Post

RJT↙️
RJT↙️@joglodejava·
"Om, buka usaha tanpa utang bank dan tanpa investor itu lucu," kata seseorang, lalu tertawa. Dia mencontohkan usahanya sendiri, yang baru setahun berjalan sudah buka beberapa outlet, tentu dengan utang bank. "Omset usahaku juga terus naik," pungkasnya. Saya tersenyum simpul. "Itu biasa. Modal masih banyak bikin usaha mudah naik, tapi tahun depan belum tentu begitu jika modal sudah habis," saya coba mengingatkan. Dia malah tertawa lagi. "Tahun depan aku sudah punya puluhan outlet, Om." "Oohh.." saya mengangguk. Sebenarnya saya suka semangatnya. Tapi sebagai teman saya wajib memberitahu beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Supaya dia waspada. "Hmm.. kalau terlalu ambisius begitu tahun depan kamu akan sibuk cari investor," kata saya. Maksud saya tahun depan dia akan butuh modal semakin besar sementara bank belum tentu mau menambah plafonnya. Dia mengangguk. "Rencanaku emang gitu, Om. Kata coach, aku memang harus bergerak cepat supaya tidak terjebak di level usaha kecil dan tidak bisa lagi berkembang." "Wuih.. ada coach-nya ternyata," celetuk saya. "Mahal pasti bayarannya." Saya yang awalnya mau memberi beberapa saran pun memilih mengurungkan niat. Dia tertawa lagi. "Kalau saya butuh nasehat profesional, tentu saja saya siap bayar mentor profesional. Tapi kalau saya butuh nasehat gratis, saya tinggal tanya ke Anda. Hahaha.." Saya spontan ikut tertawa. Joke itu, saya yakin, pasti juga dia dapat dari coach-nya itu. Itu percakapan 3 tahun lalu. Seperti perkiraan saya, di tahun berikutnya dia mulai berburu investor. Pada saat ngobrol dengan saya, dia mengira akan butuh banyak investor untuk pengembangan usaha (buka outlet-outlet baru). Tetapi ternyata dia keliru. Kenyataannya dia butuh banyak investor sekadar untuk mempertahankan usahanya supaya bisa terus beroperasi. Ya, usaha itu masih butuh tambahan modal terus-menerus, bahkan sekadar buat biaya operasional. Bank tahu kapan harus menunggu dan kapan saatnya menambah modal. Mereka familiar dengan pola-pola begini, dan biasanya mulai mengamankan aset sambil menunggu pesta usai. Belum genap dua tahun berjalan, si owner mulai menutup outletnya satu per satu. Lalu mulai mengurangi karyawan, oper kontrak tempat usaha, dan mulai pasang iklan tanah dan rumah dijual. Begitulah, pesta akhirnya selesai. Peserta pesta bubar. Yang pertama kabur tentu saja coach-nya. Dia sudah menang banyak. Setelah si owner minta sesi konsultasi gratis, dia langsung menjaga jarak dan menolak bertemu. Ketika salah satu investor main somasi, coach itu langsung memblokir kontak si owner dan berpura-pura tidak kenal. Selanjutnya marketing bank yang dianggap seperti keluarga sendiri tiba-tiba dikabarkan sudah pindah kantor. Penggantinya orang dari bagian penagihan. Setelah itu disusul partner, supplier, karyawan-karyawan, dst. Hanya dalam beberapa bulan semua pergi. Si owner ditinggal sendirian tanpa ada yang mau ikut memikul tanggung jawab. Dulu dia rajin posting status motivasi, kiat bisnis, dan hobi mengajak kerja sama. Tiba-tiba tidak pernah posting selama beberapa bulan. Kadang dia posting tentang agama, tobat, kepahitan hidup, dan nyinyiran terhadap pemerintah. Usahanya sudah tutup. Dia bangkrut dengan utang amat besar dan semua aset habis tak bersisa. Itu saja dia masih diburu para investor yang menuntut uangnya dikembalikan. Begitulah sebenarnya praktek predator bisnis berjalan. Praktek ini marak menimpa orang yang punya banyak uang dan aset tapi minim pengalaman berbisnis. Biasanya petualangan ini berawal dari kenal 'tak sengaja' dengan seseorang yang berlagak bak pengusaha sukses. Orang itu menyebut dirinya coach, mentor, konsultan, partner/mitra, dan sejenisnya, dengan tutur kata manis khas para penjual mimpi. Calon korban diyakinkan bahwa dia juga bisa jadi pengusaha sukses dengan bimbingannya. Dia ditanya punya modal berapa, punya aset apa saja, dst. Jika si calon korban hanya level receh, si coach akan melipir pergi mencari prospek lainnya.
RJT↙️ tweet media
Indonesia
1
0
0
78
Paylaş