Pic[k]lock Films 已转推

Sampai Nanti Hanna: 10/10.
Film FAVORIT saya di akhir tahun yang ngebuat 😳😳😳. (SPOILER ALERT)
Sampai Nanti Hanna, film yang diproduksi oleh Picklock Films, studio yang sebelumnya memproduksi Guru Bangsa Tjokroaminoto, salah satu film favorit Indonesia saya berhasil ngebuat film keren lagi.
Film ini ngehighlight isu sosial yang relevan, seperti verbal abuse dan toxic relationship.
Namun, menurut saya, fokus utama dari film Sampai Nanti Hanna bukanlah pada dua isu tersebut. Film ini lebih menyoroti bagaimana standar heteronormatif yang sangat patriarkal dapat merusak kehidupan perempuan dan laki-laki, sehingga mereka terjebak dalam hubungan yang toksik.
Dengan latar tahun 1990-an, konteks sosial dan budaya yang diangkat erat kaitannya dengan masa pemerintahan Orde Baru.
Film ini juga menyoroti ekspektasi sosial terhadap perempuan, misalnya bahwa perempuan harus selalu tampil cantik untuk menarik perhatian laki-laki kaya. Cerita dimulai dengan perkenalan karakter Hanna dan Gani yang berkenalan melalui Majalah Gugat. Karakter Hanna digambarkan sebagai perempuan yang tidak feminin, cenderung tomboy dibandingkan kakak-kakaknya yang memenuhi standar kecantikan heteronormatif. Karena ini, Ibu Hanna menaruh rasa khawatir kalau Hanna tidak akan mendapatkan jodoh ke depannya.
Film ini mengajak kita untuk memikirkan ulang peran gender dalam masyarakat, seperti peran laki-laki sebagai penyedia (provider) dan betapa sulitnya perempuan untuk mengambil keputusan secara independen.
Ada karakter Gani yang digambarkan sebagai anak muda good-looking yang cerdas dan bertanggungjawab. Namun, lahir dari keluarga kelas menengah yang hidup di kos-kosan. Menariknya lagi, Gani memiliki karakter yang tidak maskulin seperti tidak berani mengungkapkan perasaannya dan gampang menangis karena perasaannya.
Kemudian, ada karakter Arya, sosok yang memiliki semua kriteria "pasangan idaman" seperti berbadan tegap, lebih tinggi dari Gani, dan "provider material" karena keluarganya berada.
Dinamika hubungan Hanna dan Arya awalnya tidak terlalu baik karena Hanna kurang menunjukkan ketertarikan pada Arya. Namun semuanya berubah ketika Hanna menghadapi masalah akademik dan Arya membantu Hanna menulis skripsinya hingga menyediakan printer di rumah Hanna, yang menyebabkan ibunya Hanna yang matre menyukai Arya.
Perilaku Hanna ke Arya juga semakin berubah setelah temannya menceritakan bahwa Arya menyumbangkan banyak buku berbahasa asing dan tinggal di rumah paling mewah di kawasan Dago Atas.
Hanna yang awalnya menolak nilai-nilai patriarki perlahan menginternalisasi nilai-nilai tersebut, hingga akhirnya ia memanfaatkannya untuk mendapatkan "beasiswa dari keluarga Arya". Hal ini mencerminkan bagaimana standar patriarki dapat mengaburkan perspektif seseorang dalam memilih pasangan hidup.
Karena internalisasi nilai-nilai tersebut, hidup Hanna merana karena ia terperangkap atas sinyal-sinyal kualitas diri yang salah (false signals) yang berakar dari budaya patriarki. Karena Arya memenuhi peran sebagai provider yang dianggap ideal—memberi dukungan akademik dan finansial—Hanna salah mengira bahwa keputusannya menikahi Arya adalah pilihan terbaik. Namun, kenyataannya, hubungan tersebut tidak setara dan hanya membuat Hanna begitu bergantung pada Arya.
Selain itu, dinamika toxic relationship juga disorot dari hubungan Gani dan Saras yang memutuskan untuk menikah, walaupun sedari awal Saras sudah menunjukkan signal toxic seperti saat Saras memasuki ruang pribadi Gani tanpa izin, posesif, dan selalu curiga dengan Gani.
Film ini mengajak kita merefleksikan bagaimana nilai-nilai patriarki dapat menciptakan dan memperkuat hubungan yang tidak sehat, serta mendorong penonton untuk mempertanyakan kembali peran gender dalam kehidupan sehari-hari.
Secara cinematography dan scoring film ini juga sangat bagus!!
Worth a watch!!


Indonesia
![Pic[k]lock Films](https://pbs.twimg.com/profile_images/1723541370131054592/AlH4p0cb.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeQH0ZXaAAANrA2.jpg)






![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeMhPH5bEAAwUEb.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeL07fMaIAAWx0U.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeL07fNaMAAD3gI.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeL07fLacAAsjVI.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeL07fKbwAAnMpe.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeKxcjKakAAKchJ.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeKxcjJakAE0og0.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeHQi5NakAQpEnx.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeHQi5MbIAAjvur.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeHQi5NakAEpxVI.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeHQi5RbAAENHaT.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeGrC-5akAEag6Z.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeF8bpIaQAA1C0I.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeF7pUDakAIMe0Y.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeCF0P2bwAAQp2f.jpg)
![Pic[k]lock Films tweet media](https://pbs.twimg.com/media/GeCEL0Ua0AA1CNj.jpg)
