bahkan di media sosial yang cenderung kritis, visualisasi helikopter dan aparat menyelamatkan warga mampu mendorong peningkatan sentimen positif, khususnya di platform berbasis video seperti YouTube dan TikTok. Bencana Ini Mengungkap Lebih dari Sekadar Kerusakan Fisik Data dalam laporan menunjukkan bahwa bencana di Sumatera adalah: 1. Krisis ekologis yang lama ditumpuk, baru meledak sekarang. Deforestasi, tata ruang yang lemah, dan izin lahan dilepaskan seperti bom waktu. 2. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah pusat. Penolakan menetapkan status bencana nasional menjadi simbol “ketimpangan respons negara”. 3. Krisis infrastruktur vital. Ketakutan terbesar publik bukan airnya, tapi terjebak tanpa listrik, komunikasi, atau logistik. 4. Krisis komunikasi pemerintah. Media memberikan narasi positif, tetapi publik melihat kenyataan berbeda. Dan pada akhirnya, laporan ini menunjukkan: banjir membanjiri Aceh dan Sumatera, tetapi ketidakadilan membanjiri percakapan publik.
Ismail Fahmi tweet media
Drone Emprit Official@DroneEmpritOffc

SENTIMEN PUBLIK TERHADAP PENANGANAN BENCANA DI SUMATERA Banjir & longsor sejak 25 Nov 2025 tewaskan ratusan jiwa. Publik soroti respons pemerintah, isolasi wilayah, hingga akar kerusakan ekologis. Bagaimana publik menanggapi fenomena ini? By DE (@ismailfahmi)

Indonesia
51
2.2K
3.5K
255.8K
farus becomes far without us đã retweet
Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti@susipudjiastuti·
Saya yg bodoh tidak berpendidikan jadi dong dan mengerti setelah dapat share dr kawan : hitungan Alumni ITB jur matematik menganalisa kenapa terjadi banjir di Sumatra..👇
Indonesia
423
14.5K
31.5K
882.5K
farus becomes far without us đã retweet
Robert Martin 🇵🇸
Robert Martin 🇵🇸@Robert_Martin72·
Israelis are cowards. Israel has a long history of using mista’arvim — undercover Israeli officers who dress as Palestinians — to infiltrate crowds, provoke unrest, and carry out arrests. These officers often disguise themselves with Palestinian clothing, keffiyehs, and civilian outfits. During protests, they have been documented throwing stones or objects to make it appear as if Palestinians initiated violence, giving Israeli forces a pretext to attack the crowd. Once chaos starts, the undercover units suddenly pull weapons, swarm specific targets — often children or young men — and hand them over to uniformed police or soldiers. This tactic has been recorded countless times in the Occupied West Bank, Jerusalem, and inside the “Green”Line.
Robert Martin 🇵🇸 tweet media
English
263
1.9K
2.9K
39.3K