Agoes Soenartho
17.4K posts

Agoes Soenartho
@Agoes_soen
Belajar Memahami Diri Sendiri

Wew..! Pidato lagi… 😩 Pidato berapi-api tentang pendiri bangsa yang memerdekakan negara Indonesia, disampaikan Prabowo dalam pidatonya saat Rapat Paripurna ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung DPR pada Rabu (20/5). Awalnya Prabowo bercerita soal sejarah pengelolaan ekonomi bangsa Indonesia yang sudah dirumuskan oleh para pendiri bangsa setelah melalui perjuangan panjang dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah. Prabowo juga menyebut para pendiri bangsa Indonesia telah merasakan apa itu imperialisme. Bahkan mereka merasakan derajat harga diri bangsa Indonesia yang ditempatkan lebih rendah dibanding anjing. Mereka melihat dan merasakan kekayaan Nusantara ratusan tahun diambil oleh penjajah-penjajah. —- Sama dong kayak sekarang. Banyak yang derajatnya mirip anjing, tapi bedanya adalahyang sekarang suka menjilat dan diberi tulang lalu loyal sama penjajah. Menjajah rakyat sendiri. Bersuara sedikit aja dikata antek asing. Teror dan makar. Aksi dibiayai koruptor. Silakan kabur ke Yaman. Orang desa gak pakek dollar, kok. Uang pajak diambil, cuma buat pesta embege dan KDMP. Pejabat bakar duit sementara rakyat disuruh berhemat. Iya kan…? Penjajahan juga kan…











Sejatinya @prabowo malu punya menteri seperti Pigai

Orangtua kritik MBG, anak yang kena dampaknya… 😱🫣 Kasus yang dialami Safarudin Azim, siswa kelas 1 SD Negeri 1 Banjaranyar, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Bocah berusia sekitar 9 tahun itu dilaporkan sudah lebih dari dua bulan tidak masuk sekolah, diduga akibat konflik antara orang tuanya dengan pihak sekolah. Perselisihan bermula ketika ayah Azim, Arsa Tugimin (40), mengunggah kritik di media sosial terkait program MBG pada Februari 2026. Dalam unggahan tersebut, ia menyoroti menu makanan yang diterima siswa dan menilai tidak sesuai, yang kemudian sampai ke pihak sekolah. Tugimin mengaku sempat dipanggil untuk klarifikasi. Namun, pertemuan tersebut justru berujung cekcok dengan kepala sekolah. “Pada intinya tujuan saya hanya ingin mengedukasi. Saya tidak ingin sebuah kebobrokan itu terjadi,” kata Tugimin, Sabtu 2 Mei 2026. Dalam perdebatan itu, Tugimin merasa diusir dari sekolah dan mengklaim anaknya dikeluarkan secara lisan. “Mulai besok anak kamu saya keluarkan, tidak usah sekolah di sini,” ujar Tugimin menirukan ucapan yang ia dengar saat itu. Setelah kejadian tersebut, Azim sempat kembali masuk sekolah selama beberapa hari. Namun, ia kemudian disebut merasa takut dan malu untuk datang lagi. Tugimin juga mengungkapkan bahwa anaknya pernah meminta agar dirinya tidak lagi mengunggah persoalan sekolah ke media sosial. “Anak saya bilang, ‘Ayah jangan diposting lagi, takut nanti Azim dimarahin Bu Guru’,” katanya. Ia juga menyebut anaknya merasa malu masuk sekolah karena sering dipanggil menggunakan nama ayahnya oleh kepala sekolah. Kasus ini kini telah dilaporkan ke Polres Pemalang dan menjadi perhatian publik, terutama terkait perlindungan hak anak dalam memperoleh pendidikan di tengah konflik antara orang tua dan institusi sekolah. Sc: noise. talks








