Shea Kilala🐾

7.4K posts

Shea Kilala🐾 banner
Shea Kilala🐾

Shea Kilala🐾

@KilalaShea

A lost cat from Kilaranatium that will mostly active on twitch now☺ ID|EN|JP Fanart: #SheKilaArts Collab? Just DM me Yoroshikunee~

Bergabung Ağustos 2021
461 Mengikuti541 Pengikut
Tweet Disematkan
Shea Kilala🐾
Shea Kilala🐾@KilalaShea·
Heeyaaa sheahabat udah lama gk ada update apa" Shea baru ngide aja sih stream di twitch gitu tapi ya masih asing jg sembari belajar di berbagai platform gitu hehe Berikut linknya ya^^ Link: twitch.tv/sheakilala
Indonesia
3
2
12
2K
Sei ryo
Sei ryo@RabbaniSeiryo·
@KilalaShea akhirnya nge post yg bukan genre onoh🥹🫣
Indonesia
1
0
0
8
Shea Kilala🐾
Shea Kilala🐾@KilalaShea·
Salah 1 manhwa hetero yg ku pantau dari chapter 1 sampe skrng🤧 Napa yg chara MLnya ladang hijau trs FL yang penuh berjuang harus ending yg begini🥹😭
Shea Kilala🐾 tweet mediaShea Kilala🐾 tweet mediaShea Kilala🐾 tweet media
Indonesia
1
0
1
95
Shea Kilala🐾 me-retweet
Airi Cordelia 🐠🌊
Airi Cordelia 🐠🌊@AiriCordelia·
"apa sih bedanya si tierlist itu sama fans yang buat art NSFW" fanart, walaupun NSFW itu tetep termasuk membuat derivative works / karya turunan (ada juga kok yang minta hapus gambar nsfw karena ga nyaman, atau membuat rules yang melarang) tierlist entat entot itu bukan karya
Indonesia
16
365
2.5K
38.2K
Shea Kilala🐾 me-retweet
Kalanara Mahardika 🎬✨
Kalanara Mahardika 🎬✨@KalanaraDika·
Doujin vs Tier List: Kenapa Kamu Harus Punya Common Sense dan Consent Gara-gara drama tier list tak senonoh kemarin, diskusinya malah melebar ke mana-mana. Banyak yang mulai bawa-bawa doujin dan fan art dewasa sebagai tameng pembelaan, seolah-olah aktivitas komunitas itu setara dengan apa yang Dera lakukan. "Lho, di internet banyak konten NSFW VTuber, kenapa giliran Dera bikin tier list kayak gini kalian marah?" Kedengarannya seperti pertanyaan yang make sense, tapi justru itu menunjukkan kalau kalian sama sekali gak ada niat untuk mempelajari skena ini. Sebagai VTuber sekaligus sutradara, aku tahu persis kalau kreativitas tanpa framework bisa jadi pisau bermata dua. Untungnya di skena ini, framework itu sudah jadi aturan umum yang dipahami bersama. Fan art, fanfic, meme, video tribute, sampai doujin NSFW, semuanya memang masuk dalam payung fan content. Tapi menyamaratakan semuanya adalah usaha manipulasi fakta yang malas karena masing-masing punya aturan main yang berbeda. Faktanya sederhana: enggak semua VTuber mengizinkan konten NSFW tentang dirinya. Kalaupun ada yang mengizinkan, tetap ada sistem yang harus dipatuhi. VTuber yang punya fanbase aktif biasanya menetapkan fan content guidelines berupa sistem hashtag berlapis. Ada hashtag umum yang aman semua umur, ada hashtag terpisah khusus untuk konten dewasa yang mereka izinkan, dengan aturan jelas bahwa konten dewasa enggak boleh muncul di bawah hashtag utama. Analoginya kayak bioskop dengan pintu masuk berbeda untuk film keluarga dan film dewasa, studionya dibedakan. Sistem itu dirancang supaya orang enggak bisa nyasar masuk ke studio yang salah. Yang dilakukan Dera kemarin adalah menjebol pintu itu dan menyajikan semuanya di lapangan terbuka tanpa filter untuk tontonan siapa saja. Parahnya, itu dilakukan di YouTube publik, sampai akhirnya YouTube memberikan strike dan takedown pada videonya. Yup, bukan Dera yang menghapus videonya sendiri. Di sana jelas tertulis pemberitahuan kalau video tersebut telah dihapus karena melanggar kebijakan YouTube tentang ketelanjangan atau konten seksual. Platform yang biasanya paling lamban soal moderasi pun sepakat konten itu tidak layak ada. Kalau seorang VTuber enggak pernah menetapkan hashtag NSFW atau secara eksplisit melarangnya, lalu ada orang yang nekat bikin konten seksual tentang mereka di live stream publik, dampaknya serius. Penonton umum yang enggak siap ikut terpapar. Orang yang baru pertama kali dengar nama VTuber itu akan kebentuk persepsinya dari sana, bukan dari konten aslinya. Penonton Dera yang menganggap ini wajar akan membawa perspektif itu ke komunitas lain. Dan siklus normalisasi itu berputar pelan-pelan, jauh setelah videonya sudah kena takedown sekalipun. Itu pembunuhan karakter yang konsekuensinya dirasakan oleh manusia nyata di balik avatar, bukan oleh gambar 2D-nya. Lalu kenapa doujin bisa beredar sedangkan konten si kreator kemarin diserang? Doujin yang dibuat dalam framework yang sudah diizinkan talent, menggunakan hashtag khusus, dan beredar di platform dengan sistem batasan umur, ada kerangka consent di sana. Memang tidak sempurna, tapi ada. Jelas berbeda secara fundamental dengan tindakan mengumpulkan identitas VTuber secara sepihak, memasukkannya ke kategori seksual tanpa izin, lalu menjadikannya bahan tontonan publik demi ragebait murahan yang berujung kena takedown. Yang satu menghormati batasan kreator. Yang satu sengaja melanggarnya sambil pura-pura itu kritik sosial. Pada akhirnya, isu ini adalah soal memahami batas. Komunitas kreatif bisa berjalan justru karena ada pemisahan yang jelas antara ruang publik dan ruang terbatas, antara ekspresi dan eksploitasi, serta antara imajinasi dan tindakan terhadap orang yang nyata. Consent adalah fondasi yang membuat sebuah komunitas tetap aman bagi kreator, penonton, maupun talent yang menjadi bagian di dalamnya.
sayalelah@hayokamusiapa13

@KalanaraDika gue ga ngebela si dera tapi kenapa kalian marah saat dera buat tierlist ini tapi ga marah sama sekali saat vtuber yang kalian tonton itu dibuat doujinnya? bukannya itu sama-sama pelecehan dan jatuhnya lebih parah lagi kalau dibuat doujin?

Indonesia
16
289
1K
51.2K
Shea Kilala🐾
Shea Kilala🐾@KilalaShea·
@kazhyxl Sayangnya pas pembagian otak, dia gk ikut ngantre Makanya gk bisa pikir buat lebih bijak🙃
Indonesia
0
0
1
25
cimol ˎˊ˗
cimol ˎˊ˗@kazhyxl·
@KilalaShea Indeed, he's grown ass man. harusnya bisa lebih bijak dalam bertindak
Indonesia
1
1
1
39
Yayamo Ishida.
Yayamo Ishida.@Haitani_ya·
@KilalaShea Dia kan caper biar viewers dia banyak. Makanya gitu. Kalau ga yah ga ada yang nonton dia. Kecuali fans dia ajja.
Indonesia
1
1
5
44
Shea Kilala🐾
Shea Kilala🐾@KilalaShea·
@RabbaniSeiryo Reallll Normies yg mau bljr sama punya otak aja sih yg boleh Kalo yg bikin rusuh kisruh mending jangan
Indonesia
0
0
1
39
Sei ryo
Sei ryo@RabbaniSeiryo·
@KilalaShea gaperlu bgt org normies ngurusin Komunitas vtuber, sumpah ga perlu
Indonesia
1
0
1
46
Shea Kilala🐾 me-retweet
VTUBER IDN
VTUBER IDN@vtuber_idn·
Vtuber bukanlah barang yang bisa di objektifikasi. Vtuber juga manusia, manusia biasa yang ingin menghibur banyak orang dengan karakter virtual. Buat temen temen vtuber, we stand with all of you ❤️
Indonesia
9
272
1.1K
10.9K
Shea Kilala🐾 me-retweet
Kalanara Mahardika 🎬✨
Kalanara Mahardika 🎬✨@KalanaraDika·
"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
Indonesia
120
468
2.3K
309.9K