Vimada Miranka

3.5K posts

Vimada Miranka

Vimada Miranka

@jamesostec

Beigetreten Mayıs 2012
4.9K Folgt188 Follower
Reza
Reza@rezatalks·
@caragampang Keberuntungan ialah ketika kesiapan bertemu dengan kesempatan.
Indonesia
3
11
156
15.9K
#CaraGampang
#CaraGampang@caragampang·
Di kantor lama, gw punya teman gajinya hampir Rp150 juta/bulan. Posisinya HSSE Engineer di perusahaan Oil & Gas raksasa di Qatar. Tapi yang bikin gw merinding bukan angka gajinya, melainkan sejarahnya. Dia mengawali karirnya dari seorang supir operasional dengan gaji cuma Rp4,5 juta/bulan.
Indonesia
52
200
2.1K
196.2K
Buck
Buck@padangbelulang·
@LeoOffi67 @itstime4changed Gaji kecil …. Resign Gak dapet tpp…. Resign Lingkungan toxic dan korup….. Resign Stigma di masyarakat buruk…. Resign
Indonesia
1
0
0
85
lifestylgazette
lifestylgazette@lifestylgazette·
@PasutriCadaran Actually people like your wife are likely to have such fantasy more than others. Because it’s restricted by religious beliefs she can’t say it but nurture inside. My suggestion to you if you don’t mind keep telling her by small implies, over & over again. Greetings from Turkey✌️
English
2
0
2
283
Vimada Miranka
Vimada Miranka@jamesostec·
@masterlopin @geschietans Soekarno memanfaatkan Romusha untuk berkuasa. Dalam sebuah jurnal Soekarno dan pendiri bangsa lain memang sengaja bekerjasama dengan Jepang karna melihat ada badan pergerakan yang bisa dimanfaatkan demi tujuan kemerdekaan Dimana hal ini tidak didapatkan saat Belanda berkuasa 🤷
Indonesia
0
0
0
279
Master Lopin
Master Lopin@masterlopin·
Sumpah, itu adalah momen high-level pencerahan yang biasanya baru "klik" pas kita makin dewasa dan ngelihat gimana cancel culture atau penghakiman netizen bekerja sekarang. Dosen lo dulu beneran lagi ngasih janji penenang biar otak kita nggak gampang meledak pas baca catatan sejarah yang isinya kadang di luar nalar. Secara terstruktur, kenapa "Anakronisme" (salah menempatkan waktu/standar) itu dilarang keras dalam sejarah: Standar Moral yang Bergeser: Kalau kita pakai lensa 2026 buat nge- judge orang di tahun 1700-an, ya semuanya bakal kelihatan savage dan jahat banget. Zaman dulu, hal-hal yang sekarang kita anggap "kriminal" atau "nggak manusiawi" itu mungkin dianggap sebagai norma atau strategi bertahan hidup yang full battery normal. Konteks Adalah Kunci: Orang zaman dulu bertindak berdasarkan informasi, teknologi, dan tekanan sosial yang ada di zamannya. Menghakimi mereka pake standar etika modern itu ibarat lo marah-marah kenapa orang zaman Majapahit nggak jualan batu akik lewat live TikTok. Ya emang belum ada dunianya! Bias Pemenang: Kita sekarang punya "hak istimewa" buat tahu hasil akhir dari sebuah peristiwa sejarah. Sedangkan mereka yang ngalamin langsung itu lagi ada di tengah silent chaos, nggak tahu besok bakal hidup atau mati. Menghakimi ketakutan atau keputusan mereka dari kursi empuk masa kini itu beneran high-level nggak adilnya. Janji Penenang: Belajar sejarah itu bukan buat cari siapa yang paling "suci" atau paling "berdosa", tapi buat paham gimana proses manusia bisa sampai ke titik sekarang. Kalau kita terus-terusan pakai lensa masa kini, kita bakal log out dari esensi pembelajaran yang sebenarnya karena fokus kita cuma buat marah-marah sama masa lalu. Mati kita kalau semua patung atau nama jalan mau dihapus cuma karena tokohnya nggak sesuai sama standar moral kita yang tiap tahun juga berubah-ubah. Btw, peristiwa atau tokoh sejarah apa sih yang akhirnya bikin lo "klik" dan mikir, "Oalah, ini toh maksud omongan dosen gue dulu"? Apakah soal perang, sistem pemerintahan, atau mungkin soal tradisi kuno yang ekstrem? 🚀🔥📜
Indonesia
1
18
208
11.4K
ayayay
ayayay@geschietans·
pas kuliah sering banget dosen ngomong "jangan sampai melihat peristiwa sejarah pakai lensa dan standar masa kini" dulu mah saking seringnya denger, sampe mikir siapa juga yang gitu buset. sekarang baru agak paham kenapa itu diulang-ulang terus.
Indonesia
34
1.9K
14.7K
281K
Sumatera Adil & Federal
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera·
Negara ini dipaksakan menjadi kesatuan yang absrud. Dengan luas wilayah yang begitu raksasa, kemajemukan suku, budaya, sejarah, dan karakter daerah yang sangat berbeda, seharusnya kita menganut sistem federal bukan kesatuan absurd, yang hanya menguntungkan pulau jawa Sudah terlalu lama daerah-daerah di luar Jawa diperas habis-habisan untuk membiayai pembangunan Jawa. Sumber daya alam, pajak, terus disedot, tapi hasilnya dinikmati mayoritas di pulau lain. Sekarang sudah waktunya berhenti. Daerah berhak menikmati kekayaan dan hasil jerih payahnya sendiri. Kalau Jakarta terus memaksa model kesatuan ini, artinya mereka tidak ingin Indonesia maju secara adil mereka hanya ingin Indonesia tetap jadi sapi perah bagi Jawa.
Sumatera Adil & Federal tweet media
Indonesia
56
47
206
9.8K
Vimada Miranka
Vimada Miranka@jamesostec·
@endex39 @indepenSumatera 1.Kemungkinan di Medan 2.Sistem federasi (kalo perlu kesultanan Aceh dan Siak diaktifkan kembali) 3.Bahasa Indonesia 4.Sumatra mayoritas Islam yang jadi kendala adalah meyakinkan negosiasi dengan sodara kita Batak Nias Mentawai dll 5.mungkin bisa dibarter antar daerah
Indonesia
0
0
0
26
Mocking Eagle
Mocking Eagle@endex39·
@indepenSumatera (Disclaimer) Saya orang Sumatera. Min, saya mau tanya sama anda Min... kalau Sumatera merdeka, maka : 1. Ibukotanya dimana? 2. Sistem pemerintahannya apa? 3. Bahasa Nasionalnya apa? 4. Perlakuan kepada SARA nya yang bhinneka bagimana ? 5. Perlakuan terhadap SDAnya gimana?
Indonesia
1
0
0
128
Vimada Miranka
Vimada Miranka@jamesostec·
@pajakocak @team_jungpal @mhuseinali Pilihannya ada banyak... Contohnya kita baku hantam berdarah darah kek Konfederasi Amerika Bolshevik Russia atau Kuomintang Cina Tapi ya itu.. mayoritas dari kita sangat trauma dan takut akan terjadinya disintegrasi perpecahan perang saudara 🤷🤷
Indonesia
0
0
0
19
Vimada Miranka retweetet
Ali 👊🏻
Ali 👊🏻@mhuseinali·
Diceritain seorang C-Level soal uniknya orang Indonesia. Beliau suka becanda. Misal ketika team izin ke toilet dia becandain dengan jawab “no you cannot”. Kolega India 🇮🇳 jawab “hahaha funny”, lanjut ke toilet. Kolega Spanyol 🇪🇸 jawab “no thanks”, lanjut ke toilet. Kolega Indo 🇮🇩 engga jawab apa-apa. Diem dan beneran gajadi ke toilet. Lalu canggung satu ruangan sampe bilang “Im joking, ofcourse you can” Yang bikin dia culture shock adalah betapa tingginya tingkat obedience orang Indonesia. Seakan consent di sini tuh manufactured through power relations. Padahal orang Indonesia itu cemerlang dan kinerjanya luar biasa, tapi begitu atasan bilang X meskipun itu gak sesuai prinsip atau pemahaman, mereka akan tetap taat. Kenapa ya dan gimana cara kita unlearn karakter ini?
Indonesia
523
3.6K
25.5K
1.2M
Vimada Miranka
Vimada Miranka@jamesostec·
@MiskinTV_ @0tk0il Kok malah mirip sobat margasatwa batack ya.. Asalnya dari Sibolga Tarutung Balige Sidempuan Pematang Siantar tapi ngakunya dari Medan 🤣🤣
Indonesia
0
0
0
80
SobatMiskinTV
SobatMiskinTV@MiskinTV_·
Berikan opinimu tentang 'LC' yang membuatmu berada di posisi seperti ini. Gw mulai ya: Kebanyakan LC ngaku dari Bandung padahal mah dari Subang, Indramayu, Sukabumi, dan sekitarnya. Tato LC kebanyakan jelek @0tk0il
SobatMiskinTV tweet media
Indonesia
346
204
2.2K
8.2M
🕸
🕸@itstime4changed·
pns pns pada ngomong, 12-13 tahun jadi pns baru kali ini gaji 13 dikaji. udah mulai pada sadar kan. tapi tar 2028 2029 gapok naik seuprit 100-200k dipilih lagi orang yg sama. cape deh 😂
Indonesia
71
873
3K
163.5K
Vimada Miranka
Vimada Miranka@jamesostec·
@malinghati12 @karirfess Dimana iri nya..? Dimana dengkinya..? Si mbak jilbab item itu emangnya elu..? makanya jangan suka suudzon nuduh sembarangan 🥱🥱 lagian siapa juga yang milih 02 🤦🤦
Indonesia
0
0
0
6
malingwoy12
malingwoy12@malinghati12·
@jamesostec @karirfess lah mana nuduhnya? 🤣 lah mana pamernya?🤣 dasar tolol 🤣 bukan gw yang lu komentarin??? selama ini lu komen dimana tolol🤣 makanya gak usah sok ikut campur urusan orang 🥱🥱 tipikal voter 02 nih, tololnya kebangetan 🤣🤣
Indonesia
1
0
0
12
Kr
Kr@karirfess·
kenapa selalu sama ya? template cara pamernya di sisi lain, kalo udah kaya bukannya malah hidup private ya🙂🫵
Indonesia
313
131
1.2K
1.7M
Vimada Miranka
Vimada Miranka@jamesostec·
@yuyakopss @neohistoria_id Sedang menunggu ajaran Abrahamic (Islam kristen yahudi) baku hantam dengan ajaran Hindu Buddha Konghucu Zoro aster dll 🤣🤭
Indonesia
0
0
0
249
YUYA KOPSS
YUYA KOPSS@yuyakopss·
@neohistoria_id Tanpa manipulasi konflik horizontal pun, Queerphobia tetep bakalan ada.. krn udah jelas di kitab suci agama" Abrahamik sepakat kalau Tuhan tidak bisa nerima Queer dan segala jenisnya. Jgn membuat Kristen dan Islam phobia dalam satu kategoria dgn Queerphobia.
Indonesia
3
1
15
1.3K
Vimada Miranka retweetet
neohistoria Indonesia
neohistoria Indonesia@neohistoria_id·
Jika kita membedah Sejarah dengan pisau analisis struktural, kita akan menemukan bahwa Islamofobia, Queerfobia, dan bahkan Kristenofobia adalah cipta kondisi sosial yang sengaja dipelihara. Kapan kita sadar tentang hal ini? Ketiganya merupakan gejala dari penyakit yang sama: sebuah sistem imperialis dan kapitalis yang sangat bergantung pada konflik horizontal agar sistem tersebut tetap bertahan. Imperialis Eropa tidak menaklukkan dunia hanya dengan kekuatan senjata; mereka menaklukkannya dengan memanipulasi identitas. Untuk mengontrol populasi yang jauh lebih besar dari mereka, kaum imperialis memetakan, mengkategorikan, dan menciptakan hierarki di antara penduduk lokal. Mereka memberikan hak istimewa kepada satu kelompok agama atau etnis, sambil merampas hak kelompok lain. Ketika kemerdekaan diraih, batas-batas negara sering kali digambar sembarangan oleh mantan penjajah, meninggalkan bom waktu berupa konflik etnis dan agama, seperti di India dan Pakistan, bahkan penjajahan Israel di Palestina. Luka sejarah ini kemudian diwariskan. Konflik agama tak lebih merupakan warisan dari strategi pecah-belah ini. Alih-alih menyadari bahwa sumber penderitaan mereka adalah struktur ekonomi pascakolonial yang menindas, masyarakat diakar-rumput dimanipulasi untuk melihat tetangga mereka yang berbeda agama sebagai ancaman. Kapitalisme membutuhkan kelas pekerja yang terpecah belah. Jika seluruh masyarakat kelas pekerja (apapun agama, ras, dan orientasi seksualnya) menyadari bahwa mereka memiliki kepentingan ekonomi yang sama, seperti upah yang layak, perumahan, akses kesehatan, mereka akan bersatu dan "meninju ke atas" (punching up) ke arah segelintir elit yang menguasai kekayaan. Islamofobia: Sejak era Perang Dingin berakhir dan berganti dengan narasi War on Terror, Islamofobia diproduksi secara massal oleh kompleks militer-industri. Ketakutan terhadap Islam digunakan untuk melegitimasi invasi imperialis demi penguasaan sumber daya dan membenarkan anggaran militer triliunan dolar untuk melindungi kepentingan nasional. Di tingkat domestik, pekerja kerah biru di negara Barat dibuat percaya bahwa imigran Muslim-lah yang "mencuri pekerjaan mereka," bukan korporasi yang memindahkan pabrik untuk mencari buruh murah. Queerfobia: Kapitalisme sangat bergantung pada struktur keluarga inti tradisional (heteronormatif) sebagai unit ekonomi dasar untuk mereproduksi tenaga kerja baru (anak-anak/buruh masa depan) dan membebankan kerja-kerja perawatan yang tidak dibayar (mengurus anak, memasak) kepada perempuan. Eksistensi kelompok queer dianggap mengancam efisiensi jalur perakitan ini. Selain itu, politisi sayap kanan sering kali memicu kepanikan moral terkait isu LGBTQ+ murni untuk mendistraksi pemilih dari kegagalan pemerintah dalam menyediakan jaring pengaman sosial. Kristenofobia: Di beberapa wilayah non-Barat, minoritas Kristen sering kali dijadikan kambing hitam oleh elit lokal (oligarki) yang gagal menyejahterakan rakyatnya. Di sisi lain, di negara-negara Barat mayoritas Kristen, politisi populis sering menciptakan narasi palsu bahwa "Kekristenan sedang diserang" agar kelas pekerja kulit putih yang miskin tetap mendukung kebijakan pro-miliarder, demi "mempertahankan nilai-nilai agama." Ketika seorang pekerja yang kesulitan membayar tagihan listriknya diajarkan untuk membenci tetangganya yang seorang gay, atau ketika seorang penganut agama tertentu diajarkan untuk mencurigai imigran yang berbeda keyakinan, energi perlawanan mereka tersedot habis. Inilah yang disebut sebagai konflik horizontal atau punching sideways. Masyarakat terlalu sibuk berdebat tentang siapa yang berhak menggunakan toilet umum atau membangun tempat ibadah, sementara para CEO korporasi besar terus menghindari pajak dan memotong hak-hak buruh. Media massa yang dikuasai konglomerat dan algoritma media sosial meraup keuntungan (engagement) tertinggi dari kemarahan dan polarisasi. Sentimen kebencian adalah komoditas yang sangat menguntungkan. Sejarah mengajarkan kita satu hal yang pasti: elitisme dan kapitalisme paling takut pada solidaritas. Selama Islamofobia, queerfobia, dan Kristenofobia dilihat sebagai "masalah moral" atau "benturan peradaban"—dan bukan sebagai alat kendali politik-ekonomi—status quo akan tetap aman. Sebagai masyarakat, kita harus mulai mengenali siapa yang sebenarnya menuai keuntungan secara materiel ketika orang-orang di kelas bawah saling menghancurkan. Cui bono? Pembebasan sejati tidak akan terjadi dengan menindas sesama kelompok yang terpinggirkan, melainkan dengan mengarahkan kemarahan kolektif kita ke atas, membongkar sistem yang sengaja memecah belah kita sejak awal. Referensi: D'Emilio, J., 'Capitalism and Gay Identity', dalam A. Snitow, C. Stansell, dan S. Thompson (eds.), Powers of Desire: The Politics of Sexuality, New York, Monthly Review Press, 1983. Federici, S., Caliban and the Witch: Women, the Body and Primitive Accumulation, New York, Autonomedia, 2004. Harvey, D., A Brief History of Neoliberalism, Oxford, Oxford University Press, 2005. Herman, E. S., dan Chomsky, N., Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media, New York, Pantheon Books, 1988. Kumar, D., Islamophobia and the Politics of Empire, Chicago, Haymarket Books, 2012. Mamdani, M., Define and Rule: Native as Political Identity, Cambridge, MA, Harvard University Press, 2012. Said, E. W., Orientalism, New York, Pantheon Books, 1978.
neohistoria Indonesia tweet media
🍉iwin🍉@niwseir

Ini bukan islamophobia tapi minoritas-phobia. Negara ini melanggengkannya dengan peraturan bersama 2 menteri dalam negeri dan agama. Peraturan ini membuat pendirian rumah ibadah/kegiatan ibadah wajib mendapatkan izin dari warga mayoritas. Kartu mati untuk minoritas jenis apapun.

Indonesia
31
438
1.6K
41.9K
Karina
Karina@KarinaShen54587·
@badpaniki @neohistoria_id Dalam konteks post neohistoria ya sangat tidak nyambung. Seolah narasi islamofobia itu manufaktur modern. Kristenfobia itu fenomena yang baru ada di masa modern
Indonesia
1
0
3
461
Vimada Miranka retweetet
Ana Kasparian
Ana Kasparian@AnaKasparian·
Loving your country should never be synonymous with loving your government.
English
1.9K
33.8K
141.4K
2.2M
Vimada Miranka
Vimada Miranka@jamesostec·
@malinghati12 @karirfess Lu aja nuduh orang iri dan dengki, Dari situ aja udah keliatan isi hati lu 🤣 kalo gamau dikomentarin gausah pamerlah lagian bukan elu juga yang dikomentari Napa elu yang sewot 🥱🥱
Indonesia
1
0
0
21
malingwoy12
malingwoy12@malinghati12·
@jamesostec @karirfess lu aja nuduh orang pamer dan haus validasi, dari ketikan lu aja udah keliatan isi hati lu 🤣 duit dia ya biarin lah, ngapain lu yang repot 🤣 keliatan kan goblok dan tololnya lu 🥱🥱
Indonesia
1
0
0
14