Dicta

4.3K posts

Dicta banner
Dicta

Dicta

@0dicta

Journey Tode Spiritual Freedom. I'm not a financial advisor.

Moon Katılım Nisan 2020
137 Takip Edilen197 Takipçiler
Dicta
Dicta@0dicta·
@AfxProf Ketika merasakan profit beruntun selama 2 minggu. "I am a market maker." 😂🤣
Indonesia
0
0
0
11
Af I ProF I
Af I ProF I@AfxProf·
Mayoritas trader retail gagal bukan karena market… tapi karena mereka kebanyakan fokus cari entry, bukan belajar survive. Yang lucu: ketika loss nyalahin market, ketika profit ngerasa jadi “smart money” 😭 Disiplin & risk management itu boring… makanya cuma sedikit yang bisa konsisten. siapa tahu dapat Give away nya dan dapatkan $100000 Fundet acount dari @primeacademyfx
𝔻𝕠𝕟 ℂ𝕒𝕣𝕝𝕚𝕥𝕠@Cryptorealis

Yang bikin banyak trader gagal bukan market… Tapi karena mereka belajar dari tempat yang salah. Terlalu banyak flex profit. Terlalu sedikit edukasi soal survive. Makanya gw suka konsep yang dibangun Prime Academy: fokus ke consistency, psychology, dan growth jangka panjang. Karena trader yang bisa bertahan lama, biasanya bukan yang paling viral — tapi yang paling disiplin 📊 Trader yang bertahan lama membutuhkan Modal yang besar juga ,maka dari itu silahkan di kepoin dari @primeacademyfx Give away nya

Indonesia
0
0
11
807
Dicta
Dicta@0dicta·
@Mr1CT Straight to the point.✅
English
0
0
0
5
Mr~ICT✍️
Mr~ICT✍️@Mr1CT·
Trading psychology books can't compete with these axioms.
Mr~ICT✍️ tweet media
English
1
6
111
2.6K
yunus
yunus@0xyunss·
token efficiency itu system design problem. bukan prompting problem. selama ini yang dioptimasi orang salah promptnya. padahal yang makan budget justru infrastrukturnya. yang paling sering diabaikan: - model→opus untuk semua task = 5x cost multiplier. sonnet handle 80% kerjaan dengan kualitas yang sama - MCP overhead→5 server aktif = 90.000 token sebelum prompt pertama bahkan masuk. tiap turn context bloat→sesi 30 pesan bisa 232.000 token. - claude baca ulang semuanya tiap lu ngetik re explanation tax→tanpa CLAUDE.md, ribuan token pertama tiap sesi habis cuma buat jelasin ulang konteks, setelah selesai sesi, minta "update claude.md dengan sessions ini" claude bakal baca claude.md pertama waktu awal sesi berikutnya fix infrastrukturnya dulu: • /model sonnet sebagai default, opus cuma kalau beneran butuh • /mcp cabut server yang ngga kepake session ini • /compact sebelum session bloat, bukan setelah • CLAUDE.md buat eliminasi re explanation tiap sesi hasilnya: 63% reduction dalam token usage. tanpa ngubah satu baris prompt pun. prompt lu bukan masalahnya. yang di belakangnya yang ngga pernah keliatan itu masalahnya.
yunus tweet media
Indonesia
5
6
96
4K
Dicta
Dicta@0dicta·
@Qu3en_Bakery Yang gelap rakyat pak. Kalo elite mah tambah tahun tambah kaya.🙃
Indonesia
0
0
0
51
Mama Queen
Mama Queen@Qu3en_Bakery·
Nikel: No 1 di dunia Timah: No 1 di dunia Batu Bara: No 2 di dunia Tembaga: No 5 di dunia Emas: No 6 di dunia Bauksit: No 6 di dunia Lalu kenapa mata uang kita lemah? Dibilang Indonesia gelap ga terima, terus yang gelap siapa??
Indonesia
270
10K
34K
310.7K
Dicta
Dicta@0dicta·
@bardanslm Alurnya simpel. Tujuannya juga simpel, "cuman pengen ketemu ayang." 😂🤣
Indonesia
1
0
0
229
Bardan - Digital Marketer
para wibu ada yg pernah nonton anime ini??? SUMPAH BAGUS WOY!!!!!!!! judulnya wistoria wand & sword iseng2 nonton di netflix, ternyata: - alur mudah dipahami - action berantemnya keren - pacenya gak ngebosenin - ada tujuan jelas yg dikejar main character - karakter2nya oke menurut saya ini 8.5/10 bagus!!!! ada yg pernah nonton film ini?? kamu suka enggak???
Bardan - Digital Marketer tweet media
Indonesia
120
38
380
25.3K
Dicta
Dicta@0dicta·
@LambeSahamjja Baru kali ini ada yg berani spill cuan elite hasil dari kebijakan. wkwkwk
Indonesia
0
0
0
166
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
jadi tau nih prabowo asbun banget soal dolar ternyata dia dan adiknya punya 50 perusahaan karena batu bara, kelapa sawit/CPO, atau nikel adalah komoditas yang paling diuntungkan saat dolar menguat. apakah di sengaja supaya usaha dia cuan semua luber luber? estimasi cuan pertahun bisa 10-20 triliun dia perusahaan dia dan adiknya: - PT Nusantara Energy - PT Kertas Nusantara - PT Kiani Hutani Lestari - PT Nusantara Kaltim Coal - PT Nusantara Wahau Coal - PT Tidar Kerinci Agung - PT Jaladri Swadesi Nusantara - PT Arsari Tambang - PT Mitra Stania Prima - PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) - PT Arsari Sentra Data - PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) - PT Arsari Enviro Industri
Lambe Saham tweet media
Indonesia
137
2.1K
3.7K
97.1K
Dicta
Dicta@0dicta·
@DravenweX Pemerintah kita ini punya prinsip dermawan. Kita selalu bagi-bagi orang pinter ke negara lain. Jadi semua negara di dunia ini bisa mendapat manfaat dari orang-orang jenius Indonesia. Begitulah kira-kira.😇 "Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat"
Indonesia
0
0
1
904
Dravenwe
Dravenwe@DravenweX·
Lucu banget emang negara kita. Statusnya doang raja sawit dunia, tapi pas ada ilmuwan jenius asli ITB mau neliti kode genetik sawit malah dicuekin. Ujung-ujungnya riset dia dibayarin Malaysia sama Amerika, dan sekarang hak patennya malah dipegang tetangga sebelah. Nama ilmuwannya Dr. Muhammad Arief Budiman. Dulu pemerintah kita gak punya visi sama sekali buat ngedanain riset DNA sawit. Karena keahliannya gak difasilitasi di negeri sendiri, si pak dokter akhirnya merantau ke Amerika buat lanjutin riset raksasa ini. Pas tahun 2013, dia beneran sukses memetakan seluruh kode genetik kelapa sawit yang berharga mahal banget itu. Tapi ya gitu, karena modal risetnya dari kantong pemerintah Malaysia dan perusahaan Amerika, keuntungan mutlak dari penemuan maha karya ini ya gak lari ke Indonesia. Bener-bener definisi punya aset emas tapi yang pinter malah numpang digaji di rumah tetangga karena di rumah sendiri cuma disuruh sabar dan ikhlas. Giliran udah sukses di luar negeri, baru deh nanti akun jurnalis pada sibuk bikin judul "Bangga! Anak Bangsa Mengharumkan Nama Dunia". Pret lah wkwk.
Dravenwe tweet media
Indonesia
169
4.5K
16K
238.5K
𝚅𝙴𝙴 ★
𝚅𝙴𝙴 ★@Tradesbyvee·
Good morning traders Remember to; 1.Respect the market. It owes you nothing earn everything with discipline. 2. Start with structure. Mark your previous day’s high, low, and range before anything else. 3. Seek alignment, not noise. If your bias and the chart disagree, step aside. 4. Confirm through correlation. If one asset breaks structure and the other doesn’t, pay attention it’s speaking. 5. Trade the reaction, not the prediction. Wait for the setup to form. Patience pays more than aggression. Have a profitable week ahead ;)
English
8
4
67
1.3K
Dicta
Dicta@0dicta·
@mak_imahhybs Karena ini program pemerintah, jadi wajar saja gak heran. Kalo ini milik swasta, baru heran.😅
Indonesia
0
0
0
21
Mak imah
Mak imah@mak_imahhybs·
Sekelas koperasi merah putih tapi display barangnya kek minimarket mau bangkrut 😭😭😭 Pic : daniabcde
Mak imah tweet media
Indonesia
1.1K
2.9K
22.6K
881.7K
Dicta
Dicta@0dicta·
@mufinsp Pajak adalah hal yang tidak masuk akal bagi orang dubai.😅
Indonesia
2
0
20
9.3K
Dicta
Dicta@0dicta·
@iluminatibot Thi is why satoshi disappeared after releasing Bitcoin.
English
0
0
0
20
Dicta
Dicta@0dicta·
@kerjadarirumahq @angga_fzn Kalo curang mah semua juga curang. Emang ada pemilu yg gak curang?😂 Bedanya ada yg curang lalu menang, dan ada yg curang tapi tetep kalah.🤣
Indonesia
1
0
0
131
Kerja Dari Rumah
Kerja Dari Rumah@kerjadarirumahq·
@0dicta @angga_fzn Kaya yang dikasih makan egonya doang, sosok pilihan gw harus menang, gak mungkin kalah, kalau kalah artinya mereka curang. Tapi disuruh mikir caranya biar menang di 2029, balik lagi ke 2024, pesimis, merasa yasudah lah, enakan ngatain orang curang dari pada mikir. Wkwkwkw
Indonesia
1
0
1
151
Angga Fauzan 
Angga Fauzan @angga_fzn·
Gausa jauh2 bahas soal Habibie yang pinter, Lha kemarin dapet calon presiden lulusan Ekonomi & Kebijakan Publik, sama lulusan Hukum & Politik, pada gamau 😭 Let alone ada cawapres yang lulusan doktor Hukum Tata Negara, pernah ngerasain semua posisi Trias Politika. Langka banget loh itu. Belom 2 tahun yang lalu pula loh WKWKWK
Indonesia
293
15.8K
49K
877.1K
Dicta
Dicta@0dicta·
@kerjadarirumahq @angga_fzn Sebenarnay bukan masalah kampanye. Tapi presiden sudah dipilih bahkan sebelum pemilu itu dimulai. Ada indikasi sangat kuat campur tangan presiden yg masih menjabat di saat itu. Tapi memang tidak dipungkiri, adanya blunder capres 03 dan kampanye yang toxic pendukung 01.😅
Indonesia
1
0
1
613
Kerja Dari Rumah
Kerja Dari Rumah@kerjadarirumahq·
@angga_fzn Bukan gak mau, kampanyenya gak sampe kebawah om. Kampanye apa yang cuma nerangkul circle cicle kecil dan informasi di gatekeep muter di mereka. Tapi kocaknya pada kaget pas kalah wkwkwk
Indonesia
39
1
9
18.2K
Dicta
Dicta@0dicta·
@wordgenic Btw wapres kita dulu juga sudah menyarankan anak muda untuk belajar AI.
Indonesia
1
0
0
77
Dan The Guy
Dan The Guy@wordgenic·
just in: menlu SG menyarankan warganya masing-masing punya AI agent > pejabat negara tetangga > di akun X resminya > endorse penggunaan AI tandanya apa? disrupsi semakin dekat kalo lo belum belajar soal AI sama sekali, i beg u belajar sekarang juga 🙏 entah apapun use case-nya > bikin personal app > optimasi produksi > bangun bisnis > riset vaksin apapun itu, sebelum makin terlambat
Vivian Balakrishnan@VivianBala

Built a personal AI agent - why I did that and what it means. go.gov.sg/aiesingapore

Indonesia
2
1
12
1.3K
Dicta
Dicta@0dicta·
@Anak__Ogi Kurang islam apa lagi coba Gus Dur. Pernah mau membubarkan DPR. Ujung-ujungnya beliau yang dilengserkan.
Indonesia
0
0
14
587
Anak ogi
Anak ogi@Anak__Ogi·
Byk yg bilang Ahok itu dipenjara Krn dia China dan minoritas, pdhl bukan tapi karna dia jujur dan bangun sistem yg transparan. Nadiem buktinya. Dia Islam dan keturunan Arab, tapi dipenjara juga Krn dia Jujur dan bangun sistem yg transparan. Intinya semakin kalian jujur, idenya bikin banyak keran yg ditutup krn pengadaan2 ga penting, istilah Ahok dulu dana siluman dll maka siap2 disingkirkan dan dihancurkan agar ga ada lagi orang seperti kalian yg berani masuk ke pemerintahan. Dan yg terakhir klo sistem pemerintahan atau pendidikan makin bagus maka para bajingan ga bisa ngatur negara dan rakyat lagi, betul ga? Makanya jgn diam.
Anak ogi@Anak__Ogi

MENGAPA NADIEM HARUS di-KPK-kan Namaku Kandilo’. Guru biasa. Mengajar di sekolah kecil di pelosok Toraja. Sekolah yang kalau hujan deras, suara seng atap lebih nyaring daripada suara guru di kelas. Kadang listrik mati. Kadang sinyal hilang. Kadang kapur tulis habis sebelum bulan berganti. Saya sudah lama jadi guru. Sudah melihat banyak menteri pendidikan datang dan pergi. Ganti kurikulum. Ganti istilah. Ganti slogan. Tapi di sekolah kami, sering kali yang berubah hanya spanduk di dinding kantor. Dulu kami di kampung terbiasa pasrah. Dana sekolah datang entah kapan. Barang datang entah dari mana. Kadang jumlahnya tidak sesuai cerita di atas. Kepala sekolah bingung. Guru bingung. Orang tua murid lebih bingung lagi. Tapi semua dianggap biasa. “Memang begitu dari dulu.” Lalu datang era Nadiem Makarim. Awalnya saya juga ragu. Anak muda kota. Bekas pengusaha. Apa dia tahu susahnya sekolah di gunung? Apa dia pernah lihat murid jalan kaki satu jam hanya untuk belajar? Ternyata ada yang berubah pelan-pelan. Bukan gedung mewah. Bukan pidato besar. Tapi sistem mulai terbuka. Kami mulai bisa melihat data. Dana BOS mulai lebih jelas. Penggunaan anggaran lebih ketat. Banyak hal mulai masuk aplikasi. Awalnya kami para guru tua mengeluh. Ribet. Susah. Belajar lagi. Tapi lama-lama kami sadar: justru karena semuanya tercatat, orang mulai sulit bermain-main. Dulu kalau ada barang datang ke sekolah, kami hanya tanda tangan. Tidak tahu harga sebenarnya. Tidak tahu prosesnya bagaimana. Sekarang semuanya punya jejak. Ada laporan. Ada pengawasan. Ada transparansi. Pelan-pelan budaya takut mulai pindah. Bukan guru yang takut. Tapi mereka yang selama ini nyaman di ruang gelap. Saya ingat pertama kali sekolah kami dapat perangkat digital. Anak-anak kampung senangnya bukan main. Mereka pegang laptop seperti memegang jendela ke dunia lain. Ada muridku yang pertama kali melihat peta dunia bergerak di layar. Matanya berbinar. Saya masih ingat itu. Memang tidak semua berjalan mulus. Internet kami sering hilang. Guru-guru banyak yang belum siap. Tapi setidaknya ada usaha bergerak maju. Ada rasa bahwa sekolah kampung juga diperhatikan. Bahwa anak-anak desa juga punya hak mengenal dunia digital. Sayangnya, perubahan selalu punya musuh. Semakin sistem terbuka, semakin banyak orang gelisah. Saya ini cuma guru kampung. Tapi saya tahu satu hal: orang yang hidup dari sistem yang kacau pasti tidak suka kalau semuanya jadi transparan. Sebab kalau semua terang, permainan jadi sulit. Makanya saya sedih melihat Nadiem Makarim seperti diburu habis-habisan. Seolah-olah semua yang ia lakukan salah. Padahal kami di bawah ini merasakan sendiri ada sesuatu yang mulai berubah. Tidak sempurna, iya. Tapi bergerak. Yang paling saya takutkan bukan soal satu orang menteri jatuh. Yang saya takutkan: orang-orang baik setelah ini jadi takut masuk memperbaiki pendidikan. Takut dicurigai. Takut dikriminalisasi. Takut dilawan oleh mereka yang terganggu kenyamanannya. Dan kami di kampung akhirnya kembali begini lagi. Menunggu spanduk baru. Menunggu slogan baru. Tapi aku, si Kandilo' akan komitmen pada satu hal, bahwa korupsi yang paling berbahaya adalah mencuri masa depan anak-anak. Salam pembebasan Kandilo' Kisah guru diatas sama seperti kesaksian para saksi di pengadilan. Semoga dibaca @habiburokhman @BennyHarmanID

Indonesia
50
1.2K
3.4K
340.9K
Dicta
Dicta@0dicta·
@LambeSahamjja Tahun-1 : learn trading like a pro Tahun-2 : rungkat Tahun-3 : create youtube channel Tahun-4 : buka kelas Tahun-5 : sukses😗
Indonesia
0
4
257
16.1K
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
deddy corbuzer benci sama orang orang yang jualan kelas karna mereka merusak anak/orang muda apalagi yang bilnag umur 19 tahun udah dapat 1 miliar umur 10 tahun punya 1 miliar dia malah heran dan bertanya tanya kalo di umur segitu punya uang miliaran ngapain lagi jualan kelas jadi stop buat oknum oknum yang jualan kelas kalo lu beneran kaya coba tunjukin SPT lu baru dia percaya katanya deddy
Lambe Saham tweet media
Indonesia
137
276
3.7K
754.9K
Dicta
Dicta@0dicta·
@FortuneMMXM Price action is good. I'm not good. That's it. 🤣
English
0
0
0
109
Fortune MMXM
Fortune MMXM@FortuneMMXM·
If last year price action was very good how come you blew all your accounts last year ?
English
17
4
90
5.2K
Dicta
Dicta@0dicta·
@bardanslm Mereka adalah contoh keluarga yg cinta kepada negara. Demi meneruskan perjuangan ayahnya, anaknya rela menggantikan ayahnya mengabdi menjadi anggota DPR. Sungguh mulia.👍
Indonesia
0
0
0
47
Bardan - Digital Marketer
bapak jadi hakim MK, anaknya gantiin jadi anggota DPR. kalau kamu pernah gantiin bapakmu jadi apa??? saya sih pernah gantiin bapak main badminton 🙏🏻
Bardan - Digital Marketer tweet media
Indonesia
431
128
642
42.1K
Dicta
Dicta@0dicta·
@karirfess Betul kata guru saya, "Persiapkan anakmu untuk hidup di masa depan, bukan hidup di jamanmu."
Indonesia
0
0
0
56
Kr
Kr@karirfess·
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
206
6.9K
19.4K
835.3K