A.Ahmad Hasan T.

49.5K posts

A.Ahmad Hasan T. banner
A.Ahmad Hasan T.

A.Ahmad Hasan T.

@AAHasanTL

Utamakan Keluarga

Kota Makassar, Sulawesi Selata Katılım Ocak 2010
1.7K Takip Edilen932 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
A.Ahmad Hasan T.
A.Ahmad Hasan T.@AAHasanTL·
Nyampah dikit ah tentang teriakan rasisme yang dilakukan oleh supporter cagliari terhadap pemain wonderkid juventus @MoiseKean. Setelah dengar @Box2BoxBola perihal rasisme & sepakbola ucapan @Ranaditya bahwa edukasi itu perlu untuk pemahaman perbedaan apalagi ujaran macam rasis.
Indonesia
1
0
1
0
A.Ahmad Hasan T. retweetledi
ᮓᮙᮤᮃᮔ᮪
ᮓᮙᮤᮃᮔ᮪@damiansstark·
Soal vandalisme, sampah, nutup jalan arteri urg juga kontra tapi urg mah rek nanya hiji. Naha maraneh anak itb mun anu kieu gacorna edan pisan tapi isu sosial lain anu krusialna sanegara saria ngajaredog?
Indonesia
150
651
3K
414.9K
A.Ahmad Hasan T. retweetledi
Aun Rahman
Aun Rahman@MrAunRahman·
All good guys. Medali abi aya THREE-PEAAATTTTTT. CHAMPIONS AGAIN, CHAMPIONS AGAIN PERSIB BANDUNG 🫶💙 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
Aun Rahman tweet media
English
93
184
1.4K
56.6K
A.Ahmad Hasan T. retweetledi
Noorridho Ilmansyah
Pemain datang dan pergi tapi loyalitas Bruno Moreira Soares menemani jatuh bangun Persebaya selama tiga musim terakhir layak diganjar perpanjang kontrak. Apalagi hari ini ia mencatatkan dua gol dan satu assist sekaligus menjadi musim tertajamnya di 🐊 Manajemen dan coach BT lebih tahu mana yang terbaik, tapi performa dan kesetiaan Si Anak Baik rasanya bisa jadi pertimbangan untuk extend. Belum lagi sosok Bruno yang sudah menjadi ikon di Surabaya. Semoga yang terbaik untuk Bajol Ijo dan Bruno 🥺
Indonesia
11
41
371
17.1K
A.Ahmad Hasan T. retweetledi
AM
AM@alifmadani_·
@AAHasanTL 👋🏼🙏🏻
QME
0
1
0
312
A.Ahmad Hasan T. retweetledi
Dosen Kesayanganmu
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen·
teman2... kalau punya jaringan media lokal, yg punya kolom opini ahli / oponi pembaca... share ke kita dong, biar kita list. dan siapa tau sesekali bs kirim opini kesana. lumayan untuk melatih diri menulis di koran/ media online. catata: media harus terdaftar ya... jangan homeless media.
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen

ada tulisan, yg aduh banget, ditulis oleh Dr. Andi Ahmad Hasan Tenriliweng, MSi. yg mengulas fenomena fanatisme suporter sepak bola pasca-kericuhan di Stadion BJ Habibie pada Mei 2026. Melalui kacamata sosiolohi olahraga, penulis menjelaskan bahwa stadion sering kali berubah menjadi ruang emosi kolektif yang sensitif karena adanya sekat tebal antara identitas kelompok "kami" (ingroup) dan "mereka" (outgroup). Ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan, luapan emosi massa yang tidak terkendali ini rentan memicu tindakan anarkis yang merusak. Oleh karena itu, artikel ini menegaskan bahwa manajemen risiko pertandingan yang preventif dan kedewasaan suporter adalah harga mati, sebab tidak ada bentuk loyalitas klub yang nilainya lebih tinggi daripada keselamatan nyawa manusia.... (familiar banget kalimat ini, tapi kejadian nya berulang2 terus). Menurutku, Pandangan ini sangat krusial dan relevan untuk disepakati atau malah kita sudah sepakat? sebab sosiologi olahraga global pun sepakat bahwa kekerasan suporter kerap berakar dari persepsi ancaman terhadap identitas kolektif yang mereka bela mati-matian. Kalau kita tilik, sejarah sepakbola di yurop sana, argumen dalam artikel ini, jelas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Spaaij (2008) di Eropa, yang membedakan antara loyalitas sepak bola biasa dengan "hooliganisme" yang didorong oleh kebutuhan mendalam untuk mempertahankan reputasi dan ruang sosial kelompok dari kelompok lawan. Ketika sebuah klub kalah secara dramatis, suporter dengan fanatisme ekstrem merasakannya sebagai distorsi harga diri personal, yang jika tidak dikelola dengan pengamanan stadion yang humanis dan terstruktur, akan dengan mudah meledak menjadi agresi kolektif. kalau kata @iIhamzada, suporter dmn saja sama. yg membedakan penegakan aturannya saja. Butuh upaya edukesien, yg lebih masif. demi menjaga sepak bola tetap panas di tribun, namun tetap aman bagi semua orang, seusai pertandingan... apapun hasilnya. Link jurnal, ya g saya kutip 👇 Spaaij, R. (2008). Men like us, boys like them: Violence, masculinity, and collective identity in football hooliganism. Journal of Sport and Social Issues, 32(4), 369–392. (doi.org/10.1177/019372…) 📹 Dr. @AAHasanTL / terbit di tribun Makassar

Indonesia
3
7
9
1.5K
Dosen Kesayanganmu
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen·
ada tulisan, yg aduh banget, ditulis oleh Dr. Andi Ahmad Hasan Tenriliweng, MSi. yg mengulas fenomena fanatisme suporter sepak bola pasca-kericuhan di Stadion BJ Habibie pada Mei 2026. Melalui kacamata sosiolohi olahraga, penulis menjelaskan bahwa stadion sering kali berubah menjadi ruang emosi kolektif yang sensitif karena adanya sekat tebal antara identitas kelompok "kami" (ingroup) dan "mereka" (outgroup). Ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan, luapan emosi massa yang tidak terkendali ini rentan memicu tindakan anarkis yang merusak. Oleh karena itu, artikel ini menegaskan bahwa manajemen risiko pertandingan yang preventif dan kedewasaan suporter adalah harga mati, sebab tidak ada bentuk loyalitas klub yang nilainya lebih tinggi daripada keselamatan nyawa manusia.... (familiar banget kalimat ini, tapi kejadian nya berulang2 terus). Menurutku, Pandangan ini sangat krusial dan relevan untuk disepakati atau malah kita sudah sepakat? sebab sosiologi olahraga global pun sepakat bahwa kekerasan suporter kerap berakar dari persepsi ancaman terhadap identitas kolektif yang mereka bela mati-matian. Kalau kita tilik, sejarah sepakbola di yurop sana, argumen dalam artikel ini, jelas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Spaaij (2008) di Eropa, yang membedakan antara loyalitas sepak bola biasa dengan "hooliganisme" yang didorong oleh kebutuhan mendalam untuk mempertahankan reputasi dan ruang sosial kelompok dari kelompok lawan. Ketika sebuah klub kalah secara dramatis, suporter dengan fanatisme ekstrem merasakannya sebagai distorsi harga diri personal, yang jika tidak dikelola dengan pengamanan stadion yang humanis dan terstruktur, akan dengan mudah meledak menjadi agresi kolektif. kalau kata @iIhamzada, suporter dmn saja sama. yg membedakan penegakan aturannya saja. Butuh upaya edukesien, yg lebih masif. demi menjaga sepak bola tetap panas di tribun, namun tetap aman bagi semua orang, seusai pertandingan... apapun hasilnya. Link jurnal, ya g saya kutip 👇 Spaaij, R. (2008). Men like us, boys like them: Violence, masculinity, and collective identity in football hooliganism. Journal of Sport and Social Issues, 32(4), 369–392. (doi.org/10.1177/019372…) 📹 Dr. @AAHasanTL / terbit di tribun Makassar
Dosen Kesayanganmu tweet media
Indonesia
6
22
53
15.3K
A.Ahmad Hasan T.
A.Ahmad Hasan T.@AAHasanTL·
Betul mas, ruang terbatas kata tapi mencoba menjadi refleksi untuk penikmat sepakbola. Nanti kita bisa diskusi ringan, dengan hati senang 🙏🏼
Indonesia
0
0
2
102
A.Ahmad Hasan T.
A.Ahmad Hasan T.@AAHasanTL·
Makasih mas alif sudah respon 🙏🏼 Dgn artikel yang sering menjadi referensi, belum semua aspek suporter di usut karena suporter juga makhluk sosial, ber komunitas, dan memiliki permasalahan juga secara individu. Yg di sampaikan Richard Giulianotti pun hanya sbgai konsep dasar.
AM@alifmadani_

@AAHasanTL @PSSI @Liga1Match hukum berusaha mendisplinkan suporter yang diposisikan sebagai biang kerusuhan. Sedangkan ekonomi berusaha meraup potensi keuntungan dari loyalitas mereka. Jadi, udah mah disuruh loyal dengan membeli tiket dan melarisi merch klub, tapi masih sering dijadikan kambing hitam 🫨

Indonesia
1
0
0
582