"Saya bilang ini goblok banget!"
"Masa pake tumbler yang mulutnya besar banget? Ya nyiprat"
“Main cantik lah. Kalau ada CCTV, bisa pakai jaket, pakai masker, pakai penutup aja. Masak di tengah jalan enggak pakai penutup muka, enggak pakai helm. Ini kan jadi lucu-lucuan”
Kutipan dari hakim militer.
Di persidangan militer.
#fnfjb trainer sepeda felvon v1. Bukan tacx, magene, garmin, dll. Jual murah aja 4.5 daripada beli baru masih 8jutaan. Kelengkapan trainer sama charger. Lokasi cibubur.
#fnfjb wts Dropbar Deda Gravel 100 42cm dan Stem Deda Zero Panjang 90mm. Copotan Colnago G3X, lokasi cibubur. Dropbar 600rb stem 400rb, beli dua harga spesial. Terimakasih. wa.me/6281315350656
#fnfjb wts Dropbar Deda Gravel 100 42cm dan Stem Deda Zero Panjang 90mm. Copotan Colnago G3X, lokasi cibubur. Dropbar 600rb stem 400rb, beli dua harga spesial. Terimakasih. wa.me/6281315350656
#fnfjb wts Dropbar Deda Gravel 100 42cm dan Stem Deda Zero Panjang 90mm. Copotan Colnago G3X, lokasi cibubur. Dropbar 600rb stem 400rb, beli dua harga spesial. Terimakasih. wa.me/6281315350656
@txtdrbekasi@FiersaBesari Teman-teman semua terima kasih atas bantuan kalian
Sekarang Vica udah ga sakit lagi, udah tenang disisi-Nya dan udah bertemu dengan keluarga.
Sekali lagi terima kasih atas bantuan kalian semua 🤍🤍
DILAPORKAN: Satu gerbong wanita menjadi yang paling parah pada kecelakaan antara KRL dan kereta lintas Jawa di Bekasi Timur malam ini 🥀
Bekasi berduka 💔
📸: @LisanAlGhaib
News :🚨Pasca tabrakan kereta di Bekasi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengusulkan agar gerbong wanita dipindahkan ke bagian tengah kereta.
Apakah ini solusi yang tepat?
Di daerahnya dia dipandang gagal oleh masyarakat disana tapi diluar daerah dia terlihat berhasil tau kenapa? Ya karna pencitraanlah. Beliau ini perusahaan tambang nya saja di denda 500 milyar kena melanggar, bayangkanlah bagaimana rusaknya Malut di tangan si ratu tambang ini
Sì, secondo le evidenze emerse: nel Calciopoli 2006 l'Inter non fu imputata né sanzionata. Ma nelle intercettazioni del processo Napoli (Calciopoli bis) vennero fuori contatti tra Facchetti, Moratti e i designatori Bergamo/Pairetto. Il procuratore FIGC Palazzi (2011) scrisse che l'Inter violò gli artt. 1 e 6, "rischiando più di tutti" per aver condizionato il settore arbitrale e ottenuto vantaggi in classifica. Per prescrizione non ci furono sanzioni. Il tribunale di Milano (2015) confermò la veridicità di quelle pressioni su arbitri.