Tamskick
21.7K posts


Salomon
Sekitar 3 tahun lalu, saat jalan-jalan di Wengen, Swiss, saya perhatikan hampir semua orang, dari pendaki muda sampai nenek-nenek, memakai sepatu yang sama: Salomon.
Waktu itu saya hanya kagum dari jauh. Desainnya garang, sol-nya tebal dan bergigi seperti ban off-road, tali cepatnya unik tanpa harus diikat. Di kaki orang-orang Swiss yang santai berjalan di lereng Alpen, sepatu itu terlihat seperti memang dilahirkan untuk pegunungan.
Wajar saja, Salomon memang lahir di Alpen. Didirikan tahun 1947 di Annecy, kota kecil di kaki Pegunungan Alpen Prancis, oleh keluarga Salomon yang awalnya membuat mata gergaji dan pinggiran ski di bengkel kecil. Dari ski binding, mereka merambah ke sepatu hiking (1992), trail running, dan akhirnya melahirkan model ikonik seperti XT-6 dan Speedcross yang kini jadi rebutan. Di Swiss, Salomon bukan tren — itu standar.
Seperti jam Swiss atau pisau Victorinox, Salomon sudah jadi bagian dari DNA kehidupan outdoor Alpen.
Pulang ke Indonesia, tiba-tiba Salomon ada di mana-mana.
Di kaki anak-anak muda Jaksel yang nongkrong di coffee shop, di feed Instagram, di TikTok. Concept store resmi sudah dibuka di Grand Indonesia, Jakarta. Model XT-6 yang dulu saya lihat di kaki pendaki Wengen, sekarang dipakai dengan celana cargo dan oversized tee di Blok M.
Harganya Rp 3-4 jutaan, dan sering sold out. Fenomena ini sebenarnya bukan hanya Indonesia, secara global, Salomon meledak berkat tren gorpcore (gaya fashion yang mengadopsi estetika outdoor) yang dimulai sekitar 2023, didorong selebriti seperti Bella Hadid dan Hailey Bieber yang tertangkap kamera memakai Salomon di jalanan kota.
Tapi buat saya yang sudah melihatnya langsung di habitat aslinya, di lereng salju Swiss, di kaki orang-orang yang benar-benar butuh grip di bebatuan basah dan jalur es, Salomon bukan sekadar sepatu gaya.
Ini adalah sepatu yang didesain untuk menyelamatkan langkah Anda di pegunungan, dan kebetulan juga terlihat keren di kota. Kalau mau beli, saran saya: pakailah untuk mendaki sungguhan setidaknya sekali. Baru Anda akan paham kenapa orang Swiss tidak pernah melepasnya. 🏔️👟🇨🇭
Indonesia
Tamskick retuiteado

@fikriizza Kasian panitianya, hari senin langsung UTS di jatinangor
Indonesia
Tamskick retuiteado
Tamskick retuiteado

PECAH BANGETTT JNB 2025
Seneng ketemu temen2 lagi, 3 hari full wisata suara 🥲
Sampai ketemu di JNB 2026!!
KUNTARI@teslamanaf
LEBARAN NOIZZZZZZ!!! Sampai ketemu di Jogjaaa~
Indonesia
![Arobz [Miqdam] #311™](https://pbs.twimg.com/profile_images/1931553583985754112/YErty9Ej.jpg)













