
A.Ahmad Hasan T.
49.5K posts

A.Ahmad Hasan T.
@AAHasanTL
Utamakan Keluarga



@AAHasanTL @Windekind_Budi @direktoridosen @rskuntowiyoga @ainurohman @barcastuff_idn @BuddhisGL @ChelseaEleven @BudiBukanIntel @FandomID_ @PNS_2018 @TribunMilano @RidhaIntifadha @maheerprad @fajarjun @rreeere @fahmihasannn @robby_rrn Untuk awal kita bisa kali ya bikin grup wa, bikin sesuatu untuk kepentingan BKD 😝


ada tulisan, yg aduh banget, ditulis oleh Dr. Andi Ahmad Hasan Tenriliweng, MSi. yg mengulas fenomena fanatisme suporter sepak bola pasca-kericuhan di Stadion BJ Habibie pada Mei 2026. Melalui kacamata sosiolohi olahraga, penulis menjelaskan bahwa stadion sering kali berubah menjadi ruang emosi kolektif yang sensitif karena adanya sekat tebal antara identitas kelompok "kami" (ingroup) dan "mereka" (outgroup). Ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan, luapan emosi massa yang tidak terkendali ini rentan memicu tindakan anarkis yang merusak. Oleh karena itu, artikel ini menegaskan bahwa manajemen risiko pertandingan yang preventif dan kedewasaan suporter adalah harga mati, sebab tidak ada bentuk loyalitas klub yang nilainya lebih tinggi daripada keselamatan nyawa manusia.... (familiar banget kalimat ini, tapi kejadian nya berulang2 terus). Menurutku, Pandangan ini sangat krusial dan relevan untuk disepakati atau malah kita sudah sepakat? sebab sosiologi olahraga global pun sepakat bahwa kekerasan suporter kerap berakar dari persepsi ancaman terhadap identitas kolektif yang mereka bela mati-matian. Kalau kita tilik, sejarah sepakbola di yurop sana, argumen dalam artikel ini, jelas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Spaaij (2008) di Eropa, yang membedakan antara loyalitas sepak bola biasa dengan "hooliganisme" yang didorong oleh kebutuhan mendalam untuk mempertahankan reputasi dan ruang sosial kelompok dari kelompok lawan. Ketika sebuah klub kalah secara dramatis, suporter dengan fanatisme ekstrem merasakannya sebagai distorsi harga diri personal, yang jika tidak dikelola dengan pengamanan stadion yang humanis dan terstruktur, akan dengan mudah meledak menjadi agresi kolektif. kalau kata @iIhamzada, suporter dmn saja sama. yg membedakan penegakan aturannya saja. Butuh upaya edukesien, yg lebih masif. demi menjaga sepak bola tetap panas di tribun, namun tetap aman bagi semua orang, seusai pertandingan... apapun hasilnya. Link jurnal, ya g saya kutip 👇 Spaaij, R. (2008). Men like us, boys like them: Violence, masculinity, and collective identity in football hooliganism. Journal of Sport and Social Issues, 32(4), 369–392. (doi.org/10.1177/019372…) 📹 Dr. @AAHasanTL / terbit di tribun Makassar

@AAHasanTL @Windekind_Budi @rskuntowiyoga @ainurohman @barcastuff_idn @BuddhisGL @ChelseaEleven @BudiBukanIntel @FandomID_ @PNS_2018 @TribunMilano @RidhaIntifadha @maheerprad @fajarjun @rreeere @fahmihasannn @robby_rrn @dumbq_ bener zoom seru kali ya...



@AAHasanTL @PSSI @Liga1Match hukum berusaha mendisplinkan suporter yang diposisikan sebagai biang kerusuhan. Sedangkan ekonomi berusaha meraup potensi keuntungan dari loyalitas mereka. Jadi, udah mah disuruh loyal dengan membeli tiket dan melarisi merch klub, tapi masih sering dijadikan kambing hitam 🫨

@rskuntowiyoga @direktoridosen @ainurohman @barcastuff_idn @BuddhisGL @ChelseaEleven @Windekind_Budi @BudiBukanIntel @FandomID_ @PNS_2018 @TribunMilano @RidhaIntifadha @AAHasanTL @maheerprad @fajarjun @rreeere @fahmihasannn @robby_rrn Ada tulisan saya juga 🙏 bandungbergerak.id/article/detail…

"Tidak ada fanatisme yang lebih tinggi daripada keselamatan". Tapi sayangnya yg ditugasi menjaga keselamatan malah kadang yg membahayakan 😔😔😔.

Kpopers fanatik ketika dipertemukan dengan fans bola fanatik juga jadi apa...

Saya suka kalimat terakhirnya bahwa "tensi pertandingan boleh panas, tetapi kemanusiaan tidak boleh terbakar." Namun, di lapangan seringkali ada pihak yang berprilaku tidak manusiawi. Pihak keamanan yang agresif, dan represif. Contohnya? Kanjuruhan.







