Achmad Maulana Ibr
14 posts


@txtdaritaxpayer @PrayForPredator Masih aktif di DEN sembari mengajar di US
Indonesia

@PrayForPredator iya, masuk DEN. tapi blio setahun ke depan (since Sept 2025) balik ke harvard as visiting scholar.
cek aja di ig nya:
instagram.com/p/DOW8k6QjoWf/
Indonesia

Secara kompetensi, Purbaya di bawah SMI, Chatib Basri, dan Bambang Brodjo
Tp, ada yg menarik. Lu liat 3 nama ex-menkeu di mana skrg.
1. SMI ngajar di oxford
2. CB ngajar di harvard
3. BB jadi dean di ADBI Jepang
Serempak "kabur". mungkin pingin memantau dari jauh rezim ini.
Princesza Mousiana@_wafflepancake
Ada orang percaya Purbaya kompeten aja udah aneh
Indonesia

@dosenberak @aniesbaswedan Motor dan mobil sudah dibikin Indonesia pak dosen. Sudah menyerap juga tenaga kerja Indonesia sejak lama.
Persoalnnya, teknologinya bukan dari Indonesia
Indonesia

@aniesbaswedan Dikira banyak yang nganggur karena jurusan tidak sesuai. Padahal pertumbuhan industri yang gagal mengimbangi jumlah lulusan. Ya gimana lagi, negara fokus bisnis katering dan kelontong, beli motor dari Cina, beli pickup dari India. Coba kalau mobil dan motor bikin di sini semua.
Indonesia

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia

Mantan koki pribadi Cristiano Ronaldo (saat ia di Juventus), Giorgio Barone, mengungkapkan sejumlah menu makan harian sang mega bintang :
• Sarapan: Alpukat, telur, kopi (tanpa gula).
• Makan siang dan makan malam: Ayam, ikan, selalu ada sayuran, daging (fillet ringan).
• Pantangan : Tanpa susu, tanpa gula, tanpa produk tepung, tanpa pasta, tanpa roti.
📝 @Covers

Indonesia
Achmad Maulana Ibr retweetledi

@coffebit Modal usaha kecil. Contoh ayam petelur skala kecil
Indonesia




















