fillainart@fillainart
Setiap kali ngebahas Si Doel Anak Sekolahan, wacana seringkali mentok di perdebatan "mendingan Sarah atau Zaenab?"
Padahal, kalau kita mau menelisik lebih dalam, sinetron ini adalah salah satu arsip kritik sosiologis yg oke di era Orde Baru soal omong kosongnya meritokrasi pendidikan.
Sinetron ini merekam dengan jelas patah hatinya kelas pekerja Jakarta yang dibohongi oleh janji manis bahwa "sekolah tinggi adalah tiket pasti buat naik kelas sosial."
Coba kita ingat-ingat core ceritanya.
Babe Sabeni rela jual tanah dan narik oplet siang-malam cuma demi satu utopia: bikin Doel jadi "insinyur". Orde Baru saat itu memang gencar mempropagandakan pembangunan dan pendidikan. Tapi begitu Doel lulus dan dapat ijazah, apa yg terjadi? Realitas menamparnya habis-habisan. Bertahun-tahun Doel luntang-lantung masuk-keluar gedung bertingkat di Sudirman pakai kemeja kegedean, cuma buat ngetes ombak pahitnya bursa kerja.
Kalau meminjam konsep sosiologi dari Bourdieu, ijazah Doel (Modal Kultural) itu ternyata gak ada artinya karena dia miskin Modal Sosial (networking/orang dalam).
Doel punya otak, tapi dia nggak punya privilege yg cuma dimiliki kelas menengah ke atas kayak keluarganya Sarah.
Sinetron ini dengan jujur mengungkap fakta bahwa di sistem kapitalisme yg korup, ijazah sarjana kalah telak sama yg namanya "titipan koneksi".
Yg bikin sinetron ini masterpiece adalah bagaimana mereka mengemas keputusasaan struktural itu lewat elemen komedi yg satir banget.
Ingat scene legendaris pas Atun kejepit tanjidor? Atau gimana apesnya Mandra yg selalu diomelin Babe karena narik opletnya sepi penumpang?
Di permukaan itu emang kocak. Tapi kalau ditarik lebih jauh, komedi Mandra dan Atun itu adalah potret kepanikan kelas bawah yg tergagap dipaksa masuk ke mesin modernisasi.
Tanjidor yg menjepit perut Atun itu alegori yg pas buat menggambarkan kebudayaan lokal yg makin sesak dan terhimpit di tengah Jakarta yg berubah jadi hutan beton.
Sementara itu, Mandra adalah representasi ketidakberdayaan. Dia cuma tamatan SD, narik oplet butut yg pelan-pelan rutenya digilas sama angkot dan mikrolet moderen. Dia adalah korban pergeseran zaman yg gak punya jaring pengaman (ijazah/modal).
Ironisnya, saat Doel si sarjana teknik pengangguran bingung nyari kerjaan formal, satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarga Sabeni yg paling nyata justru ada di tarikan oplet reyot Mandra dan warung kecil Maknyak.
Jadi, kalau hari ini Gen Z banyak yg mengeluh soal fenomena loker fiktif, gila-gilaan syarat kerja, atau capeknya bersaing sama anak pejabat lewat jalur ordal, sebenarnya Si Doel udah meramalkan penderitaan struktural itu sejak 30 tahun yg lalu.
Sinetron ini boleh saja dilihat sekadar dari drama cinta segitiga, tapi di layer selanjutnya ini adalah tragedi sebuah keluarga yg percaya pada sistem, namun akhirnya dikhianati oleh sistem itu sendiri.