
Pungs
293 posts

Pungs
@offside15_
quietly watching. football over feelings. trust no system. “Watching Barcelona Femení isn’t just football it feels like witnessing art come alive on the pitch”













Rina Nose & Sara Wijayanto curhat kena mental abis menjalani operasi hidung, Sara bilang, "Aku kena mental tahu." Rina pun mengakui merasakan hal yang sama. Rina nyahut, "Sama, itu aku cari, ternyata istilahnya dia post-op blues (depresi pasca operasi), kayak baby blues ibu-ibu yang melahirkan, ada baby blues, di ini namanya post-op blues, itu yang tidak pernah dibahas oleh orang2 yang melakukan operasi." Sara cerita kalau dia ngerasa jelek banget abis operasi, padahal baru seminggu berlalu, "Berarti sama, aku setiap hari kan lagi bengkak nih, baru seminggu operasi. Ya bengkaklah. Tiap hari aku foto dari bawah. Heee jelek banget. Terus sudah gitu dokter dokter di sana ngasih obatnya tuh banyak banget. Nah salah satunya itu sebenarnya untuk penenang. Cuman aku tak minum."



Sebagai debut penyutradaraan Reza Rahadian, Pangku (2025) justru terasa mengkhianati judulnya sendiri. Alih-alih dieksplorasi secara mendalam, fenomena kopi pangku di pesisir pantai utara ini malah sekadar numpang lewat sebagai gimmick belaka. Memang sinematografi film ini patut diapresiasi karena berhasil menahan diri untuk tidak meseksualisasi para perempuan pekerja seks. Namun, kehati-hatian visual ini tidak dibarengi dengan keberpihakan wacana. Melalui narasinya, Pangku justru menyiratkan sebuah pandangan yang cukup problematis, bahwa pekerja seks yang “baik” hanyalah mereka yang terpaksa dan sebenarnya menolak profesi tersebut. Padahal pekerja seks, apapun alasannya, merupakan posisi yang rentan. Lalu, jika tujuannya memang ingin memotret kemalangan perempuan hamil, sendirian, dan tidak punya tujuan sebagai korban kemiskinan struktural akibat jerat kapitalisme dan patriarki, rasanya tidak perlu menempelkan unsur seksualitas pada plot apalagi judulnya. Terlebih ketika kopi pangku ini dilucuti sama sekali, kerangka cerita utamanya sebetulnya tidak akan banyak berubah. Penceritaannya juga seakan terjebak pada sekadar pin-pointing fenomena dan berhenti di titik itu saja. Film ini hanya menampilan bagaimana Sartika (Claresta Taufan) menghadapi keadaan sulit, dan kemampuannya untuk sekadar survive sudah cukup dianggap sebagai sebuah pencapaian akhir. Pertanyaan besarnya adalah, untuk siapa sebenarnya film ini ditujukan? Jika sasarannya adalah masyarakat akar rumput, realita kemiskinan sudah terlampau lekat dengan kehidupan sehari-hari mereka, tinggal tengok kiri atau kanan sudah ketemu. Atau mungkin Pangku memang diproduksi dari dan untuk kacamata kalangan elitis? Di mana penderitaan kelas bawah cukup disajikan di panggung sebagai tontonan bertegangan, namun hampa resistensi?

























